Akhirnya saat yang Aku nantikan
tiba, saat dimana aku mengumpulakan semua keberanian untuk mengatakan yang
seharusnya perlu aku katakan, tanpa harus berbohon ini itu dan melarikan diri
dari pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke sana.
Friday, 30 October 2015
Hari yang aku tetapkan untuk
meminta izin pulang lebih cepat untuk segera berangkat menjalankan misi, Bertemu
dan mengutarakan perasaan yang ada, tanpa memberitahu kedatangan aku. Sebagai
anak Taurus, sudah bukan hal aneh ketika hobi membuat kejutan, namun ini bukan
sekedar kejutan bahkan sangat beresiko gagal dengan kenyataan bahwa saya buta
tuli rabun jereng soal Jakarta, apalagi Tangerang (ingat Gnya cuma 1) yang
notabene berdasarkan cerita-cerita di telp letaknya sangat jauh, kurang lebih 2
jam perjalanan dari Kantor pusat di Kebun Sirih (tepok jidat).
Sebut saja namanya Ratna Sari
pake spasi (selanjutnya kita menggunakan kata DIA), wanita yang entah bagaimana
ceritanya bisa dan mau kenal sama pria setengah pangeran macam aku, yang kalo di
jelaskan bagaimana kenalnya selembar post it kecil sangat cukup menjelaskan
kronologinya. Dan dialah targetnya, eits bukan target tapi dermaga akhir
#tsahh.
Pesawat burung merah membawa
diriku beserta semua pemikiran hasrat dan rasa yang terpendam mendarat di
Soeta, tepat pukul 14:35. Damri menuju stasiun gambir telah menanti di seberang
terminal kedatangan, dengan membayar 40 ribu kisah ini terus berlanjut.
Sebelumnya perlu di ketahui bahwa
aku dan Ratna itu satu kantor, tapi beda gedung. Dia di gedung di Kantor Pusat
Jakarta dan aku di gedung ehh bukan ruko di BALIKPAPAN, kota beriman yang
sangat di idamkan oleh seluruh penduduk di dunia untuk di tempati, kota yang
sangat layak huni, kota yg adorable, kota yang ketika menyebutnya dada
bergetar, pikiran kunang kunang dan muntah muntah *mohon segera ke dokter,
sepertinya anda sakit jika mengalami gejala itu.
Sebelum tiba di Gambir, damri
berhasil melalui sebuah gedung yang merupakan kantor pusat yang hanya dengan
modal foto group kantor saya dapat mengidentifikasikannya, oleh karenanya
disanalah misi saya akan saya lakukan. Berjalan kaki dengan gegap gempita
gemaripah lohjinawi menuju gedung kantor yang berjarak sekira 2 km dr gambir.
Sebuah kursi taman kosong
menyambut saya di seberang gedung itu, kursi yang sepertinya menantikan aku dan
paham akan rencana aku. Hempasan bokongku di atasnya membuat kursi taman
sumrigah, bagai tanah kering yang rindukan hujan, demikian juga kursi taman itu
menantikan untuk di duduki oleh seorang berwajah hamper pangeran yang hendak
menjumpai permaisurinya #Uhuk
Namun kenyataan lebih pait dari
buah pare di campur mengkudu dan di bungkus daun papaya.
Ingin memberikan kejutan tapi
sebuah pesan singkat dalam watsap mengguncang kestabilitas rupiah dan rencana
aku, Dia sedang dak di kantor, “Baru selesai Meeting” “Besar Kemungkinan
Lembur” “Lagi temenin Pada makan Di Citos”. Seketika itu pula apa yang aku
takuti terjadi, Kejutan ini akan GAGAL.
Perlu di ketahui, bahwa tidak ada
seorangpun orang kantor pusat tau kalo aku ijin setengah hari dank e Jakarta,
itulah kenapa saya tidak masuk dalam gedung itu.
Akhirnya dengan
sangat kepaksa saya harus mengatakan bahwa saya ada di depan kantor melalui
sebuah foto dengan es podeng sebagai modelnya, dan gedung kantor sebagai
backgroundnya. Entah Dia terkejut ato malah pup terbahak-bahak, aku sudah tidak
peduli. Aku ga menguasai medan perangku saat ini, bermodalkan Cinta di Raga dan
Rindu di jiwa saya laksanakan misi ini. Sampai akhirnya dia akan mengusahakan
secepatnya balik ke kantor untuk menemui aku.
Tuhan pasti
buka jalan jika kita berniat baik dan berusaha, lembur kerja yang awalnya di
rencanakan akhirnya batal begitupun rencana keesokan harinya, Dia sangat senang
terlebih Aku.
Setiba dia di
kantor, membereskan satu dan lain hal, bahkan Pup yang menjadi bagian hidupnya
setiap hari dia abaikan karena kenekatan aku.
Dan…
Lambaian tangan
di sebrang jalan membuyarkan kecemasanku, aku melihatnya.. Dia yang menjadi
tempat dermaga persinggahan terakhir aku.
Kagok, iya.. sudah sangat lama
sekali kami tidak bertemu, kira-kira 2 bulan. Tapi ingat, sehari buat aku
berbeda dengan sehari buat kalian-kalian yang membaca ini, kecuali kalian
pernah merasakan Rindu dalam dekapan perasaan Cinta.
Mission completed. KETEMU DIA.
Masih ada misi selanjutnya yaitu
mengutaraan yang tidak bisa aku pendam terlalu lama, suatu yang memang sangat
di butuhkan untuk sebuah kepastian.
Saturday, 31 October 2015
Waktu istirahat semalam sudah
cukup untuk memulihkan stamina, jiwa dan raga aku yang sempat terhanyut dalam
relung kecemasan dan ketidakpastian akan bertemu. Untuk yang terjadi semalam
tidak perlu saya jelaskan di sini, ketika kalian pernah merasakan rindu tentu
kalian akan tau harus berbuat apa.
Guyuran shower di kamar mandi
hotel memberi semangat baru untukku, karena aku lebih buta dan tuli lagi soal
Tangerang maka Dia akan datang untuk menjemputku dan di sebuah mall elit di
kawasan elit yang bernama Serpong. Persiapan cukup dengan sedikit wewangian
parfum refile aku telah siap melalui hari ini.
Mall yang besarnya melebihi
bunderan HI apalagi halaman parkir SMA saya menjadi tempatku menunggu
kedatangan Dia. Keletihan berputaran menantinya kemarin di Jakarta masih terasa
di kaki aku, dan enggan diriku memutari mall ini dan Hok*en menjadi tempatku
melipir karena laper sembari menantikan waktu kami janjian. Tidak putus kami
berkomunikasi melalui whatsap untuk memastikan bahwa aku berada di tempat yang
benar dan tidak nyasar ke panti pijat, apalagi ke waterboom.
Aku selesai makan, mengitari
Gramedia dan kursi santai mall menjadi pemberhentianku selanjutnya, sampai dia
datang, dan kami melanjutkan untuk mengitari mall dan ngemil sejenis es yang
dari nama pemiliknya saja sudah sangat menggembirakan, Pak Ucu ucu ucuuuuuuuu
#PakeMukaImut
Aku masih belum mengutarakan
itu..
Dia mengajak aku untuk main
kerumahnya di sekitaran Perumnas, demikian daerah tempatnya di sebutkan. Ingat
PERUMNAS bukan PerumMas atau PerumMbak, untuk bertemu keluarganya. #JengJeng
Ternyata rumahnya harus melalui puluhan perempatan yang mirip mirip, sangat sulit
untuk menghapal untuk orang yang baru pertama kali kesana meskipun memiliki
kecerdasan di atas rata-rata dan ketampanan dibawah rata-rata.
Setiba di rumahnya, kedua
orangtuanya menyambut hangat. Jujur aku grogi pada saat itu, karena ini kali
pertamanya harus bertemu dengan orang tua seseorang yang sangat special buat
aku, karena biasanya selalu berhadapan dengan tembok backstreet karena tidak
mendapatkan restu ato pacaran diam-diam. 2 jam berbicara hangat, akhirnya kami
harus pamit menghadiri acara resepsi pernihakan temen Dia dengan menunggu sepasang
temen sekolahnya yang mengajak pergi bersamaan.
Setiba di lokasi acara, satu demi
satu teman sekolah Dia datang, dan saya di perkenalkan kepada mereka… Namun
saya masih belum menyatakan hal itu..
Resepsi pun berakhir dan aku memutuskan
mencari tempat yang nyaman, hanya ada aku dan dia untuk mengungkapkan semuanya.
Ingin rasanya membeli coklat,
boneka, bunga untuk menemaniku menyampaikan ini, tapi sungguh aku tidak
mengetahui medan, sehingga aku urungkan niat tersebut. Hanya menemukan tempat
yang hanya ada aku dan dia saja yang menjadi tujuanku di malam itu.
Di sebuah tempat di sekitaran
Serpong, di ruangan yang tidak sebesar kantor kerjaku, aku pun
mengungkapkannya.
Aku ingat pandangan matanya..
Aku Ingat Senyumannya..
Aku Ingat ekspresinya pada saat
itu..
Ketika aku
mengatakan “AKU SAYANG KAMU”….
“AKU JUGA
SAYANG SAMA KAMU”…
…………..
Masih belum
puas dengan jawaban itu, aku menunjukkan ekspresi yang tidak puas dan dia pun
menyadari.
“Kenapa…”
Akupun meneruskan..
“Mau ga kamu jadi pacar aku”
Diapun berujar
“Iya…”
Seketika itu
pula, kebahagiaanku dapat terpancar dari wajah aku yang biasa biasa saja. Dia
sengaja mengerjai aku dengan menjawab seperlunya, karena aku tidak bertanya
lagi. Dia cukup tau perasaan aku selama kami telp dan video cal, hanya saja
sebagai pria Taurus menyatakan langsung di hadapannya adalah KEWAJIBAN.
31-10-2015
Aku mengganti
wallpaper dan background di HP
Aku resmi
memanggil dia Sayang.
Sekarang bukan
lagi aku dan dia tapi KITA.
Dan aku pun
bertanya kepadanya….
“Sekarang aku sudah punya hak kan??”
With Love
-Niko-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar