Kata sederhana dan tegas yang
bermakna lebih untuk aku, sebuah sikap dan ketetapan hati yang telah aku yakini
sejak awal ketika memutuskan untuk menjalin hubungan Long Distance Relationship
(LDR)
Bagaimana tidak, ketika kita
berbicara LDR tentu akan terkait mengenai intensitas pertemuan yang menjadi
poin penting dalam suatu hubungan yang berujung pada rasa saling percaya kepada
pasangan. Pertemuan yang rutin saja masih dapat menimbulkan perasaan saling
curiga, apalagi LDR yang intensitasnya jauh dari kata sering, dan perasaan
curiga ini yang lebih sering menjadi bumbu yang di tabur dalam hubungan LDR.
Masalah lain yang sering timbul
dalam LDR adalah kurangnya komunikasi yang berujung kepada salah paham.
Kurangnya komunikasi juga dapat disebabkan oleh kesibukan pasangan satu sama
lain, pun ketika menemukan saat berkomunikasi salah satu pihak sedang tidak berada
pada situasi yang memungkinkan untuk berkomunikasi entah sedang bersama
teman-temannya, sedang serius bekerja dan diskusi dengan orang lain. Ketika
salah satu pihak menghubungi kembali, ego mulai menguasai ditambah tabungan
rindu yang terkadang bingung untuk menumpahkannya sehingga brujung pada salah
paham dan pertengkaran. Padahal komunikasi jarang, sekalinya berkomunikasi
pertengkaran yang ada.
Komunikasi jadi salah satu dari
sekian masalah yang akan timbul ketika sebuah pasangan memutuskan untuk
menjalin LDR. Masih banyak masalah lain yang bisa saja timbul diantaranya ego,
rasa curiga, dan hal negative lainnya yang berujung pada hilangnya rasa
percaya. Jika hal ini hilang, teramat sulit suatu hubungan LDR dapat bertahan.
Perasaan negative yang muncul
dalam diri masing-masing pasangan merupakan hasil dari bibit yang di tanam
dalam diri yang akan semakin subur dan berbuah makin banyak jika kita terus memberinya
pupuk dengan pikiran negative secara terus menerus.
Kepercayaan itu seperti otot
dalam tubuh manusia, perlu dilatih dan dilatih terus menerus agar menjadi kuat
dan berfungsi maksimal. Jika kita membiarkan rasa percaya itu dengan memberi
asupan hal negative yang kita ciptakan sendiri tentu akan menciderainya.
Itulah mengapa diawal ketika aku
memutuskan melakukan LDR, aku melandasainya dengan KOMITMEN.
KOMITMEN adalah sesuatu yang dipercaya, diperjuangkan dan dicapai
bersama.
Dalam suatu hubungan, jika
menghadapi masalah maka terbukalah dan membicarakannya selayaknya dua insan
yang sudah cukup dewasa, cari akar permasalahannya bicarakan dan bicarakan,
untuk kemudian saling instropeksi diri masing-masing. Jangan hanya diam, karena
diam tidak dapat menyelesaikan masalah yang ada.
Tidak mudah memang, ketika
masalah muncul ego kemudian merangkul, disitulah dibutuhkan perjuangan.
Perjuangan PASTI mengorbankan satu atau
banyak hal, bisa itu ego kita, marah kita, keuangan kita, waktu kita dan masih
banyak lagi, intinya bicarakan dengan baik-baik dan kembali komunikasikan
semuanya.
Jika kita tidak siap menghadapi
hal-hal yang tidak mengenakan dalam suatu hubungan, jangan pernah Jatuh Cinta,
karena jatuh berarti harus siap sakit dan berkorban. AKu pun tidak akan berani jatuh
cinta terlebih itu LDR jika aku tidak siap sakit dan berkorban.
Harus aku akui dalam LDR, entah mengapa
kita akan mudah bertemu dengan orang – orang yg “nampaknya” jauh lebih baik dan
jauh lebih hebat dan jauh lebih sempurna dari pasangan kita. Inilah ujian
terberat sebenarnya,, apakah kita bisa teguh memegang komitmen atau tidak. Memang, ikatan pacaran tidaklah sekuat pernikahan,
tapi justru disinilah kita semua bisa belajar bagaimana berkomitmen pada apa
yang sudah kita putuskan.
LDR ini harusnya jadi jalan utk
mendewasakan kita dan pasangan kita.
Sadarilah memang akan selalu muncul orang yang lebih baik dari pasangan
kita sekarang, dan tak akan pernah habisnya jika dipikiran kita hanya mengejar
“KESEMPURNAAN”.
“Jika mulai ragu, tanyalah
hati dan bersikaplah jujur pada pasangan dan berdamailah dengan segala
kekurangannya. Karena perbedaan antara suka dan cinta adalah, suka itu membuat
kita mencintai kelebihannya, sedangkan cinta itu membuat kita mencintai
kekurangannya..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar