Day 3
Alarm
membangunkan kami, dalam planning kami hari ini akan berangkat ke solo, namun
beberapa tempat menarik di Jogja belum kami kunjungi, sehingga kami memutuskan
untuk tetap di Jogja namun berpindah tempat menginap dikarenakan kami hanya
memesan untuk 2 malam saja.
Setelah
mandi dan membereskan isi tas, kami pun check out. Sebelumnya kami sibuk
mencari di traveloka lokasi hotel yang mudah di akses dengan harga terjangkau,
dan salah satu hotel di bilangan jalan solo tidak jauh dari kampus UIN Sunan
Kalijaga menjadi pilihan kami. Setiba disana, tidak memakan waktu lami kamipun
langsung meletakkan barang kami, dan bersiap mengeksplor Jogja kembali.
Benteng
Vredeberg dan Kita
Itulah
tujuan pertama kami hari ini, jujur saja selama kuliah di Jogja aku tidak
pernah masuk dan melihat-lihat isi benteng ini, hanya sekedar lewat saja atau
memarkirkan kendaraan, ini pertama kalinya aku masuk, dan ini tidak di ketahui
oleh Ratna.
Mendung
siang itu cukup bersahabat, teriknya Jogja tidak berasa, dan 2 buah karcis kami
beli untuk memasuki benteng Vredenberg ini. Citarasa colonial belanda cukup
terasa dari arsitektur gedung-gedung disini, aku tidak ingat ada berapa gedung
yang ada namun cukup banyak tapi tidak semuanya dapat di masuki, hanya beberapa
tempat saja terutama yang menyajikan Diorama peristiwa sejarah yang pernah
terjadi di Jogja.
Siang
itu cukup banyak mahasiswa seni rupa tampaknya yang mendapat tugas menggambar
sudut-sudut benteng dan gedungnya yang menambah kemeriahan. Kami mulai memasuki
setiap gedung dengan memperhatikan setiap petunjuk arah yang tersedia, dan dari
sekian banyak tempat, gedung yang menyajikan Diorama Sejarah yang menjadi pusat
perhatian kami.
Setiap
gedung menyajikan berbagai macam tema Diorama, dari Peristiwa sumpah pemuda,
Pemindahan Ibukota ke Jogja, Perjanjian Linggarjati, G30S PKI, Proklamasi kemerdekaan Indonesia,
hingga peralatan perang serta peninggalan pribadi pahwlawan Indonesia. Setiap
peristiwa di buat sedemikian rupa menyerupai peristiwa aslinya, lagu-lagu
kebangsaan serta keheningan kaca bening menambah keseruan ketika berada di
dalamnya.
Perlu
di ketahui, wanita yang bersamaku yang bertampang Galak ini ternyata cukup
mudah terbawa suasana (baca:Takut), ada kejadian lucu yaitu ketika kami melalui
tempat yg di design seperti rumah penyanderaan tawanan perang, didalamnya
terdapat patung-patung yg di buat bergerak dengan suara rintihan tawanan dan
deru senjata, cipratan darah di sekitar tembok. Di gedung ini memang
mengharuskan kita melalui dan merasakan sensasi ini untuk dapat menuju etalase
selanjutnya, dan Ratna begitu takutnya untuk melalui tempat ini, tidak hentinya
tanganku di genggam erat dengan MATA tertutup. Aku hanya tertawa saja, dan
suara dan gerakan kejutan di dalamnya membuatnya semakin marah dan murka untuk
segera memukul aku nantinya ketika selesai melaluinya. Ekspresi ketakutan yang
cukup menyenangkanku, entahlah aku suka dia apa adanya.
Tidak
berasa lebih 1 jami kami mengarungi semua diorama yang ada, bahkan bengkel yang
sudah di tutup pun hamper saja kami masuki andai saja tidak di informasikan
oleh orang di sana bahwa tidak ada apa-apa di sana selain mobil tua yang tidak
terawat. Beberapa sudut cantik dari Vredeberg menjadi spot selfie kami, cukup
banyak dokumentasi yang ada kami rasa cukup, dan kami siap untuk ke lokasi
selanjutnya.
Taman
Sari dan Kita
Mendung
pekat membawaku melaju dengan motor pinjaman, untuk mengejar lokasi eksotis
lainnya yang berada dalam kawasan kraton Jogja, yaitu Komplek Taman Sari.
Beruntung bagi kami, dapat tiba di sana dengan keadaan tetap kering, 2 buah
tiket pun sudah di tangan kami setelah motor kami parkir rapi.
Dinamakan
komplek Taman Sari karena disini terdapat beberapa lokasi menarik untuk di
kunjungi, yang pertama kami masuki adalah lokasi pemandian selir dan istri
Sultan pada masa lampau. Beberapa kolam pemandian yang telah sedikit di pugar
menyambut kami, sudah cukup banyak orang di sana, dan perlu di ketahui tempat
ini cukup sering untuk di jadikan tempat pemotretan untuk prewedding maupun
komersial. Cukup melihat-lihat dan berfoto di beberapa tempat, kamipun
melanjutkan perjalanan menuju ke Masjid Bawah tanah
Ada
kejadian lucu, hujan turun dengan intensitas sedang mengawal kami untuk menuju
ke masjid bawah tanah, dengan sombong dan kecongkakan aku menyatakan tau jalan
karena daerah kekuasaanku ketika kuliah, namun karena terlalu lama sendiri eh
maksudnya terlalu lama tidak main ke taman sari, jadi aku salah mengambil jalan
yang membuat kami bukannya tiba di masjid tapi di tepi jalan raya #JengJeng.
Dibawah rintikan hujan aku mendapat kecaman dan ejekan dari wanita yg bersamaku
dalam satu naungan payung ini, sejak saat itu mosi tidak percaya dengan
statemen “Daerah Kekuasaanku”, bahkan masih menjadi ejekan sampai sekarang.
Letak
masjid yang berada dekat sekali dengan rumah warga, sempat membuat Ratna tidak
percaya bahwa itulah masjid yang di maksud. Setelah melalui sedikit tanjakan
dan menuruni beberapa anak tangga, kami pun telah tiba di Masjid itu. Masjid
yang bentuknya melingkar dengan tangga naik berada di tengahnya, tangga yang
sangat indah untuk di jadikan lokasi berfoto. Lokasi anak tangga yang berada di
tengah dan tidak tertutup atap membuat kami harus sedikit berlali menghindari
hujan yang semakin deras. Setelah tiba di lantai atas kami mengitari setiap
sudut, dan akhirnya memutuskan berhenti dan duduk di dekat jendela sembari
menikmati hujan, berfoto dan menikmati suasana masjid bawah tanah.
Setelah
hujan reda, kami melanjutkan ke sebuah tempat yang hanya meninggalkan
reruntuhan bangunan saja, hanya tembok menjulang serta beberapa sumur cukup
dalam yang sudah tidak terpakai dan lebih banyak di gunakan oleh para
pengunjung untuk menyimpan sampah. Tempat ini sangat bagus untuk mencari
matahari terbit di pagi hari, karena letaknya agak tinggi di banding lokasi di
sekitarnya. Tidak banyak yang kami lakukan selain berfoto bersama dan mengitari
reruntuhan gedung ini.
Reruntuhan
gedung itu adalah tempat terakhir dalam komplek tersebut yang kami kunjungi,
kami pun bersiap kembali ke lokasi parkir kami, namun untuk menuju ke lokasi
parkir kami harus melewati semacam goa yang cukup panjang yang bentuknya sangat
unik dan juga menjadi icon pemotretan di komplek taman sari ini, konon katanya
goa atau lorong ini adalah jalan khusu yang hanya boleh di lalui oleh Sultan
untuk dapat melihat selir yang mandi dan berada di Taman Sari. Dan jok motor
yang basah menyambut kami dan siap mengantar kami ke lokasi selanjutnya.
Taman
Pintar dan Kita
Tempat
selanjutnya yang kami sambangi adalah tempat yang akan mengingatkan kami akan
masa kecil kami, tempat yang sudah kami incar jauh hari sebelum keberangkatan
kami, Taman Pintar.
Taman
pintar letaknya tidak jauh dari Benteng Vredeberg, hanya selemparan batu saja
dan cukup 5 menit dari lokasi terakhir kami di Taman Sari. Setiap orang pasti
punya sisi anak-anak dalam dirinya, dan mengunjungi ini adalah wujud dari
keinginan hati kami sebagai orang dewasa yang melalui fase anak-anak.
Memasuki
Taman Pintar dari sisi Barat, kami pun langsung mencari tempat pembelian tiket,
di depan antrian tiket kami di sajikan berbagai macam paket kunjungan, bahkan
ada paket 4D untuk melihat kehidupan luar angkasa, namun waktu yang tidak tepat
membuat kami mengurungkan niat, dan kami memilih tiket untuk ke gedung sejarah
dan gedung utama.
Di
gedung sejarah, seperti namanya kami di suguhkan oleh berbagai macam ilmu
sejarah, dasar-dasar negara kita, pahlawan nasional dan revolusi, presiden yang
pernah berkuasa, baju adat, senjata tradisional dll, sebenarnya cukup
membosankan namun tidak ada salahnya jika kita merefresh pengetahuan dan
tentunya mendapatkan beberapa foto selfie bersama di ruangan ini.
Gedung
selanjutnya yaitu gedung utama yang sangat besar dan memuat banyak permainan
dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan membuat kami semakin
pintar. Memasuki gedung ini kami disuguhkan lorong akuarium yang berisi
beberapa ikan langka, selanjutnya beberapa etalase manusia purba buatan, dan
selanjutnya berada di ruang eksperimen. Kami mencoba beberapa permainan yang
menyuguhkan IPTEK, diantaranya cetakkan tangan dari ratusan paku kecil,
permainan medan magnet yang mampu menghasilkan nada dan energy gesekan yg mampu
menyalakan lampu, kesemuanya kami mainkan walaupun terkadang harus mengalah
dengan anak-anak kecil yang penasaran ikut bermain dan menyerobot kami.
Selepas
dari situ, kami beralih ke sudut ruangan yang menyajikan simulasi peristiwa
Gempa Bumi yang tentu saja menjadi sarana keisengan kami, karena sekedar ingin
merasakan sensasi bergetar, ahh pasangan yang lucu. Kemudian beberapa peralatan
pengukur gempa, tekanan udara, dan benda-benda yang di gunakan oleh team Badan
Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk mensuport kerjanya.
Setelah
cukup puas, kami naik ke lantai 2 di temani profil beberapa ilmuan ternama yang
dijelaskan dengan gambar di sisi tangga yang setengah melingkar. Tiba di atas,
disambut dengan pengetahuan tata surya, kedatangan kami ke Jogja memang
bertepatan dengan peristiwa langka yaitu Gerhana Matahari total sehingga
penjelasan mengenai tata surya beserta peristiwa-peristiwa alam lainnya teasa
menarik untuk di baca dan di perhatikan.
Kemudian
permainan mengayuh sepeda yang menunjukkan posisi organ tubuh ketika mengayuh
sepeda, duduk di kursi yang alasnya adalah ratusan paku tajam yang sempat membuatku
harus duduk perlahan memastikan pantatku tidak akan terluka dan ternoda dengan
eksperimen ini. Kamipun melanjutkan dengan bermain kayuh sepeda untuk
menyalakan beberapa lampu, dan energy dari wanitaku ini sangat besar sehingga
mampu menyalakan hamper kesemua lampu, walaupun setelahnya harus mengeluh
dengan perasaan pegal di kaki.
Ada
satu eksperimen unik yang tidak aku ikutin, dikarenakan bisa terlihat jika yang
melakukan memiliki rambut panjang. Eksperimen elektrik dengan memegang sebuah
benda bulat yang mengandung unsur elektrik mampu membuta rambut terangkat tegak
lurus, rambut Ratna yang panjang dengan sangat jelas terlihat terangkat dan
membuatnya seperti nenek lampir yang baru keluar dari salon, walaupun awalnya
takut tapi tetap wanita ini memang selalu pengen tahu teradap hal-hal yang
mengusik dirinya kalo Bahasa sekarang kepo. Rambut yang terangkat naik itu
sempat aku abadikan untuk menjadi data pribadi kami nantinya.
Namun
tidak sampai situ saja, aku tidak di beritahu oleh petugasnya bahwa setelah
memainkan permainan itu, masih butuh berapa menit untuk dapat menghilangkan
medan listrik dari tubuhnya Ratna sepenuhnya, selesai bermain dengan gentlemen
aku meraih tangannya dengan maksud menggandeng, namun apa yang terjadi Ratna
terperanjat seperti tersetrum, ini membuat aku kaget dan malah semakin senang
untuk aku isengin, dan setelah terkejut itu aku tidak berhenti tertawa hingga
medan listriknya benar-benar hilang.
Ruangan
selanjutnya sudah kurang menarik, namun masih penuh dengan unsur pengetahuan
yang kadang masih membuat kita berfikir atau mengangguk walaupun informasi
sederhana dan ada di sekeliling kita. Gedung Utama Taman Pintar tidak terlalu
besar, namun pengaturannya yang cukup baik baik itu arah jalan dan etalase
permainan dan IPTEK membuat terasa sangat luas, dan lebih dari 1 jam kami
berada di gedung itu, sampai akhirnya kami berhasil menemukan jalan keluar yang
mana pintu keluar langsung di sajikan dengan tokok buku dan foodcourt yang
sepertinya kurang di tata dengan baik.
Lelah
kami mengarungi Taman pintar, kami memutuskan untuk menyudahi saja. Toilet di
sudut komplek Taman pintar menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi. Bukan
aku yang kebelet, tapi Ratna yang menyimpan sejak masuk ke Gedung Utama itu.
Ada 1 kejadian yang tidak aku ceritakan kepada Ratna saat itu, yang baru aku
ceritakan beberapa waktu lalu. Ketika menitipkan tas dan HPnya kepadaku untuk
masuk ke toilet, secara tidak sengaja aku iseng ingin melihat hasil foto di
HPnya namun tidak sengaja terbuka suatu jaringan sosial media yang disana
terdapat obrolan dengan seseorang yang berada di chat teratas, rasa penasaranku
menuntunku untuk membuka lebih jauh, dan ternyata chat tersebut belum lama dan
aku tidak di informasikan.
Mendadak
suasana hatiku berubah, namun aku tidak menunjukkannya langsung kepadanya yang
hanya akan membuat liburan kami berantakan, aku close saja dan matikan kembali
HP tersebut dan berlagak seperti tidak ada apa-apa, dan mungkin aku belum jadi
apa-apa pada saat itu.
Malioboro,
Edu Park, Taman Pelangi dan Kita
Selepas
dari sana, kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh cindera mata dan
titipan dari keluarga di sepanjang jalan Malioboro. Kami tidak berlama-lama di
sana karena sudah menjelang gelap, namun kami sangat menikmati setiap sudut
Malioboro yang selalu menyapa dan bersahabat.
Lelah
menyusuri Malioboro, membuat aku berinisiatif untuk memberikan minuman favorit,
ice cream. Kami mampir di salah satu restoran yang menyajiakn ice cream menjadi
menu spesialnya, ini kali pertama juga aku mengunjungi tempat ini dan tidak ada
rekomendasian minuman istimewa disana, selain mengandalkan pelayannya dana apa
yang ada dalam buku menu.
Sembari
menunggu pesanan kami datang, aku mencari rekomendasian tempat seru yang
dikunjungi pada malam hari melalui om Google, dan ada 2 tempat rekomendasian
yaitu Edu Park dan Taman Pelangi, yang letak keduanya tidak terlalu jauh dan
sejalan. Ketika makanan tiba, tanpa babibuuu aku menghabiskan ice cream yang
banyak unsur buahnya, dan Ratna asik menikmati ice cream yang dikawinkan dengan
semacam bolu dan coklat yang rasanya menurut aku enak, harganya juga enak
soalnya, hahahahah.
Ketika
perut kami sudah terisi dan energy kami sudah kembali pulih, gelap telah
menerjang dan dengan ketampanan luar biasa aku memutuskan mengunjungi Edu Park
terlebih dahulu di seputaran jalan Magelang. Tempat ini baru bagiku, sempat
hampir tersesat kembali meskipun menggunakan map di otak aku, karena aku
berpatokan pada bianglala besar yang menurut sumber di google sangat besar dan
mampu dilihat dari jarak jauh, namun tingginya beberapa gedung di sisi jalan
Magelang membuatku gagal menemukannya dan mau tidak mau suka tidak suka kami
pun menggunakan direction dari om Google kembali #Sigh
Menyusuri
beberapa komplek perumahan, akhirnya kami dapat dengan jelas melihat lingkaran
warna besar yang berjalan melingkar, ya itu adalah bianglala dan keyakinanku
benar, itulah Edu Park salah satu tujuan wisata belajar baru di kota Jogja.
Sempat muncul keraguan ketika kami akan memarkirkan kendaraan kami di sana,
mengapa tidak ramai, apakah kami yang terlalu malam atau memang tempat ini sepi
dan kurang menarik, namun aku mengabaikan suara itu karena tujuanku membawa
Ratna kesini adalah menikmati malam dari puncak Bianglala raksasa yang menjadi
icon tempat ini.
Motor
di parkir pada tempatnya, kami berjalan memasukki arena bermain namun ternyata
salah loket, kami mendatangi pintu keluar dan loket penukaran uang deposit,
come on Niko!! Selalu salah #SelfToyor. Setelah berhasil menemukan pintu masuk,
dan harus berhasil kalo tidak ga akan aku tuliskan disini. Edupark menggunakan
system saldo yang mengharuskan kita mengisi dalam jumlah tertentu dengan kita
mendapatkan electronic card untuk dapat mengakses beberapa permainan disana
sesuai dengan jumlah saldo yang ada, kami pun mengisi tidak terlalu banyak
karena hanya ingin bermain Bianglala.
Setelah
kedua tangan kami di cap kami resmi menjadi pasangan suami istri ehh maaf
maksud aku kami resmi siap mengitari Edupark. Tempat yang langsung kami
kunjungi adalah BIANGLALA RAKSASA!!, tepat di depan pintu permainan, kami
mendapatkan keberuntungan karena hari itu ada diskon dalam setiap permainan
yang ada, dan kami pun mendapatkan 2 buah minuman memabukkan yaitu semacam
buavita dalam kemasan gelas. Kami telah di sambut 2 orang petugas yang akan
menyiapkan sebuah ruangan kecil yang akan membawa kami berputar, dan tidak
perlu waktu lama, kami pun telah terjebak berhadapan di dalam Bianglala.
Perasaan
ketika berada di dalam adalah kebahagiaan, sangat bahagia. Ini pertama kalinya
aku naik bianglala dan dengan orang yang aku sayang, aku meletakkan tas dan
menggenggam tangannya #AkuRomantisBukan #Uhuk. Bianglala berputar sangat
perlahan, aku memandang Ratna sembari menikmati pemandangan yang dapat terlihat
jelas gemerlap lampu dalam gelap, dan menantikan kami berada pada titik
tertinggi. Sembari menunggu mencapai titik tertinggi itu, aku menyampaikan apa
yang aku rasakan, bahwa aku takut dengan ketinggian dan aku memberanikan diri
naik memang hanya untuk menunjukkan keindahan Jogja dan Mencium keningnya pada
puncak bianglala, walaupun angina dan dencit besi dan roda pemutar sempat
membuat jantungku berdetak slowmotion. Ketika berada di puncak, dengan memegang
tangannya aku memberikan kecupan terindah, ya itu kecupan terindah dari puncak
udara di ruangan sempit yang sederhana, ingin memeluknya namun aku urungkan
karena gerakkan yang berlebihan akan mengakibatkan goncangan yang semakin
membuat jantung makin slowmotion.
Tidak
beberapa lama, kamipun tiba di bawah dan bergegas untuk keluar. Tidak cukup
kata-kata untuk menjelaskan apa yang kami rasakan ketika berada di puncak tadi,
ketika kalian pernah merasakan benar-benar mencintai sesorang kalian akan tau
bagaimana rasanya tanpa perlu menjelaskan.
Awalnya
aku ingin langsung pergi ke lokasi selanjutnya, namun Ratna mengajakku untuk
tidak ada salahnya mengitari tempat ini karena kami melihat ada beberapa wahana
lain walaupun terlihat sepi. Akhirnya kami mengitari tempat itu, dan melihat
saldo deposit kami masih mencukupi, kamipun berniat menghabiskannya dengan
bermain salahsatu wahana lagi, yaitu sepeda layang. Mengapa di katakana sepeda
layang, karena permainan ini mengharuskan kami mengayuh seperti sepeda untuk
berjalan melingkar dalam arena yang tingginya lebih dari 2 meter. Suatu
keyakinan dariku adalah aku membawa atlit jalan kaki yang kuat so aman.
Pandanganku
ternyata salah, permainan ini tidak semudah yang di bayangkan karena memerlukan
energy yang lebih, kami harus terus mengayuh untuk berjalan lebih cepat, ketika
kami berhenti maka sepeda layang itu pun berhenti, yang lebih seru adalah,
keadaan kami yang melayang dan kami harus menikung itu menimbulkan sensasi yang
luar biasa. Kami sempat berhenti beberapa saat untuk mengambil foto selfie
berdua, dan setelahnya aku membuat kegaduhan dengan sedikit mengguncangkan
sepeda dan mengayuh cepat pada tikungan yang membuat tanganku harus rela di
remas kuat di pukul dan di beri sedikit cakaran serta teriakkan oleh wanita di
samping aku ini, namun disitulah keseruan permainan ini. Kami beruntung datang
pada saat sepi, sehingga tidak harus menunggu lama dalam memainkan wahana ini.
Tidak
cukup sampai disitu, kami melihat ada permainan boom boom car tanpa piker
panjang langsung kami kunjungi, namun ketika melihat saldo tidak mencukupi
sehingga kami harus mengisi ulang kembali saldo kami untuk dapat bermain.
Selepas mengisi saldo, kami pun bersiap untuk saling menghujamkan rasa kesal
melalui perantara mobil, tidak ada antrian pada saat itu, hanya ada sepasang
muda mudi yang bermain bersama dengan kami. Sedikit instruksi dari penjaga
wahana, kamipun bersiap dengan kedaraan masing-masing. Jangan ditanya apa yang
terjadi selanjutnya, mata kami saling menuju kepada mobil pasangan untuk
menabrakkan sekuat mungkin mengungkapkan kekesalan yang berbalut cinta.
Entah
berapa kali kami saling mengejar, saling menghindar, saling berputar hingga
saling berbenturan yang sangat keras yang membuat sedikit memar pada lutut
Ratna, really sorry dear. Sampai akhirnya energy listrik dihentikan dan
kendaraan kami tidak dapat berjalan kembali yang artinya waktu kami telah
habis. Kami bahkan sempat mendapatkan tambahan waktu dari penjaganya
dikarenakan keadaan sepi dan kami bermain dengan asiknya, bahkan cupid yaitu
peri cinta ingin ikut main dan menabrakkannya ke kami.
Setelah
dari situ, masih ada satu wahana yang letaknya di sudut Edu Park, ontang anting
mini. Dengan saldo kami yang masih mencukupi tidak ada salahnya kami mencoba.
Hal yang kadang sering aku lakukan adalah meremehkan setiap permainan, dengan
hanya kami berdua di arena itu membuat kami bisa sesuka hati memilih kursi, dan
aku mendapatkan rekomendasian dari Nyonya ini untuk duduk di kursi terluar yang
menurutnya sedikit memberikan tantangan. Ketika mulai berputar aku masih dapat
menikmati, semakin cepat dan semakin tinggi aku berada membuat perutku mulai
bergoncang namun tetap tersenyum kepadanya (pastilah gengsi donk kalo keliatan
pengen muntah). Hanya jejeritan kecil yang aku keluarkan hingga ontang anting
ini berhenti dengan sendirinya.
Sedikit
pusing aku rasakan, perut sedikit mual namun aku tetap menunjukkan
kebaikbaikanya aku di hadapan Ratna, namun Ratna menyadari aku mual dan dia
mengajakku untuk duduk dan berhenti sebentar untuk menenangkan diri
#PacarYangBaik. Setelah aku cukup baik dan bersamaan dengan itu jam pun telah
menunjukkan hampir jam 9 malam, kamipun bergegas pergi untuk melanjutkan tempat
terakhir malam ini yaitu Taman Pelangi.
15
menit perjalanan yang kami tempuh dari Edu Park untuk tiba di Taman Pelangi
yang letaknya didalam komplek Monumen Jogja Kembali. Memarkirkan motor ke
tempat yang di sediakan, kami pun berjalan kaki menuju pusat kegiatan di Taman
Pelangi. Dan benar, kami tidak salah datang ke tempat ini sedikit larut malam,
karena keindahan taman pelangi adalah pada permainan Lampion lampu yang beraneka
bentuk dan warna, sehingga tidak heran jika tempat ini di sebut juga Taman
Lampion.
Cukup
ramai tempat ini di kunjungi mulai dari anak sekolah, dewasa maupun orangtua
meskipun sudah cukup larut. Perlahan demi perlahan kami mulai menyusuri diorama
lampion dan permainan warnanya, cukup indah menurutku ditambah menyaksikannya
dengan orang yang kamu sayang. Mulai dari pepohonan, ornament naga, dan
berbagai macam bentuk dan tema menarik dari lampion dengan keanekaragaman warna
semakin meningkatkan citarasa ingin mengabadikan setiap langkah, entah untuk
berselfie atau hanya sekedar mengabadikannya saja.
Hampir
di setiap sudut kami mengambil gambar kami berdua maupun sendiri, karena begitu
sayang untuk di lewatkan. Ditempat ini juga terdapat wahana rumah setan yang
sempat aku ajukan untuk masuk namun di tolak mentah-mentah, karena setan yang
ngajak lebih serem dari pada setan yang ada di wahana itu, jadi buat apa,
begitu yang disampaikan oleh Ratna #KemudianDitabok.
Hari
terakhir di Jogja berdasarkan rencana liburan kami ini terasa sangat
melelahkan, menguras energi namun tertananm sejuta kenangan yang tidak akan
bisa hilang. Sebelum kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat, aku
berinisiatif untuk menyempurnakan hari dengan membeli es mendem durian, sebagai
penyeimbangnya karena Ratna tidak suka durian maka Mr Burger kami pilih karena
ini juga salah satu sajian special di Jogja, 2 burger ring on cheese dan sosis
bakar ukuran jumbo dipilih olehnya dan di bungkus untuk di makan di Hotel. Dan
ketika tiba di hotel, pecahl lha kenikmatan burger dan sosis itu serta atmosfir
durian, sungguh penutup hari yang sempurna, hari yang sangat amat menyenangkan.
Semoga akan ada hari-hari seperti ini kembali di waktu depan bersamamu.
Percikan shower membasahi tubuh untuk membersihkan dari keringat, serta
hangatnya badcover setelahnya membuat kami dengan mudah larut dan terlelap.
Continue..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar