Jumat, 10 Juni 2016



Day 4

Tidak ada alarm yang membangunkan kali ini, alam bawah sadar yang mendadak membangunkanku bahkan lebih pagi dari alarm biasanya membangunkanku, Ratna rupanya telah lebih dahulu terbangun namun masih memeluk guling yang enggan membuatnya beranjak. Ya hari ini kami akan check out dan melanjutkan liburan kami ke Solo, kami akan berangkat dengan motor yang menurut estimasi sekira 2 jam kami akan sampai di sana. Kami tidak memesan kamar hotel yang mendapatkan sarapan, sehingga kami akan menggabungnya dengan makan siang di perjalanan nanti ke arah Solo. Kami berkemas, mandi untuk menyegarkan badan dan setelah memastikan tidak ada yang tertinggal kami segera ke receptionist untuk check out.

Dengan pakaian lengan panjang dan celana panjang serta sebuah selendang untuk menutup hidung dari debu kami berdua mulai menyusuri jalan Solo, namun kami teringat pesan Mas Hangga yang bekerja di Solo bahwa di sana lalulintas sangat ketat, sehingga mengharuskan kelengkapan kendaraan harus di pastikan lengkap. Motor yang kami bawa sedari hari pertama memang hanya mempunyai 1 spion, sehingga sebelum candi Prambanan kami mengganti spion dengan yang baru yang jumlahnya sepasang sehingga nantinya lebih aman, daripada duit yang ada digunakan untuk membayar denda tilang, lebih baik untuk membeli spion dan makanan nantinya.

Siang itu benar-benar sangat terik di tambah panas pantul dari aspal, perut kami pun belum terisi makanan, hanya berharap dari sisa kekhilapan Mr Burger semalam saja. AKu menderu motor dengan kecepatan sedang saja, sesekali harus menarik gas lebih untuk menyalip kendaraan di depan. Banyak obrolaan meluncur sepanjang perjalanan, tidak terasa kota Klaten telah kami lalui yg berarti kami sudah setengah perjalanan, kami mencari makanan di sisi jalan yang searah, namun kami baru berhenti di sebuah rumah makan special Swuike (katak) yang terletah tepat di lampu merah sebekum masuk kearah Solo Baru setelah tidak mampu lagi menahan gejolak energy yang di butuhkan untuk melawan teriknya panas.

Inilah lucunya kami di tempat ini, kami tidak memesan swuike yang menjadi menu special tapi hanya ayam dengan saus dan sambel, dasar pasangan aneh.

Setelah cukup terisi energy, kamipun melanjutkan setengah perjalanan yang masih tersisa. Jangan berharap dengan perut terisi motor dapat dikebut, kami menggunakan prinsip biar lambat asal selamat. Dan penantian panjang hamper 2 jam membuahkan hasil ketika aku melihat stasiun Purwosari yang menandakan ini adalah SOLO dan sudah pasti Jln Slamet Riyadi menjadi jalur utama yang akan membawa kami ke penginapan yang telah kami siapkan sebelumnya, tentu saja dengan bantuan Google Map, Thanks God buat penemuan keren ini.

Sebuah hotel tinggi menjulang dengan dominan warna merah sesuai dengan nama Hotelnya telah terlihat, tidak jauh dari jalan utama Slamet Riyadi ini, matahari yang tepat berada di atas kepala kami menandakan telah siang hari, kami melakukan proses check in dan berhasil mendapatkan kamar di lantai 4. Sempat terkejut, karena belum pernah menadapatkan gedung ataupun hotel dengan lantai 4, umumny dari 3 langsung ke 5 atau 3A. tapi yasudahlan, kami terima saja tanpa memikirkan hal-hal sepertiitu. Kami tiba di kamar dan langsung meletakkan barang serta mulai menentukan tujuan kami kemana.

Waktu kami hanya semalam di Solo sehingga kami ingin memaksimalkan setiap waktu untuk dapat mengitari banyak tempat di Solo. Pada mulanya aku berencana untuk mengikuti Bus Tour yang akan membawa kami keliling tempat-tempat wisata dan bersejarah di Solo, namun kami tiba kesiangan dan untuk hari itu pun telah penuh sehingga kami harus membuat plan cadangan, dengan referensi Google kami pun memulai

Solo dan Kita

Kami memilih untuk ke lokasi terdekat dengan Hotel, dan Musium Batik Danar Hadi menjadi tujuan pertama. Kami sempat terlewat sedikit ketika mencarinya yang membuat kami harus melawan arus dan menggunakan trotoar untuk tiba di sana, dikarenakan Jalan Slamet Riyadi searah dan aku tidak tahu jalan jika harus memutar.

Di Museum Batik ini banyak sekali Batik (YAIYALAHHH MASA DODOL) ketika kami tiba, kesialan kami adalah ruang museum tidak dapat di kunjungi sehingga kami hanya dapat masuk ke Galeri Batiknya saja. Melihat begitu banyak batik baik untuk pria maupun wanita sempat menggugah hati ingin membeli beberapa, namun ketika melihat kisaran harga beberapa batik yang menarik langsung kami urungkan niat, namun dengan menunjukkan tampang bahwa kami mampu beli di hadapan penjaga galeri batik tersebut. Dengan tampang tidak puas karena tidak menemukan batik yang oke kami pun keluar dari Galeri, padahal sejujurnya banyak yang bagus namun apa daya dompet berkabung, sehingga kami pun melanjutkan ke lokasi selanjutnya.

Berdasarkan referensi, di dekat Museum Danar Hadi ada suatu Museum lain yaitu Museum Radya Pustaka yang menyimpan banyak benda sejarah Kota Solo, kami pun beranjak ke sana dengan tetap melawan arus dan menggunakan trotoar sebagai jalur motor. Nampaknya kami sial siang itu, Museum Rady Pustaka sedang di tutup sehingga kami hanya dapat melihat peninggalan-peninggalan sejarah berupa bangunan Museum Radya Pustaka tampak depan saja. Damn.

Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi tempat yang sudah pasti buka dan tempat yang sangat terkenal untuk mencari oleh-oleh khas Solo, dimana lagi kalo bukan pasar Tanah Abang eh Pasar Klewer. Menggunakan penunjuk jalan, akhirnya kami tiba di kawasan Pasar Klewer, pasar ini berbeda ketika dulu aku pertama kali datang karena ada rekolasi pasca kebakaran besar beberapa waktu lalu.

Kami memilih lokasi parkir yang cukup aman dan nyaman serta dekat dengan lokasi kami berbelanja dan berkeliling. Namun hebatnya kami, kami mau berbelanja namun tidak membawa uang yang mencukupi untuk khilaf dan kalap dalam belanja, dan mengharuskan kami mencari Mesin ATM terdekat. Setelah bertanya dengan seorang tukang becak mengatakan tidak jauh, namun ketika kami mencarinya di bawah panas terik ternyata lumayan jauh dari lokasi parkir kami, sesudah itu hanya ada 1 ATM bank swasta warna biru. Kami sempat berada cukup lama dalam mesin ATM bukan karena mengambil dengan sangat banyak, tapi hanya untuk mengambil sedikit uang dan menyejukkan diri dalam ruang ATM.

Setelah dirasa dompet cukup, kami mulai liar mencari oleh-oleh. Kami berdua termaksud tipe orang yang sangat selektif untuk memilih baju, apalagi pasangan #Upsss. Kami harus memutari pasar berkali-kali dan lokasi pasar yang terpisah namun akhirnya menemukan di kios yang tidak jauh dengan lokasi parkir kami. Kami saling memberi masukkan terkait membeli apa, dan untuk siapa tapi jangan ditanya soal menawar, aku lebih jago daripada Ratna. Ini jujur bukan karena Jago, tapi karena gengsi and biar keliatan “pacar aku jago” padahal kalau sendiri aku sangat amat tidak tega menawar hingga 50 persen dan meninggalkan kios yg telah aku tawar tanpa membelinya.

Aku terlebih dahulu menemukan beberapa potong batik murah untuk keluarga, untuk kemudian kami menemukan kios yang menyajikan pakaian batik sesuai dengan maunya Ratna. Cuaca yang sangat panas sempat membuat Ratna drop, karena dia memiliki alergi terhadap cahaya matahari yang terlalu terik, alerginya dia dapat menjadi Dian Sastro, bukan lha tapi dia menjadi gatal di sekitar wajah, sehingga ketika telah menemukan apa yang kami cari, kami duduk di pelataran gazebo yang dekat dengan lokasi parkir kami dan pohon beringin.

Mencari oleh-oleh dalam panas terik dan keramaian pasar ternyata sangat menguras energy, hal ini membuat kami harus mencari makanan special Solo terdekat dan hasil terawang google adalah Selat Solo. Rekomendasi utama adalah warung Selat Solo mbak Lies. Mengandalkan google map kami pun mulai mengendarai motor kami, sepanjang jalan cuaca mendadak berubah menjadi mendung dan gerimis yang mengharuskan kami harus menemukan lokasinya secara cepat.

Warung Selat Solo mbak Lies yang sangat ternama ternyata berdasarkan Google map cukup banyak dengan beberapa angka romawi di belakangnya sebagai pembeda, Kami sempat berkali-kali di buat nyasar oleh google map, kami memang sempat gengsi bertanya, giliran kami bertanya orangnya malah tidak tau. AKhirnya berdasarkan intuisi dan analisis ketepatan dari google, kami pun dapat menemukannya dengan memperhatikan banyaknya mobil parkir.

Tidak menyangka jika lokasi Selat Solo Mbak Lies berada di gang kecil yang hanya dapat muat dan di lalui sebuah mobil, namun karena kami menggunakan motor sudah pasti akan sangat muat, dan ketika kami tepat memarkirkan motor, hujan mulai turun dengan lebat.

Cukup menarik tempat Selat Solo ini, banyak keramik-keramik dan gantungan-gantungan lucu serta lukisan tergantung di dalamnya. Terdapat 2 lokasi untuk makan yang di pisahkan oleh jalan, kami mendapatkan tempat lesehan di rumah sebrang yang di dalamnya terdapat banyak foto yang menunjukkan tempat ini pernah di kunjungi orang penting maupun artis terkenal. Kami memesan makanan paling special di situ namun sengaja memilih 2 jenis menu berbeda agar dapat saling mencicipi, ditambah minuman penyegar yaitu es campur dan alpukat.

Cukup penasaran sebenarnya seperti apa makanan Selat Solo ini, ketika makanan itu tiba di hadapan kami dan kami mulai mencicipinya ehh salah sebagai anak kekinian aku memfotonya terlebih dahulu baru makan. Rasanya sungguh mempesona, kalau aku sangat suka, dengan perpaduan wortel, buncis, acar, kentang serta daging sapi, suatu perpaduan sempurna dan tidak salah menu ini menjadi menu tujuan kuliner wajib ketika di Solo, walaupun tanpa nasi aku bisa kenyang, karena mendapatkan limpahan dari Ratna yang sedikit tidak suka karena banyak mengandung unsur sayur, dan di tutup dengan es alpukat dan es campur, deras hujan di luar membuat semuanya menjadi sempurna.

Kami memiliki selentingan, ketika kenyang jadi Bego. Dan hal ini berlaku bagi kami, ketika kenyang dan lelah ditambah cuaca syahdu dan sudah menjelang gelap, kami memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar dan melanjutkan kembali setelah Maghrib setelah kebegoan kami ketika kenyang hilang.

Setelah beristirahat cukup, kamipun bersiap untuk melanjutkan wisata malam di Solo, dengan bimbingan om google kami akan Ngarsopura Night Market. Lokasi yang tidak jauh juga dari hotel membuat kami mudah menemukannya, namun hujan gerimis malam itu sedikit merubah suasana pasar malam itu, karena pedagang tidak bisa menjual dagangannya di luar tenda sehingga terkesan menumpuk semua barang dan pengunjungpun seperti ikut berteduh. Dibawah rintik hujan kami mulai memasuki arena Ngarsopura Night Market dengan kejadian seorang ibu terpelset di trotoar tepat di depan kami sebagai pembukanya.

Tidak hanya gerimis, namun malam itu listrik di lokasi pasar malam juga bermasalah yang membuat sebagian kios mendapat penerangan dan sebagian tidak, dikarenakan adanya konseleting begitu pedagang mengutarakan. Tidak cukup luas lokasi Ngarsopura Night Market, kios-kios berjajar di kiri dan kanan badan jalan dengan menyisakan ruang gerak di bagian tengahnya, mereka menyajikan berbagai macam kerajinan khas solo dan berbagai macam pakaian dan makanan. Kami menyempatkan membeli keripik kentang tipis dalam tusuk sate untuk mengganjal perut sementara.

Kamipun melanjutkan wisata malam kami dengan berniat mengisi perut yang cepat laper karena gerimis di lokasi lain yaitu Galabo Solo. Ketika kami ke Galabo, mungkin karena gerimis jadi tempat itu tidak terlihat meriah, lokasinya tepat di depan sebuah mall kecil dengan menggunakan jalan yang sengaja di tutup, kami pun mencoba mengitarinya, tidak ada yang menarik hati kami untuk singgah dan makan di situ, akhirnya kami hanya numpang ke ATM dan membeli sebuah baju batik untuk Ratna yang kebetulan kami menemukan model yang tidak kami dapat di Pasar Klewer tadi siang.

Tidak patah arang kami pun segera mencari tempat lain, ketika motor berjalan Ratna sudah mulai mewarning bahwa bahan bakar kendaraan kami sudah berada dalam zona berbahaya yang bisa mati kapan saja, aku katakana bahwa itu masih banyak masih bisa untuk muter-muter. Dan diapun menerima walau dengan ketidak nyamanan.

Di jalan aku sempat kebayang beberapa potong rok yang di pasar Ngarsopura tadi yang rencananya aku belikan untuk Ratna, dan keinginanku ini begitu kuat meskipun aku tau Ratna tidak akan senang aku belikan, namun aku abaikan hal itu dan kamipun kembali ke lokasi sebelumnya untuk membeli 2 potong rok panjang dan pendek yang cantik dengan harga yang cukup murah.

Perut yang belum terisi ternyata dapat meningkatkan eksistensi emosi, wanita yang aku bonceng di belakang kembali mengingatkan terkait bahan bakar yang sudah sakratul maut, dan dari pada terus-terusan di ingatkan aku pun mulai sok tau mencari pom bensin, dan ketahuilah sodara-sodara sangat susah mencari pom bensin pada malam hari di Solo untuk orang yang tidak tahu Solo. Kami sempat berputar-putar mencari namun tidak menemukan, dan kepanikan semakin menjadi karena kami mencarinya sudah cukup jauh dan tentu saja bahan bakar diambang almarhum, tanpa basa basic dan kemaluan yang ada, akupun menanyakan kepada seorang ibu tepat di lampu merah, ibu mengatakan bahwa pombensin terdekat letaknya agak jauh dan arahnya berada di arah sebaliknya dari jalan yang kami lalui, dengan beberapa arahan belok akupun mengingat dan mencoba mencari.

Mencari pombensin dalam kekhawatiran serta ketidaktahuan itu sangat tidak enak, percayalah. Tapi ketika kami melihat sebuah logo jempol yang berarti pasti pas dengan cahaya sedikit gemerlap di ujung jalan yang menandakan itu pom bensin, kekhawatiran kami pecah dan emosi mulai terendap di dalam diri wanita di belakang aku. Sangking emosinya akupun mengisi penuh tangka bahan bakar!!! #YaiyalahMenurutNgana

Drama tidak sampai disitu, ketika bahan bakar motor penuh, bahan bakar dari kami yang menungganginya belum terisi sejak maghrib tadi, dan proses jalan-jalan di Ngarsupuro sampai saat mengisi bahan bakar telah memakan banyak watu, dan waktu hamper menunjukkan jam 10 malam, dan kami belum makan. Emosi kembali menyulut diantara kami, akupun berhenti sesaat untuk mencari rekomendasian makanan enak malam hari dalam cuaca sendu dingin, dan tentu saja bakso. Dan rekomendasi dari salah satu site adalah Bakso Pawiroredjo, dan google map pun mulai mengarahkan kami mencari.

Ketahuilah jangan berdebat dan berjalan dengan keadaan perut kosong, google map yang menunjukkan jalan kami pun tidak berhasil menemukan lokasinya dengan tepat, dan waktu semakin larut. Berkali-kali kami mengitari lokasi Bakso Pawiroredjo berdasarkan temuan google map namun hasilnya nihil, kekesalan pun semakin memuncak dan kami mulai saling menyalahkan, ketidakpahaman ratna, maupun kesoktauan aku membuat kami sama-sama kesal, dan pada satu titik akhirnya Ratna mengalah dan menitikkan air mata karena tidak kuat menahan amarah, hal ini membuatku ikut merasa bersalah. Dan di bawah rintik hujan dan gelapnya malam kami pun saling hening dengan keputusan makan apa saja yang kami temui. Namun karena sudah sangat malam banyak yang tutup, sampai pada akhirnya kami berhasil menemukan sebuah warung menjual bakso sapi special, yang letaknya TIDAK JAUH DARI HOTEL. Dan perlu kalian ketahui pula, kami adalah konsumen terakhir malam itu sehingga ketika makanan kami disajikan merekapun menutup warungnya.

Ketika perut mulai terisi, aliran emosi sudah mulai turun dan kami sama-sama tenang, saling memaafkan walaupun belum lebaran. Ketika selesai membayar kamipun menutup hari ini di Solo karena energy kami sudah sangat terkuras secara fisik dan emosional, sehingga kami langsung kembali ke hotel untuk berkemas dan beristiraht untuk mempersiapkan kepulangan kami esok harinya.

Last Day

Pagi ini terasa berbeda, ketika alarm tidak membangunkan kami namun kami harus cemberut untuk kembali ke Jogja dan harus mengakhiri liburan kami. Berat rasanya ketika harus mengangkat tas kami, melakukan checkout dan mulai mengendarai motor 2 jam lamanya untuk kembali ke kenyataan bahwa kami harus kembali bekerja dan menghentikan hiburan.

Kami bahkan memikirkan sarapan di jalan pulang kearah Jogja saja, sehingga ketika memulai perjalanan pulang perut kami belum terisi. Aku hanya memikirkan apa makanan yang enak di jalan pulang, dan yang terbesit dalam bayangku adalah Ayam Kalasan yang ketika kuliah dulu sangat banyak bertebaran di jalan Solo Jogja, sejam berlalu diatas motor dengan perut masih kosong dan semangat luntur kami masih belum menemukan, pun setelah melalui Klaten kami tidak melihat adanya Ayam Kalasan. Sekali menmukan itu pun kondisi kami membawa motor agak kencang dan aku ingat bahwa di kiri jalan kami sesudah candi prambanan ada.

Ketika Candi Prambanan telah berlalu, aku hanya terfokus di sisi kiri jalan karena seingatku itu, sedangkan wanita di belakangku mulai naik tensinya karena belum sarapan, namun aku tetap dengan keyakinan aku. Sebelum tiba di Jogja, kami pun mampir ke rumah Orang tua Ade untuk kembali menukarkan motor kami, namun ketika tiba disana motor kami tidak ada dan sedang di gunakan oleh Mas hangga, dan akupun menghubungi mas hangga dan menentukan tempat untuk penukaran motor tersebut. Kamipun pamit kepada ortunya ade dan melanjutkan perjalanan kami untuk mencari makan.

Akupun mulai memelankan laju motorku setelah melalui Kedaulatan Rakyat, dan ketika telah menemui bandara Adi Sutjipto dan itu adalah sudah di Jogja akupun mulai menyadari bahwa Ayam Kalasan tidak ada di sisi kiri jalan yang kami lalui, cemberut pun mulai menguras emosi, namun aku akhirnya memilih untuk mengisi perut di SS Babarsari karena banyak menu pilihan dan olahan sambalnya.

Ketika tiba di SS, ternyata cukup penuh dengan mahasiswa yang makan siang, karena kami tiba bersamaan dengan makan siang. Kami kalap, memesan berbagai jenis sambal dan lauk, dan karena rame makanan datang agak lama, ketika tiba di hadapan kami tanpa basa basi langsung kami sikat sampai menyisakan sambalnya saja. Ketika kami kenyang, kamipun diam dan bersiap kembali ke rumah Akbar untuk mengembalikan motor.

Setiba di rumah Akbar, kami di sambut dengan baik oleh Akbar dan Istrinya dan rupanya disana juga sedang ada Rayhan dan Istrinya yg merupakan temanku semasa kuliah juga, sehingga saling ngobrol lha kami banyak hal sambal menunggu waktu kami harus ke bandara yang agak sore. Seketika kami asik ngobrol, ternyata cuaca di luar berubah drastic, tiba-tiba hujan sangat deras disertai angina, mungkin ini pertanda Jogja sedih di tinggal oleh kami. Hujan berlangsung cukup lama dan intensitasnya deras, dan kami harus segera ke bandara, karena tidak mungkin untuk menggunakan motor.

Akhirnya dengan browsing kamipun mendapatkan beberapa nomer telp taksi di jogja, namun mungkin karena cuaca hujan sehingga beberapa nomer taksi tidak mengangkat, sampai pada salah satu provider taksi akhirnya menjawab dan segera mengirimkan armadanya menuju rumah Akbar dan kamipun telah bersiap dan menunggu kedatangan taksi.

Liburan kami ini begitu luar biasa, dan harus di akhiri dengan hal yang luar biasa juga. Tanpa kami sadari tiba-tiba taksi yang kami pesan adalah bukan taksi biasa melainkan taksi premium class dengan mobil Jenis Alphard yang menjemput kami dan akan mengantarkan kami ke bandara. Betapa terkejutnya kami semua yang ada di rumah itu, termaksud kami. Namun karena kami takut ketinggalan pesawat akhirnya kami harus naik segera dengan terlebih dahulu pamit dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya selama kami liburan di Jogja.

Ketika mulai mengarah ke mobil, Akbar dan yang lain hanya tertawa terbahak-bahak sambi memfoto dan mendokumentasikan kami karena menyadari bahwa premium class tentu biayanya tidak murah, namun aku tetap stay cool walapun duit di kantong tidak mencapai 200rb, namun aku percaya di Ratna ada sehingga aku yakini cukup. Ketika pintu tertutup dan mulai meninggalkan rumah Akbar, aku langsung mengkontanin driver dengan pertanyaan berapa biasanya biaya untuk sampai ke bandara, dan jawaban yang aku terima sangat menyegarkan. Taksi kami hanya berbeda 150-500 rupiah per kilometernya dengan taksi biasa. Drivernya mulai menjelaskan bagaimana mereka mulai menurunkan tarif dan persepsi masyarakat terhadap taksi jenis Alphard

Ohhh thanks GOD, mendadak beban itu musnah dan merubahnya menjadi menikmati perjalanan ke bandara dengan taksi premium ini, dan sambal melihat kea rah Ratna aku berkata “Kapan lagi aku bisa ngajak jalan kamu pakai mobil mahal,. Seketika itupula kami tertawa lepas.

Sesampainya di bandara kami ternyata berada di terminal yang berbeda, karena waktu keberangkatan pesawat Ratna lebih dahulu sehingga kami minta di antarkan di terminal B yang letaknya 100 meter dari terminal utama. Setelah membayar dengan harga yang menurutku cukup masuk akal, akupun menemani Ratna hingga terminal dan membiarkannya melakukan check in terlebih dahulu dan aku menunggu di depan terminal sambi memberikan informasi kepada Akbar bahwa tarifnya masuk akal dan tidak overprice seperti yang kami bayangkan. Setelah check in tidak lama kemudain Ratna kembali keluar, dan kami bersenda gurau untuk menikmati sisa waktu bersama, dan ketika waktunya telah dekat untuk boarding kamipun saling memberikan peluk yang akan selalu lekat dalam diri kami sampai kami berjumpa kembali, dan akupun menyerahkan sebuah catatan dalam selembar kertas yang telah aku siapkan sebelumnya untuk di baca ketika di pesawat.

5 hari yang sangat menyenangkan, dan selalu akan terkenang dalam memori kita bersama. Berat rasanya harus berpisah lagi untuk sementara, namun itulah jalan yang kita pilih. Ketika bayanganmu sudah tak terlihat lagi di sudut mataku, akupun berjalan menuju terminal keberangkatanku untuk meyakinkan diri terus berusaha menabung agar kami bisa sering melakukan hal ini bersama sesering mungkin.

I Miss you already..


With Love
-Niko-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar