Jumat, 03 Juni 2016

Kita di Yogya dan Solo



Day 2

Suara alarm membangunkan kami pagi itu, suara yang cukup untuk membuat kami beranjak dari nikmatnya memejamkan mata. Kami sengaja menyetelnya lebih pagi untuk memberi waktu kami berburu sarapan dan mengexplore jogja kembali. Sebotol kecil air mineral membasahi tenggorokan kami untuk membawa kami bergantian mandi untuk menyegarkan diri dan menghilagkan kantuk yang ada.

Pagi itu aku berjanji untuk membawa Ratna makan di sebuah warung soto di sekitaran selokan mataram, warung soto yang sangat hitzzz ketika diriku berkuliah, disamping rasanya yg lumayan enak harganya pun murah, ini yang penting. Bagian terakhir itu tidak aku beberkan ketika mengajaknya sarapan disitu. Ada hal lain yang special, gorengan tempe yang disajikan bersamaan dengan soto sangat amat special, begitu lembut, begitu renyah bahkan kami berdua harus meminta tambahan gorengan karena begitu menikmatinya, dan hal inipun di akui oleh Ratna. Ketika dirasa energy telah terisi penuh, saatnya menyusuri jalan kaliurang menuju Ulen Sentalu Museum.

Ulen Sentalu dan Kita

Ulen Sentalu merupakan museum yang sangat wajib untuk di kunjungi ketika ke Jogja, Museum Ullen Sentalu menyimpan aneka koleksi menawan mengenai budaya Jawa peninggalan Kerajaan Mataram. Sebelum berangkat kesana, aku telah terlebih dahulu mengecek di internet terkait saat yang tepat mengunjungi tempat itu.

Ini kali pertamanya aku ke Ulen Sentalu begitupun Ratna, sejuknya udara pegunungan ditambah hijaunya pohon di sepanjang jalan Kaliurang yang menanjak membuat kami sangat antusias, namun keantusiasan kami tidak sejalan dengan bagaimana menemukannya melalui google map. Sebenarnya mudah jika saja aku tidak keras kepala menganggap itu adalah daerah kekuasaanku, dan banyak bertanya kepada masyarakat sekitar. Begitu banyak cabang jalan yang membuat kami beberapa kali salah memilih jalan, semoga jalan hidup saat ini tidak salah #BukanCurhat.

Beberapa mobil terlihat terparkir rapi dengan beberapa orang yang mengarahkan untuk menempatkan parkir pada posisinya, sembari aku mencari dimana posisi yang tepat untuk helicopter kami, ehh maap maksudku motor pinjaman kami di parkir. Setelah memarkir dengan rapi, kami beranjak langsung ke loket pembelian tiket dan kami sudah di tunggu oleh rombongan lain yang juga menunggu antrian masuk. Tidak sampai 10 menit kami menunggu, akhirnya guide kami yang kita sebut Bunga bukan nama sebenarnya. Bunga lulusan dari kampus ternama di Jogja yang akan menuntun kami dan menjelaskan kepada kami seluruh jeroan dan tempat yang ada dalam komplek Museum tersebut. Kami bersama rombongan anak kuliahan yang menurutku masih smester awal yg jumlahnya 6 orang, beserta 2 orang yang telah berumur dan menurutku adalah pasangan yang tidak resmi (mungkin selingkuhan atau teman sepermainan), serta aku dan Ratna pasangan yang belum resmi juga.

Oleh mbak Bunga kami di arahkan memasuki banyak ruangan, dengan berbagai macam peninggalan dari Kerajaan Mataram baik itu Jogja maupun Solo, mulai dari lukisan yang di beri pigura kaca yang menawan, gamelan, patung-patung, serta banyak hal yang masih terasa unsur magis di dalamnya. Untuk lebih detail apa saja isi di dalamnya, mohon browsing sendiri karena jujur aku tidak ingat satu persatu.

Ada satu kejadian lucu yang nyaris membuatku tertawa terkangkang-kangkang. Suasana magis di setiap ruangan yang begitu terasa tentu saja tidak jarang memicu jantung bekerja lebih kencang, Aku dan Ratna terlalu menikmati wisata ini sehingga selalu ingin di depan tepat di belakang Bunga sang guide, ada lorong transisi berkelok yang membuat kami kehilangan sosok Bunga, hingga pada tikungan selanjutnya kami telah tiba di salah satu ruangan yang menyimpan batik dengan penerangan sedikit remang, tanpa di sadari sosok Bunga telah berdiri di sudut ruangan dengan rambut panjang terurai sambal menunggu rombongan, aku telah menyadari hal itu namun tidak dengan sosok wanita yang bernama Ratna, ketika baru tiba dan matanya menelanjangi ruangan itu dan langsung melihat sosok wanita berambut panjang, sontak sedikit suara kaget meluncur dari mulutnya sembari memegang erat tanganku. Aku tertawa ngakak melihat hal ini, Ratna memang doyan melamun sehingga kejutan singkat ini setidaknya membuatku ada bahan untuk mengejeknya di sepanjang waktu.

Di sela-sela tour tersebut, kami juga sempat diberikan minuman jamu tradisional yang konon katanya dapat membuat awet muda, sembari di berikan waktu untuk mendokumentasikan diri (karena tidak bisa sembarangan mengambil gambar disana). Sekira 2 kali rombongan berhenti untuk diberikan waktu untuk berfoto di lokasi tersebut sampai akhirnya pintu keluar menghampiri kami. Tentu saja kami tidak ketinggalan mengabadikan berbagai macam gaya selfie dengan berlatar belakang property yang ada di sana. Sangat puas melihat pesona Ulen Sentalu yang menurutku salah satu Museum yang wajib untuk di lestarikan dan di kunjungi ketika ke Jogja.

Keluar dari Museum terebut, awan mendung menyergap namun kami harus mengejar waktu untuk ke tempat lain, 10 menit menuruni Kaliurang hujan deraspun turun, kami harus berteduh di sisi jalan yang kebetulan itu rumah warga yang dipergunakan juga untuk berjualan bakmi, namun pada saat itu sedang tidak jualan, sehingga kami berteduh disitu. Dibawah deras hujan, berdua dengan orang yang kamu sayangi, bercerita dan bercanda sembari berdiri dengan cipratan air hujan disekitar kami, membuat menunggu 1 jam tidak terasa dan penuh makna, walaupun sepatu dan pakaian kami sedikit basah.

Gembira Loka dan Kita

Gembira Loka, menjadi destinasi selanjutnya yang kami kunjungi, cukup memakan waktu hingga 40 menit sampai akhirnya kami mampu memarkirkan kendaraan kami dengan rapi tepat di Kebun Binatang yang menjadi destinasi wajib jika kejogja bersama keluarga. Alasan utama aku mengajak Ratna kesini adalah, disini banyak binatang yang menjadi kesenangannya, dan suasana disana sangat rimbun sehingga cocok untuk menghabiskan siang dan sore kami disana.

Membeli 2 buah tiket dan mendapatkan peta rute wisata di Gembira Loka yang nantinya akan menjadi pembimbing kami ketika disana. Karena tepat bersamaan dengan hari libur, lokasi Gembira loka di penuhi oleh study tour sekolah yang berasal dari luar Jogja sehingga kami tidak jarang berpapasan dengan rombongan anak-anak lucu kinyis kinyis mateng manggis.

Tujuan awal kami adalah beberapa satwa mamalia dari Monyet, Tapir, kancil dan aquarium yang berisi ikan-ikan beraneka macam rupa dan warna. Namun semuanya berubah ketika si biang kerok wanita disisi aku melihat petunjuk arah ke lokasi binatang melata yaitu Ular dan familynya. Emang dasar wanita aneh, liat cicak jejeritan tapi ular koq berani. Namun sebagai kekasih, tidak ada gentar dalam hatiku, tidak ada padam semangatku, tidak ada takut menyelimutiku. Akhirnya kamipun masuk.

Berbagai macam cacing, ya aku menyebutnya cacing biar ga menyeramkan, karena kalo ular terkesan seram padahal memang. Semuanya disimpan dalam kotak kaca tebal untuk menghindari dampak bisa yang akan timbul, semuanya lucu dan Ratna tidak bisa diam selalu hysteria melihat berbagai macam ular eh cacing dengan berbagai rupa, DIMANA BAGUSNYAAA!!!

Sampai pada tempat yang mempertontonkan 2 orang manusia duduk di tengah taman, dengan memegang ular sawah panjang besar dan berwarna kekuningan. “Foto Yuk” Ungkap Ratna #Jengjengjeng!!! Apapula itu, aku tidak takut sama sekali dengan ular itu dan besarnya sebegitunya, hanya saja aku geli. Mohon dicatat Aku GELI sama ular. Ratna harus meraung-raung menggaruk tanah sampai dalam dan memanjat pohon untuk akhirnya aku bersedia menemaninya berfoto (Sedikit lebay). Ratna tersenyum simpul, ketika kami berdua telah duduk sejajar di kursi panjang itu, dan semakin lebar tersenyum ketika sang ular yang ga ada lucu-lucunya itu di letakkan di paha kami, dan disuruh memegangnya. AKU TIDAK TAKUT!!! Hanya geli saja.. hanya kamera HP yang mengabadikan kamilah yang membuat aku dapat tegar bertahan tanpa merasa geli.

Selepas dari komplek melata kami melanjutkan melihat berbagai macam satwa lainnya yang ada di sana, dengan menggunakan peta yang kami dapat di awal. Namun ada satu tempat yang sangat berkesan untukku, letaknya agak di pojok dari Gembira Loka, pas kami menyusuri hingga esana terlihat sangat sepi, padahal di tempat lain rame. Itu adalah komplek Burung. Kami masuk ke dalam tempat sejenis kurungan raksasa, dimana untuk memasukinya harus melawati 3 jenis pintu berbeda, untuk menghindari burung-burung keluar dari kandangnya. Ketika berhasil masuk kedalam, betapa takjubnya hatiku, aneka warna burung terbang kesana kemari disekitar kita, dengan berbagai macam kicauan di tambah asri dan hijaunya kurungan buatan tersebut membuatku berasa di dunia yang berbeda. Ketika kami datang juga bersamaan dengan saat pemberian makan mereka, yang menambah sensai berada di lingkungan burung yang sangat banyak dan riuh. Cukup lama kami berada disana untuk menikmati suasana tersebut dan mengambil foto.

Komplek Gembira Loka sangat luas, jika mengarungi keseluruhannya cukup melelahkan. Sehingga kadang mereka yang telah lelah dapat memotong jalan dan langsung ke arah pintu keluar. Namun tidak dengan kami, keletihan kami selepas dari Ulen Sentalu tetap kami nikmati dengan menyusuri setiap sudut Kebun Binatang ini, bahkan hingga kami pun ikut memanjat di bukit yang di persiapkan hanya untuk goa bermain anak-anak dan sempat bermain labirin-labirin. Luar biasa sekali energy wanita yang ada di sisi aku ini, walaupun nanti akan mengeluh namun saat itu semangatnya tidak pudar.

Raminten, Cinema XXI dan Kita

Dirasa cukup, kamipun keluar untuk segera mengisi energy kami, dan Raminten di sekitar Kota Baru menjadi destinasi selanjutnya. Raminten sudah sangat popular di Jogja, Rumah makan yang penuh dengan suasana Jogja, dari penataan bangunan, pernak pernik, pelayannya hingga alunan music yang di suguhkan. Namun yang membedakan adalah makanan dan minuman, penyajian mereka unik mulai dari rasa hingga tampilannya. Itulah yang membuat tempat ini popular.

Badan yang sudah cukup lelah membuat kami memesan apa saja yang terlihat enak menurut selera kami, namun tetap memperhatikan komposisi foto dan harganya. Disana kami duduk tepat di pintu utama pemilik rumah yang merupakan Owner Raminten sendiri yang fotonya terpampang megah di depan restoran, mungkin karena keberuntunganku, pada saat itu aku secara tidak sengaja melihat pemiliknya melalui koridor rumah dan disitu aku merasa bangga bisa ketemu langsung ehh melihat langsung sang pemilik #GaPentingHarapDiabaikan

Perut sudah terisi, otak mulai bego, namun kami harus segera beranjak untuk ke Bioskop. Yaaa, kalo ada pertanyaan liburan koq ke bioskop, aku akan jawab emangnya kenapa, masbulohhh!!!! Kami sepakat jauh hari sebelum berangkat, jika Kungfu Panda sudah tayang ketika kami liburan kami sepakat untuk nonton bersama. Dan benar, tidak lama setelah film itu launching kami berlibur ke Jogja, dan menontonnya. Ada 1 kekecewaan dari aku, untuk film animasi sangat nikmat ditonton versi 3D, namun ternyata yang aku pesan adalah yang biasa, padahal ketika memesannya melalui mtix aku telah benar-benar memilih 3D, namun apalah daya jika ternyata aku salah menekan, mohon maaf atas ketidaksengajaan ini. Kamipun akhirnya menonton bersama, tertawa bersama namun tidak menangis bersama, tuh si ratna aja yang meneteskan air mata, kalo ai meneteskan air yg lain aja #eeeaaaa.

2 Jam lebih kami berada di Bioskop dengan sepatuku masih sedikit basah dan berwarna belang, Kungfu Panda akhirnya habis juga, kami memutuskan untuk berjalan kaki sebentar ke Mini Market Giant untuk membeli beberapa bahan kebutuhan yang rencananya akan kami masak di apartment. Beerapa bungkus indomie, cabe, bawang, sosis, margarin telah berada dalam keranjang belanjaan kami, kami membeli sedikit saja karena ini merupakan sedikit eksperimen dari kami apakah masakan yang di buat oleh salah satu di antara kami enak atau tidak, walaupun hanya mie instant. Setelah bayar di kasir, ternyata harga bahan-bahan tersebut lebih melonjak disbanding dengan membeli jadi di warung burjo terdekat, namun ya sudahlah yang paling penting adalah kebersamaan dan suasana yang terbentuk.

Setiba di apartment, tanpa piker panjang semua bahan di keluarkan, namun ada yang terlupa. Kami tidak memiliki Pisau, namun tidak habis akal pinggiran bungkus margarin pun kami gunakan untuk memotong bawang dan sosis. Aroma bawang sosis margarin dan mie instant telah memenuhi kamar kami, sampai akhirnya sang juru masak mengatakan bahwa masakannya telah jadi, pengen tau rasanya. ENAK!!! Tapi leih enak di burjo depan kampus, hahahaha.. Akhirnya kamipun bergantian mandi dan langsung beristirahat, karena kenyang dan lelah merupakan kombinasi sempurna untuk lelap tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar