Jumat, 10 Juni 2016



Day 4

Tidak ada alarm yang membangunkan kali ini, alam bawah sadar yang mendadak membangunkanku bahkan lebih pagi dari alarm biasanya membangunkanku, Ratna rupanya telah lebih dahulu terbangun namun masih memeluk guling yang enggan membuatnya beranjak. Ya hari ini kami akan check out dan melanjutkan liburan kami ke Solo, kami akan berangkat dengan motor yang menurut estimasi sekira 2 jam kami akan sampai di sana. Kami tidak memesan kamar hotel yang mendapatkan sarapan, sehingga kami akan menggabungnya dengan makan siang di perjalanan nanti ke arah Solo. Kami berkemas, mandi untuk menyegarkan badan dan setelah memastikan tidak ada yang tertinggal kami segera ke receptionist untuk check out.

Dengan pakaian lengan panjang dan celana panjang serta sebuah selendang untuk menutup hidung dari debu kami berdua mulai menyusuri jalan Solo, namun kami teringat pesan Mas Hangga yang bekerja di Solo bahwa di sana lalulintas sangat ketat, sehingga mengharuskan kelengkapan kendaraan harus di pastikan lengkap. Motor yang kami bawa sedari hari pertama memang hanya mempunyai 1 spion, sehingga sebelum candi Prambanan kami mengganti spion dengan yang baru yang jumlahnya sepasang sehingga nantinya lebih aman, daripada duit yang ada digunakan untuk membayar denda tilang, lebih baik untuk membeli spion dan makanan nantinya.

Siang itu benar-benar sangat terik di tambah panas pantul dari aspal, perut kami pun belum terisi makanan, hanya berharap dari sisa kekhilapan Mr Burger semalam saja. AKu menderu motor dengan kecepatan sedang saja, sesekali harus menarik gas lebih untuk menyalip kendaraan di depan. Banyak obrolaan meluncur sepanjang perjalanan, tidak terasa kota Klaten telah kami lalui yg berarti kami sudah setengah perjalanan, kami mencari makanan di sisi jalan yang searah, namun kami baru berhenti di sebuah rumah makan special Swuike (katak) yang terletah tepat di lampu merah sebekum masuk kearah Solo Baru setelah tidak mampu lagi menahan gejolak energy yang di butuhkan untuk melawan teriknya panas.

Inilah lucunya kami di tempat ini, kami tidak memesan swuike yang menjadi menu special tapi hanya ayam dengan saus dan sambel, dasar pasangan aneh.

Setelah cukup terisi energy, kamipun melanjutkan setengah perjalanan yang masih tersisa. Jangan berharap dengan perut terisi motor dapat dikebut, kami menggunakan prinsip biar lambat asal selamat. Dan penantian panjang hamper 2 jam membuahkan hasil ketika aku melihat stasiun Purwosari yang menandakan ini adalah SOLO dan sudah pasti Jln Slamet Riyadi menjadi jalur utama yang akan membawa kami ke penginapan yang telah kami siapkan sebelumnya, tentu saja dengan bantuan Google Map, Thanks God buat penemuan keren ini.

Sebuah hotel tinggi menjulang dengan dominan warna merah sesuai dengan nama Hotelnya telah terlihat, tidak jauh dari jalan utama Slamet Riyadi ini, matahari yang tepat berada di atas kepala kami menandakan telah siang hari, kami melakukan proses check in dan berhasil mendapatkan kamar di lantai 4. Sempat terkejut, karena belum pernah menadapatkan gedung ataupun hotel dengan lantai 4, umumny dari 3 langsung ke 5 atau 3A. tapi yasudahlan, kami terima saja tanpa memikirkan hal-hal sepertiitu. Kami tiba di kamar dan langsung meletakkan barang serta mulai menentukan tujuan kami kemana.

Waktu kami hanya semalam di Solo sehingga kami ingin memaksimalkan setiap waktu untuk dapat mengitari banyak tempat di Solo. Pada mulanya aku berencana untuk mengikuti Bus Tour yang akan membawa kami keliling tempat-tempat wisata dan bersejarah di Solo, namun kami tiba kesiangan dan untuk hari itu pun telah penuh sehingga kami harus membuat plan cadangan, dengan referensi Google kami pun memulai

Solo dan Kita

Kami memilih untuk ke lokasi terdekat dengan Hotel, dan Musium Batik Danar Hadi menjadi tujuan pertama. Kami sempat terlewat sedikit ketika mencarinya yang membuat kami harus melawan arus dan menggunakan trotoar untuk tiba di sana, dikarenakan Jalan Slamet Riyadi searah dan aku tidak tahu jalan jika harus memutar.

Di Museum Batik ini banyak sekali Batik (YAIYALAHHH MASA DODOL) ketika kami tiba, kesialan kami adalah ruang museum tidak dapat di kunjungi sehingga kami hanya dapat masuk ke Galeri Batiknya saja. Melihat begitu banyak batik baik untuk pria maupun wanita sempat menggugah hati ingin membeli beberapa, namun ketika melihat kisaran harga beberapa batik yang menarik langsung kami urungkan niat, namun dengan menunjukkan tampang bahwa kami mampu beli di hadapan penjaga galeri batik tersebut. Dengan tampang tidak puas karena tidak menemukan batik yang oke kami pun keluar dari Galeri, padahal sejujurnya banyak yang bagus namun apa daya dompet berkabung, sehingga kami pun melanjutkan ke lokasi selanjutnya.

Berdasarkan referensi, di dekat Museum Danar Hadi ada suatu Museum lain yaitu Museum Radya Pustaka yang menyimpan banyak benda sejarah Kota Solo, kami pun beranjak ke sana dengan tetap melawan arus dan menggunakan trotoar sebagai jalur motor. Nampaknya kami sial siang itu, Museum Rady Pustaka sedang di tutup sehingga kami hanya dapat melihat peninggalan-peninggalan sejarah berupa bangunan Museum Radya Pustaka tampak depan saja. Damn.

Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi tempat yang sudah pasti buka dan tempat yang sangat terkenal untuk mencari oleh-oleh khas Solo, dimana lagi kalo bukan pasar Tanah Abang eh Pasar Klewer. Menggunakan penunjuk jalan, akhirnya kami tiba di kawasan Pasar Klewer, pasar ini berbeda ketika dulu aku pertama kali datang karena ada rekolasi pasca kebakaran besar beberapa waktu lalu.

Kami memilih lokasi parkir yang cukup aman dan nyaman serta dekat dengan lokasi kami berbelanja dan berkeliling. Namun hebatnya kami, kami mau berbelanja namun tidak membawa uang yang mencukupi untuk khilaf dan kalap dalam belanja, dan mengharuskan kami mencari Mesin ATM terdekat. Setelah bertanya dengan seorang tukang becak mengatakan tidak jauh, namun ketika kami mencarinya di bawah panas terik ternyata lumayan jauh dari lokasi parkir kami, sesudah itu hanya ada 1 ATM bank swasta warna biru. Kami sempat berada cukup lama dalam mesin ATM bukan karena mengambil dengan sangat banyak, tapi hanya untuk mengambil sedikit uang dan menyejukkan diri dalam ruang ATM.

Setelah dirasa dompet cukup, kami mulai liar mencari oleh-oleh. Kami berdua termaksud tipe orang yang sangat selektif untuk memilih baju, apalagi pasangan #Upsss. Kami harus memutari pasar berkali-kali dan lokasi pasar yang terpisah namun akhirnya menemukan di kios yang tidak jauh dengan lokasi parkir kami. Kami saling memberi masukkan terkait membeli apa, dan untuk siapa tapi jangan ditanya soal menawar, aku lebih jago daripada Ratna. Ini jujur bukan karena Jago, tapi karena gengsi and biar keliatan “pacar aku jago” padahal kalau sendiri aku sangat amat tidak tega menawar hingga 50 persen dan meninggalkan kios yg telah aku tawar tanpa membelinya.

Aku terlebih dahulu menemukan beberapa potong batik murah untuk keluarga, untuk kemudian kami menemukan kios yang menyajikan pakaian batik sesuai dengan maunya Ratna. Cuaca yang sangat panas sempat membuat Ratna drop, karena dia memiliki alergi terhadap cahaya matahari yang terlalu terik, alerginya dia dapat menjadi Dian Sastro, bukan lha tapi dia menjadi gatal di sekitar wajah, sehingga ketika telah menemukan apa yang kami cari, kami duduk di pelataran gazebo yang dekat dengan lokasi parkir kami dan pohon beringin.

Mencari oleh-oleh dalam panas terik dan keramaian pasar ternyata sangat menguras energy, hal ini membuat kami harus mencari makanan special Solo terdekat dan hasil terawang google adalah Selat Solo. Rekomendasi utama adalah warung Selat Solo mbak Lies. Mengandalkan google map kami pun mulai mengendarai motor kami, sepanjang jalan cuaca mendadak berubah menjadi mendung dan gerimis yang mengharuskan kami harus menemukan lokasinya secara cepat.

Warung Selat Solo mbak Lies yang sangat ternama ternyata berdasarkan Google map cukup banyak dengan beberapa angka romawi di belakangnya sebagai pembeda, Kami sempat berkali-kali di buat nyasar oleh google map, kami memang sempat gengsi bertanya, giliran kami bertanya orangnya malah tidak tau. AKhirnya berdasarkan intuisi dan analisis ketepatan dari google, kami pun dapat menemukannya dengan memperhatikan banyaknya mobil parkir.

Tidak menyangka jika lokasi Selat Solo Mbak Lies berada di gang kecil yang hanya dapat muat dan di lalui sebuah mobil, namun karena kami menggunakan motor sudah pasti akan sangat muat, dan ketika kami tepat memarkirkan motor, hujan mulai turun dengan lebat.

Cukup menarik tempat Selat Solo ini, banyak keramik-keramik dan gantungan-gantungan lucu serta lukisan tergantung di dalamnya. Terdapat 2 lokasi untuk makan yang di pisahkan oleh jalan, kami mendapatkan tempat lesehan di rumah sebrang yang di dalamnya terdapat banyak foto yang menunjukkan tempat ini pernah di kunjungi orang penting maupun artis terkenal. Kami memesan makanan paling special di situ namun sengaja memilih 2 jenis menu berbeda agar dapat saling mencicipi, ditambah minuman penyegar yaitu es campur dan alpukat.

Cukup penasaran sebenarnya seperti apa makanan Selat Solo ini, ketika makanan itu tiba di hadapan kami dan kami mulai mencicipinya ehh salah sebagai anak kekinian aku memfotonya terlebih dahulu baru makan. Rasanya sungguh mempesona, kalau aku sangat suka, dengan perpaduan wortel, buncis, acar, kentang serta daging sapi, suatu perpaduan sempurna dan tidak salah menu ini menjadi menu tujuan kuliner wajib ketika di Solo, walaupun tanpa nasi aku bisa kenyang, karena mendapatkan limpahan dari Ratna yang sedikit tidak suka karena banyak mengandung unsur sayur, dan di tutup dengan es alpukat dan es campur, deras hujan di luar membuat semuanya menjadi sempurna.

Kami memiliki selentingan, ketika kenyang jadi Bego. Dan hal ini berlaku bagi kami, ketika kenyang dan lelah ditambah cuaca syahdu dan sudah menjelang gelap, kami memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar dan melanjutkan kembali setelah Maghrib setelah kebegoan kami ketika kenyang hilang.

Setelah beristirahat cukup, kamipun bersiap untuk melanjutkan wisata malam di Solo, dengan bimbingan om google kami akan Ngarsopura Night Market. Lokasi yang tidak jauh juga dari hotel membuat kami mudah menemukannya, namun hujan gerimis malam itu sedikit merubah suasana pasar malam itu, karena pedagang tidak bisa menjual dagangannya di luar tenda sehingga terkesan menumpuk semua barang dan pengunjungpun seperti ikut berteduh. Dibawah rintik hujan kami mulai memasuki arena Ngarsopura Night Market dengan kejadian seorang ibu terpelset di trotoar tepat di depan kami sebagai pembukanya.

Tidak hanya gerimis, namun malam itu listrik di lokasi pasar malam juga bermasalah yang membuat sebagian kios mendapat penerangan dan sebagian tidak, dikarenakan adanya konseleting begitu pedagang mengutarakan. Tidak cukup luas lokasi Ngarsopura Night Market, kios-kios berjajar di kiri dan kanan badan jalan dengan menyisakan ruang gerak di bagian tengahnya, mereka menyajikan berbagai macam kerajinan khas solo dan berbagai macam pakaian dan makanan. Kami menyempatkan membeli keripik kentang tipis dalam tusuk sate untuk mengganjal perut sementara.

Kamipun melanjutkan wisata malam kami dengan berniat mengisi perut yang cepat laper karena gerimis di lokasi lain yaitu Galabo Solo. Ketika kami ke Galabo, mungkin karena gerimis jadi tempat itu tidak terlihat meriah, lokasinya tepat di depan sebuah mall kecil dengan menggunakan jalan yang sengaja di tutup, kami pun mencoba mengitarinya, tidak ada yang menarik hati kami untuk singgah dan makan di situ, akhirnya kami hanya numpang ke ATM dan membeli sebuah baju batik untuk Ratna yang kebetulan kami menemukan model yang tidak kami dapat di Pasar Klewer tadi siang.

Tidak patah arang kami pun segera mencari tempat lain, ketika motor berjalan Ratna sudah mulai mewarning bahwa bahan bakar kendaraan kami sudah berada dalam zona berbahaya yang bisa mati kapan saja, aku katakana bahwa itu masih banyak masih bisa untuk muter-muter. Dan diapun menerima walau dengan ketidak nyamanan.

Di jalan aku sempat kebayang beberapa potong rok yang di pasar Ngarsopura tadi yang rencananya aku belikan untuk Ratna, dan keinginanku ini begitu kuat meskipun aku tau Ratna tidak akan senang aku belikan, namun aku abaikan hal itu dan kamipun kembali ke lokasi sebelumnya untuk membeli 2 potong rok panjang dan pendek yang cantik dengan harga yang cukup murah.

Perut yang belum terisi ternyata dapat meningkatkan eksistensi emosi, wanita yang aku bonceng di belakang kembali mengingatkan terkait bahan bakar yang sudah sakratul maut, dan dari pada terus-terusan di ingatkan aku pun mulai sok tau mencari pom bensin, dan ketahuilah sodara-sodara sangat susah mencari pom bensin pada malam hari di Solo untuk orang yang tidak tahu Solo. Kami sempat berputar-putar mencari namun tidak menemukan, dan kepanikan semakin menjadi karena kami mencarinya sudah cukup jauh dan tentu saja bahan bakar diambang almarhum, tanpa basa basic dan kemaluan yang ada, akupun menanyakan kepada seorang ibu tepat di lampu merah, ibu mengatakan bahwa pombensin terdekat letaknya agak jauh dan arahnya berada di arah sebaliknya dari jalan yang kami lalui, dengan beberapa arahan belok akupun mengingat dan mencoba mencari.

Mencari pombensin dalam kekhawatiran serta ketidaktahuan itu sangat tidak enak, percayalah. Tapi ketika kami melihat sebuah logo jempol yang berarti pasti pas dengan cahaya sedikit gemerlap di ujung jalan yang menandakan itu pom bensin, kekhawatiran kami pecah dan emosi mulai terendap di dalam diri wanita di belakang aku. Sangking emosinya akupun mengisi penuh tangka bahan bakar!!! #YaiyalahMenurutNgana

Drama tidak sampai disitu, ketika bahan bakar motor penuh, bahan bakar dari kami yang menungganginya belum terisi sejak maghrib tadi, dan proses jalan-jalan di Ngarsupuro sampai saat mengisi bahan bakar telah memakan banyak watu, dan waktu hamper menunjukkan jam 10 malam, dan kami belum makan. Emosi kembali menyulut diantara kami, akupun berhenti sesaat untuk mencari rekomendasian makanan enak malam hari dalam cuaca sendu dingin, dan tentu saja bakso. Dan rekomendasi dari salah satu site adalah Bakso Pawiroredjo, dan google map pun mulai mengarahkan kami mencari.

Ketahuilah jangan berdebat dan berjalan dengan keadaan perut kosong, google map yang menunjukkan jalan kami pun tidak berhasil menemukan lokasinya dengan tepat, dan waktu semakin larut. Berkali-kali kami mengitari lokasi Bakso Pawiroredjo berdasarkan temuan google map namun hasilnya nihil, kekesalan pun semakin memuncak dan kami mulai saling menyalahkan, ketidakpahaman ratna, maupun kesoktauan aku membuat kami sama-sama kesal, dan pada satu titik akhirnya Ratna mengalah dan menitikkan air mata karena tidak kuat menahan amarah, hal ini membuatku ikut merasa bersalah. Dan di bawah rintik hujan dan gelapnya malam kami pun saling hening dengan keputusan makan apa saja yang kami temui. Namun karena sudah sangat malam banyak yang tutup, sampai pada akhirnya kami berhasil menemukan sebuah warung menjual bakso sapi special, yang letaknya TIDAK JAUH DARI HOTEL. Dan perlu kalian ketahui pula, kami adalah konsumen terakhir malam itu sehingga ketika makanan kami disajikan merekapun menutup warungnya.

Ketika perut mulai terisi, aliran emosi sudah mulai turun dan kami sama-sama tenang, saling memaafkan walaupun belum lebaran. Ketika selesai membayar kamipun menutup hari ini di Solo karena energy kami sudah sangat terkuras secara fisik dan emosional, sehingga kami langsung kembali ke hotel untuk berkemas dan beristiraht untuk mempersiapkan kepulangan kami esok harinya.

Last Day

Pagi ini terasa berbeda, ketika alarm tidak membangunkan kami namun kami harus cemberut untuk kembali ke Jogja dan harus mengakhiri liburan kami. Berat rasanya ketika harus mengangkat tas kami, melakukan checkout dan mulai mengendarai motor 2 jam lamanya untuk kembali ke kenyataan bahwa kami harus kembali bekerja dan menghentikan hiburan.

Kami bahkan memikirkan sarapan di jalan pulang kearah Jogja saja, sehingga ketika memulai perjalanan pulang perut kami belum terisi. Aku hanya memikirkan apa makanan yang enak di jalan pulang, dan yang terbesit dalam bayangku adalah Ayam Kalasan yang ketika kuliah dulu sangat banyak bertebaran di jalan Solo Jogja, sejam berlalu diatas motor dengan perut masih kosong dan semangat luntur kami masih belum menemukan, pun setelah melalui Klaten kami tidak melihat adanya Ayam Kalasan. Sekali menmukan itu pun kondisi kami membawa motor agak kencang dan aku ingat bahwa di kiri jalan kami sesudah candi prambanan ada.

Ketika Candi Prambanan telah berlalu, aku hanya terfokus di sisi kiri jalan karena seingatku itu, sedangkan wanita di belakangku mulai naik tensinya karena belum sarapan, namun aku tetap dengan keyakinan aku. Sebelum tiba di Jogja, kami pun mampir ke rumah Orang tua Ade untuk kembali menukarkan motor kami, namun ketika tiba disana motor kami tidak ada dan sedang di gunakan oleh Mas hangga, dan akupun menghubungi mas hangga dan menentukan tempat untuk penukaran motor tersebut. Kamipun pamit kepada ortunya ade dan melanjutkan perjalanan kami untuk mencari makan.

Akupun mulai memelankan laju motorku setelah melalui Kedaulatan Rakyat, dan ketika telah menemui bandara Adi Sutjipto dan itu adalah sudah di Jogja akupun mulai menyadari bahwa Ayam Kalasan tidak ada di sisi kiri jalan yang kami lalui, cemberut pun mulai menguras emosi, namun aku akhirnya memilih untuk mengisi perut di SS Babarsari karena banyak menu pilihan dan olahan sambalnya.

Ketika tiba di SS, ternyata cukup penuh dengan mahasiswa yang makan siang, karena kami tiba bersamaan dengan makan siang. Kami kalap, memesan berbagai jenis sambal dan lauk, dan karena rame makanan datang agak lama, ketika tiba di hadapan kami tanpa basa basi langsung kami sikat sampai menyisakan sambalnya saja. Ketika kami kenyang, kamipun diam dan bersiap kembali ke rumah Akbar untuk mengembalikan motor.

Setiba di rumah Akbar, kami di sambut dengan baik oleh Akbar dan Istrinya dan rupanya disana juga sedang ada Rayhan dan Istrinya yg merupakan temanku semasa kuliah juga, sehingga saling ngobrol lha kami banyak hal sambal menunggu waktu kami harus ke bandara yang agak sore. Seketika kami asik ngobrol, ternyata cuaca di luar berubah drastic, tiba-tiba hujan sangat deras disertai angina, mungkin ini pertanda Jogja sedih di tinggal oleh kami. Hujan berlangsung cukup lama dan intensitasnya deras, dan kami harus segera ke bandara, karena tidak mungkin untuk menggunakan motor.

Akhirnya dengan browsing kamipun mendapatkan beberapa nomer telp taksi di jogja, namun mungkin karena cuaca hujan sehingga beberapa nomer taksi tidak mengangkat, sampai pada salah satu provider taksi akhirnya menjawab dan segera mengirimkan armadanya menuju rumah Akbar dan kamipun telah bersiap dan menunggu kedatangan taksi.

Liburan kami ini begitu luar biasa, dan harus di akhiri dengan hal yang luar biasa juga. Tanpa kami sadari tiba-tiba taksi yang kami pesan adalah bukan taksi biasa melainkan taksi premium class dengan mobil Jenis Alphard yang menjemput kami dan akan mengantarkan kami ke bandara. Betapa terkejutnya kami semua yang ada di rumah itu, termaksud kami. Namun karena kami takut ketinggalan pesawat akhirnya kami harus naik segera dengan terlebih dahulu pamit dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya selama kami liburan di Jogja.

Ketika mulai mengarah ke mobil, Akbar dan yang lain hanya tertawa terbahak-bahak sambi memfoto dan mendokumentasikan kami karena menyadari bahwa premium class tentu biayanya tidak murah, namun aku tetap stay cool walapun duit di kantong tidak mencapai 200rb, namun aku percaya di Ratna ada sehingga aku yakini cukup. Ketika pintu tertutup dan mulai meninggalkan rumah Akbar, aku langsung mengkontanin driver dengan pertanyaan berapa biasanya biaya untuk sampai ke bandara, dan jawaban yang aku terima sangat menyegarkan. Taksi kami hanya berbeda 150-500 rupiah per kilometernya dengan taksi biasa. Drivernya mulai menjelaskan bagaimana mereka mulai menurunkan tarif dan persepsi masyarakat terhadap taksi jenis Alphard

Ohhh thanks GOD, mendadak beban itu musnah dan merubahnya menjadi menikmati perjalanan ke bandara dengan taksi premium ini, dan sambal melihat kea rah Ratna aku berkata “Kapan lagi aku bisa ngajak jalan kamu pakai mobil mahal,. Seketika itupula kami tertawa lepas.

Sesampainya di bandara kami ternyata berada di terminal yang berbeda, karena waktu keberangkatan pesawat Ratna lebih dahulu sehingga kami minta di antarkan di terminal B yang letaknya 100 meter dari terminal utama. Setelah membayar dengan harga yang menurutku cukup masuk akal, akupun menemani Ratna hingga terminal dan membiarkannya melakukan check in terlebih dahulu dan aku menunggu di depan terminal sambi memberikan informasi kepada Akbar bahwa tarifnya masuk akal dan tidak overprice seperti yang kami bayangkan. Setelah check in tidak lama kemudain Ratna kembali keluar, dan kami bersenda gurau untuk menikmati sisa waktu bersama, dan ketika waktunya telah dekat untuk boarding kamipun saling memberikan peluk yang akan selalu lekat dalam diri kami sampai kami berjumpa kembali, dan akupun menyerahkan sebuah catatan dalam selembar kertas yang telah aku siapkan sebelumnya untuk di baca ketika di pesawat.

5 hari yang sangat menyenangkan, dan selalu akan terkenang dalam memori kita bersama. Berat rasanya harus berpisah lagi untuk sementara, namun itulah jalan yang kita pilih. Ketika bayanganmu sudah tak terlihat lagi di sudut mataku, akupun berjalan menuju terminal keberangkatanku untuk meyakinkan diri terus berusaha menabung agar kami bisa sering melakukan hal ini bersama sesering mungkin.

I Miss you already..


With Love
-Niko-

Kamis, 09 Juni 2016



Day 3
Alarm membangunkan kami, dalam planning kami hari ini akan berangkat ke solo, namun beberapa tempat menarik di Jogja belum kami kunjungi, sehingga kami memutuskan untuk tetap di Jogja namun berpindah tempat menginap dikarenakan kami hanya memesan untuk 2 malam saja.

Setelah mandi dan membereskan isi tas, kami pun check out. Sebelumnya kami sibuk mencari di traveloka lokasi hotel yang mudah di akses dengan harga terjangkau, dan salah satu hotel di bilangan jalan solo tidak jauh dari kampus UIN Sunan Kalijaga menjadi pilihan kami. Setiba disana, tidak memakan waktu lami kamipun langsung meletakkan barang kami, dan bersiap mengeksplor Jogja kembali.

Benteng Vredeberg dan Kita

Itulah tujuan pertama kami hari ini, jujur saja selama kuliah di Jogja aku tidak pernah masuk dan melihat-lihat isi benteng ini, hanya sekedar lewat saja atau memarkirkan kendaraan, ini pertama kalinya aku masuk, dan ini tidak di ketahui oleh Ratna.

Mendung siang itu cukup bersahabat, teriknya Jogja tidak berasa, dan 2 buah karcis kami beli untuk memasuki benteng Vredenberg ini. Citarasa colonial belanda cukup terasa dari arsitektur gedung-gedung disini, aku tidak ingat ada berapa gedung yang ada namun cukup banyak tapi tidak semuanya dapat di masuki, hanya beberapa tempat saja terutama yang menyajikan Diorama peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Jogja.

Siang itu cukup banyak mahasiswa seni rupa tampaknya yang mendapat tugas menggambar sudut-sudut benteng dan gedungnya yang menambah kemeriahan. Kami mulai memasuki setiap gedung dengan memperhatikan setiap petunjuk arah yang tersedia, dan dari sekian banyak tempat, gedung yang menyajikan Diorama Sejarah yang menjadi pusat perhatian kami.

Setiap gedung menyajikan berbagai macam tema Diorama, dari Peristiwa sumpah pemuda, Pemindahan Ibukota ke Jogja, Perjanjian Linggarjati,  G30S PKI, Proklamasi kemerdekaan Indonesia, hingga peralatan perang serta peninggalan pribadi pahwlawan Indonesia. Setiap peristiwa di buat sedemikian rupa menyerupai peristiwa aslinya, lagu-lagu kebangsaan serta keheningan kaca bening menambah keseruan ketika berada di dalamnya.

Perlu di ketahui, wanita yang bersamaku yang bertampang Galak ini ternyata cukup mudah terbawa suasana (baca:Takut), ada kejadian lucu yaitu ketika kami melalui tempat yg di design seperti rumah penyanderaan tawanan perang, didalamnya terdapat patung-patung yg di buat bergerak dengan suara rintihan tawanan dan deru senjata, cipratan darah di sekitar tembok. Di gedung ini memang mengharuskan kita melalui dan merasakan sensasi ini untuk dapat menuju etalase selanjutnya, dan Ratna begitu takutnya untuk melalui tempat ini, tidak hentinya tanganku di genggam erat dengan MATA tertutup. Aku hanya tertawa saja, dan suara dan gerakan kejutan di dalamnya membuatnya semakin marah dan murka untuk segera memukul aku nantinya ketika selesai melaluinya. Ekspresi ketakutan yang cukup menyenangkanku, entahlah aku suka dia apa adanya.

Tidak berasa lebih 1 jami kami mengarungi semua diorama yang ada, bahkan bengkel yang sudah di tutup pun hamper saja kami masuki andai saja tidak di informasikan oleh orang di sana bahwa tidak ada apa-apa di sana selain mobil tua yang tidak terawat. Beberapa sudut cantik dari Vredeberg menjadi spot selfie kami, cukup banyak dokumentasi yang ada kami rasa cukup, dan kami siap untuk ke lokasi selanjutnya.

Taman Sari dan Kita

Mendung pekat membawaku melaju dengan motor pinjaman, untuk mengejar lokasi eksotis lainnya yang berada dalam kawasan kraton Jogja, yaitu Komplek Taman Sari. Beruntung bagi kami, dapat tiba di sana dengan keadaan tetap kering, 2 buah tiket pun sudah di tangan kami setelah motor kami parkir rapi.

Dinamakan komplek Taman Sari karena disini terdapat beberapa lokasi menarik untuk di kunjungi, yang pertama kami masuki adalah lokasi pemandian selir dan istri Sultan pada masa lampau. Beberapa kolam pemandian yang telah sedikit di pugar menyambut kami, sudah cukup banyak orang di sana, dan perlu di ketahui tempat ini cukup sering untuk di jadikan tempat pemotretan untuk prewedding maupun komersial. Cukup melihat-lihat dan berfoto di beberapa tempat, kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke Masjid Bawah tanah

Ada kejadian lucu, hujan turun dengan intensitas sedang mengawal kami untuk menuju ke masjid bawah tanah, dengan sombong dan kecongkakan aku menyatakan tau jalan karena daerah kekuasaanku ketika kuliah, namun karena terlalu lama sendiri eh maksudnya terlalu lama tidak main ke taman sari, jadi aku salah mengambil jalan yang membuat kami bukannya tiba di masjid tapi di tepi jalan raya #JengJeng. Dibawah rintikan hujan aku mendapat kecaman dan ejekan dari wanita yg bersamaku dalam satu naungan payung ini, sejak saat itu mosi tidak percaya dengan statemen “Daerah Kekuasaanku”, bahkan masih menjadi ejekan sampai sekarang.

Letak masjid yang berada dekat sekali dengan rumah warga, sempat membuat Ratna tidak percaya bahwa itulah masjid yang di maksud. Setelah melalui sedikit tanjakan dan menuruni beberapa anak tangga, kami pun telah tiba di Masjid itu. Masjid yang bentuknya melingkar dengan tangga naik berada di tengahnya, tangga yang sangat indah untuk di jadikan lokasi berfoto. Lokasi anak tangga yang berada di tengah dan tidak tertutup atap membuat kami harus sedikit berlali menghindari hujan yang semakin deras. Setelah tiba di lantai atas kami mengitari setiap sudut, dan akhirnya memutuskan berhenti dan duduk di dekat jendela sembari menikmati hujan, berfoto dan menikmati suasana masjid bawah tanah.

Setelah hujan reda, kami melanjutkan ke sebuah tempat yang hanya meninggalkan reruntuhan bangunan saja, hanya tembok menjulang serta beberapa sumur cukup dalam yang sudah tidak terpakai dan lebih banyak di gunakan oleh para pengunjung untuk menyimpan sampah. Tempat ini sangat bagus untuk mencari matahari terbit di pagi hari, karena letaknya agak tinggi di banding lokasi di sekitarnya. Tidak banyak yang kami lakukan selain berfoto bersama dan mengitari reruntuhan gedung ini.

Reruntuhan gedung itu adalah tempat terakhir dalam komplek tersebut yang kami kunjungi, kami pun bersiap kembali ke lokasi parkir kami, namun untuk menuju ke lokasi parkir kami harus melewati semacam goa yang cukup panjang yang bentuknya sangat unik dan juga menjadi icon pemotretan di komplek taman sari ini, konon katanya goa atau lorong ini adalah jalan khusu yang hanya boleh di lalui oleh Sultan untuk dapat melihat selir yang mandi dan berada di Taman Sari. Dan jok motor yang basah menyambut kami dan siap mengantar kami ke lokasi selanjutnya.

Taman Pintar dan Kita

Tempat selanjutnya yang kami sambangi adalah tempat yang akan mengingatkan kami akan masa kecil kami, tempat yang sudah kami incar jauh hari sebelum keberangkatan kami, Taman Pintar.
Taman pintar letaknya tidak jauh dari Benteng Vredeberg, hanya selemparan batu saja dan cukup 5 menit dari lokasi terakhir kami di Taman Sari. Setiap orang pasti punya sisi anak-anak dalam dirinya, dan mengunjungi ini adalah wujud dari keinginan hati kami sebagai orang dewasa yang melalui fase anak-anak.

Memasuki Taman Pintar dari sisi Barat, kami pun langsung mencari tempat pembelian tiket, di depan antrian tiket kami di sajikan berbagai macam paket kunjungan, bahkan ada paket 4D untuk melihat kehidupan luar angkasa, namun waktu yang tidak tepat membuat kami mengurungkan niat, dan kami memilih tiket untuk ke gedung sejarah dan gedung utama.

Di gedung sejarah, seperti namanya kami di suguhkan oleh berbagai macam ilmu sejarah, dasar-dasar negara kita, pahlawan nasional dan revolusi, presiden yang pernah berkuasa, baju adat, senjata tradisional dll, sebenarnya cukup membosankan namun tidak ada salahnya jika kita merefresh pengetahuan dan tentunya mendapatkan beberapa foto selfie bersama di ruangan ini.

Gedung selanjutnya yaitu gedung utama yang sangat besar dan memuat banyak permainan dan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan membuat kami semakin pintar. Memasuki gedung ini kami disuguhkan lorong akuarium yang berisi beberapa ikan langka, selanjutnya beberapa etalase manusia purba buatan, dan selanjutnya berada di ruang eksperimen. Kami mencoba beberapa permainan yang menyuguhkan IPTEK, diantaranya cetakkan tangan dari ratusan paku kecil, permainan medan magnet yang mampu menghasilkan nada dan energy gesekan yg mampu menyalakan lampu, kesemuanya kami mainkan walaupun terkadang harus mengalah dengan anak-anak kecil yang penasaran ikut bermain dan menyerobot kami.

Selepas dari situ, kami beralih ke sudut ruangan yang menyajikan simulasi peristiwa Gempa Bumi yang tentu saja menjadi sarana keisengan kami, karena sekedar ingin merasakan sensasi bergetar, ahh pasangan yang lucu. Kemudian beberapa peralatan pengukur gempa, tekanan udara, dan benda-benda yang di gunakan oleh team Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk mensuport kerjanya.

Setelah cukup puas, kami naik ke lantai 2 di temani profil beberapa ilmuan ternama yang dijelaskan dengan gambar di sisi tangga yang setengah melingkar. Tiba di atas, disambut dengan pengetahuan tata surya, kedatangan kami ke Jogja memang bertepatan dengan peristiwa langka yaitu Gerhana Matahari total sehingga penjelasan mengenai tata surya beserta peristiwa-peristiwa alam lainnya teasa menarik untuk di baca dan di perhatikan.

Kemudian permainan mengayuh sepeda yang menunjukkan posisi organ tubuh ketika mengayuh sepeda, duduk di kursi yang alasnya adalah ratusan paku tajam yang sempat membuatku harus duduk perlahan memastikan pantatku tidak akan terluka dan ternoda dengan eksperimen ini. Kamipun melanjutkan dengan bermain kayuh sepeda untuk menyalakan beberapa lampu, dan energy dari wanitaku ini sangat besar sehingga mampu menyalakan hamper kesemua lampu, walaupun setelahnya harus mengeluh dengan perasaan pegal di kaki.

Ada satu eksperimen unik yang tidak aku ikutin, dikarenakan bisa terlihat jika yang melakukan memiliki rambut panjang. Eksperimen elektrik dengan memegang sebuah benda bulat yang mengandung unsur elektrik mampu membuta rambut terangkat tegak lurus, rambut Ratna yang panjang dengan sangat jelas terlihat terangkat dan membuatnya seperti nenek lampir yang baru keluar dari salon, walaupun awalnya takut tapi tetap wanita ini memang selalu pengen tahu teradap hal-hal yang mengusik dirinya kalo Bahasa sekarang kepo. Rambut yang terangkat naik itu sempat aku abadikan untuk menjadi data pribadi kami nantinya.

Namun tidak sampai situ saja, aku tidak di beritahu oleh petugasnya bahwa setelah memainkan permainan itu, masih butuh berapa menit untuk dapat menghilangkan medan listrik dari tubuhnya Ratna sepenuhnya, selesai bermain dengan gentlemen aku meraih tangannya dengan maksud menggandeng, namun apa yang terjadi Ratna terperanjat seperti tersetrum, ini membuat aku kaget dan malah semakin senang untuk aku isengin, dan setelah terkejut itu aku tidak berhenti tertawa hingga medan listriknya benar-benar hilang.

Ruangan selanjutnya sudah kurang menarik, namun masih penuh dengan unsur pengetahuan yang kadang masih membuat kita berfikir atau mengangguk walaupun informasi sederhana dan ada di sekeliling kita. Gedung Utama Taman Pintar tidak terlalu besar, namun pengaturannya yang cukup baik baik itu arah jalan dan etalase permainan dan IPTEK membuat terasa sangat luas, dan lebih dari 1 jam kami berada di gedung itu, sampai akhirnya kami berhasil menemukan jalan keluar yang mana pintu keluar langsung di sajikan dengan tokok buku dan foodcourt yang sepertinya kurang di tata dengan baik.

Lelah kami mengarungi Taman pintar, kami memutuskan untuk menyudahi saja. Toilet di sudut komplek Taman pintar menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi. Bukan aku yang kebelet, tapi Ratna yang menyimpan sejak masuk ke Gedung Utama itu. Ada 1 kejadian yang tidak aku ceritakan kepada Ratna saat itu, yang baru aku ceritakan beberapa waktu lalu. Ketika menitipkan tas dan HPnya kepadaku untuk masuk ke toilet, secara tidak sengaja aku iseng ingin melihat hasil foto di HPnya namun tidak sengaja terbuka suatu jaringan sosial media yang disana terdapat obrolan dengan seseorang yang berada di chat teratas, rasa penasaranku menuntunku untuk membuka lebih jauh, dan ternyata chat tersebut belum lama dan aku tidak di informasikan.

Mendadak suasana hatiku berubah, namun aku tidak menunjukkannya langsung kepadanya yang hanya akan membuat liburan kami berantakan, aku close saja dan matikan kembali HP tersebut dan berlagak seperti tidak ada apa-apa, dan mungkin aku belum jadi apa-apa pada saat itu.

Malioboro, Edu Park, Taman Pelangi dan Kita

Selepas dari sana, kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh cindera mata dan titipan dari keluarga di sepanjang jalan Malioboro. Kami tidak berlama-lama di sana karena sudah menjelang gelap, namun kami sangat menikmati setiap sudut Malioboro yang selalu menyapa dan bersahabat.
Lelah menyusuri Malioboro, membuat aku berinisiatif untuk memberikan minuman favorit, ice cream. Kami mampir di salah satu restoran yang menyajiakn ice cream menjadi menu spesialnya, ini kali pertama juga aku mengunjungi tempat ini dan tidak ada rekomendasian minuman istimewa disana, selain mengandalkan pelayannya dana apa yang ada dalam buku menu.

Sembari menunggu pesanan kami datang, aku mencari rekomendasian tempat seru yang dikunjungi pada malam hari melalui om Google, dan ada 2 tempat rekomendasian yaitu Edu Park dan Taman Pelangi, yang letak keduanya tidak terlalu jauh dan sejalan. Ketika makanan tiba, tanpa babibuuu aku menghabiskan ice cream yang banyak unsur buahnya, dan Ratna asik menikmati ice cream yang dikawinkan dengan semacam bolu dan coklat yang rasanya menurut aku enak, harganya juga enak soalnya, hahahahah.

Ketika perut kami sudah terisi dan energy kami sudah kembali pulih, gelap telah menerjang dan dengan ketampanan luar biasa aku memutuskan mengunjungi Edu Park terlebih dahulu di seputaran jalan Magelang. Tempat ini baru bagiku, sempat hampir tersesat kembali meskipun menggunakan map di otak aku, karena aku berpatokan pada bianglala besar yang menurut sumber di google sangat besar dan mampu dilihat dari jarak jauh, namun tingginya beberapa gedung di sisi jalan Magelang membuatku gagal menemukannya dan mau tidak mau suka tidak suka kami pun menggunakan direction dari om Google kembali #Sigh

Menyusuri beberapa komplek perumahan, akhirnya kami dapat dengan jelas melihat lingkaran warna besar yang berjalan melingkar, ya itu adalah bianglala dan keyakinanku benar, itulah Edu Park salah satu tujuan wisata belajar baru di kota Jogja. Sempat muncul keraguan ketika kami akan memarkirkan kendaraan kami di sana, mengapa tidak ramai, apakah kami yang terlalu malam atau memang tempat ini sepi dan kurang menarik, namun aku mengabaikan suara itu karena tujuanku membawa Ratna kesini adalah menikmati malam dari puncak Bianglala raksasa yang menjadi icon tempat ini.

Motor di parkir pada tempatnya, kami berjalan memasukki arena bermain namun ternyata salah loket, kami mendatangi pintu keluar dan loket penukaran uang deposit, come on Niko!! Selalu salah #SelfToyor. Setelah berhasil menemukan pintu masuk, dan harus berhasil kalo tidak ga akan aku tuliskan disini. Edupark menggunakan system saldo yang mengharuskan kita mengisi dalam jumlah tertentu dengan kita mendapatkan electronic card untuk dapat mengakses beberapa permainan disana sesuai dengan jumlah saldo yang ada, kami pun mengisi tidak terlalu banyak karena hanya ingin bermain Bianglala.

Setelah kedua tangan kami di cap kami resmi menjadi pasangan suami istri ehh maaf maksud aku kami resmi siap mengitari Edupark. Tempat yang langsung kami kunjungi adalah BIANGLALA RAKSASA!!, tepat di depan pintu permainan, kami mendapatkan keberuntungan karena hari itu ada diskon dalam setiap permainan yang ada, dan kami pun mendapatkan 2 buah minuman memabukkan yaitu semacam buavita dalam kemasan gelas. Kami telah di sambut 2 orang petugas yang akan menyiapkan sebuah ruangan kecil yang akan membawa kami berputar, dan tidak perlu waktu lama, kami pun telah terjebak berhadapan di dalam Bianglala.

Perasaan ketika berada di dalam adalah kebahagiaan, sangat bahagia. Ini pertama kalinya aku naik bianglala dan dengan orang yang aku sayang, aku meletakkan tas dan menggenggam tangannya #AkuRomantisBukan #Uhuk. Bianglala berputar sangat perlahan, aku memandang Ratna sembari menikmati pemandangan yang dapat terlihat jelas gemerlap lampu dalam gelap, dan menantikan kami berada pada titik tertinggi. Sembari menunggu mencapai titik tertinggi itu, aku menyampaikan apa yang aku rasakan, bahwa aku takut dengan ketinggian dan aku memberanikan diri naik memang hanya untuk menunjukkan keindahan Jogja dan Mencium keningnya pada puncak bianglala, walaupun angina dan dencit besi dan roda pemutar sempat membuat jantungku berdetak slowmotion. Ketika berada di puncak, dengan memegang tangannya aku memberikan kecupan terindah, ya itu kecupan terindah dari puncak udara di ruangan sempit yang sederhana, ingin memeluknya namun aku urungkan karena gerakkan yang berlebihan akan mengakibatkan goncangan yang semakin membuat jantung makin slowmotion.

Tidak beberapa lama, kamipun tiba di bawah dan bergegas untuk keluar. Tidak cukup kata-kata untuk menjelaskan apa yang kami rasakan ketika berada di puncak tadi, ketika kalian pernah merasakan benar-benar mencintai sesorang kalian akan tau bagaimana rasanya tanpa perlu menjelaskan.

Awalnya aku ingin langsung pergi ke lokasi selanjutnya, namun Ratna mengajakku untuk tidak ada salahnya mengitari tempat ini karena kami melihat ada beberapa wahana lain walaupun terlihat sepi. Akhirnya kami mengitari tempat itu, dan melihat saldo deposit kami masih mencukupi, kamipun berniat menghabiskannya dengan bermain salahsatu wahana lagi, yaitu sepeda layang. Mengapa di katakana sepeda layang, karena permainan ini mengharuskan kami mengayuh seperti sepeda untuk berjalan melingkar dalam arena yang tingginya lebih dari 2 meter. Suatu keyakinan dariku adalah aku membawa atlit jalan kaki yang kuat so aman.

Pandanganku ternyata salah, permainan ini tidak semudah yang di bayangkan karena memerlukan energy yang lebih, kami harus terus mengayuh untuk berjalan lebih cepat, ketika kami berhenti maka sepeda layang itu pun berhenti, yang lebih seru adalah, keadaan kami yang melayang dan kami harus menikung itu menimbulkan sensasi yang luar biasa. Kami sempat berhenti beberapa saat untuk mengambil foto selfie berdua, dan setelahnya aku membuat kegaduhan dengan sedikit mengguncangkan sepeda dan mengayuh cepat pada tikungan yang membuat tanganku harus rela di remas kuat di pukul dan di beri sedikit cakaran serta teriakkan oleh wanita di samping aku ini, namun disitulah keseruan permainan ini. Kami beruntung datang pada saat sepi, sehingga tidak harus menunggu lama dalam memainkan wahana ini.

Tidak cukup sampai disitu, kami melihat ada permainan boom boom car tanpa piker panjang langsung kami kunjungi, namun ketika melihat saldo tidak mencukupi sehingga kami harus mengisi ulang kembali saldo kami untuk dapat bermain. Selepas mengisi saldo, kami pun bersiap untuk saling menghujamkan rasa kesal melalui perantara mobil, tidak ada antrian pada saat itu, hanya ada sepasang muda mudi yang bermain bersama dengan kami. Sedikit instruksi dari penjaga wahana, kamipun bersiap dengan kedaraan masing-masing. Jangan ditanya apa yang terjadi selanjutnya, mata kami saling menuju kepada mobil pasangan untuk menabrakkan sekuat mungkin mengungkapkan kekesalan yang berbalut cinta.

Entah berapa kali kami saling mengejar, saling menghindar, saling berputar hingga saling berbenturan yang sangat keras yang membuat sedikit memar pada lutut Ratna, really sorry dear. Sampai akhirnya energy listrik dihentikan dan kendaraan kami tidak dapat berjalan kembali yang artinya waktu kami telah habis. Kami bahkan sempat mendapatkan tambahan waktu dari penjaganya dikarenakan keadaan sepi dan kami bermain dengan asiknya, bahkan cupid yaitu peri cinta ingin ikut main dan menabrakkannya ke kami.

Setelah dari situ, masih ada satu wahana yang letaknya di sudut Edu Park, ontang anting mini. Dengan saldo kami yang masih mencukupi tidak ada salahnya kami mencoba. Hal yang kadang sering aku lakukan adalah meremehkan setiap permainan, dengan hanya kami berdua di arena itu membuat kami bisa sesuka hati memilih kursi, dan aku mendapatkan rekomendasian dari Nyonya ini untuk duduk di kursi terluar yang menurutnya sedikit memberikan tantangan. Ketika mulai berputar aku masih dapat menikmati, semakin cepat dan semakin tinggi aku berada membuat perutku mulai bergoncang namun tetap tersenyum kepadanya (pastilah gengsi donk kalo keliatan pengen muntah). Hanya jejeritan kecil yang aku keluarkan hingga ontang anting ini berhenti dengan sendirinya.

Sedikit pusing aku rasakan, perut sedikit mual namun aku tetap menunjukkan kebaikbaikanya aku di hadapan Ratna, namun Ratna menyadari aku mual dan dia mengajakku untuk duduk dan berhenti sebentar untuk menenangkan diri #PacarYangBaik. Setelah aku cukup baik dan bersamaan dengan itu jam pun telah menunjukkan hampir jam 9 malam, kamipun bergegas pergi untuk melanjutkan tempat terakhir malam ini yaitu Taman Pelangi.

15 menit perjalanan yang kami tempuh dari Edu Park untuk tiba di Taman Pelangi yang letaknya didalam komplek Monumen Jogja Kembali. Memarkirkan motor ke tempat yang di sediakan, kami pun berjalan kaki menuju pusat kegiatan di Taman Pelangi. Dan benar, kami tidak salah datang ke tempat ini sedikit larut malam, karena keindahan taman pelangi adalah pada permainan Lampion lampu yang beraneka bentuk dan warna, sehingga tidak heran jika tempat ini di sebut juga Taman Lampion.

Cukup ramai tempat ini di kunjungi mulai dari anak sekolah, dewasa maupun orangtua meskipun sudah cukup larut. Perlahan demi perlahan kami mulai menyusuri diorama lampion dan permainan warnanya, cukup indah menurutku ditambah menyaksikannya dengan orang yang kamu sayang. Mulai dari pepohonan, ornament naga, dan berbagai macam bentuk dan tema menarik dari lampion dengan keanekaragaman warna semakin meningkatkan citarasa ingin mengabadikan setiap langkah, entah untuk berselfie atau hanya sekedar mengabadikannya saja.

Hampir di setiap sudut kami mengambil gambar kami berdua maupun sendiri, karena begitu sayang untuk di lewatkan. Ditempat ini juga terdapat wahana rumah setan yang sempat aku ajukan untuk masuk namun di tolak mentah-mentah, karena setan yang ngajak lebih serem dari pada setan yang ada di wahana itu, jadi buat apa, begitu yang disampaikan oleh Ratna #KemudianDitabok.

Hari terakhir di Jogja berdasarkan rencana liburan kami ini terasa sangat melelahkan, menguras energi namun tertananm sejuta kenangan yang tidak akan bisa hilang. Sebelum kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat, aku berinisiatif untuk menyempurnakan hari dengan membeli es mendem durian, sebagai penyeimbangnya karena Ratna tidak suka durian maka Mr Burger kami pilih karena ini juga salah satu sajian special di Jogja, 2 burger ring on cheese dan sosis bakar ukuran jumbo dipilih olehnya dan di bungkus untuk di makan di Hotel. Dan ketika tiba di hotel, pecahl lha kenikmatan burger dan sosis itu serta atmosfir durian, sungguh penutup hari yang sempurna, hari yang sangat amat menyenangkan. Semoga akan ada hari-hari seperti ini kembali di waktu depan bersamamu. Percikan shower membasahi tubuh untuk membersihkan dari keringat, serta hangatnya badcover setelahnya membuat kami dengan mudah larut dan terlelap.

Continue..