Day 4
Tidak
ada alarm yang membangunkan kali ini, alam bawah sadar yang mendadak
membangunkanku bahkan lebih pagi dari alarm biasanya membangunkanku, Ratna
rupanya telah lebih dahulu terbangun namun masih memeluk guling yang enggan
membuatnya beranjak. Ya hari ini kami akan check out dan melanjutkan liburan
kami ke Solo, kami akan berangkat dengan motor yang menurut estimasi sekira 2
jam kami akan sampai di sana. Kami tidak memesan kamar hotel yang mendapatkan
sarapan, sehingga kami akan menggabungnya dengan makan siang di perjalanan
nanti ke arah Solo. Kami berkemas, mandi untuk menyegarkan badan dan setelah
memastikan tidak ada yang tertinggal kami segera ke receptionist untuk check
out.
Dengan
pakaian lengan panjang dan celana panjang serta sebuah selendang untuk menutup
hidung dari debu kami berdua mulai menyusuri jalan Solo, namun kami teringat
pesan Mas Hangga yang bekerja di Solo bahwa di sana lalulintas sangat ketat,
sehingga mengharuskan kelengkapan kendaraan harus di pastikan lengkap. Motor
yang kami bawa sedari hari pertama memang hanya mempunyai 1 spion, sehingga
sebelum candi Prambanan kami mengganti spion dengan yang baru yang jumlahnya
sepasang sehingga nantinya lebih aman, daripada duit yang ada digunakan untuk
membayar denda tilang, lebih baik untuk membeli spion dan makanan nantinya.
Siang
itu benar-benar sangat terik di tambah panas pantul dari aspal, perut kami pun
belum terisi makanan, hanya berharap dari sisa kekhilapan Mr Burger semalam
saja. AKu menderu motor dengan kecepatan sedang saja, sesekali harus menarik
gas lebih untuk menyalip kendaraan di depan. Banyak obrolaan meluncur sepanjang
perjalanan, tidak terasa kota Klaten telah kami lalui yg berarti kami sudah
setengah perjalanan, kami mencari makanan di sisi jalan yang searah, namun kami
baru berhenti di sebuah rumah makan special Swuike (katak) yang terletah tepat
di lampu merah sebekum masuk kearah Solo Baru setelah tidak mampu lagi menahan
gejolak energy yang di butuhkan untuk melawan teriknya panas.
Inilah
lucunya kami di tempat ini, kami tidak memesan swuike yang menjadi menu special
tapi hanya ayam dengan saus dan sambel, dasar pasangan aneh.
Setelah
cukup terisi energy, kamipun melanjutkan setengah perjalanan yang masih
tersisa. Jangan berharap dengan perut terisi motor dapat dikebut, kami
menggunakan prinsip biar lambat asal selamat. Dan penantian panjang hamper 2
jam membuahkan hasil ketika aku melihat stasiun Purwosari yang menandakan ini
adalah SOLO dan sudah pasti Jln Slamet Riyadi menjadi jalur utama yang akan
membawa kami ke penginapan yang telah kami siapkan sebelumnya, tentu saja
dengan bantuan Google Map, Thanks God buat penemuan keren ini.
Sebuah
hotel tinggi menjulang dengan dominan warna merah sesuai dengan nama Hotelnya
telah terlihat, tidak jauh dari jalan utama Slamet Riyadi ini, matahari yang
tepat berada di atas kepala kami menandakan telah siang hari, kami melakukan
proses check in dan berhasil mendapatkan kamar di lantai 4. Sempat terkejut, karena
belum pernah menadapatkan gedung ataupun hotel dengan lantai 4, umumny dari 3
langsung ke 5 atau 3A. tapi yasudahlan, kami terima saja tanpa memikirkan
hal-hal sepertiitu. Kami tiba di kamar dan langsung meletakkan barang serta
mulai menentukan tujuan kami kemana.
Waktu
kami hanya semalam di Solo sehingga kami ingin memaksimalkan setiap waktu untuk
dapat mengitari banyak tempat di Solo. Pada mulanya aku berencana untuk
mengikuti Bus Tour yang akan membawa kami keliling tempat-tempat wisata dan
bersejarah di Solo, namun kami tiba kesiangan dan untuk hari itu pun telah
penuh sehingga kami harus membuat plan cadangan, dengan referensi Google kami
pun memulai
Solo
dan Kita
Kami
memilih untuk ke lokasi terdekat dengan Hotel, dan Musium Batik Danar Hadi
menjadi tujuan pertama. Kami sempat terlewat sedikit ketika mencarinya yang
membuat kami harus melawan arus dan menggunakan trotoar untuk tiba di sana,
dikarenakan Jalan Slamet Riyadi searah dan aku tidak tahu jalan jika harus
memutar.
Di
Museum Batik ini banyak sekali Batik (YAIYALAHHH MASA DODOL) ketika kami tiba,
kesialan kami adalah ruang museum tidak dapat di kunjungi sehingga kami hanya
dapat masuk ke Galeri Batiknya saja. Melihat begitu banyak batik baik untuk
pria maupun wanita sempat menggugah hati ingin membeli beberapa, namun ketika
melihat kisaran harga beberapa batik yang menarik langsung kami urungkan niat,
namun dengan menunjukkan tampang bahwa kami mampu beli di hadapan penjaga
galeri batik tersebut. Dengan tampang tidak puas karena tidak menemukan batik
yang oke kami pun keluar dari Galeri, padahal sejujurnya banyak yang bagus
namun apa daya dompet berkabung, sehingga kami pun melanjutkan ke lokasi
selanjutnya.
Berdasarkan
referensi, di dekat Museum Danar Hadi ada suatu Museum lain yaitu Museum Radya
Pustaka yang menyimpan banyak benda sejarah Kota Solo, kami pun beranjak ke
sana dengan tetap melawan arus dan menggunakan trotoar sebagai jalur motor.
Nampaknya kami sial siang itu, Museum Rady Pustaka sedang di tutup sehingga
kami hanya dapat melihat peninggalan-peninggalan sejarah berupa bangunan Museum
Radya Pustaka tampak depan saja. Damn.
Akhirnya
kami memutuskan untuk mengunjungi tempat yang sudah pasti buka dan tempat yang
sangat terkenal untuk mencari oleh-oleh khas Solo, dimana lagi kalo bukan pasar
Tanah Abang eh Pasar Klewer. Menggunakan penunjuk jalan, akhirnya kami tiba di
kawasan Pasar Klewer, pasar ini berbeda ketika dulu aku pertama kali datang
karena ada rekolasi pasca kebakaran besar beberapa waktu lalu.
Kami
memilih lokasi parkir yang cukup aman dan nyaman serta dekat dengan lokasi kami
berbelanja dan berkeliling. Namun hebatnya kami, kami mau berbelanja namun
tidak membawa uang yang mencukupi untuk khilaf dan kalap dalam belanja, dan
mengharuskan kami mencari Mesin ATM terdekat. Setelah bertanya dengan seorang
tukang becak mengatakan tidak jauh, namun ketika kami mencarinya di bawah panas
terik ternyata lumayan jauh dari lokasi parkir kami, sesudah itu hanya ada 1
ATM bank swasta warna biru. Kami sempat berada cukup lama dalam mesin ATM bukan
karena mengambil dengan sangat banyak, tapi hanya untuk mengambil sedikit uang
dan menyejukkan diri dalam ruang ATM.
Setelah
dirasa dompet cukup, kami mulai liar mencari oleh-oleh. Kami berdua termaksud
tipe orang yang sangat selektif untuk memilih baju, apalagi pasangan #Upsss.
Kami harus memutari pasar berkali-kali dan lokasi pasar yang terpisah namun akhirnya
menemukan di kios yang tidak jauh dengan lokasi parkir kami. Kami saling
memberi masukkan terkait membeli apa, dan untuk siapa tapi jangan ditanya soal
menawar, aku lebih jago daripada Ratna. Ini jujur bukan karena Jago, tapi
karena gengsi and biar keliatan “pacar aku jago” padahal kalau sendiri aku
sangat amat tidak tega menawar hingga 50 persen dan meninggalkan kios yg telah
aku tawar tanpa membelinya.
Aku
terlebih dahulu menemukan beberapa potong batik murah untuk keluarga, untuk
kemudian kami menemukan kios yang menyajikan pakaian batik sesuai dengan maunya
Ratna. Cuaca yang sangat panas sempat membuat Ratna drop, karena dia memiliki
alergi terhadap cahaya matahari yang terlalu terik, alerginya dia dapat menjadi
Dian Sastro, bukan lha tapi dia menjadi gatal di sekitar wajah, sehingga ketika
telah menemukan apa yang kami cari, kami duduk di pelataran gazebo yang dekat
dengan lokasi parkir kami dan pohon beringin.
Mencari
oleh-oleh dalam panas terik dan keramaian pasar ternyata sangat menguras energy,
hal ini membuat kami harus mencari makanan special Solo terdekat dan hasil
terawang google adalah Selat Solo. Rekomendasi utama adalah warung Selat Solo
mbak Lies. Mengandalkan google map kami pun mulai mengendarai motor kami,
sepanjang jalan cuaca mendadak berubah menjadi mendung dan gerimis yang
mengharuskan kami harus menemukan lokasinya secara cepat.
Warung
Selat Solo mbak Lies yang sangat ternama ternyata berdasarkan Google map cukup
banyak dengan beberapa angka romawi di belakangnya sebagai pembeda, Kami sempat
berkali-kali di buat nyasar oleh google map, kami memang sempat gengsi
bertanya, giliran kami bertanya orangnya malah tidak tau. AKhirnya berdasarkan
intuisi dan analisis ketepatan dari google, kami pun dapat menemukannya dengan
memperhatikan banyaknya mobil parkir.
Tidak
menyangka jika lokasi Selat Solo Mbak Lies berada di gang kecil yang hanya
dapat muat dan di lalui sebuah mobil, namun karena kami menggunakan motor sudah
pasti akan sangat muat, dan ketika kami tepat memarkirkan motor, hujan mulai
turun dengan lebat.
Cukup
menarik tempat Selat Solo ini, banyak keramik-keramik dan gantungan-gantungan
lucu serta lukisan tergantung di dalamnya. Terdapat 2 lokasi untuk makan yang
di pisahkan oleh jalan, kami mendapatkan tempat lesehan di rumah sebrang yang
di dalamnya terdapat banyak foto yang menunjukkan tempat ini pernah di kunjungi
orang penting maupun artis terkenal. Kami memesan makanan paling special di
situ namun sengaja memilih 2 jenis menu berbeda agar dapat saling mencicipi,
ditambah minuman penyegar yaitu es campur dan alpukat.
Cukup
penasaran sebenarnya seperti apa makanan Selat Solo ini, ketika makanan itu
tiba di hadapan kami dan kami mulai mencicipinya ehh salah sebagai anak
kekinian aku memfotonya terlebih dahulu baru makan. Rasanya sungguh mempesona,
kalau aku sangat suka, dengan perpaduan wortel, buncis, acar, kentang serta
daging sapi, suatu perpaduan sempurna dan tidak salah menu ini menjadi menu
tujuan kuliner wajib ketika di Solo, walaupun tanpa nasi aku bisa kenyang,
karena mendapatkan limpahan dari Ratna yang sedikit tidak suka karena banyak
mengandung unsur sayur, dan di tutup dengan es alpukat dan es campur, deras
hujan di luar membuat semuanya menjadi sempurna.
Kami
memiliki selentingan, ketika kenyang jadi Bego. Dan hal ini berlaku bagi kami,
ketika kenyang dan lelah ditambah cuaca syahdu dan sudah menjelang gelap, kami
memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar dan melanjutkan
kembali setelah Maghrib setelah kebegoan kami ketika kenyang hilang.
Setelah
beristirahat cukup, kamipun bersiap untuk melanjutkan wisata malam di Solo,
dengan bimbingan om google kami akan Ngarsopura Night Market. Lokasi yang tidak
jauh juga dari hotel membuat kami mudah menemukannya, namun hujan gerimis malam
itu sedikit merubah suasana pasar malam itu, karena pedagang tidak bisa menjual
dagangannya di luar tenda sehingga terkesan menumpuk semua barang dan
pengunjungpun seperti ikut berteduh. Dibawah rintik hujan kami mulai memasuki
arena Ngarsopura Night Market dengan kejadian seorang ibu terpelset di trotoar
tepat di depan kami sebagai pembukanya.
Tidak
hanya gerimis, namun malam itu listrik di lokasi pasar malam juga bermasalah
yang membuat sebagian kios mendapat penerangan dan sebagian tidak, dikarenakan
adanya konseleting begitu pedagang mengutarakan. Tidak cukup luas lokasi
Ngarsopura Night Market, kios-kios berjajar di kiri dan kanan badan jalan
dengan menyisakan ruang gerak di bagian tengahnya, mereka menyajikan berbagai
macam kerajinan khas solo dan berbagai macam pakaian dan makanan. Kami
menyempatkan membeli keripik kentang tipis dalam tusuk sate untuk mengganjal
perut sementara.
Kamipun
melanjutkan wisata malam kami dengan berniat mengisi perut yang cepat laper
karena gerimis di lokasi lain yaitu Galabo Solo. Ketika kami ke Galabo, mungkin
karena gerimis jadi tempat itu tidak terlihat meriah, lokasinya tepat di depan
sebuah mall kecil dengan menggunakan jalan yang sengaja di tutup, kami pun
mencoba mengitarinya, tidak ada yang menarik hati kami untuk singgah dan makan
di situ, akhirnya kami hanya numpang ke ATM dan membeli sebuah baju batik untuk
Ratna yang kebetulan kami menemukan model yang tidak kami dapat di Pasar Klewer
tadi siang.
Tidak
patah arang kami pun segera mencari tempat lain, ketika motor berjalan Ratna
sudah mulai mewarning bahwa bahan bakar kendaraan kami sudah berada dalam zona
berbahaya yang bisa mati kapan saja, aku katakana bahwa itu masih banyak masih
bisa untuk muter-muter. Dan diapun menerima walau dengan ketidak nyamanan.
Di
jalan aku sempat kebayang beberapa potong rok yang di pasar Ngarsopura tadi
yang rencananya aku belikan untuk Ratna, dan keinginanku ini begitu kuat
meskipun aku tau Ratna tidak akan senang aku belikan, namun aku abaikan hal itu
dan kamipun kembali ke lokasi sebelumnya untuk membeli 2 potong rok panjang dan
pendek yang cantik dengan harga yang cukup murah.
Perut
yang belum terisi ternyata dapat meningkatkan eksistensi emosi, wanita yang aku
bonceng di belakang kembali mengingatkan terkait bahan bakar yang sudah
sakratul maut, dan dari pada terus-terusan di ingatkan aku pun mulai sok tau
mencari pom bensin, dan ketahuilah sodara-sodara sangat susah mencari pom bensin
pada malam hari di Solo untuk orang yang tidak tahu Solo. Kami sempat
berputar-putar mencari namun tidak menemukan, dan kepanikan semakin menjadi
karena kami mencarinya sudah cukup jauh dan tentu saja bahan bakar diambang
almarhum, tanpa basa basic dan kemaluan yang ada, akupun menanyakan kepada
seorang ibu tepat di lampu merah, ibu mengatakan bahwa pombensin terdekat
letaknya agak jauh dan arahnya berada di arah sebaliknya dari jalan yang kami
lalui, dengan beberapa arahan belok akupun mengingat dan mencoba mencari.
Mencari
pombensin dalam kekhawatiran serta ketidaktahuan itu sangat tidak enak,
percayalah. Tapi ketika kami melihat sebuah logo jempol yang berarti pasti pas
dengan cahaya sedikit gemerlap di ujung jalan yang menandakan itu pom bensin,
kekhawatiran kami pecah dan emosi mulai terendap di dalam diri wanita di
belakang aku. Sangking emosinya akupun mengisi penuh tangka bahan bakar!!!
#YaiyalahMenurutNgana
Drama
tidak sampai disitu, ketika bahan bakar motor penuh, bahan bakar dari kami yang
menungganginya belum terisi sejak maghrib tadi, dan proses jalan-jalan di
Ngarsupuro sampai saat mengisi bahan bakar telah memakan banyak watu, dan waktu
hamper menunjukkan jam 10 malam, dan kami belum makan. Emosi kembali menyulut
diantara kami, akupun berhenti sesaat untuk mencari rekomendasian makanan enak
malam hari dalam cuaca sendu dingin, dan tentu saja bakso. Dan rekomendasi dari
salah satu site adalah Bakso Pawiroredjo, dan google map pun mulai mengarahkan
kami mencari.
Ketahuilah
jangan berdebat dan berjalan dengan keadaan perut kosong, google map yang
menunjukkan jalan kami pun tidak berhasil menemukan lokasinya dengan tepat, dan
waktu semakin larut. Berkali-kali kami mengitari lokasi Bakso Pawiroredjo
berdasarkan temuan google map namun hasilnya nihil, kekesalan pun semakin
memuncak dan kami mulai saling menyalahkan, ketidakpahaman ratna, maupun
kesoktauan aku membuat kami sama-sama kesal, dan pada satu titik akhirnya Ratna
mengalah dan menitikkan air mata karena tidak kuat menahan amarah, hal ini
membuatku ikut merasa bersalah. Dan di bawah rintik hujan dan gelapnya malam
kami pun saling hening dengan keputusan makan apa saja yang kami temui. Namun
karena sudah sangat malam banyak yang tutup, sampai pada akhirnya kami berhasil
menemukan sebuah warung menjual bakso sapi special, yang letaknya TIDAK JAUH
DARI HOTEL. Dan perlu kalian ketahui pula, kami adalah konsumen terakhir malam
itu sehingga ketika makanan kami disajikan merekapun menutup warungnya.
Ketika
perut mulai terisi, aliran emosi sudah mulai turun dan kami sama-sama tenang,
saling memaafkan walaupun belum lebaran. Ketika selesai membayar kamipun
menutup hari ini di Solo karena energy kami sudah sangat terkuras secara fisik
dan emosional, sehingga kami langsung kembali ke hotel untuk berkemas dan
beristiraht untuk mempersiapkan kepulangan kami esok harinya.
Last Day
Pagi
ini terasa berbeda, ketika alarm tidak membangunkan kami namun kami harus
cemberut untuk kembali ke Jogja dan harus mengakhiri liburan kami. Berat
rasanya ketika harus mengangkat tas kami, melakukan checkout dan mulai
mengendarai motor 2 jam lamanya untuk kembali ke kenyataan bahwa kami harus
kembali bekerja dan menghentikan hiburan.
Kami
bahkan memikirkan sarapan di jalan pulang kearah Jogja saja, sehingga ketika
memulai perjalanan pulang perut kami belum terisi. Aku hanya memikirkan apa
makanan yang enak di jalan pulang, dan yang terbesit dalam bayangku adalah Ayam
Kalasan yang ketika kuliah dulu sangat banyak bertebaran di jalan Solo Jogja,
sejam berlalu diatas motor dengan perut masih kosong dan semangat luntur kami
masih belum menemukan, pun setelah melalui Klaten kami tidak melihat adanya
Ayam Kalasan. Sekali menmukan itu pun kondisi kami membawa motor agak kencang
dan aku ingat bahwa di kiri jalan kami sesudah candi prambanan ada.
Ketika
Candi Prambanan telah berlalu, aku hanya terfokus di sisi kiri jalan karena
seingatku itu, sedangkan wanita di belakangku mulai naik tensinya karena belum
sarapan, namun aku tetap dengan keyakinan aku. Sebelum tiba di Jogja, kami pun
mampir ke rumah Orang tua Ade untuk kembali menukarkan motor kami, namun ketika
tiba disana motor kami tidak ada dan sedang di gunakan oleh Mas hangga, dan
akupun menghubungi mas hangga dan menentukan tempat untuk penukaran motor
tersebut. Kamipun pamit kepada ortunya ade dan melanjutkan perjalanan kami
untuk mencari makan.
Akupun
mulai memelankan laju motorku setelah melalui Kedaulatan Rakyat, dan ketika
telah menemui bandara Adi Sutjipto dan itu adalah sudah di Jogja akupun mulai
menyadari bahwa Ayam Kalasan tidak ada di sisi kiri jalan yang kami lalui,
cemberut pun mulai menguras emosi, namun aku akhirnya memilih untuk mengisi
perut di SS Babarsari karena banyak menu pilihan dan olahan sambalnya.
Ketika
tiba di SS, ternyata cukup penuh dengan mahasiswa yang makan siang, karena kami
tiba bersamaan dengan makan siang. Kami kalap, memesan berbagai jenis sambal
dan lauk, dan karena rame makanan datang agak lama, ketika tiba di hadapan kami
tanpa basa basi langsung kami sikat sampai menyisakan sambalnya saja. Ketika
kami kenyang, kamipun diam dan bersiap kembali ke rumah Akbar untuk
mengembalikan motor.
Setiba
di rumah Akbar, kami di sambut dengan baik oleh Akbar dan Istrinya dan rupanya
disana juga sedang ada Rayhan dan Istrinya yg merupakan temanku semasa kuliah
juga, sehingga saling ngobrol lha kami banyak hal sambal menunggu waktu kami
harus ke bandara yang agak sore. Seketika kami asik ngobrol, ternyata cuaca di
luar berubah drastic, tiba-tiba hujan sangat deras disertai angina, mungkin ini
pertanda Jogja sedih di tinggal oleh kami. Hujan berlangsung cukup lama dan
intensitasnya deras, dan kami harus segera ke bandara, karena tidak mungkin
untuk menggunakan motor.
Akhirnya
dengan browsing kamipun mendapatkan beberapa nomer telp taksi di jogja, namun
mungkin karena cuaca hujan sehingga beberapa nomer taksi tidak mengangkat,
sampai pada salah satu provider taksi akhirnya menjawab dan segera mengirimkan
armadanya menuju rumah Akbar dan kamipun telah bersiap dan menunggu kedatangan
taksi.
Liburan
kami ini begitu luar biasa, dan harus di akhiri dengan hal yang luar biasa
juga. Tanpa kami sadari tiba-tiba taksi yang kami pesan adalah bukan taksi
biasa melainkan taksi premium class dengan mobil Jenis Alphard yang menjemput
kami dan akan mengantarkan kami ke bandara. Betapa terkejutnya kami semua yang
ada di rumah itu, termaksud kami. Namun karena kami takut ketinggalan pesawat
akhirnya kami harus naik segera dengan terlebih dahulu pamit dan mengucapkan
terima kasih atas bantuannya selama kami liburan di Jogja.
Ketika
mulai mengarah ke mobil, Akbar dan yang lain hanya tertawa terbahak-bahak sambi
memfoto dan mendokumentasikan kami karena menyadari bahwa premium class tentu
biayanya tidak murah, namun aku tetap stay cool walapun duit di kantong tidak
mencapai 200rb, namun aku percaya di Ratna ada sehingga aku yakini cukup.
Ketika pintu tertutup dan mulai meninggalkan rumah Akbar, aku langsung
mengkontanin driver dengan pertanyaan berapa biasanya biaya untuk sampai ke
bandara, dan jawaban yang aku terima sangat menyegarkan. Taksi kami hanya
berbeda 150-500 rupiah per kilometernya dengan taksi biasa. Drivernya mulai
menjelaskan bagaimana mereka mulai menurunkan tarif dan persepsi masyarakat
terhadap taksi jenis Alphard
Ohhh thanks
GOD, mendadak beban itu musnah dan merubahnya menjadi menikmati perjalanan ke
bandara dengan taksi premium ini, dan sambal melihat kea rah Ratna aku berkata “Kapan
lagi aku bisa ngajak jalan kamu pakai mobil mahal,”. Seketika itupula kami tertawa lepas.
Sesampainya
di bandara kami ternyata berada di terminal yang berbeda, karena waktu
keberangkatan pesawat Ratna lebih dahulu sehingga kami minta di antarkan di
terminal B yang letaknya 100 meter dari terminal utama. Setelah membayar dengan
harga yang menurutku cukup masuk akal, akupun menemani Ratna hingga terminal
dan membiarkannya melakukan check in terlebih dahulu dan aku menunggu di depan
terminal sambi memberikan informasi kepada Akbar bahwa tarifnya masuk akal dan
tidak overprice seperti yang kami bayangkan. Setelah check in tidak lama
kemudain Ratna kembali keluar, dan kami bersenda gurau untuk menikmati sisa
waktu bersama, dan ketika waktunya telah dekat untuk boarding kamipun saling
memberikan peluk yang akan selalu lekat dalam diri kami sampai kami berjumpa
kembali, dan akupun menyerahkan sebuah catatan dalam selembar kertas yang telah
aku siapkan sebelumnya untuk di baca ketika di pesawat.
5 hari
yang sangat menyenangkan, dan selalu akan terkenang dalam memori kita bersama.
Berat rasanya harus berpisah lagi untuk sementara, namun itulah jalan yang kita
pilih. Ketika bayanganmu sudah tak terlihat lagi di sudut mataku, akupun
berjalan menuju terminal keberangkatanku untuk meyakinkan diri terus berusaha
menabung agar kami bisa sering melakukan hal ini bersama sesering mungkin.
I Miss
you already..
With
Love
-Niko-