Jalur pedestrian yang cukup luas
dengan jalanan lebar beraspal mendampinginya ditambah matahari yang nampak sangat
marah mengiringi derap langkah kita siang itu. Beberapa bulir keringat perlahan
mulai terlihat jelas di wajah, tas ransel di punggung dan beberapa plastic
tergantung manis dalam genggaman kami semakin membuat puluh deras mengalir.
Sebuah lapangan besar dengan sebuah
helipad, hotel, mall besar dan jejeran ruko menemani langkah kami untuk menuju
di sebuah jalan demi menantikan kendaraan umum berwarna biru yang biasanya
penuh sesak dengan penumpang. Ketika yang kami nantikan tiba, kami mencari
posisi yang paling santai untuk bisa saling memandang dan berbicara walau tanpa
suara. Sempat kami di turunkan di tengah jalan untuk di oper ke kendaraan lain,
namun itu tidak menyurutkan niat.
Sebuah mall besar dalam
lingkungan Universitas Swasta bonafit menjadi perhentian kendaraan kami, untuk
kami menyambungnya dengan kendaraan jenis sama namun berbeda warna. Setiba
disana, kami menyempatkan diri untuk mengitari sekitaran mall tersebut untuk
sekedar mencari makan dan mengeringkan peluh yang sudah cukup membasahi tubuh
dan pakaian kami, sebelum siap menghadapi ujian yang sesungguhnya yang sempat
aku rencanakan beberapa waktu lalu namun gagal aku realisasikan.
Ketika perut telah terisi penuh,
energy telah kembali dan kerigat telah kering, kami mencari kendaraan yang akan
mengantar kami ke sebuah rumah, rumah yang hanya sekali aku kunjungi ketika
mengenal kamu.
Sebuah gang dengan gapura
sederhana menyambut ketika kendaraan yang kami tumpangi berhenti sesuai dengan
perintah dari kamu. Ini adalah gang menuju rumah seseorang yang telah merubah
hari-hariku beberapa bulan belakangan.
Sapaan seorang temanmu sempat
menghentikan langkah, beberapa obrolan terjadi dan akhirnya kami meneruskan
langkah, sebuah belokan pertama semakin membuat detak jantungku semakin cepat
memacu sampai akhirnya sebuah pagar coklat dengan beberapa sangkar burung tergantung
menghentikan langkah kami, dan aku telah tiba di rumah kamu
Sapaan hangat dari papah
menyambut kami, melepaskan alas kaki dan menjabat tangan papah hal pertama yang
aku lakukan, untuk kemudian meletakkan ransel yang sedari tadi menempel di
punggung aku sembari di persilahkan oleh yang punya rumah untuk duduk. Tidak
lama setelahnya, mamah menyambutku dan jabatan tangan dan sedikit obrolan
menjadi pembuka pertemuan.
Ya.. Aku memutuskan untuk
mengatakan sesuatu kepada orang tua KAMU hari itu, sebuah hal yang sangat
beresiko namun harus aku lakukan. Aku akan mengatakan keseriusanku kepada kedua
orang tuanya dan meminta izin utuk menjalin hubungan ini.
Aku teringat malam sebelumnya,
ketika aku mengatakan dan menginginkan pertemuan ini, air mata sempat membasahi
pipimu dalam pelukanku. Sebuah keputusan yang sangat beresiko, dan dari air
mata itu aku dapat merasakan bahwa hal ini akan berakibat buruk. Ketika aku
membutuhkan semangat dan keyakinan dari kamu, namun rasa pesimis telah
menyelimutimu. Aku cukup bisa memahami dan telah siap dengan segala kemungkinan
terburuk, namun satu hal yang aku percaya ketika kita yakin dan sungguh-sungguh
tidak ada yang sia-sia, termaksud dalam memperjuangkan hubungan yang saat ini kami
rasakan.
Sungguh tidak mudah mengumpukan
keberanian untuk mengatakan hal itu kepada kedua orangtuamu, segelas air putih
dan beberapa kue ringan tidak mampu menutupi rasa takutku. Mungkin kamu bisa
melihat ini dengan jelas, ketika berjam-jam aku diam dan berfikir. Perlu kamu
tau, bahwa diamku itu mengumpulkan keberanian, menyusun kata-kata yang layak
dan sopan untuk di ungkapan, dan menemukan moment yang pas untuk berbicara.
Berkali-kali aku menantikan mamah
dan papah berada dalam satu meja yang sama dan tidak sedang sibuk, bahkan
ketika kamu menyuruhku untuk pindah kursi di dekat meja aku lakukan untuk
meredam takutku dan mendekatkanku dengan meja makan yang merupakan tempat yang
aku rasa pas untuk menyampaikan maksudku.
Aku menatap layar handphone, beberapa kali
melihat jam dinding, bahkan tayangan televise yang ada aku acuhkan demi
menemukan keberanianku. Bahkan sempat terfikir olehku untuk membatalkan hal
ini, namun hati kecil aku mengatakan lakukan saat ini juga karena aku bukan
seorang pengecut, memperjuangkan seseorang yang layak untuk di perjuangkan
dimulai dari sini, meskipun kita terpisah oleh jarak, dan perbedaan ras serta
keyakinan.
Ketika mamah duduk di meja makan
itu, aku masih merasa takut, namun ketika aku melihat kearahmu, seketika itu
pula pikiran dan hati aku yakin, inilah saat mengatakannya.
“Permisi tante, niko mau ngomong
sesuatu sama tante,”
……………….
“Niko serius sama anak tante, dan
mau minta ijin untuk menjalin hubungan dengan anak tante”
Ketika kata-kata itu terucap
seolah beban besar yang beberapa hari ini aku pikul cair dan menghilang. Aku
tidak memikirkan apapun itu jawaban dari mamah, namun satu step positif telah
aku lakukan. Barisan kata-kata terus mengalir dari bibirku menjelaskan apa yang
terjadi diantara kami.
Dan tiba saat dimana mamah
menjawab pertanyaan aku...
“Tante terserah sama Ratna, kalau
dia mau dan setuju ya tante juga setuju”
Seketika itu pula aku melirik
kearah Kamu, sebuah anggukan darimu bisa menjawab apa yang mamah sampaikan
tadi. Anggukanmu di lanjutkan dengan cerita dan nasihat dari mamah dalam
menjalin hubungan dan tidak melupakan keluarga.
Apa aku bahagia?? Tentu, namun
aku harus mengatakan hal yang sama kepada papahnya, dan bisa saja keputusannya
berbeda.
Mamah memanggil papah yang ada di
luar rumah untuk masuk kedalam rumah dan mengatakan bahwa Niko mau ngomong
sesuatu. Ketika papah masuk, dengan rokok di tangan dan duduk tepat di depan
aku, rasa takut kembali muncul, namun tidak lebih besar dari apa yang harus aku
perjuangkan, dan tidak beberapa menit, akupun mengatakan hal yang sama kepada
papahnya..
“Niko serius sama anak Om, dan
mau minta ijin untuk menjalin hubungan dengan anak Om”
Jawaban apa yang aku dapat??
“Om kembalikan kepada Ratna, Om
setuju saja jika memang Ratna mau. Namun satu hal yang penting jangan pernah
sekalipun main tangan dengan Ratna”
Seketika
itu pula aku tidak dapat menutupi kebahagiaan, aku pun bisa melihatmu tersenyum
dan aku berhrap kamu dapat merasakan hal yang sama yang aku rasakan. Ini adalah
pertama kalinya dalam hidup aku untuk berbicara kepada orangtua pacar dan
mengutarakan hal ini.
Untaian
nasihat dan pengalaman dari papah dan mamah dalm menjalani bahtera keluarga akan
aku pegang teguh karena disinilah aku akan memulai untuk mendapat kepercayaan
dari orang tua kamu yang nantinya akan menjadi orang tua aku juga.
Suatu
moment yang sangat luar biasa, menjadi tongak awal dimana kita akan terus
saling mengenal diri masing-masing, saling mengenal keluarga, dan saling
memahami ke-aku-an masing-masing.
Tidak
lama setelah gegap gempita kebahagiaan dalam diri aku, aku memutuskan untuk pamit
untuk segera ke Jakarta. dan Kamu memutuskan akan mengantar aku sampai di
Jakarta, dan langkahku sungguh berbeda
ketika tadi pertama datang, sungguh berbeda.
Diujung
gang setelah aku dan kamu tidak lagi terlihat oleh keluargamu, aku
mengekspresikan kegembiraan aku, aku melihat matamu dan dengan sedikit candaan
dan gestur tubuh kita mampu menunjukkan dan menggambarkan apa yang sama-sama
kita rasakan saat itu.
Kita telah
melewati satu tembok, saatnya kita berjuang kembali untuk membangun dan
menguatkan pondasi kita BERSAMA.
Tapi..
Aku
masih menyimpan tanya, apakah kamu masih pesimis dengan kesungguhanku??
With
Love
-Niko-