Selasa, 26 Juli 2016

MENGECAP BALI BERSAMA



Hanya sesuatu yang sangat penting yang dapat membangunkanku di pagi hari di akhir pekan, bahkan lebih dahulu dari pada alarm yang sudah aku setting semalam. Ya, pagi ini aku siap membongkar tabunganku untuk menikmati indahnya pulau Dewata bersama Ratna dan teman-teman. 

Tidak terpikir untuk dapat dapat ke Bali, bahkan dalam wishlist tahunanku pun tidak, liburan kali ini terjadi karena kehendak Tuhan dan planning bulan madu dari rekan karibku Made yang mengajak beberapa teman dekatnya, termaksud aku. Awalnya aku tidak mengiyakan karena budget belum di persiapkan, dan tidak ada hari kejepit yang dapat menghemat cuti, namun apalah daya magis pulau dewata mampu merubah semuanya. Setelah berbagai macam pertimbangan plus minus dan rapat-rapat akbar, Sabtu 10 Juni 2016 kami berangkat dengan tentu saja tiket pulang pergi terlebih dahulu di tangan dengan menunggak dan membayarnya ketika gajian tiba.

Nun jauh di Tangerang pun telah bersiap sosok wanita kita panggil dia Ratna, sosok yang sangat kontroversial, plis jangan tanya kenapa karena ketika mulai mempertanyakannya kekontroversialannya akan muncul. Kami memang telah menyesuaikan waktu keberangkatan agar tidak terlalu lama saling menunggu. Dia berangkat seorang diri, sedangkan aku dari Kalimantan berangkat  bersama 2 pasangan yang lain, ya kami berlima dan mereka semua berpasangan, kecuali aku.

Melalui komunikasi Line, kami kloter Balikpapan berkumpul di muster point dekat Starbucks Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan untuk melakukan check in bersama, setelah selesai dan kami telah mendapatkan boarding pass masing-masing dan kami pun langsung beranjak ke ke pesawat, karena ketika kami di counter checkin di informasikan bahwa kami harus segera naik ke pesawat karena telah panggilan pertama. Tanpa menunggu lama kamipun bergegas ke Gate 3, dan bersiap terbang dengan menggunakan Citilink. Dengan system random, kami tidak duduk bersama, dan harus berpisah tentu saja 2 pasangan lain dapat duduk berdampingan, dan aku sengaja mengorbankan diri untuk berharap dapat duduk dengan wanita muda seksi hot atau minimal anak satu, namun kenyataan berbeda. Aku duduk di tengah-tengah ibu-ibu yang cukup berumur, kemudian akupun berusaha tidur. Hehehe

Antusiasme dalam diri untuk segera tiba di Bali membuat perjalanan transit melalui Surabaya selama 1 jam 10 menit tidak terasa, mendarat dengan empuk kami pun diarahkan untuk ke counter transit, namun kami diinformasikan bahwa pesawat kami masih lama dan di sarankan masuk ke ruang transit 2 jam lagi, dan kami cukup mengetahui hal itu, dan kami pun memanfaatkan waktu itu untuk mengisi perut yang sedari pagi belum kami isi. Mencari KFC tidak menemukan akhirnya kami memutuskan untuk makan di A&W yang harganya tidak jauh berbeda, sama-sama pecel ayam #KemudianDitoyor
Setelah selesai dan perut terisi, kami memutuskan untuk langsung ke ruang transit dan menunggu disana saja, pun bisa sambil tidur-tiduran. Namun apa yang terjadi, kami tidak bisa tidur karena ruang tunggu tersebut telah penuh, dan banyak di isi oleh Bule karena tujuannya adalah Bali dan bersamaan waktu libur sekolah, sehingga menyegarkan mata jasmani kami, mohon maaf yang bawa pasangan kali ini kesempatanku mencuci mata #SiapSiapDigepruk

Kembali duduk terpisah dari pasangan kloter Balikpapan di pesawat yang akan membawa kami ke Denpasar tidak menyurutkan semangatku untuk segera menginjakkan kaki di pulau dewata meskipun tadi pesawat sempat mengalami penundaan hingga 30 menit. Estimasi perjalanan 50 menit SBY-DPN akan aku pake buat tidur saja, pasaca sedikit kenyang makan di A&W tadi.

Ketika pesawat mulai tinggal landas dan mataku mulai terpejam, samar-samar aku mendengar pembicaraan row di belakangku persis, disana terdapat seorang bapak dan sepasang pasangan muda, awal pembicaraan hanya seputar ke Bali untuk keperluan apa, ternyata mereka sama-sama mendatangi acara pernikahan kerabat mereka, sempat mengira jangan jangan mereka di acara yang sama, namun ternyata tidak. Disitulah mulai obrolan terkait pernkahan di antara bapak berumur ini dengan pasangan muda yang kebetulan sedang berencana akan melangsungkan pernikahan.

Ingin aku segera terlelap, namun obrolan mereka dibelakang dapat dengan jelas aku dengar, dan obrolan yang mereka bicarakan cukup banyak membuka pemikiranku juga terkait pernikahan, prosesi, hingga kehidupan pasca pernikahan, sampai hubungan dengan kedua keluarga. Mungkin akan aku jelaskan di tulisan berbeda nantinya. 50 menit pun kurang untuk menguping obrolan mereka, sampai akhirnya pintu pesawat terbuka dan harus turun yang mengakhiriku mendengarkan petuah dan nasihat dari obrolan kursi belakangku.

Dan… Welcome BALI!!!!


HP aku aktifkan, dan ternyata sudah ada beberapa notifikasi disana yang menyatakan bahwa Ratna telah tiba terlebih dahulu dan mereka menunggu di Burger King di Bandara bersama dengan Made sang pembuat rencana yang akan menjadi sponsor kami di sana. Sempat ada kejadian aku menghilangkan boarding pass yang disana menempel bukti bagasi kami semua, namun untung saja ketika di Bali tidak ada pengecekkan barang seperti bandara Balikpapan, jika itu terjadi bisa saja aku harus menunggu cukup lama memproses hal ini, ohhh Thanks God.

Dengan membawa tas ransel di punggung dan beberapa koper teman-teman yang lain menggunakan troli, kami pun bergegas ke Burger King yang harus kami cari terlebih dahulu. Dan letaknya cukup dekat dari pintu keluar bandara. Sudah ada 3 orang yang menunggu disana, Made dan Sepupunya, serta Ratna. Asik, bertemu kembali setelah biasanya hanya via suara. Menyapa sesaat dan memeluknya dari belakang cukup buatku untuk melepaskan rindu. Kami semua bergegas mengangkat barang ke kendaraan untuk segera ke lokasi penginapan kami di Denpasar yang juga merupakan kost milik saudara dari Chiqa istri dari Made.

Beberapa jokes terlantun di dalam mobil yang cukup penuh sesak dengan 8 orang serta barang-barang, dari jokes porno, wisata mana saja yang akan kami kunjungi dengan bertanya kepada Komang sang pemilik kost tempat kami tinggal yang juga katanya anak gaul Denpasar, kami pun menyerahkan malam ini dan esok harinya kepada pilihannya. Aku hanya menikmati pemandangan sepanjang jalan, dengan tetap merangkul Ratna dari belakang untuk melepas rindu, dengan sesekali mengeluarkan dan melempar jokes untuk memecah keheningan dan keexcited-an kami.

Kami di sambut dengan kemacetan Denpasar, rupanya saat itu presiden Jokowi datang ke Bali untuk menghadiri pembukaan acara pagelaran seni di Denpasar di tambah jam waktu pulang kerja dan waktu libur. Hampir 30 perjalanan kami hingga akhirnya tiba di sebuah kost yang akan menjadi tempat tinggal kami beberapa waktu kedepan. Sebuah kamar berukuran hampir 20m2 dengan sebuah kamar mandi, springbed, dan pendingin ruangan. Hampir gelap kami tiba disana, kami meletakkan tas dan beristirahat sebentar serta membasuh diri dan berganti pakaian untuk segera memulai malam kami pertama kami di Bali.

Mobil kami telah cukup  penuh, walaupun barang-barang kami telah turun semua namun komposisi tubuh kami memang membuat semua tidak sempit-sempitan tapi cukup, dari bandara kami hanya 8 orang sekarang kami 9 orang dengan penjabaran 4 pasangan dan 1 tour guide. Awalnya kami ingin melihat acara yang dibuka secara resmi oleh Jokowi karena lokasinya tidak jauh sekaligus mencari makan malam, namun ketika tiba di lokasi acra telah berakhir dan kami harus segera merubah tujuan, tempat yang bisa dijadikan lokasi nongkrong serta makan, dan tour guide kami menyarankan untuk ke Sanur Beach Grove, dan mobil kami pun langsung meluncur ke lokasi tersebut.

Sanur Beach Grove letaknya tepat di sisi pantai sanur, yaiyalahhh masa di sisi pantai Anyer. Berdasarkan penjelasan dari Komang, tempat ini cukup ramai terutama di akhir pekan, dimana kami pada saat itu tiba di malam minggu. Memarkirkan mobil di tempat yang telah disediakan, kami pun turun perlahan dan aku bersama Ratna mulai menyusuri tempat ini. Dan benar, disana telah ramai dengan bule yang asik bercerita menikmati pantai dan menari dan bernyanyi.

Sanur Beach Grove terasa indah pada malam hari, penataan pelataran yang di penuhi rerumputan serta pohon besar, di padu dengan lampu hias dan alunan music, serta kursi yang mengitari pelataran bahkan menyediakan jasa penyewaan karpet untuk lesehan di rumput menambah keindahan dan kebersamaan. Ditambah banyaknya sajian makanan dan minuman di sekitar lokasi membuat kita akan cukup betah disana.

Kami tiba dengan tidak mendapatkan kursi, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu dan menyusuri pantai sanur melalui jalur yang telah di siapkan dengan papin blok sebagai alasnya, sepanjang jalan restoran dan penginapan yang langsung berhadapan dengan pantai. Sekitar 15 menit kami menikmati pantai dan angina malamnya, kamipun kembali untuk mencari ruang kosong untuk kami yang jumlahnya 9 orang. Aku memutuskan untuk menyewa karpet untuk kita semua lesehan, namun dasar rejeki anak soleh kami mendapatkan meja yang cukup untuk kami walaupun kami harus mencari beberapa kursi lagi sehingga cukup untuk kami semua.

Setelah mendapatkan meja, kami berpisah untuk mencari makanan. Aku dan Ratna (selanjutnya akan menjadi Kita) mengitari mencari makanan special yang tentunya enggan yang biasa, pokoknya selama di bali kita harus makan yang HARAM dan HARAM. Aku terlebih dahulu menjatuhkan pilihan kepada sate mbabi dengan campuran sayur dan beberapa bumbu khas bali, harganya pun cukup terjangkau untuk kantong wisatawan yang baru datang. Sembari menunggu kita mulai mencari makanan lain karena Ratna tidak terlalu suka mbabi, akhirnya dia memilih untuk makan ayam dengan bumbu eropa, entah apa namanya, dan kitapun kembali kemeja sembari menunggu pesanan datang.

Sambil menunggu kami bercerita satu sama lain dengan sebucket bir di tengah, dan kita duduk bersebelahan. Ketika makanan tiba tanpa basa basi langsung menyantapnya, dan ketahuilah mbabi itu sangat hauceeeeekkk joss gandooooss, dengan citarasa pedasnya membuat lidah termanjakan. Begitupun pesanan Ratna cukup enak, namun kenikmatan makanan haram ini membuat orgasme indra perasaku, kalian haru coba sate ini. Di temani bir, kami semua menghabiskan malam ini di Sanur Beach Grove, sesekali memperhatikan anak kecil asik menari, dan ada yang memainkan kembang api. Sungguh sambutan yang luar biasa di malam pertama kami di Bali. Setelah cukup kenyang dan puas, kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat, untuk memulai perjalanan sesungguhnya esok hari. Kami akan menikmati keindahan Karangasem, salah satu kabupaten di timur Bali yang masih menyimpan banyak pesona. What a night..

Day 1 in Bali


Mataku setengah terpejam ketika teman-teman telah mulai bersiap untuk menyambut matahari terbit, semalam kami semua tidur dalam satu kamar dengan tiga pola tidur, di atas kesur, di depan pintu dan di depan tipi, Kita mendapatkan posisi di depan tipi yang cukup sempit namun cukup untuk kami rebahan dan terlelap. Kami saling bergantian mandi, Aku dan Ratna mendapat bagian terakhir dan melanjutkannya dengan merapikan pakaian yang nantinya akan dibawa ke Karangasem.

Masih cukup gelap mobil kami memecah jalanan Denpasar menuju pantai Sanur, konon katanya matahari terbit di sini sangat indah. Memarkirkan mobil di tempat yang telah di sediakan, kamipun berjalan menuju dermaga kecil di pinggir Sanur. Aku dan Ratna berjalan beriringan, bercerita ringan dan sempat terjadi ketidaknyamanan di antara kita yang akhirnya dapat sedikit terselesaikan.

Ketika sang surya mulai menunjukkan wujudnya kami semua sibuk untuk berfoto dan mengabadikan moment itu, namun masih terbawa bad mood membuat pagi itu kurang ceria, akupun bingung untuk membuat suasanya menjadi baik-baik saja, akupun membiarkannya sampai akhirnya semua kembali normal. Cukup banyak kita mendokumentasikan moment di sana baik kita berdua saja, sendiri-sendiri maupun kami semua secara bersama dengan atau tanpa selfie mode.

Keindahan matahari terbit perlahan mulai hilang kamipun beranjak mencari sarapan, dan tidak jauh dari bibir pantai Sanur terdapat nasi campur khas Bali yang sangat sensasional. Ketika tiba di sana warung baru akan di buka, kami memutuskan untuk menunggu dan disinilah keberuntungan kami, setengahjam setelahnya antrian yang memesan makanan sangat banyak baik yang bungkus maupun makan di tempat. Dan ternyata benar, makanan ini sangat enak, citarasa pedas dan bumbu racikan Bali terasa menendang di bibir mulut dan perut, Aku dan Ratna memesan sepiring berdua dikarenakan aku tidak terbiasa untuk sarapan dan menggunakan prinsip jika sepiring saja kenyang mengapa harus dua piring #IritAdalahKoentji

Setelah cukup terisi perut, kami melanjutkan perjalanan kearah kost untuk mengambil barang-barang yang akan dibawa, namun apes bagi kami ketika akan meninggalkan parkiran pantai Sanur tukang parkir menginfokan bahwa ban belakang mobil kami sepertinya kempes, kami pun tidak mau menggambil resiko mencari bengkel ban terdekat untuk memeriksakan kondisinya, karena jika tidak perjalanan kami selanjutnya akan sangat jauh dan melelahkan sehingga mobi yang fit tentu menjadi salah satu kunci sukses liburan kami. Benar saja, ban kami setelah di cek ternyata bocor dan mengharuskan adanya penambalan tubles, untung bengkel di sisi kiri jalan bypass Denpasar itu cukup modern dari tampilannya, peralatan untuk membuka baut sudah elektrik sehingga tidak menunggu lama semuanya dapat selesai, kami pun kembali memenuhi mobil dan kembali ke Kost.

Cukup banyak barang yang akan di bawa untuk menginap di Karangasem, yang memenuhi bagasi belakang hingga kursi penumpang. Wajar saja, jika antusiasme membuat kami sedikit ribet memilih pakaian dan peralatan.

Perlahan namun pasti kendaraan kami meluncur melalui jalan by pass estimasi waktu sekira 3 jam kami akan tiba, dari kota Denpasar di Bali bagian Selatan menuju ke Kabupaten Karangasem yang berada di Bali Timur. Sepanjang jalan kami disuguhkan keindahan pantai yang malu-malu terlihat karena di halangi hijaunya rerumputan, pohon maupun tembok bangunan. Jalanan dengan aspal mulus membuatku kagum dan iri, ingin rasanya di kota Balikpapan dan seluruh pelosok Kalimantan Timur terhubuing dengan jalanan semulus itu, mungkin ini baru akan terealisasi ketika aku jadi Gubernur Kaltim nantinya #Tsah.

Rupanya kami memutuskan untuk mampir menikmati pesona Tanjung Benoa yang sangat tersohor yang kebetulan kami lalu dalam perjalanan. Lagipula kami telah janji malam sebelumnya dengan keluarga chiqa yang ternyata manager di salah satu provider permainan di Tanjung Benoa.

Setelah tiba kami pun di sodorkan apa saja permainan yang ada di sana, dan aku sangat terkejut dengan harga yang di tawarkan untuk tiap permainan, cukup mahal menurut aku untuk permainan yang tidak lebih dari 1 jam. Aku dan Ratna memutuskan hanya bermain 1 permainan saja, dan kita memilih Paraseling permainan dengan kita menggunakan parasut yang di Tarik oleh boat mengitari Tanjung Benoa, dan hampir semua dari kami memilih untuk bermain ini juga. Kami pun diarahkan di sisi pantai dan di beri body harness serta sarung tangan berwarna merah dan biru kemudian di beri petunjuk permainan dan cara mengontrol parasut ketika mendarat nantinya. Ketika semua paham, kamipun mulai mengambil posisi siapa yang akan melaluinya pertama dan seterusnya.

Ratna cukup berani untuk mengambil di awal, dia mengawalinya dengan cukup mulus walaupun harus kelilipan dengan pasir pantai yang menerpanya ketika akan naik ke udara, namun sedikit mengalami masalah ketika mendarat, disorientasi arah yang kadang menyergapnya cukup membuatnya bingung, dan tentu saja ketika arahan di berikan tidak semudah ketika telah berada di atas. Cukup sulit untuk menarik talinya jika tidak di bantu dengan bobot badan, sehingga ketika mendarat sedikit mengalami hentakkan yang membuat hampir membuat terkilir namun tidak apa-apa. Dan dia pun memberi masukkan kepada kami yang belum terbang bahwa tidak semudah teori di awal tadi, termaksud aku.

Ketika giliranku, aku selalu memasang wajah cool padahal sesungguhnya aku cukup takut ketinggian. Menuju kearah permainan dengan butiran pasir terangkat dalam tiap langkahku dalam gerakan slowmotion sudah cukup membuatku terlihat ketjee. Semua telahterpasang rapi di tubuhku, dan dengan sedikit berlari aku pun mulai terbawa oleh speedboad dan kakiku mulai tidak menginjak pasir dan seketika itu pula aku mulai terbang melayang dibawa oleh angin, dengan memegang kepercayaan penuh pada bodyharness yang melakat pada tubuhku.

Ketika berada di atas, rasa takut dan biaya yang dikeluarkan sangat sebanding. Ini adalah pengalaman pertamaku memainkan permainan ini, dan lebih special lagi aku memainkannya di Bali. Aku dapat melihat dengan jelas Tangung Benoa dengan sangat luas, lautnya yang bening dengan mata minusku aku dapat melihat permukaan laut hingga ke dasar, wow hanya itu yang terujar dalam hariku. Dan benar saja jika reklamasi Tanjung Benoa sangat di tentang masyarakat Bali, karena dirasa akan menghancurkan ekosistem dan keindahan dasar laut, termaksud keindahan menikmati permainan ini.
Dan tidak lama aku menikmati dan mengagumi keindahan dari atas, akupun harus dihadapkan pada pendaratan yang menjadi momok bagi Ratna dan beberapa orang ketika bermain ini. Pelajaran dari instruktur di awal tadi aku implementasikan, kibaran bendera yang merupakan pertanda aku telah lihat cukup jelas, sekuat tenaga aku menarik salah satu sisi tali ditambah dengan berat badanku, tanpa terasa semakin dekat kakiku dengan pasir dan booommm, dengan sedikit terjatuh aku mampu mendarat dengan mulus dan tepat walaupun dengan sedikit terduduk. Pengalaman yang sangat mengagumkan.

Setelah semuanya selesai menjajal permainan ini, akupun mendokumentasikan kegiatan kami disana termaksud teman-teman lain yang meminta di fotokan. Cuaca siang itu begitu terik sehingga cukup membakar kulit, untungnya sebelum bermain tadi aku di ingatkan oleh Ratna untuk mengoleskan seluruh badan dengan cream anti UV yang setidaknya membantu menghindariku dari kegelapan yang lebih parah.

Awalnya kami akan meneruskan ke pulau penyu, namun permainan parasailing menyita banyak waktu kami, takut tiba di Karangasem kemalaman kamipun membatalkan ke pulau penyu dan bergegas kembali kemobil dan melanjutkan perjalanan. Tentunya dengan mengabadikan beberapa poto di tempat yang menunjukkan bahwa itu adalah Tanjung Benoa.

Mobilpun perlahan mulai meninggalkan Tanjung Benoa, bangunan-bangunan yang berdiri di sisi kiri dan kanan sepanjang perjalanan juga merupakan pariwisat buat aku karena cukup indah dan menarik. Sepanjang perjalanan mobil kami di penuhi canda tawa, ejekan, dan cerita-cerita yang mampu membuat beberapa kami tertawa maupun tertidur, untung saja sang diver handal kami terbiasa nyetir jauh sehingga perasaan aman itu membuat kami dapat tidur walaupun sesaat. Bahkan kami harus melewati beberapa objek wisata yang sangat pantas untuk di kunjungi namun tidak ada dalam planning kami.

Ketika memasuki Karangasem, kami telah di nantikan oleh salah seorang keluarga Chiqa yang harus kami jemput untuk mengantarkan kami ke tempat penginapan kami yang notabene pemiliknya adalah teman ybs. Dengan komunikasi yang lancar melalui telpon dan google map akhirnya kami menemukannya, dan ybs mengantarkan kami hingga tiba di tempat kami menginap yg letaknya cukup jauh dari lokasi kami menemui ybs.

Kami berada di salah satu daerah wisata Tulamben, daerah yang cukup popular untuk wisata diving maka tidak jarang kami melihat banyak turis dengan pakaian selam, maupun tabung selam yang hilir mudik di atas kendaraan.

Tempat menginap kami sangat sederhana, letaknya tepat di samping mini market Indomaret, setelah memasuki gerbang kami di sambut dengan sebuah kolam renang kecil yang dapat digunakan untuk sekedar berenang maupun bermain air, dimana sisi kanan dan kirinya adalah kamar-kamar. Kami mendapatkan 4 kamar yang akan kami tempati masing-masing pasangan. Pasangan yang telah menikah menginap di kamar depan dengan tempat tidur single bed, yang belum mendapat kamar belakang dengan double bed.

Aku dan Ratna mendapatkan kamar di belakang karena status sosial kita yang belum menikah, memasuki kamar kita pun merebahkan diri sesaat karena duduk di perjalanan yang cukup panjang cukup melelahkan, sembari mengeluarkan keperluan mandi dan pakaian dan meletakkannya di lemari yang telah di sediakan, dan tentu saja tidak ketinggalan haru mencari lubang colokan listrik untuk mengisi batre HP kami masing-masing. Ada cukup colokan yang tersedia di kamar yang menurut aku cukup luas untuk ukuran sebuah penginapan, dengan 2 tempat tidur ukuran king size dan queen size, sebuah lemari besar, meja rias, serta meja bulat kecil dengan 2 buah kursi kayu tepat di depan ranjang kami, dan meja kecil kotak tepat di sisi atas antara ranjang kami. Kamar mandi pun cukup besar, namun tidak adanya sirkulasi udara yang mencukupi membuat kamar mandi sedikit pengap, ditambah pilihan warna gelap pada keramik dan dindingnya membat malah terkesan spooky, perlu di ketahui seluruh peralatan yang aku sebutkan di atas memang sedikit bertema jadul sehingga jangan heran jika mendadak muncul perasaan takut ketika pertama kali memasuki kamar ini.

Setelah cukup merebahkan badan dan membereskan barang-barang, kami pun berkumpul untuk makan sore, kami memilih untuk makan di sekitar penginapan kami saja karena kami menyepakati bahwa hari ini kami focus beristirahat saja karena telah lelah pasca bermain di Tanjung Benoa dan perjalanan yang panjang disamping untuk mempersiapkan diri keesokan harinya. Kami makan di sekitar terminal Tulamben, bekas terminal lebih tepatnya karena tidak ada tanda-tanda keriuhan seperti terminal pada umumnya, hanya beberapa kendaraan yang di parkir karena di gunakan untuk mengantar dan jemput para diver. Kami memesan makanan special yang ada di salah satu rumah makan sederhana di sana, dan tentu saja pilihan kami adalah makanan khas bali dengan cita rasa haram di dalamnya, tentu tidak usah dijelaskan lagi, pokoknya selama itu makanan haram biasanya enak mau di gabungkan dengan sayur ataupun bumbu masakan lainnya.

Selesai makan, kami memutuskan untuk berenang di depan penginapan kami sekalian menghabiskan energy kami. Disamping di penginapan itu hanya ada kami, sehingga kami bisa dengan bebas mempermainkan kolam itu. AKu pernah berjanji untuk mengajarkan Ratna berenang, dan ini kesempatan yang tidak aku sia-siakan, kolam yang cukup kecil itu menjadi arena latihan buat Ratna. Beberapa gerakan dasar renang telah dia ketahui namun aku memberi beberapa masukan untuk menyempurnakan. Ternyata Ratna telah bisa namun tidak sempurna dan dia tidak yakin dengan kemampuannya, serta kepanikan yang sering muncul tiba-tiba membuatnya tidak bisa mengolah tubuhnya untuk berenang sempurna. Setidaknya sore itu aku menikmati saat kita berdua bercengkrama di kolam, walaupun beberapa pasangan yang lain sibuk dengan kegiatan masing-masing di kolam itu.

Setelah dirasa cukup, kami semua mulai mendokumentasikan kegiatan kami dengan beberapa kamera yang kami bawa, penuh dengan keceriaan dan canda tawa, inilah arti sebuah liburan. Lupakan sejenak semua beban, lepaskan semua dan buat dirimu bahagia.

Ketika gelap mulai menunjukkan dirinya, kami semua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak, dan pada malam harinya kami berkumpul untuk mencari makan malam yang haram kembali sembari menikmati daerah Tulamben pada malam hari. Ternyata daerah sana cukup sepi pada malam hari kami sejenak berputar-putar untuk mencari celana pendek di sebuah took setelah menemukannya kami pun bergegas mencar makan, kami sedikit kesusahan mencari makan walaupun akhirnya berhasil menemukan tempat yang sedikit kurang meyakinkan karena tidak ada yang makan disana. Menu yang tersaji dalam tampilan depan adalah Bakso Babi, hampir sebagian besar kami memesan bakso tersebut, walapun ternyata ada menu lain namun bakso babi buatku tergoda, dan benar saja rasanya Joss Gandooss, sekali lagi makanan haram ini memperkosa citarasaku. Ketika telah terisi perut, kami pun bergegas kembali ke penginapan. Aku dan Ratna mampir sebentar ke Indomaret untuk membeli beberapa cemilan, serta ice cream yang tentu saja kesukaan wanitaku ini. Setelahnya kami pun kembali ke kamar dan menyiapkan energy untuk keesokan harinya dengan beristirahat.




Day 2 in Bali

Mata terbuka dan suasana masih hening dan sepi dan aku sadari ini adalah pagi di hari yang baru, kelelahan kemarin tidak mampu menahan niat dan janji Aku dan Ratna untuk mengeksplore Bali pagi ini. Kami semua sepakat untuk bangun lebih pagi, bahkan bisa di katakana subuh hari agar lebih cepat dan memiliki banyak waktu di tempat wisata dan bukan di jalan, dan pukul 6 pagi kami pun meninggalkan penginapan. Dan destinasi awal kami adalah wahana Arung Jeram, Telaga Waja Rafting di Karangasem.                                                         

Telaga Waja Rafting dan Pura Besakih
Sesungguhnya Rafting ini tidak ada dalam list kunjungan kami, namun setelah aku melihat review dan pengalaman rafting yang pernah aku lakukan di tempat lain, suasana rafting sangat menyenangkan untuk liburan rame-rame disamping itu review dari mereka yang pernah ke tempat ini sebagian besar sangat puas, sehingga aku merekomendasikan untuk wajib mencobanya.

Untuk mencapai lokasi ini kami tentu saja dibantu oleh GPS mobile kita sebut saja google map, yang ternyata tidak begitu akurat, dan yang lebih menyesakkan adalah di hari ini aku ditunjuk sebagai navigator dengan berbekal HP Sony Xperia SP yang telah ketinggalan jaman namun sinyal stabil. Perlu di ketahui sebelumnya, google map sudah cukup update namun mereka biasanya memilih jalan terdekat untuk sampai ke tujuan yang kita inginkan, dan mereka tidak melihat itu bisa atau tidak di lalui oleh Mobil.

Penunjuk jalan dari Google map ini berbuntut panjang, navigator pemula macam aku tentu dapat membaca dengan baik arah, namun arah yang di tuju adalah arah jalan sepeda motor dan benar ini adalah jalan terdekat menuju tujuan kami Telaga Waja, namun tebing di kiri kanan jalan serta tanjakan terjal dengan lebar jalan yang sangat minim tentu membahayakan nyawa kami semua, untung saja kami memiliki driver handal yang dapat melalui itu semua walaupun penuh dengan kepucatan dan keluhan dan cacimakian dalam hati #SorryFriendNotMyFault. Untung saja jalan mengerikan ini tidak berlangsung lama, ketika telah menemukan jalan besar tepuk tangan bergemuruh di stadion sepak bola, di mobil kami kepakkan bibir yang menggerutu, hahahaha.

Bali begitu diberkati luar biasa, di sepanjang jalan kami di suguhkan pemandangan hamparan sawah, dataran tinggi dengan udara menggigit kulit, arsitektur khas Bali serta masyarakat derta suasana yang nyaman, wajar membuat setiap siapa saja yang berliburan selalu ingin kembali ke sini. 2 jam lebih perjalanan kami, disertai mampir di minimarket untuk pipis dan bertanya kepada penjualnya apakah kami masih jauh menuju Telaga Waja, akhirnya kami berhasil menemukannya.

Cukup banyak provider rafting yang ada di sana, dan dari hasil browsing dll akhirnya kami memilih menggunakan Bali International Rafting (BIR) yang lokasi start pointnya dekat dengan bendungan, dan memiliki rute terjauh hampir 15 Km dan estimasi memakan waktu 2,5 jam tentu dengan harga yang paling murah.

Kami tiba di lokasi terlalu pagi, sehingga kami hanya menemui seorang cleaning service yang tentu tidak mengetahui secara jelas prosedur pemesanan dan harga, sehingga ybs memberikan nomer salah satu kawannya yang mengurus ini. Setelah menelpon dan menunggu beberapa saat, pak Made demikian kami mengetahui namanya datang, dan disinilah dealing harga di mulai. Kami mendapatkan harga yang termurah pada saat itu, disamping kami pribumi, kami juga datang dengan kendaraan pribadi hingga lokasi basecamp BIR, kami mendapat potongan hingga 40rb, tentu sangat lumayan untuk melanjutkan liburan duit segitu. Namun karena kami terlalu cepat datang, kami di suruh kembali lagi di jam 11 karena mereka harus mempersiapkan semuanya terlebih dahulu dan menyiapkan guide untuk kami.

Menunggu 2 jam merupakan waktu yg cukup lama, kami memutuskan untuk menggunjungi objek wisata terdekat dari sana, dan pak Made mengatakan Pura Besakih letaknya tidak jauh, dan akhirnya kami bergegas untuk menunjungi tempat itu terlebih dahulu.

Kembali menjadi navigator, hampir setengah jam akhirnya kami berhasil menemukan salah satu komplek Pura terkenal di Bali ini, dan kami pun menjadi pengunjung awal disana, bisa di lihat dari parkir mobil yang kosong dan cuma ada mobil kami. Sebelum memasuki komple Pura tersebut, kami diharuskan menggunakan kain penutup yang merupakan prosedur wajib, ditambah dengan tiket masuk. Aku dan Ratna memutuskan untuk membeli kain saja, disamping untuk memasuki pura juga bisa di gunakan sebagai penutup di kala panas dan penghangat di kala dingin, tidak banyak berdebat ketika memilih kain ini, karena kami memilih harga yang murah namun warna dan motif bagus #ForzaCiciRatna

Setelah menggunakan kain penutup dan melapor ke pintu penjagaan, kami pun bersemangat memasuki Pura Besakih. Jalanan menanjak menyambut kami dengan gagahnya, sesekali ojek menyamperi kami untuk menawarkan tebengan berbayar namun kami tolak karena kami mau irit, meskipun ketika tiba di depan komplek candi keringat bercucuran dengan deras dan nafas tersengal.
Kemegahan Pura Besakih begitu terasa ketika kami tiba di pelatarannya, Pura Agung Besakih demikian nama lengkapnya merupakan sebuah komplek pura di desa Besakih yang terdiri 1 Pura Pusat dan 18 Pura pendamping dan menjadi komplek Pura terbesar di Bali, dan wajar saja menjadi destinasi wajib tujuan wisata.

Kami tiba disana dengan cahaya matahari yang sudah cukup hangat, Aku dan Ratna menikmati setiap sudut tempat ini, menyusuri anak tangganya, menikmati setiap kegiatan masyarakat local di dalamnya, dan sesekali membantu teman-teman lain untuk mendokumentasikan eksistensi mereka di tempat ini. Di tempat ini Sepka dan Chiqa melakukan ibadah, sambal menunggu kami terus mengitari komplek ini sambal mencari angle terbaik, tentu saja aku dan Ratna menikmatinya dengan selfie walaupun kondisi batre HP cukup sekarat ditambah cahaya matahari yang sudah sangat over dan lokasinya tepat di kaki gunung membuat terik matahari begitu terasa.

Setelah Sepka dan Chiqa menyelesaikan ibadahnya di sana, kami pun mendokumentasikan dengan berfoto bersama dengan meminta tolong guide yang ada di sana, setelahnya kami melihat jam waktu sudah semakin mepet untuk kembali ke telaga waja, ditambah perjalanan yang cukup panjang dari komplek pura ke kendaraan kami. Kami memutuskan untuk mengisi perut kami di warung di depan komplek ini, kami belum sarapan sedari pagi, jadi cup pop mie sedap cukup untuk menahan lapar kami. Ada hal yang cukup menggangu ketika di sana, yakni kami di paksa untuk membeli kartupos yang di jual oleh anak-anak dan kami di ikuti hingga ujung komplek, cukup menyebalkan namun kami tidak gentar dan kami tidak membelinya, karena mereka tidak tau bahwa kami juga keuangannya mepet.

Jam telah menunjukkan pukul 11 ketika kami meninggalkan pura Besakih untuk kembali ke Telaga Waja, bahkan pak Made telah sms dan menanyakan posisi kami, dan kami memang sedikit terambat untuk kembali ke sana. Dan benar saja, setiba di sana lokasi Rafting telah ramai oleh wisatawan asing dan local. Setelah berhasil menemukan pak Made, kamipun harus mengisi form dan membayarkan sejumlah uang yang telah di sepakati sebelumnya, dan mempersiapkan diri. Dan ada 1 orang dalam rombongan kami yang tidak ikut, yaitu istri dari Made yang memang enggan untuk bermain karena alasan tertentu, sehingga kami bertujuh yang akan bermain dengan menggunakan 2 perahu.

Setelah berganti pakaian, kami diberikan beberapa alat standard keamanan seperti helm dan pelampung, dan membagi menjadi 2 tim dengan 1 guide setiap kapalnya. Aku dan Ratna berada satu kapal dengan Banga dan Anjar, sedangkan perahu lainnya adalah Made, Lerdy dan Kenzy. Chiqa akan menunggu di ujung pemberhentian dengan membawa barang-barang kami. Ini pengalamanku ke 3 kali bermain arung jeram, namun bagi Ratna ini adalah pertama kalinya, dan dia tidak bisa berenang. Namun dengan segala kejantananku aku berjanji akan menjaganya dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, dalam kedinginan maupun kepanasan, dalam kelelep maupun tidak. #PasangMukaGanteng

Berkumpul di lapangan kami di berikan pengarahan dari guide kami terkait teknik dasar memegang dayung, beberapa aba-aba mulai dari stop dayung, terlentang dll. Cukup mudah di pahami dan guide kami tentu sudah sangat pengalaman sehingga cukup meringankan beban kami. Setelah berdoa, kami pun mulai meluncur ke bibir sungai dan menaiki perahu kami yang berwarna biru yang merupakan identitas dari BIR.

Bermain air adalah salah satu kegemaran dari Ratna, dan dia sangat menikmatinya. Beberapa kali kami mendapat cipratan air dari hentakkan bibir sungai dan bebatuan yang ada, ditambah dengan derasnya arus. Dan perlu di ketahui air di sungai ini sangat jernih dan bersih plus sangat dingin, wajar saja di awal kami mendaftar di sarankan untuk agak siang ternyata ini salah satu penyebabnya.

Sepanjang perjalanan kami di suguhkan hijaunya tebing, dan suasana percikan air dan kicau burung, serta keriuhan kami membuat atmosfir arung jeram kali ini sangat menyenangkan. Sesekali kami saling memercikkan air ke satu sama lain, maupun ke perahu lain, semuanya penuh dengan keceriaan. Bahkan ada satu kejadian lucu ketika kapal yang di tumpangi oleh Lerdy cs harus berhenti untuk mengambil sandal yang larut terbawa derasnya arus sungai, dan tetap tidak dapat menemukannya dan harus mengikhlaskannya. Beberapa arahan dari guide kami laksanakan dengan baik, pun kami tetap kadang tersangkut di bebatuan.

Kami berhenti untuk istirahat sejenak di satu spot yang terdapat air terjun, disini kami bisa membeli minum dan menggambil gambar, dan setelah hampir 20 menit kami pun melanjutkan kembali perjalanan kami.

Entah beberapa kali aku nyaris terguling dan terduduk di dasar perahu jika saja tidak memegang perahu dengan sangat kuat, begitupun Ratna, kamipun saling menyindir dan mengejek, dan kebetulan Banga dan Anjar memiliki kamera yang mendokumentasikan aktifitas kami semua selama di atas perahu.

Ada salah satu spot paling kami nantikan, yaitu bendungan yang memiliki ketinggian hampir 4 meter yang akan di lalui oleh perahu kami. Sekira 100 meter sebelum lokasi ini sambal perahu berjalan, kami telah di berikan pengarahan bagaimana posisi agar aman dan aku dan Ratna kebetulan duduk di depan dan kami mendapatkan posisi harus duduk di dasar perahu dengan kedua kaki menjorok ke depan. Dan ketahuilah, sensasinya begitu luar biasa. Ketika perahu kami lepas landas jantung rasa tertinggal di atas dan sensasi gravitasi yang mengakibatkan deburan air semakin menyempurnakan arung jeram kali ini, I just wanna say WOW!!

Tidak terasa sudah lebih 2 jam kami mengarungi kejamnya Telaga Waja, keriangan, keseruan di setiap aliran yang di lalui oleh perahu kami segera akan berakhir. Dan menjelang akhir perhentian kami, kami request untuk dapat berenang dan bermain air, dan benar saja lokasi mendekati titik pemberhentian memiliki kedalaman cukup untuk berenang dan disanalah kami diminta untuk turun dan mengalir saja mengikuti arus. Dan benar, arus yang begitu besar membawa kami hanyut dengan mudahnya, mencoba kembali lagi ke perahu merupakan pekerjaan sia-sia karena begitu derasnya arus dan licinnya batu, sehingga mengharuskan perahu yang menghampiri kami. Setelah kami puas, kami pu kembali ke perahu dan menuju titik pemberhentian yang letaknya tidak lebih dari 200m dari lokasi kami berenang.

Kami di sambut dengan ratusan anak tangga menuju sebuah tempat yang cukup asri yang menyediakan makanan dan kamar mandi untuk kami mandi dan membersihkan diri. Ketika kami tiba, telah di sediakan handuk untuk kami mandi, namun karena antri kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu sembari bercerita apa yang di alami sepanjang perjalanan arung jeram, sembari menyaksikan kepingan demi kepingan keseruan kami melalui foto yang ternyata di dokumentasikan dengan cukup baik. Kami harus merogoh kocek yang cukup besar untuk menebus soft file dokumentasi ini, namun tidak menjadi masalah karena sangat keren dokumentasinya. Next time kami ke Bali kami wajib mencoba Telaga Waja kembali dalam suasana baru yaitu ketika hujan yang konon katanya lebih seru dan mencekam.

Selesai mandi dan kenyang, kami berpamitan dengan team BIR menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan kami. Sudah mendekati jam 3 ketika roda mobil kami meninggalkan lokasi tersebut, dan kami memutuskan untuk kembali ke daerah sekitar penginapan kami, dan mencari lokasi wisata yang dekat dari sana, yang tentu saja tidak melalui jalur terjal berbahaya arahan google map. Kelelahan pasca bermain air membuat hampir sepanjang jalan seisi kendaraan tertidur, kecuali driver tentunya.

Taman Ujung
Setelah berdiskusi di dalam mobil, kami memutuskan untuk mengunjungi sebuah lokasi yang konon katanya bagus untuk foto prewedding dan menjadi salah satu tempat rekomendasi ketika berkunjung di kabupaten Karangasem, Taman Ujung. Begitulah masyarakat di sana menjulukinya, dan benar saja lokasinya di ujung walaupun  sempat salah jalan dan melalui gang sempit arahan google map, kamipun berhasil menemukan tanda-tanda keberadaan taman ini. Kendaraan kami parkir rapi, membeli karcis dan mengecoh penjaga dengan menyembunyikan kamera untuk menghindari biaya tambahan.

Kami disambut dengan jembatan yang penuh dengan bunga #NamanyaJugaTaman, suasana nyaman dan romantis di taman itu membuatku ikutan terlihat romantic, menggndong Ratna melalui jembatan di kelilingi bunga sound romantic right, pliss iya aja and I do it. Walaupun berat perasaan sayangku ke dia lebih berat #Tsaahhh

Jembatan selesai di lewati, kami di suguhkan kembali sebuah kolam yang terdapat bangunan di atasnya dengan jalanan kecil menghubungkan antara sudut satu dengan sudut lain dengan sebuah bangunan indah di tengahnya sebagai titik penghubung.

Selain kolam ini ada satu sudut terbaik dari Taman Ujung, yaitu puncak di sisi dekat jalan yang mengharuskan kami menaiki puluhan anak tangga, dan setiba di puncaknya kami dapat melihat dengan jelas setiap sudut taman ini, dengan pilar-pilar tiang yang bertema romawi kuno. Dan pantas saja sering di gunakan untuk foto prewedding, karena beberapa sudut memang memiliki nilai keindahan yang tidak dapat di jelaskan namun dapat di rasakan. Aku dan Ratna menghabiskan waktu di sana untuk berfoto bersama dan menikmati setiap sudutnya.

Setelah tanda matahari sudah mulai bersembunyi dan digantikan oleh gelap, kami memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat. Namun rasa lapar yang menggelegar membuat kami mampir di salah satu franchise ayam goreng yang tidak sengaja kami temukan ketika salah satu dari kami mencari lokasi membeli kabel charger hpnya yang rusak. Dan makan ayam goreng menjadi penutup hari itu karena kami memutuskan tidak mencari makan malam lagi, focus untuk istirahat saja setelah melalui hari yang melelahkan.

Setiba di penginapan, sudah cukup malam dan kami ke kamar masing-masing untuk beristirahat, namun di malam itu ada sesi tambahan yakni para pria Aku, Lerdy, Banga dan Made menikmati malam sambi berbincang tentang kehidupan ditemani segelas kopi yang kami dapat dari Banga tepat disisi kolam renang. Hampir sejam sebelum kami semua di panggil untuk segera beristirahat, esok hari kami harus checkout dan kembali ke Denpasar, tentu akan kembali menguras energy kami.

Day 3 in Bali

Tirta Gangga, Pasar Sukawati, Joger dan Oleh-Oleh        
Kelelahan di hari sebelumnya membuat kami tidak terlalu pagi untuk bangun, ini adalah hari terakhir di Karangasem dan kami harus segera checkout karena kami harus kembali ke Denpasar. Pukul 8 kami harus berkumpul ddan melakukan check out, sambil menyantap sarapan yang sangat perfect yakni pop mie mie sedap, whatever pokoknya mie instant dalam cup, irit namun cukup untuk menambal lapar. Selesai sarapan, mengabadikan foto bersama di depan penginapan kami, kami memasukkan semua barang ke mobil, dan kamipun meluncur.

Di perjalanan kearah Denpasar, kami memutuskan untuk singgah di Tirta Gangga. Sebuah kolam pemandian yang cukup indah, dan juga sering di jadikan tempat pemotretan prewedding. Kami tiba disana belum terlalu siang, sehingga terik matahari tidak terlalu menampar kami. Tirta Gangga begitu indah untuk di abadikan, sebuah kolam besar dengan banyak ikan di dalamnya dengan beberapa pijakan kaki yang dapat membawa kita ke tengah kolam, baik untuk sekedar berjalan maupun di pakai untuk pijakkan berfoto. Namun aku sarankan tidak untuk saling dorong, karena pijakkan yang tidak terlalu besar memungkinkankita untuk jatuh ke dalam kolam.

Aku dan Ratna mengitari kawasan tersebut, tentu dengan tetap bernarsis ria bersama. Selendang yang kami beli ketika di Pura Besakih berguna di tempat ini, untuk menutup diri dari sinar matahari, dan sebagai property foto. Aku dan Ratna berhasil mengabadikan foto dengan hasil cukup baik di tempat ini, mengapa cukup baik karena kami bukan foto model, hehehe. Thanks for Chiqa dokumentasinya cukup sangat pantas untuk di jadikan foto preweeeeeeee #KemudianSinyalHilang.

Setelah matahari mulai galak di atas kepala, kami pun melanjutkan perjalanan. Ada dalam planning kami untuk mampir di pura kelelawar, namun ada upacara adat yang membuat kami tidak jadi kesana. Setelah merembukkan bersama, kami memutuskan untuk ke Pasar Seni Sukawati disamping berwisata juga mencari oleh-oleh murah khas Bali.

Dengan menggunakan Google Map, kami berhasil menemukan dan untungnya tidak sulit mencari lokasi parkir, kami semua sepakat untuk berpisah mencari oleh-oleh masing-masing dan berkumpul di depan pasar 30 menit setelahnya. Aku dan Ratna mengarungi salah satu gedung untuk mencari, dan setelah muter-muter akhirnya berhasil menemukan baju dan celana murah yang dapat kami ehh aku (karena Ratna ga enak mau nawar) tawar rendah, entah memang rendah atau kami yang di tipu, entahlah pokoknya keluarga di rumah kebagian oleh-oleh khas Bali. Keadaan kas negara yang semakin menipis mengurungkan niatku dan Ratna berbelanja lebih banyak.

Setelah berhasil mendapatkan, kami kembali ke tempat berkumpul dan kembai ke mobil untuk segera mencari makan siang dan sore yang di gabung, walaupun kembali dengan drama beberapa dari kami di kejar-kejar oleh pedagang yang menjual aksesoris hingga kea rah mobil, nice try da usaha yang patut di acungi jempol.

Berdasarkan hasil rembukkan (keputusan bunda Anjar) kami akan makan di Nasi Pedas Ibu Andika yang letaknya persis di depan dari Joger, pusat kata-kata dan oleh-oleh khas Bali. Kami harus mengalami salah jalan ketika menuju ke Nasi Ibu Andika, Google Map sering mengecewakan, masa kami diarahkan kearah pusat sabung ayam, hehehe.

Setelah berhasil menemukan jalanan yang tepat, Bunda Anjar memutuskan untuk turun lebih dahulu di Joger untuk berbelanja, Aku dan Ratna karena penasaran dan pengen tahu akhirnya ikutan turun kesana dengan niat liat-liat saja. Namun apa daya, niat liat-liat akhirnya berujung beli-beli. Bagaimana tidak, sandal jepit khas Joger di obral murah, hampir sama harganya sama celana yang aku beli di Sukowati, khn kesel!! akhirnya beli 2 pasang satu untukku dan satu untuk Ratna. Ohh tidak, setelah membayar sandal dan liat-liat pernak pernik dan hiasan lucu kita memutuskan untuk segera keluar dan menunggu di luar saja, takut setan belanja menghampiri lagi.

Tiba di luar Joger, hujan deras menyambut. Nada hujan mengiringi kami menantikan pasukan yang lain selesai belanja. Mereka keluar dengan beberapa bungkus jinjingan di tangan yang berarti mereka membeli cukup banyak, hehehe. Nasi Pedas yang letaknya di sebrang Joger persis, membuat kami memberanikan menerobos hujan, disamping perut kami yang sudah tidak dapat di ajak kompromi.

Setiba di sana, kami di sambut oleh banyaknya cabe berhamburan di depan warung yang menunjukkan bahwa memang benar makanan di sini pedas, dan ternyata cukup luas tempat makan ini sehingga kami tidak perlu takut untuk tidak mendapatkan kursi. Seperti warung prasmanan pada umunya, namun Aku hampir khilaf, banyak sekali tipe jenis lauk yang di sajikan, dan kekhilafanku dapat di cengkram dengan menipisnya keadaan dompet. Problem solved. Setelah mengitari lauk pauk dan berbagai sajian lainnya, di ujung lokasi telah berdiri seseorang yang akan menyodorkan harga besaran yang akan di bayar tiap piringnya, dan untung saja kekontrolan diriku terhadap lauk mampu menekan harga makanan. Dan kelegaan ini yang membuat aku dapat memakan dengan lahap, walaupun dengan sorongan air mineral saja #IritAdalahKoentji

Setelah makanan pedas enak dan mengenyangkan telah melalui lambung kami, segera kami beranjak untuk kembali mencari oleh-oleh makanan, dan tempat rekomendasi selanjutnya adalah Pusat Oleh-Oleh Khrisna, yang terletak tidak jauh dari bandara Ngurah Rai. Pun ini kali pertama aku memasuki pusat oleh-oleh ini, di depan pintu masuk kami di beri stiker yang menempel dalam pakaian kami yang entah tujuannya buat apa, mungkin untuk menghitung jumlah pengunjung.

Di gedung yang cukup besar ini hampir semua ada, dari makanan, pernak pernik, pakaian, lukisan, kerajinan, kain dll. Kamipun kembali menyebar untuk mencari oleh-oleh masing-masing, Aku dan Ratna menuju arah makanan yang cukup khas dan sudah popular, yaitu Pie Susu. Setelah melalui berbagai rak makanan yang sempat ada beberapa yang menggoda untuk di beli akhirnya kami menemukan rak pie susu dengan merk berbagai macam, dan tidak perlu berdiskusi panjang, Aku dan Ratna memilih yang termurah dan masa kadaluarsanya lebih lama, hehehe. Setelah berhasil mendapatkannya, mengitari setiap sudut Khrisna menjadi hiburan menyenangkan juga, dan harus mengakhirinya dengan memberi tanda di gedung ini dengan mengunjungi toiletnya dan mengencinginya sebelum akhirnya harus membayar barang bawaan kami di kasir.

Malam akan tiba, dan mobil kami telah penuh dengan belanjaan, akhirnya kami memutuskan untuk ke penginapan sodara Chiqa kembali untuk beristirahat sejenak dan menaruh barang belanjaan kami, sembari memikirkan apa yang akan kami makan di malam terakhir di Bali kali ini dan akan pergi ke mana, dan tentu saja dengan menyasar beberapa kali sebelum akhirnya ketemu penginapan kami.

Mandi ternyata dapat memulihkan lelah, dan pasca mandi dan membongkar belanjaan rupanya menjadi penambah energy, dan peningkat rasa lapar. Setelah browsing kami memutuskan makan di lokasi terserah, dan akupun memutuskan menuju sebuah rumah coklat yang letaknya di seputaran jalan Sunset Road, namun apes bagi kami ketika berhasil menemukan tempat ini mereka tidak menyediakan makanan berat, namun kami beruntuk dapat menyicipi berbagai macam coklat dengan campuran rasa yang lezat secara gratis, sekali lagi gratis dengan modus ingin beli. Namun dengan hati yang lapang beberapa dari kami memutuskan tetap membeli beberapa potong untuk menghargai pihak penjualan dan mungkin juga sebagai oleh-oleh.

Perut yang semakin meronta dengan selera berbeda dari setiap kami di dalam mobil, membuat beberapa kali perdebatan yang akhirnya kami memutukan ke restoran fancy haram dengan logo babi tersenyum, Wahaha demikian nama restorannya. Kami tiba di sana tetap sebagai kostumer terakhir dan last order, mungkin kelamaan dijalan dan berdebat makan apa sekalian menyusuri Sunset Road.

Karena ini malam terakhir kami jor-joran makan meskipun melihat harga yang diatas rata-rata, namun bodo amat, Aku memesan sate babi dan Ratna memesan Ayam #WhatAYAM karena memang makanan kesukaan diaaaaa, sebagai minuman memesan escampur special, pokoknya intinya mala mini makan ga pandang harga, hajar saja. Teman-teman yang lain pun memesan yang special, yag berbeda dan itu berakibat kita bisa saling menyicipi. Tidak terlalu lama setelah memesan, makanan datang dan tanpa babibubebo kami hajar semua makanan. Sambil makan kami dihibur dengan pelayan disana yang mulai membersihkan sekitar kami untuk persiapan tutup restoran, whatever Wahaha BABINYA ENAK!! Wajib kalian semua coba.

Setelah kenyang, kami menikmati malam terakhir ini dengan mengitari Sunse Road sampai tengah malam dan kembali ke penginapan setelahnya untuk packing.


Bye-Bye Bali, and See you again.. maybe Next Year

Tubuh kenyang oleh Babi membuat tidur sangat lelap, ketika bangun di pagi hari beberapa dari kami tidak ada di kamar yang ternyata mereka pergi untuk mencari titipan dan sekalian membungkuskan kami makanan yang akan kamimakan di penginapan, karena tidak sempat untuk mencari makan karena flight kami jam 11an yang cukup tanggung jamnya, ditambah tidur kami yang pules.

Kamar mandi yang cuma satu membuat kami harus antre, Aku dan Ratna memutuskan bermain ke rumah belakang dimana Sepka dan Chiqa tidur, yaitu rumah pemilik penginapan yang merupakan sodara dari Chiqa. Letaknya tidak jauh dari penginapan kami. Disana ada seekor kucing, iya kucing angora dengan bulu lebat yang dipelihara dalam kandang oleh empunya rumah, dan you know I HATE CAT, binatang sok manis. Si Ratna yang mengetahui hal ini tentu saja tidak tinggal diam, sehingga berapa kali menggoda aku untuk bermain dengan si kucing, ahhh dasar si pecinta hewan. Aku memilih untuk ke toilet saja, karena aktifitas wajib di pagi hari adalah Boker, dari pada harus bercengkrama dengan kucing itu. Setelah aku selesai, Ratna puas bermain dengan si kucing, kami kembali ke penginapan untuk final check barang-barang kami, mandi dan berganti pakaian untuk pulang.

Setelah semua beres, kami pun bersiap meninggalkan Bali dengan pamit dengan keluarga pemilik penginapan terlebih dahulu. Lokasi yang penginapan yang cukup dekat dengan Bandara membuat kami tidak tergesa-gesa untuk tiba di sana.

Setiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, kami harus melakukan checkin terlebih dahulu, karena pesawatku connecting di Juanda Surabaya sehingga memastikan kami mendapatkan posisi kursi yang enak. Dan benar saja, aku memilih untuk duduk sendiri sedangkan pasangan yang lain berdua dengan pasangannya. Ratnaku yang harus terbang ke Jakarta dan berbeda airline, membuat kami terpisah sesaat untuk checkin. Steelah checkin beres, aku dan Ratna mendokumentasikan kebersamaan kami terakhir kali di dalam bandara di sudut-sudut yang merupakan ikon dari Bali, untuk kemudian kami keluar lagi untuk menemui Made dan Chiqa yang pulangnya masih minggu depan.

Kami semua berbicara dan menunggu dan di depan bandara, sembari merencanakan liburan tahap selanjutnya, dan di akhiri dengan foto selfie bersama. Pesawatku akan terbang lebih dahulu dari pesawat Ratna, ketika mendengar panggilan boarding kamipun bergegas secara bersamaan. Beberapa kali melalui security check dan mall kecil, akhirnya berhasil menemukan gate tempat aku harus segera melakukan Boarding. Cukup sedih aku harus berpisah kembali dengan Ratna, rasanya 4 hari belum cukup untuk menikmati kebersamaan kami. Aku memeluknya, dan mendoakannya dalam pelukku kemudian mengakhirinya dengan mengecup keningnya, 2 hal yang paling aku sukai untuk aku lakukan kepadanya Memeluknya dan mencium keningnya.

Setelah masuk gate dan sebelum kehilangan pandangan dari Ratna, aku melambaikan tanganku tanda berpisah. Namun di jalan menuju kea rah pesawat, rupanya Ratna telah menungguku dan dapat melihatku dari tempat dia menunggu, Really sad harus berpisah kembali denganmu. I wish kita dapat segera ketemu kembali, bahkan kita bersama selamanya. Lambaian tanganmu yang disambut lambaian tangan dan tingkah anehku menutup hari terakhir kebersamaanku denganmu di Bali.

Banyak hal menyenangkan selama di Bali, kabar mengejutkan yang harus kamu terima, menjadi warna dalam liburan kali ini, aku berdoa semoga ini bukan liburan terakhir kita, namun ini adalah awal dari liburan kita untuk liburan-liburan selanjutnya.

Pesawatu mulai terbang…
Meninggalkan Bali dan dirimu yang akhirnya mengalami delayed penerbangan

Hmm.. Already miss you..

With Love
-Niko-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar