Jumat, 15 Januari 2016

Ketika Pesimismu Menguji Kesungguhanku



Jalur pedestrian yang cukup luas dengan jalanan lebar beraspal mendampinginya ditambah matahari yang nampak sangat marah mengiringi derap langkah kita siang itu. Beberapa bulir keringat perlahan mulai terlihat jelas di wajah, tas ransel di punggung dan beberapa plastic tergantung manis dalam genggaman kami semakin membuat puluh deras mengalir.

Sebuah lapangan besar dengan sebuah helipad, hotel, mall besar dan jejeran ruko menemani langkah kami untuk menuju di sebuah jalan demi menantikan kendaraan umum berwarna biru yang biasanya penuh sesak dengan penumpang. Ketika yang kami nantikan tiba, kami mencari posisi yang paling santai untuk bisa saling memandang dan berbicara walau tanpa suara. Sempat kami di turunkan di tengah jalan untuk di oper ke kendaraan lain, namun itu tidak menyurutkan niat.

Sebuah mall besar dalam lingkungan Universitas Swasta bonafit menjadi perhentian kendaraan kami, untuk kami menyambungnya dengan kendaraan jenis sama namun berbeda warna. Setiba disana, kami menyempatkan diri untuk mengitari sekitaran mall tersebut untuk sekedar mencari makan dan mengeringkan peluh yang sudah cukup membasahi tubuh dan pakaian kami, sebelum siap menghadapi ujian yang sesungguhnya yang sempat aku rencanakan beberapa waktu lalu namun gagal aku realisasikan.

Ketika perut telah terisi penuh, energy telah kembali dan kerigat telah kering, kami mencari kendaraan yang akan mengantar kami ke sebuah rumah, rumah yang hanya sekali aku kunjungi ketika mengenal kamu.

Sebuah gang dengan gapura sederhana menyambut ketika kendaraan yang kami tumpangi berhenti sesuai dengan perintah dari kamu. Ini adalah gang menuju rumah seseorang yang telah merubah hari-hariku beberapa bulan belakangan.

Sapaan seorang temanmu sempat menghentikan langkah, beberapa obrolan terjadi dan akhirnya kami meneruskan langkah, sebuah belokan pertama semakin membuat detak jantungku semakin cepat memacu sampai akhirnya sebuah pagar coklat dengan beberapa sangkar burung tergantung menghentikan langkah kami, dan aku telah tiba di rumah kamu

Sapaan hangat dari papah menyambut kami, melepaskan alas kaki dan menjabat tangan papah hal pertama yang aku lakukan, untuk kemudian meletakkan ransel yang sedari tadi menempel di punggung aku sembari di persilahkan oleh yang punya rumah untuk duduk. Tidak lama setelahnya, mamah menyambutku dan jabatan tangan dan sedikit obrolan menjadi pembuka pertemuan.

Ya.. Aku memutuskan untuk mengatakan sesuatu kepada orang tua KAMU hari itu, sebuah hal yang sangat beresiko namun harus aku lakukan. Aku akan mengatakan keseriusanku kepada kedua orang tuanya dan meminta izin utuk menjalin hubungan ini.

Aku teringat malam sebelumnya, ketika aku mengatakan dan menginginkan pertemuan ini, air mata sempat membasahi pipimu dalam pelukanku. Sebuah keputusan yang sangat beresiko, dan dari air mata itu aku dapat merasakan bahwa hal ini akan berakibat buruk. Ketika aku membutuhkan semangat dan keyakinan dari kamu, namun rasa pesimis telah menyelimutimu. Aku cukup bisa memahami dan telah siap dengan segala kemungkinan terburuk, namun satu hal yang aku percaya ketika kita yakin dan sungguh-sungguh tidak ada yang sia-sia, termaksud dalam memperjuangkan hubungan yang saat ini kami rasakan.

Sungguh tidak mudah mengumpukan keberanian untuk mengatakan hal itu kepada kedua orangtuamu, segelas air putih dan beberapa kue ringan tidak mampu menutupi rasa takutku. Mungkin kamu bisa melihat ini dengan jelas, ketika berjam-jam aku diam dan berfikir. Perlu kamu tau, bahwa diamku itu mengumpulkan keberanian, menyusun kata-kata yang layak dan sopan untuk di ungkapan, dan menemukan moment yang pas untuk berbicara.

Berkali-kali aku menantikan mamah dan papah berada dalam satu meja yang sama dan tidak sedang sibuk, bahkan ketika kamu menyuruhku untuk pindah kursi di dekat meja aku lakukan untuk meredam takutku dan mendekatkanku dengan meja makan yang merupakan tempat yang aku rasa pas untuk menyampaikan maksudku.

Aku menatap layar handphone, beberapa kali melihat jam dinding, bahkan tayangan televise yang ada aku acuhkan demi menemukan keberanianku. Bahkan sempat terfikir olehku untuk membatalkan hal ini, namun hati kecil aku mengatakan lakukan saat ini juga karena aku bukan seorang pengecut, memperjuangkan seseorang yang layak untuk di perjuangkan dimulai dari sini, meskipun kita terpisah oleh jarak, dan perbedaan ras serta keyakinan.

Ketika mamah duduk di meja makan itu, aku masih merasa takut, namun ketika aku melihat kearahmu, seketika itu pula pikiran dan hati aku yakin, inilah saat mengatakannya.

“Permisi tante, niko mau ngomong sesuatu sama tante,”

 ……………….



“Niko serius sama anak tante, dan mau minta ijin untuk menjalin hubungan dengan anak tante”

Ketika kata-kata itu terucap seolah beban besar yang beberapa hari ini aku pikul cair dan menghilang. Aku tidak memikirkan apapun itu jawaban dari mamah, namun satu step positif telah aku lakukan. Barisan kata-kata terus mengalir dari bibirku menjelaskan apa yang terjadi diantara kami.

Dan tiba saat dimana mamah menjawab pertanyaan aku...

“Tante terserah sama Ratna, kalau dia mau dan setuju ya tante juga setuju”

Seketika itu pula aku melirik kearah Kamu, sebuah anggukan darimu bisa menjawab apa yang mamah sampaikan tadi. Anggukanmu di lanjutkan dengan cerita dan nasihat dari mamah dalam menjalin hubungan dan tidak melupakan keluarga.

Apa aku bahagia?? Tentu, namun aku harus mengatakan hal yang sama kepada papahnya, dan bisa saja keputusannya berbeda.

Mamah memanggil papah yang ada di luar rumah untuk masuk kedalam rumah dan mengatakan bahwa Niko mau ngomong sesuatu. Ketika papah masuk, dengan rokok di tangan dan duduk tepat di depan aku, rasa takut kembali muncul, namun tidak lebih besar dari apa yang harus aku perjuangkan, dan tidak beberapa menit, akupun mengatakan hal yang sama kepada papahnya..

“Niko serius sama anak Om, dan mau minta ijin untuk menjalin hubungan dengan anak Om”

Jawaban apa yang aku dapat??

“Om kembalikan kepada Ratna, Om setuju saja jika memang Ratna mau. Namun satu hal yang penting jangan pernah sekalipun main tangan dengan Ratna”

Seketika itu pula aku tidak dapat menutupi kebahagiaan, aku pun bisa melihatmu tersenyum dan aku berhrap kamu dapat merasakan hal yang sama yang aku rasakan. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup aku untuk berbicara kepada orangtua pacar dan mengutarakan hal ini.

Untaian nasihat dan pengalaman dari papah dan mamah dalm menjalani bahtera keluarga akan aku pegang teguh karena disinilah aku akan memulai untuk mendapat kepercayaan dari orang tua kamu yang nantinya akan menjadi orang tua aku juga.

Suatu moment yang sangat luar biasa, menjadi tongak awal dimana kita akan terus saling mengenal diri masing-masing, saling mengenal keluarga, dan saling memahami ke-aku-an masing-masing.

Tidak lama setelah gegap gempita kebahagiaan dalam diri aku, aku memutuskan untuk pamit untuk segera ke Jakarta. dan Kamu memutuskan akan mengantar aku sampai di Jakarta, dan  langkahku sungguh berbeda ketika tadi pertama datang, sungguh berbeda.

Diujung gang setelah aku dan kamu tidak lagi terlihat oleh keluargamu, aku mengekspresikan kegembiraan aku, aku melihat matamu dan dengan sedikit candaan dan gestur tubuh kita mampu menunjukkan dan menggambarkan apa yang sama-sama kita rasakan saat itu.

Kita telah melewati satu tembok, saatnya kita berjuang kembali untuk membangun dan menguatkan pondasi kita BERSAMA.

Tapi..

Aku masih menyimpan tanya, apakah kamu masih pesimis dengan kesungguhanku??

With Love
-Niko-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar