Day 2
Suara
alarm membangunkan kami pagi itu, suara yang cukup untuk membuat kami beranjak
dari nikmatnya memejamkan mata. Kami sengaja menyetelnya lebih pagi untuk
memberi waktu kami berburu sarapan dan mengexplore jogja kembali. Sebotol kecil
air mineral membasahi tenggorokan kami untuk membawa kami bergantian mandi
untuk menyegarkan diri dan menghilagkan kantuk yang ada.
Pagi
itu aku berjanji untuk membawa Ratna makan di sebuah warung soto di sekitaran
selokan mataram, warung soto yang sangat hitzzz ketika diriku berkuliah,
disamping rasanya yg lumayan enak harganya pun murah, ini yang penting. Bagian
terakhir itu tidak aku beberkan ketika mengajaknya sarapan disitu. Ada hal lain
yang special, gorengan tempe yang disajikan bersamaan dengan soto sangat amat
special, begitu lembut, begitu renyah bahkan kami berdua harus meminta tambahan
gorengan karena begitu menikmatinya, dan hal inipun di akui oleh Ratna. Ketika
dirasa energy telah terisi penuh, saatnya menyusuri jalan kaliurang menuju Ulen
Sentalu Museum.
Ulen
Sentalu dan Kita
Ulen
Sentalu merupakan museum yang sangat wajib untuk di kunjungi ketika ke Jogja, Museum
Ullen Sentalu menyimpan aneka koleksi menawan mengenai budaya Jawa peninggalan
Kerajaan Mataram. Sebelum berangkat kesana, aku telah terlebih dahulu mengecek
di internet terkait saat yang tepat mengunjungi tempat itu.
Ini
kali pertamanya aku ke Ulen Sentalu begitupun Ratna, sejuknya udara pegunungan
ditambah hijaunya pohon di sepanjang jalan Kaliurang yang menanjak membuat kami
sangat antusias, namun keantusiasan kami tidak sejalan dengan bagaimana
menemukannya melalui google map. Sebenarnya mudah jika saja aku tidak keras
kepala menganggap itu adalah daerah kekuasaanku, dan banyak bertanya kepada
masyarakat sekitar. Begitu banyak cabang jalan yang membuat kami beberapa kali
salah memilih jalan, semoga jalan hidup saat ini tidak salah #BukanCurhat.
Beberapa
mobil terlihat terparkir rapi dengan beberapa orang yang mengarahkan untuk
menempatkan parkir pada posisinya, sembari aku mencari dimana posisi yang tepat
untuk helicopter kami, ehh maap maksudku motor pinjaman kami di parkir. Setelah
memarkir dengan rapi, kami beranjak langsung ke loket pembelian tiket dan kami
sudah di tunggu oleh rombongan lain yang juga menunggu antrian masuk. Tidak
sampai 10 menit kami menunggu, akhirnya guide kami yang kita sebut Bunga bukan
nama sebenarnya. Bunga lulusan dari kampus ternama di Jogja yang akan menuntun
kami dan menjelaskan kepada kami seluruh jeroan
dan tempat yang ada dalam komplek Museum tersebut. Kami bersama rombongan anak
kuliahan yang menurutku masih smester awal yg jumlahnya 6 orang, beserta 2
orang yang telah berumur dan menurutku adalah pasangan yang tidak resmi
(mungkin selingkuhan atau teman sepermainan), serta aku dan Ratna pasangan yang
belum resmi juga.
Oleh
mbak Bunga kami di arahkan memasuki banyak ruangan, dengan berbagai macam
peninggalan dari Kerajaan Mataram baik itu Jogja maupun Solo, mulai dari
lukisan yang di beri pigura kaca yang menawan, gamelan, patung-patung, serta
banyak hal yang masih terasa unsur magis di dalamnya. Untuk lebih detail apa
saja isi di dalamnya, mohon browsing sendiri karena jujur aku tidak ingat satu
persatu.
Ada
satu kejadian lucu yang nyaris membuatku tertawa terkangkang-kangkang. Suasana
magis di setiap ruangan yang begitu terasa tentu saja tidak jarang memicu
jantung bekerja lebih kencang, Aku dan Ratna terlalu menikmati wisata ini
sehingga selalu ingin di depan tepat di belakang Bunga sang guide, ada lorong
transisi berkelok yang membuat kami kehilangan sosok Bunga, hingga pada
tikungan selanjutnya kami telah tiba di salah satu ruangan yang menyimpan batik
dengan penerangan sedikit remang, tanpa di sadari sosok Bunga telah berdiri di
sudut ruangan dengan rambut panjang terurai sambal menunggu rombongan, aku
telah menyadari hal itu namun tidak dengan sosok wanita yang bernama Ratna,
ketika baru tiba dan matanya menelanjangi ruangan itu dan langsung melihat
sosok wanita berambut panjang, sontak sedikit suara kaget meluncur dari
mulutnya sembari memegang erat tanganku. Aku tertawa ngakak melihat hal ini,
Ratna memang doyan melamun sehingga kejutan singkat ini setidaknya membuatku
ada bahan untuk mengejeknya di sepanjang waktu.
Di
sela-sela tour tersebut, kami juga sempat diberikan minuman jamu tradisional
yang konon katanya dapat membuat awet muda, sembari di berikan waktu untuk
mendokumentasikan diri (karena tidak bisa sembarangan mengambil gambar disana).
Sekira 2 kali rombongan berhenti untuk diberikan waktu untuk berfoto di lokasi
tersebut sampai akhirnya pintu keluar menghampiri kami. Tentu saja kami tidak
ketinggalan mengabadikan berbagai macam gaya selfie dengan berlatar belakang
property yang ada di sana. Sangat puas melihat pesona Ulen Sentalu yang
menurutku salah satu Museum yang wajib untuk di lestarikan dan di kunjungi
ketika ke Jogja.
Keluar
dari Museum terebut, awan mendung menyergap namun kami harus mengejar waktu
untuk ke tempat lain, 10 menit menuruni Kaliurang hujan deraspun turun, kami
harus berteduh di sisi jalan yang kebetulan itu rumah warga yang dipergunakan
juga untuk berjualan bakmi, namun pada saat itu sedang tidak jualan, sehingga
kami berteduh disitu. Dibawah deras hujan, berdua dengan orang yang kamu
sayangi, bercerita dan bercanda sembari berdiri dengan cipratan air hujan
disekitar kami, membuat menunggu 1 jam tidak terasa dan penuh makna, walaupun
sepatu dan pakaian kami sedikit basah.
Gembira
Loka dan Kita
Gembira
Loka, menjadi destinasi selanjutnya yang kami kunjungi, cukup memakan waktu
hingga 40 menit sampai akhirnya kami mampu memarkirkan kendaraan kami dengan
rapi tepat di Kebun Binatang yang menjadi destinasi wajib jika kejogja bersama
keluarga. Alasan utama aku mengajak Ratna kesini adalah, disini banyak binatang
yang menjadi kesenangannya, dan suasana disana sangat rimbun sehingga cocok
untuk menghabiskan siang dan sore kami disana.
Membeli
2 buah tiket dan mendapatkan peta rute wisata di Gembira Loka yang nantinya
akan menjadi pembimbing kami ketika disana. Karena tepat bersamaan dengan hari
libur, lokasi Gembira loka di penuhi oleh study tour sekolah yang berasal dari
luar Jogja sehingga kami tidak jarang berpapasan dengan rombongan anak-anak lucu
kinyis kinyis mateng manggis.
Tujuan
awal kami adalah beberapa satwa mamalia dari Monyet, Tapir, kancil dan aquarium
yang berisi ikan-ikan beraneka macam rupa dan warna. Namun semuanya berubah
ketika si biang kerok wanita disisi aku melihat petunjuk arah ke lokasi
binatang melata yaitu Ular dan familynya. Emang dasar wanita aneh, liat cicak
jejeritan tapi ular koq berani. Namun sebagai kekasih, tidak ada gentar dalam
hatiku, tidak ada padam semangatku, tidak ada takut menyelimutiku. Akhirnya
kamipun masuk.
Berbagai
macam cacing, ya aku menyebutnya cacing biar ga menyeramkan, karena kalo ular
terkesan seram padahal memang. Semuanya disimpan dalam kotak kaca tebal untuk
menghindari dampak bisa yang akan timbul, semuanya lucu dan Ratna tidak bisa
diam selalu hysteria melihat berbagai macam ular eh cacing dengan berbagai
rupa, DIMANA BAGUSNYAAA!!!
Sampai
pada tempat yang mempertontonkan 2 orang manusia duduk di tengah taman, dengan
memegang ular sawah panjang besar dan berwarna kekuningan. “Foto Yuk” Ungkap Ratna
#Jengjengjeng!!! Apapula itu, aku tidak takut sama sekali dengan ular itu dan
besarnya sebegitunya, hanya saja aku geli. Mohon dicatat Aku GELI sama ular.
Ratna harus meraung-raung menggaruk tanah sampai dalam dan memanjat pohon untuk
akhirnya aku bersedia menemaninya berfoto (Sedikit lebay). Ratna tersenyum
simpul, ketika kami berdua telah duduk sejajar di kursi panjang itu, dan
semakin lebar tersenyum ketika sang ular yang ga ada lucu-lucunya itu di
letakkan di paha kami, dan disuruh memegangnya. AKU TIDAK TAKUT!!! Hanya geli
saja.. hanya kamera HP yang mengabadikan kamilah yang membuat aku dapat tegar
bertahan tanpa merasa geli.
Selepas
dari komplek melata kami melanjutkan melihat berbagai macam satwa lainnya yang
ada di sana, dengan menggunakan peta yang kami dapat di awal. Namun ada satu
tempat yang sangat berkesan untukku, letaknya agak di pojok dari Gembira Loka,
pas kami menyusuri hingga esana terlihat sangat sepi, padahal di tempat lain
rame. Itu adalah komplek Burung. Kami masuk ke dalam tempat sejenis kurungan
raksasa, dimana untuk memasukinya harus melawati 3 jenis pintu berbeda, untuk
menghindari burung-burung keluar dari kandangnya. Ketika berhasil masuk
kedalam, betapa takjubnya hatiku, aneka warna burung terbang kesana kemari
disekitar kita, dengan berbagai macam kicauan di tambah asri dan hijaunya
kurungan buatan tersebut membuatku berasa di dunia yang berbeda. Ketika kami
datang juga bersamaan dengan saat pemberian makan mereka, yang menambah sensai
berada di lingkungan burung yang sangat banyak dan riuh. Cukup lama kami berada
disana untuk menikmati suasana tersebut dan mengambil foto.
Komplek
Gembira Loka sangat luas, jika mengarungi keseluruhannya cukup melelahkan.
Sehingga kadang mereka yang telah lelah dapat memotong jalan dan langsung ke
arah pintu keluar. Namun tidak dengan kami, keletihan kami selepas dari Ulen
Sentalu tetap kami nikmati dengan menyusuri setiap sudut Kebun Binatang ini,
bahkan hingga kami pun ikut memanjat di bukit yang di persiapkan hanya untuk
goa bermain anak-anak dan sempat bermain labirin-labirin. Luar biasa sekali
energy wanita yang ada di sisi aku ini, walaupun nanti akan mengeluh namun saat
itu semangatnya tidak pudar.
Raminten,
Cinema XXI dan Kita
Dirasa
cukup, kamipun keluar untuk segera mengisi energy kami, dan Raminten di sekitar
Kota Baru menjadi destinasi selanjutnya. Raminten sudah sangat popular di
Jogja, Rumah makan yang penuh dengan suasana Jogja, dari penataan bangunan,
pernak pernik, pelayannya hingga alunan music yang di suguhkan. Namun yang
membedakan adalah makanan dan minuman, penyajian mereka unik mulai dari rasa
hingga tampilannya. Itulah yang membuat tempat ini popular.
Badan
yang sudah cukup lelah membuat kami memesan apa saja yang terlihat enak menurut
selera kami, namun tetap memperhatikan komposisi foto dan harganya. Disana kami
duduk tepat di pintu utama pemilik rumah yang merupakan Owner Raminten sendiri
yang fotonya terpampang megah di depan restoran, mungkin karena keberuntunganku,
pada saat itu aku secara tidak sengaja melihat pemiliknya melalui koridor rumah
dan disitu aku merasa bangga bisa ketemu langsung ehh melihat langsung sang
pemilik #GaPentingHarapDiabaikan
Perut
sudah terisi, otak mulai bego, namun kami harus segera beranjak untuk ke
Bioskop. Yaaa, kalo ada pertanyaan liburan koq ke bioskop, aku akan jawab
emangnya kenapa, masbulohhh!!!! Kami sepakat jauh hari sebelum berangkat, jika
Kungfu Panda sudah tayang ketika kami liburan kami sepakat untuk nonton
bersama. Dan benar, tidak lama setelah film itu launching kami berlibur ke
Jogja, dan menontonnya. Ada 1 kekecewaan dari aku, untuk film animasi sangat
nikmat ditonton versi 3D, namun ternyata yang aku pesan adalah yang biasa,
padahal ketika memesannya melalui mtix aku telah benar-benar memilih 3D, namun
apalah daya jika ternyata aku salah menekan, mohon maaf atas ketidaksengajaan
ini. Kamipun akhirnya menonton bersama, tertawa bersama namun tidak menangis
bersama, tuh si ratna aja yang meneteskan air mata, kalo ai meneteskan air yg
lain aja #eeeaaaa.
2 Jam
lebih kami berada di Bioskop dengan sepatuku masih sedikit basah dan berwarna
belang, Kungfu Panda akhirnya habis juga, kami memutuskan untuk berjalan kaki
sebentar ke Mini Market Giant untuk membeli beberapa bahan kebutuhan yang
rencananya akan kami masak di apartment. Beerapa bungkus indomie, cabe, bawang,
sosis, margarin telah berada dalam keranjang belanjaan kami, kami membeli
sedikit saja karena ini merupakan sedikit eksperimen dari kami apakah masakan
yang di buat oleh salah satu di antara kami enak atau tidak, walaupun hanya mie
instant. Setelah bayar di kasir, ternyata harga bahan-bahan tersebut lebih
melonjak disbanding dengan membeli jadi di warung burjo terdekat, namun ya
sudahlah yang paling penting adalah kebersamaan dan suasana yang terbentuk.
Setiba di apartment, tanpa piker panjang semua
bahan di keluarkan, namun ada yang terlupa. Kami tidak memiliki Pisau, namun tidak
habis akal pinggiran bungkus margarin pun kami gunakan untuk memotong bawang
dan sosis. Aroma bawang sosis margarin dan mie instant telah memenuhi kamar
kami, sampai akhirnya sang juru masak mengatakan bahwa masakannya telah jadi,
pengen tau rasanya. ENAK!!! Tapi leih enak di burjo depan kampus, hahahaha..
Akhirnya kamipun bergantian mandi dan langsung beristirahat, karena kenyang dan
lelah merupakan kombinasi sempurna untuk lelap tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar