Kamis, 09 Juni 2016



Day 3
Alarm membangunkan kami, dalam planning kami hari ini akan berangkat ke solo, namun beberapa tempat menarik di Jogja belum kami kunjungi, sehingga kami memutuskan untuk tetap di Jogja namun berpindah tempat menginap dikarenakan kami hanya memesan untuk 2 malam saja.

Setelah mandi dan membereskan isi tas, kami pun check out. Sebelumnya kami sibuk mencari di traveloka lokasi hotel yang mudah di akses dengan harga terjangkau, dan salah satu hotel di bilangan jalan solo tidak jauh dari kampus UIN Sunan Kalijaga menjadi pilihan kami. Setiba disana, tidak memakan waktu lami kamipun langsung meletakkan barang kami, dan bersiap mengeksplor Jogja kembali.

Benteng Vredeberg dan Kita

Itulah tujuan pertama kami hari ini, jujur saja selama kuliah di Jogja aku tidak pernah masuk dan melihat-lihat isi benteng ini, hanya sekedar lewat saja atau memarkirkan kendaraan, ini pertama kalinya aku masuk, dan ini tidak di ketahui oleh Ratna.

Mendung siang itu cukup bersahabat, teriknya Jogja tidak berasa, dan 2 buah karcis kami beli untuk memasuki benteng Vredenberg ini. Citarasa colonial belanda cukup terasa dari arsitektur gedung-gedung disini, aku tidak ingat ada berapa gedung yang ada namun cukup banyak tapi tidak semuanya dapat di masuki, hanya beberapa tempat saja terutama yang menyajikan Diorama peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Jogja.

Siang itu cukup banyak mahasiswa seni rupa tampaknya yang mendapat tugas menggambar sudut-sudut benteng dan gedungnya yang menambah kemeriahan. Kami mulai memasuki setiap gedung dengan memperhatikan setiap petunjuk arah yang tersedia, dan dari sekian banyak tempat, gedung yang menyajikan Diorama Sejarah yang menjadi pusat perhatian kami.

Setiap gedung menyajikan berbagai macam tema Diorama, dari Peristiwa sumpah pemuda, Pemindahan Ibukota ke Jogja, Perjanjian Linggarjati,  G30S PKI, Proklamasi kemerdekaan Indonesia, hingga peralatan perang serta peninggalan pribadi pahwlawan Indonesia. Setiap peristiwa di buat sedemikian rupa menyerupai peristiwa aslinya, lagu-lagu kebangsaan serta keheningan kaca bening menambah keseruan ketika berada di dalamnya.

Perlu di ketahui, wanita yang bersamaku yang bertampang Galak ini ternyata cukup mudah terbawa suasana (baca:Takut), ada kejadian lucu yaitu ketika kami melalui tempat yg di design seperti rumah penyanderaan tawanan perang, didalamnya terdapat patung-patung yg di buat bergerak dengan suara rintihan tawanan dan deru senjata, cipratan darah di sekitar tembok. Di gedung ini memang mengharuskan kita melalui dan merasakan sensasi ini untuk dapat menuju etalase selanjutnya, dan Ratna begitu takutnya untuk melalui tempat ini, tidak hentinya tanganku di genggam erat dengan MATA tertutup. Aku hanya tertawa saja, dan suara dan gerakan kejutan di dalamnya membuatnya semakin marah dan murka untuk segera memukul aku nantinya ketika selesai melaluinya. Ekspresi ketakutan yang cukup menyenangkanku, entahlah aku suka dia apa adanya.

Tidak berasa lebih 1 jami kami mengarungi semua diorama yang ada, bahkan bengkel yang sudah di tutup pun hamper saja kami masuki andai saja tidak di informasikan oleh orang di sana bahwa tidak ada apa-apa di sana selain mobil tua yang tidak terawat. Beberapa sudut cantik dari Vredeberg menjadi spot selfie kami, cukup banyak dokumentasi yang ada kami rasa cukup, dan kami siap untuk ke lokasi selanjutnya.

Taman Sari dan Kita

Mendung pekat membawaku melaju dengan motor pinjaman, untuk mengejar lokasi eksotis lainnya yang berada dalam kawasan kraton Jogja, yaitu Komplek Taman Sari. Beruntung bagi kami, dapat tiba di sana dengan keadaan tetap kering, 2 buah tiket pun sudah di tangan kami setelah motor kami parkir rapi.

Dinamakan komplek Taman Sari karena disini terdapat beberapa lokasi menarik untuk di kunjungi, yang pertama kami masuki adalah lokasi pemandian selir dan istri Sultan pada masa lampau. Beberapa kolam pemandian yang telah sedikit di pugar menyambut kami, sudah cukup banyak orang di sana, dan perlu di ketahui tempat ini cukup sering untuk di jadikan tempat pemotretan untuk prewedding maupun komersial. Cukup melihat-lihat dan berfoto di beberapa tempat, kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke Masjid Bawah tanah

Ada kejadian lucu, hujan turun dengan intensitas sedang mengawal kami untuk menuju ke masjid bawah tanah, dengan sombong dan kecongkakan aku menyatakan tau jalan karena daerah kekuasaanku ketika kuliah, namun karena terlalu lama sendiri eh maksudnya terlalu lama tidak main ke taman sari, jadi aku salah mengambil jalan yang membuat kami bukannya tiba di masjid tapi di tepi jalan raya #JengJeng. Dibawah rintikan hujan aku mendapat kecaman dan ejekan dari wanita yg bersamaku dalam satu naungan payung ini, sejak saat itu mosi tidak percaya dengan statemen “Daerah Kekuasaanku”, bahkan masih menjadi ejekan sampai sekarang.

Letak masjid yang berada dekat sekali dengan rumah warga, sempat membuat Ratna tidak percaya bahwa itulah masjid yang di maksud. Setelah melalui sedikit tanjakan dan menuruni beberapa anak tangga, kami pun telah tiba di Masjid itu. Masjid yang bentuknya melingkar dengan tangga naik berada di tengahnya, tangga yang sangat indah untuk di jadikan lokasi berfoto. Lokasi anak tangga yang berada di tengah dan tidak tertutup atap membuat kami harus sedikit berlali menghindari hujan yang semakin deras. Setelah tiba di lantai atas kami mengitari setiap sudut, dan akhirnya memutuskan berhenti dan duduk di dekat jendela sembari menikmati hujan, berfoto dan menikmati suasana masjid bawah tanah.

Setelah hujan reda, kami melanjutkan ke sebuah tempat yang hanya meninggalkan reruntuhan bangunan saja, hanya tembok menjulang serta beberapa sumur cukup dalam yang sudah tidak terpakai dan lebih banyak di gunakan oleh para pengunjung untuk menyimpan sampah. Tempat ini sangat bagus untuk mencari matahari terbit di pagi hari, karena letaknya agak tinggi di banding lokasi di sekitarnya. Tidak banyak yang kami lakukan selain berfoto bersama dan mengitari reruntuhan gedung ini.

Reruntuhan gedung itu adalah tempat terakhir dalam komplek tersebut yang kami kunjungi, kami pun bersiap kembali ke lokasi parkir kami, namun untuk menuju ke lokasi parkir kami harus melewati semacam goa yang cukup panjang yang bentuknya sangat unik dan juga menjadi icon pemotretan di komplek taman sari ini, konon katanya goa atau lorong ini adalah jalan khusu yang hanya boleh di lalui oleh Sultan untuk dapat melihat selir yang mandi dan berada di Taman Sari. Dan jok motor yang basah menyambut kami dan siap mengantar kami ke lokasi selanjutnya.

Taman Pintar dan Kita

Tempat selanjutnya yang kami sambangi adalah tempat yang akan mengingatkan kami akan masa kecil kami, tempat yang sudah kami incar jauh hari sebelum keberangkatan kami, Taman Pintar.
Taman pintar letaknya tidak jauh dari Benteng Vredeberg, hanya selemparan batu saja dan cukup 5 menit dari lokasi terakhir kami di Taman Sari. Setiap orang pasti punya sisi anak-anak dalam dirinya, dan mengunjungi ini adalah wujud dari keinginan hati kami sebagai orang dewasa yang melalui fase anak-anak.

Memasuki Taman Pintar dari sisi Barat, kami pun langsung mencari tempat pembelian tiket, di depan antrian tiket kami di sajikan berbagai macam paket kunjungan, bahkan ada paket 4D untuk melihat kehidupan luar angkasa, namun waktu yang tidak tepat membuat kami mengurungkan niat, dan kami memilih tiket untuk ke gedung sejarah dan gedung utama.

Di gedung sejarah, seperti namanya kami di suguhkan oleh berbagai macam ilmu sejarah, dasar-dasar negara kita, pahlawan nasional dan revolusi, presiden yang pernah berkuasa, baju adat, senjata tradisional dll, sebenarnya cukup membosankan namun tidak ada salahnya jika kita merefresh pengetahuan dan tentunya mendapatkan beberapa foto selfie bersama di ruangan ini.

Gedung selanjutnya yaitu gedung utama yang sangat besar dan memuat banyak permainan dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan membuat kami semakin pintar. Memasuki gedung ini kami disuguhkan lorong akuarium yang berisi beberapa ikan langka, selanjutnya beberapa etalase manusia purba buatan, dan selanjutnya berada di ruang eksperimen. Kami mencoba beberapa permainan yang menyuguhkan IPTEK, diantaranya cetakkan tangan dari ratusan paku kecil, permainan medan magnet yang mampu menghasilkan nada dan energy gesekan yg mampu menyalakan lampu, kesemuanya kami mainkan walaupun terkadang harus mengalah dengan anak-anak kecil yang penasaran ikut bermain dan menyerobot kami.

Selepas dari situ, kami beralih ke sudut ruangan yang menyajikan simulasi peristiwa Gempa Bumi yang tentu saja menjadi sarana keisengan kami, karena sekedar ingin merasakan sensasi bergetar, ahh pasangan yang lucu. Kemudian beberapa peralatan pengukur gempa, tekanan udara, dan benda-benda yang di gunakan oleh team Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk mensuport kerjanya.

Setelah cukup puas, kami naik ke lantai 2 di temani profil beberapa ilmuan ternama yang dijelaskan dengan gambar di sisi tangga yang setengah melingkar. Tiba di atas, disambut dengan pengetahuan tata surya, kedatangan kami ke Jogja memang bertepatan dengan peristiwa langka yaitu Gerhana Matahari total sehingga penjelasan mengenai tata surya beserta peristiwa-peristiwa alam lainnya teasa menarik untuk di baca dan di perhatikan.

Kemudian permainan mengayuh sepeda yang menunjukkan posisi organ tubuh ketika mengayuh sepeda, duduk di kursi yang alasnya adalah ratusan paku tajam yang sempat membuatku harus duduk perlahan memastikan pantatku tidak akan terluka dan ternoda dengan eksperimen ini. Kamipun melanjutkan dengan bermain kayuh sepeda untuk menyalakan beberapa lampu, dan energy dari wanitaku ini sangat besar sehingga mampu menyalakan hamper kesemua lampu, walaupun setelahnya harus mengeluh dengan perasaan pegal di kaki.

Ada satu eksperimen unik yang tidak aku ikutin, dikarenakan bisa terlihat jika yang melakukan memiliki rambut panjang. Eksperimen elektrik dengan memegang sebuah benda bulat yang mengandung unsur elektrik mampu membuta rambut terangkat tegak lurus, rambut Ratna yang panjang dengan sangat jelas terlihat terangkat dan membuatnya seperti nenek lampir yang baru keluar dari salon, walaupun awalnya takut tapi tetap wanita ini memang selalu pengen tahu teradap hal-hal yang mengusik dirinya kalo Bahasa sekarang kepo. Rambut yang terangkat naik itu sempat aku abadikan untuk menjadi data pribadi kami nantinya.

Namun tidak sampai situ saja, aku tidak di beritahu oleh petugasnya bahwa setelah memainkan permainan itu, masih butuh berapa menit untuk dapat menghilangkan medan listrik dari tubuhnya Ratna sepenuhnya, selesai bermain dengan gentlemen aku meraih tangannya dengan maksud menggandeng, namun apa yang terjadi Ratna terperanjat seperti tersetrum, ini membuat aku kaget dan malah semakin senang untuk aku isengin, dan setelah terkejut itu aku tidak berhenti tertawa hingga medan listriknya benar-benar hilang.

Ruangan selanjutnya sudah kurang menarik, namun masih penuh dengan unsur pengetahuan yang kadang masih membuat kita berfikir atau mengangguk walaupun informasi sederhana dan ada di sekeliling kita. Gedung Utama Taman Pintar tidak terlalu besar, namun pengaturannya yang cukup baik baik itu arah jalan dan etalase permainan dan IPTEK membuat terasa sangat luas, dan lebih dari 1 jam kami berada di gedung itu, sampai akhirnya kami berhasil menemukan jalan keluar yang mana pintu keluar langsung di sajikan dengan tokok buku dan foodcourt yang sepertinya kurang di tata dengan baik.

Lelah kami mengarungi Taman pintar, kami memutuskan untuk menyudahi saja. Toilet di sudut komplek Taman pintar menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi. Bukan aku yang kebelet, tapi Ratna yang menyimpan sejak masuk ke Gedung Utama itu. Ada 1 kejadian yang tidak aku ceritakan kepada Ratna saat itu, yang baru aku ceritakan beberapa waktu lalu. Ketika menitipkan tas dan HPnya kepadaku untuk masuk ke toilet, secara tidak sengaja aku iseng ingin melihat hasil foto di HPnya namun tidak sengaja terbuka suatu jaringan sosial media yang disana terdapat obrolan dengan seseorang yang berada di chat teratas, rasa penasaranku menuntunku untuk membuka lebih jauh, dan ternyata chat tersebut belum lama dan aku tidak di informasikan.

Mendadak suasana hatiku berubah, namun aku tidak menunjukkannya langsung kepadanya yang hanya akan membuat liburan kami berantakan, aku close saja dan matikan kembali HP tersebut dan berlagak seperti tidak ada apa-apa, dan mungkin aku belum jadi apa-apa pada saat itu.

Malioboro, Edu Park, Taman Pelangi dan Kita

Selepas dari sana, kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh cindera mata dan titipan dari keluarga di sepanjang jalan Malioboro. Kami tidak berlama-lama di sana karena sudah menjelang gelap, namun kami sangat menikmati setiap sudut Malioboro yang selalu menyapa dan bersahabat.
Lelah menyusuri Malioboro, membuat aku berinisiatif untuk memberikan minuman favorit, ice cream. Kami mampir di salah satu restoran yang menyajiakn ice cream menjadi menu spesialnya, ini kali pertama juga aku mengunjungi tempat ini dan tidak ada rekomendasian minuman istimewa disana, selain mengandalkan pelayannya dana apa yang ada dalam buku menu.

Sembari menunggu pesanan kami datang, aku mencari rekomendasian tempat seru yang dikunjungi pada malam hari melalui om Google, dan ada 2 tempat rekomendasian yaitu Edu Park dan Taman Pelangi, yang letak keduanya tidak terlalu jauh dan sejalan. Ketika makanan tiba, tanpa babibuuu aku menghabiskan ice cream yang banyak unsur buahnya, dan Ratna asik menikmati ice cream yang dikawinkan dengan semacam bolu dan coklat yang rasanya menurut aku enak, harganya juga enak soalnya, hahahahah.

Ketika perut kami sudah terisi dan energy kami sudah kembali pulih, gelap telah menerjang dan dengan ketampanan luar biasa aku memutuskan mengunjungi Edu Park terlebih dahulu di seputaran jalan Magelang. Tempat ini baru bagiku, sempat hampir tersesat kembali meskipun menggunakan map di otak aku, karena aku berpatokan pada bianglala besar yang menurut sumber di google sangat besar dan mampu dilihat dari jarak jauh, namun tingginya beberapa gedung di sisi jalan Magelang membuatku gagal menemukannya dan mau tidak mau suka tidak suka kami pun menggunakan direction dari om Google kembali #Sigh

Menyusuri beberapa komplek perumahan, akhirnya kami dapat dengan jelas melihat lingkaran warna besar yang berjalan melingkar, ya itu adalah bianglala dan keyakinanku benar, itulah Edu Park salah satu tujuan wisata belajar baru di kota Jogja. Sempat muncul keraguan ketika kami akan memarkirkan kendaraan kami di sana, mengapa tidak ramai, apakah kami yang terlalu malam atau memang tempat ini sepi dan kurang menarik, namun aku mengabaikan suara itu karena tujuanku membawa Ratna kesini adalah menikmati malam dari puncak Bianglala raksasa yang menjadi icon tempat ini.

Motor di parkir pada tempatnya, kami berjalan memasukki arena bermain namun ternyata salah loket, kami mendatangi pintu keluar dan loket penukaran uang deposit, come on Niko!! Selalu salah #SelfToyor. Setelah berhasil menemukan pintu masuk, dan harus berhasil kalo tidak ga akan aku tuliskan disini. Edupark menggunakan system saldo yang mengharuskan kita mengisi dalam jumlah tertentu dengan kita mendapatkan electronic card untuk dapat mengakses beberapa permainan disana sesuai dengan jumlah saldo yang ada, kami pun mengisi tidak terlalu banyak karena hanya ingin bermain Bianglala.

Setelah kedua tangan kami di cap kami resmi menjadi pasangan suami istri ehh maaf maksud aku kami resmi siap mengitari Edupark. Tempat yang langsung kami kunjungi adalah BIANGLALA RAKSASA!!, tepat di depan pintu permainan, kami mendapatkan keberuntungan karena hari itu ada diskon dalam setiap permainan yang ada, dan kami pun mendapatkan 2 buah minuman memabukkan yaitu semacam buavita dalam kemasan gelas. Kami telah di sambut 2 orang petugas yang akan menyiapkan sebuah ruangan kecil yang akan membawa kami berputar, dan tidak perlu waktu lama, kami pun telah terjebak berhadapan di dalam Bianglala.

Perasaan ketika berada di dalam adalah kebahagiaan, sangat bahagia. Ini pertama kalinya aku naik bianglala dan dengan orang yang aku sayang, aku meletakkan tas dan menggenggam tangannya #AkuRomantisBukan #Uhuk. Bianglala berputar sangat perlahan, aku memandang Ratna sembari menikmati pemandangan yang dapat terlihat jelas gemerlap lampu dalam gelap, dan menantikan kami berada pada titik tertinggi. Sembari menunggu mencapai titik tertinggi itu, aku menyampaikan apa yang aku rasakan, bahwa aku takut dengan ketinggian dan aku memberanikan diri naik memang hanya untuk menunjukkan keindahan Jogja dan Mencium keningnya pada puncak bianglala, walaupun angina dan dencit besi dan roda pemutar sempat membuat jantungku berdetak slowmotion. Ketika berada di puncak, dengan memegang tangannya aku memberikan kecupan terindah, ya itu kecupan terindah dari puncak udara di ruangan sempit yang sederhana, ingin memeluknya namun aku urungkan karena gerakkan yang berlebihan akan mengakibatkan goncangan yang semakin membuat jantung makin slowmotion.

Tidak beberapa lama, kamipun tiba di bawah dan bergegas untuk keluar. Tidak cukup kata-kata untuk menjelaskan apa yang kami rasakan ketika berada di puncak tadi, ketika kalian pernah merasakan benar-benar mencintai sesorang kalian akan tau bagaimana rasanya tanpa perlu menjelaskan.

Awalnya aku ingin langsung pergi ke lokasi selanjutnya, namun Ratna mengajakku untuk tidak ada salahnya mengitari tempat ini karena kami melihat ada beberapa wahana lain walaupun terlihat sepi. Akhirnya kami mengitari tempat itu, dan melihat saldo deposit kami masih mencukupi, kamipun berniat menghabiskannya dengan bermain salahsatu wahana lagi, yaitu sepeda layang. Mengapa di katakana sepeda layang, karena permainan ini mengharuskan kami mengayuh seperti sepeda untuk berjalan melingkar dalam arena yang tingginya lebih dari 2 meter. Suatu keyakinan dariku adalah aku membawa atlit jalan kaki yang kuat so aman.

Pandanganku ternyata salah, permainan ini tidak semudah yang di bayangkan karena memerlukan energy yang lebih, kami harus terus mengayuh untuk berjalan lebih cepat, ketika kami berhenti maka sepeda layang itu pun berhenti, yang lebih seru adalah, keadaan kami yang melayang dan kami harus menikung itu menimbulkan sensasi yang luar biasa. Kami sempat berhenti beberapa saat untuk mengambil foto selfie berdua, dan setelahnya aku membuat kegaduhan dengan sedikit mengguncangkan sepeda dan mengayuh cepat pada tikungan yang membuat tanganku harus rela di remas kuat di pukul dan di beri sedikit cakaran serta teriakkan oleh wanita di samping aku ini, namun disitulah keseruan permainan ini. Kami beruntung datang pada saat sepi, sehingga tidak harus menunggu lama dalam memainkan wahana ini.

Tidak cukup sampai disitu, kami melihat ada permainan boom boom car tanpa piker panjang langsung kami kunjungi, namun ketika melihat saldo tidak mencukupi sehingga kami harus mengisi ulang kembali saldo kami untuk dapat bermain. Selepas mengisi saldo, kami pun bersiap untuk saling menghujamkan rasa kesal melalui perantara mobil, tidak ada antrian pada saat itu, hanya ada sepasang muda mudi yang bermain bersama dengan kami. Sedikit instruksi dari penjaga wahana, kamipun bersiap dengan kedaraan masing-masing. Jangan ditanya apa yang terjadi selanjutnya, mata kami saling menuju kepada mobil pasangan untuk menabrakkan sekuat mungkin mengungkapkan kekesalan yang berbalut cinta.

Entah berapa kali kami saling mengejar, saling menghindar, saling berputar hingga saling berbenturan yang sangat keras yang membuat sedikit memar pada lutut Ratna, really sorry dear. Sampai akhirnya energy listrik dihentikan dan kendaraan kami tidak dapat berjalan kembali yang artinya waktu kami telah habis. Kami bahkan sempat mendapatkan tambahan waktu dari penjaganya dikarenakan keadaan sepi dan kami bermain dengan asiknya, bahkan cupid yaitu peri cinta ingin ikut main dan menabrakkannya ke kami.

Setelah dari situ, masih ada satu wahana yang letaknya di sudut Edu Park, ontang anting mini. Dengan saldo kami yang masih mencukupi tidak ada salahnya kami mencoba. Hal yang kadang sering aku lakukan adalah meremehkan setiap permainan, dengan hanya kami berdua di arena itu membuat kami bisa sesuka hati memilih kursi, dan aku mendapatkan rekomendasian dari Nyonya ini untuk duduk di kursi terluar yang menurutnya sedikit memberikan tantangan. Ketika mulai berputar aku masih dapat menikmati, semakin cepat dan semakin tinggi aku berada membuat perutku mulai bergoncang namun tetap tersenyum kepadanya (pastilah gengsi donk kalo keliatan pengen muntah). Hanya jejeritan kecil yang aku keluarkan hingga ontang anting ini berhenti dengan sendirinya.

Sedikit pusing aku rasakan, perut sedikit mual namun aku tetap menunjukkan kebaikbaikanya aku di hadapan Ratna, namun Ratna menyadari aku mual dan dia mengajakku untuk duduk dan berhenti sebentar untuk menenangkan diri #PacarYangBaik. Setelah aku cukup baik dan bersamaan dengan itu jam pun telah menunjukkan hampir jam 9 malam, kamipun bergegas pergi untuk melanjutkan tempat terakhir malam ini yaitu Taman Pelangi.

15 menit perjalanan yang kami tempuh dari Edu Park untuk tiba di Taman Pelangi yang letaknya didalam komplek Monumen Jogja Kembali. Memarkirkan motor ke tempat yang di sediakan, kami pun berjalan kaki menuju pusat kegiatan di Taman Pelangi. Dan benar, kami tidak salah datang ke tempat ini sedikit larut malam, karena keindahan taman pelangi adalah pada permainan Lampion lampu yang beraneka bentuk dan warna, sehingga tidak heran jika tempat ini di sebut juga Taman Lampion.

Cukup ramai tempat ini di kunjungi mulai dari anak sekolah, dewasa maupun orangtua meskipun sudah cukup larut. Perlahan demi perlahan kami mulai menyusuri diorama lampion dan permainan warnanya, cukup indah menurutku ditambah menyaksikannya dengan orang yang kamu sayang. Mulai dari pepohonan, ornament naga, dan berbagai macam bentuk dan tema menarik dari lampion dengan keanekaragaman warna semakin meningkatkan citarasa ingin mengabadikan setiap langkah, entah untuk berselfie atau hanya sekedar mengabadikannya saja.

Hampir di setiap sudut kami mengambil gambar kami berdua maupun sendiri, karena begitu sayang untuk di lewatkan. Ditempat ini juga terdapat wahana rumah setan yang sempat aku ajukan untuk masuk namun di tolak mentah-mentah, karena setan yang ngajak lebih serem dari pada setan yang ada di wahana itu, jadi buat apa, begitu yang disampaikan oleh Ratna #KemudianDitabok.

Hari terakhir di Jogja berdasarkan rencana liburan kami ini terasa sangat melelahkan, menguras energi namun tertananm sejuta kenangan yang tidak akan bisa hilang. Sebelum kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat, aku berinisiatif untuk menyempurnakan hari dengan membeli es mendem durian, sebagai penyeimbangnya karena Ratna tidak suka durian maka Mr Burger kami pilih karena ini juga salah satu sajian special di Jogja, 2 burger ring on cheese dan sosis bakar ukuran jumbo dipilih olehnya dan di bungkus untuk di makan di Hotel. Dan ketika tiba di hotel, pecahl lha kenikmatan burger dan sosis itu serta atmosfir durian, sungguh penutup hari yang sempurna, hari yang sangat amat menyenangkan. Semoga akan ada hari-hari seperti ini kembali di waktu depan bersamamu. Percikan shower membasahi tubuh untuk membersihkan dari keringat, serta hangatnya badcover setelahnya membuat kami dengan mudah larut dan terlelap.

Continue..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar