Selasa, 24 November 2015

Keterkejutanku...



Sangat sulit untuk di jelaskan apa yang aku rasakan pada Jumat sore hari ke 20 di bulan ke 11 di tahun 2015, suatu kejutan yang sama sekali tidak terpikirkan bahkan terbesit sedikitpun tidak. Satu hal yang aku percaya bahwa Semesta mendukungmu kehadiranmu dalam hidup aku.

Inilah Keterkejutanku..

Hari jumat merupakan hari yang paling di nantikan, hari dimana peralihan dari rutinitas kerjaan yang penat memasuki saat santai dimana Kasur dan aktifitas bersama teman-teman dapat dilaksanakan, namun tidak buatku. Jumat lalu sangat melelahkan, bahkan memikirkan liburpun tidak dikarenakan deadline kerjaan, followup serta meeting mendadak menjadi penyebabnya, bahkan memberikan sekedar kabar untuk KAMU aja aku tidak sempat, padahal KAMU lagi sakit.

Ya, KAMU lagi sakit.. aku mengetahuinya dari Kamis melalui rutinitas telp kita dan perubahan kejernihan suaramu. Sehingga kamu memutukan untuk ke RS Siloam untuk berobat dan sekalian mengantarkan mama kontrol kesehatan berkala, dan mengambil cuti sehari adalah keputusan yang KAMU ambil untuk melalui hari Jumat.

Aku.. masih harus berkutat dengan kerjaan dan meeting di hari Jumat, ditambah sebuah titipan kerjaan yang harus aku lakukan pada sore harinya waktunya pun ketika jam kerja berakhir yaitu untuk menjemput karyawan di bandara dan mengantarkannya ke Hotel untuk persiapan schedule on board kerja. DAMN.

Tidak ada kecurigaan dalam diriku, sama sekali tidak..
Semua berjalan seperti biasa, tenggelam dalam keseriusan kerja membuat waktu menjadi tidak berasa. Pukul 17:15 ketika semua pekerjaan telah selesai, aku dihadapkan kepada ketidak pastian dimana Karyawan yang harus aku jemput belum memberikan kabar dan membuatku harus menunggu. Dari mana informasi kedatangan karyawan yang bernama RUSLAN aku dapat?? Iya, hanya dari KAMU.

Setengah jam menunggu tanpa ada kepastian, sempat membuat aku kesal hingga sebuah pesan elektronik masuk dalam HP aku yang mengatakan:

“Jemput pak Ruslan skrg yah. Dia nunggu di bandara, tadi pesawatnya delay.”

WHAT!!!! Udah di tungguin terus kasih informasi mendadak mengatakan bahwa karyawan telah menunggu setengah jam. Kemana aja kenapa baru informasiin.

“Baru dapat sinyal”… demikian renyah KAMU mengatakan.

Aku meminta untuk disampaikan bahwa aku akan datang dalam 20 menit untuk menjemput dan mengantarkannya ke hotel yang telah di persiapkan, dengan meminta nomer telp karyawan tersebut.
Sepanjang jalan hanya menyimpan perasaan kesal, keterlambatan informasi tidak hanya merugikan karyawan, namun juga merugikan waktuku yang telah full dikuras oleh kerjaan.

Setiba di parkiran bandara, aku menghubungi KAMU masih dengan perasaan kesal untuk kembali memastikan penginapan yang di tempati apakah sudah di persiapkan.

Dia tunggu di deket dunkin donat…. Katanya dia nunggu di dekat panggung, ga ada kursi deket dunkin”. Demikian penjelasan KAMU untuk meyakinkan aku.

Dan aku mempercayainya, tanpa kecurigaan sama sekali. Dalam balutan kekesalan aku berjalan dari parkiran motor hingga pintu terminal kedatangan dan menghampiri tempat yang di informasikan.

Kemudian…

Aku Menekan nomer handphone yang di berikan untuk mengkonfirmasi kedatangan aku untuk menjemput karyawan tersebut, namun belum sempat tersambung aku melihat sosok yang sangat amat aku kenal. Seorang wanita berkacamata dengan beberapa gerakan aneh serta tertawa melihat kepadaku.

Itu KAMU……
Ya.... ITU KAMU...
Aku masih sangat jelas mengingat.. Itu KAMU..
 
Seketika itu pula aku tidak bisa berkata apa-apa.

Orang yang selalu aku nantikan untuk bertemu sekarang ada di hadapan aku.
Orang yang selalu aku dengar suaranya tiap malam sekarang ada di hadapan aku
Orang yang selalu aku ucapkan selamat tidur di tiap malamku ada di hadapan aku.
Orang yang selalu aku saksikan tertidur pulas melalui video call sekarang ada di hadapan aku.
Orang yang mengatakan baru akan ada kesempatan datang ketika akhir bulan sekarang ada di hadapan aku.
Orang yang kepadanya selalu aku sampaikan jangan telat makan dan minum air putih sekarang ada di hadapan aku
Orang yang kepadanya selalu aku katakan rindu sekarang ada di hadapan aku.
Orang yang kepadanya selalu aku inginkan memberikan yang terbaik sekarang ada di hadapan aku.
Orang yang namanya selalu aku bawa di dalam doaku beberapa bulan belakangan ini sekarang ada di hadapanku.

Aku terpaku dan bingung..

Semua perasaan campur aduk jadi satu, dan akupun tidak bisa menjelaskannya sampai kalian mengalaminya sendiri.

Inginku langsung memeluknya dan memberikan kecupan hangat, namun aku menahan untuk tidak menunjukkannya di tempat umum sekalipun perasaan ini ingin menumpahkan seluruhnya saat itu juga.

Inilah keterkejutanku.. 

Kejutan yang tidak akan pernah aku lupakan, dan menjadi kejutan terbesar yang pernah aku alami sampai saat ini.

Terima kasih Tuhan telah menghadirkan KAMU untuk aku.
Terima kasih Semesta yang telah mendukung KAMU untuk aku.
Terima kasih KAMU yang sudah mau menerima aku apa adanya.

With Love
-Niko-

Kamis, 05 November 2015

DIA



Keseharianku saat ini berbeda dari sebelumnya, memiliki Dia menjadi pembedanya.

Hampir setiap saat ingin rasanya mengabarkan apa yang aku lakukan dan alami sama dia tanpa dia minta. Hal ini muncul begitu saja dan mungkin buat kalian terkesan norak tapi entah mengapa aku nyaman untuk itu, bukan karena dia jauh namun buat aku menginformasikan hal yang kecil dan sederhana kepada orang yang telah menjadi bagian hidup aku itu suatu KENYAMANAN, bukan paksaan dan bukan juga karena aku over protected atau ingin pamer ke orang lain karena sudah terlalu lama sendiri, BUKAN ITU.

Aku tau..

Dia bosenan. Aku tau dari apa yang pernah dia ceritakan dan sampaikan kepadaku. Semoga wajahku dan sikapku yang abstrak bisa merangkul kebosenannya menjadi gambaran keindahan setiap saat.

Dia selalu punya jawaban. Aku selalu tersenyum ketika dia bisa merangkai kata dalam bentuk jawaban dari setiap pertanyaan dan statement yang aku sampaikan.

Dia keras kepala. Aku menyadari dia tidak pernah mau mengalah untuk sesuatu yang menurutnya benar apapun itu. Ini point yang menurut aku akan bisa membawanya cepat sukses untuk segala cita-citanya dan keinginannya.

Dia multitasking. Aku menyadari itu ketika dia harus berjibaku dengan kerjaannya, namun masih bisa membalas watsap aku, sambal ngemil, dan ngangkat telpon.

Dia jutek. Aku menyadari dari awal melihatnya di bandara dan setelah mengenalnya, default wajahnya memang seperti itu karena terbentuk oleh lingkungandan keadaan yang mengharuskannya seperti itu, tapi dia punya hati yang sangat luas untuk memaafkan.

Dia mandiri. Aku sudah menyadari itu dari cerita-ceritanya melalu telpon, dan semakin percaya ketika bertemu dengannya beberapa hari lalu. Bahkan dia wanita paling mandiri yang pernah aku kenal.

Namun..

Satu hal yang mungkin aku sadari sebenarnya hal yang tidak pantas untuk dia lakukan namun dia memilih itu. Dia memilih untuk disakiti daripada menyakiti.
Diawal perkenalan kami, aku mengangap hanya angin lalu tapi semakin kesini aku mulai menyadari hal itu, dia telah banyak di sakiti namun menutupnya dengan topeng kebahagiaan, terlalu banyak bahkan menurut aku untuk seorang wanita sepertinya. Tapi dia tetap kokoh dan kuat meskipun hatinya menangis, tapi dia memilih untuk seperti itu hanya untuk menyenangkan orang kesayangan disekitarnya maupun yang pernah bersamanya, yang berujung pada hal-hal yang menurutku tidak pantas di terima oleh dia dari tindakan dan prilaku yang dibungkus oleh rasa yang namanya SAYANG.

Kali ini aku akan katakan..

Kamu sangat pantas untuk diperlakukan dan disayangi melebihi perasaan sayang yang pernah kamu rasakan kepada orang kesayanganmu

Aku berjanji untuk menunjukan bagaimana rasanya disayangi, meskipun akupun belum pernah merasakan rasanya disayangi seutuhnya.

Genggam tangan aku saat ini untuk mengajakmu jalan bersama.

Dan beri aku sedikit ruang di sisi terkecil ruang hati kamu yang pernah penuh terisi dan berantakan, untuk aku bersihkan dan pulihkan sampai aku sepenuhnya memiliki hatimu.



With Love
-niko-


PS:
Untukmu #DearYou yang aku yakini menjadi orang pertama yang membaca tulisan ini


Rabu, 04 November 2015

New Chapter



Akhirnya saat yang Aku nantikan tiba, saat dimana aku mengumpulakan semua keberanian untuk mengatakan yang seharusnya perlu aku katakan, tanpa harus berbohon ini itu dan melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke sana.

Friday, 30 October 2015
Hari yang aku tetapkan untuk meminta izin pulang lebih cepat untuk segera berangkat menjalankan misi, Bertemu dan mengutarakan perasaan yang ada, tanpa memberitahu kedatangan aku. Sebagai anak Taurus, sudah bukan hal aneh ketika hobi membuat kejutan, namun ini bukan sekedar kejutan bahkan sangat beresiko gagal dengan kenyataan bahwa saya buta tuli rabun jereng soal Jakarta, apalagi Tangerang (ingat Gnya cuma 1) yang notabene berdasarkan cerita-cerita di telp letaknya sangat jauh, kurang lebih 2 jam perjalanan dari Kantor pusat di Kebun Sirih (tepok jidat).
Sebut saja namanya Ratna Sari pake spasi (selanjutnya kita menggunakan kata DIA), wanita yang entah bagaimana ceritanya bisa dan mau kenal sama pria setengah pangeran macam aku, yang kalo di jelaskan bagaimana kenalnya selembar post it kecil sangat cukup menjelaskan kronologinya. Dan dialah targetnya, eits bukan target tapi dermaga akhir #tsahh.
Pesawat burung merah membawa diriku beserta semua pemikiran hasrat dan rasa yang terpendam mendarat di Soeta, tepat pukul 14:35. Damri menuju stasiun gambir telah menanti di seberang terminal kedatangan, dengan membayar 40 ribu kisah ini terus berlanjut.
Sebelumnya perlu di ketahui bahwa aku dan Ratna itu satu kantor, tapi beda gedung. Dia di gedung di Kantor Pusat Jakarta dan aku di gedung ehh bukan ruko di BALIKPAPAN, kota beriman yang sangat di idamkan oleh seluruh penduduk di dunia untuk di tempati, kota yang sangat layak huni, kota yg adorable, kota yang ketika menyebutnya dada bergetar, pikiran kunang kunang dan muntah muntah *mohon segera ke dokter, sepertinya anda sakit jika mengalami gejala itu.
Sebelum tiba di Gambir, damri berhasil melalui sebuah gedung yang merupakan kantor pusat yang hanya dengan modal foto group kantor saya dapat mengidentifikasikannya, oleh karenanya disanalah misi saya akan saya lakukan. Berjalan kaki dengan gegap gempita gemaripah lohjinawi menuju gedung kantor yang berjarak sekira 2 km dr gambir.
Sebuah kursi taman kosong menyambut saya di seberang gedung itu, kursi yang sepertinya menantikan aku dan paham akan rencana aku. Hempasan bokongku di atasnya membuat kursi taman sumrigah, bagai tanah kering yang rindukan hujan, demikian juga kursi taman itu menantikan untuk di duduki oleh seorang berwajah hamper pangeran yang hendak menjumpai permaisurinya #Uhuk
Namun kenyataan lebih pait dari buah pare di campur mengkudu dan di bungkus daun papaya.
Ingin memberikan kejutan tapi sebuah pesan singkat dalam watsap mengguncang kestabilitas rupiah dan rencana aku, Dia sedang dak di kantor, “Baru selesai Meeting” “Besar Kemungkinan Lembur” “Lagi temenin Pada makan Di Citos”. Seketika itu pula apa yang aku takuti terjadi, Kejutan ini akan GAGAL.
Perlu di ketahui, bahwa tidak ada seorangpun orang kantor pusat tau kalo aku ijin setengah hari dank e Jakarta, itulah kenapa saya tidak masuk dalam gedung itu.
Akhirnya dengan sangat kepaksa saya harus mengatakan bahwa saya ada di depan kantor melalui sebuah foto dengan es podeng sebagai modelnya, dan gedung kantor sebagai backgroundnya. Entah Dia terkejut ato malah pup terbahak-bahak, aku sudah tidak peduli. Aku ga menguasai medan perangku saat ini, bermodalkan Cinta di Raga dan Rindu di jiwa saya laksanakan misi ini. Sampai akhirnya dia akan mengusahakan secepatnya balik ke kantor untuk menemui aku.
Tuhan pasti buka jalan jika kita berniat baik dan berusaha, lembur kerja yang awalnya di rencanakan akhirnya batal begitupun rencana keesokan harinya, Dia sangat senang terlebih Aku.
Setiba dia di kantor, membereskan satu dan lain hal, bahkan Pup yang menjadi bagian hidupnya setiap hari dia abaikan karena kenekatan aku.
Dan…
Lambaian tangan di sebrang jalan membuyarkan kecemasanku, aku melihatnya.. Dia yang menjadi tempat dermaga persinggahan terakhir aku.
Kagok, iya.. sudah sangat lama sekali kami tidak bertemu, kira-kira 2 bulan. Tapi ingat, sehari buat aku berbeda dengan sehari buat kalian-kalian yang membaca ini, kecuali kalian pernah merasakan Rindu dalam dekapan perasaan Cinta.
Mission completed. KETEMU DIA.
Masih ada misi selanjutnya yaitu mengutaraan yang tidak bisa aku pendam terlalu lama, suatu yang memang sangat di butuhkan untuk sebuah kepastian.

Saturday, 31 October 2015
Waktu istirahat semalam sudah cukup untuk memulihkan stamina, jiwa dan raga aku yang sempat terhanyut dalam relung kecemasan dan ketidakpastian akan bertemu. Untuk yang terjadi semalam tidak perlu saya jelaskan di sini, ketika kalian pernah merasakan rindu tentu kalian akan tau harus berbuat apa.
Guyuran shower di kamar mandi hotel memberi semangat baru untukku, karena aku lebih buta dan tuli lagi soal Tangerang maka Dia akan datang untuk menjemputku dan di sebuah mall elit di kawasan elit yang bernama Serpong. Persiapan cukup dengan sedikit wewangian parfum refile aku telah siap melalui hari ini.
Mall yang besarnya melebihi bunderan HI apalagi halaman parkir SMA saya menjadi tempatku menunggu kedatangan Dia. Keletihan berputaran menantinya kemarin di Jakarta masih terasa di kaki aku, dan enggan diriku memutari mall ini dan Hok*en menjadi tempatku melipir karena laper sembari menantikan waktu kami janjian. Tidak putus kami berkomunikasi melalui whatsap untuk memastikan bahwa aku berada di tempat yang benar dan tidak nyasar ke panti pijat, apalagi ke waterboom.
Aku selesai makan, mengitari Gramedia dan kursi santai mall menjadi pemberhentianku selanjutnya, sampai dia datang, dan kami melanjutkan untuk mengitari mall dan ngemil sejenis es yang dari nama pemiliknya saja sudah sangat menggembirakan, Pak Ucu ucu ucuuuuuuuu #PakeMukaImut
Aku masih belum mengutarakan itu..
Dia mengajak aku untuk main kerumahnya di sekitaran Perumnas, demikian daerah tempatnya di sebutkan. Ingat PERUMNAS bukan PerumMas atau PerumMbak, untuk bertemu keluarganya. #JengJeng Ternyata rumahnya harus melalui puluhan perempatan yang mirip mirip, sangat sulit untuk menghapal untuk orang yang baru pertama kali kesana meskipun memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan ketampanan dibawah rata-rata.
Setiba di rumahnya, kedua orangtuanya menyambut hangat. Jujur aku grogi pada saat itu, karena ini kali pertamanya harus bertemu dengan orang tua seseorang yang sangat special buat aku, karena biasanya selalu berhadapan dengan tembok backstreet karena tidak mendapatkan restu ato pacaran diam-diam. 2 jam berbicara hangat, akhirnya kami harus pamit menghadiri acara resepsi pernihakan temen Dia dengan menunggu sepasang temen sekolahnya yang mengajak pergi bersamaan.
Setiba di lokasi acara, satu demi satu teman sekolah Dia datang, dan saya di perkenalkan kepada mereka… Namun saya masih belum menyatakan hal itu..
Resepsi pun berakhir dan aku memutuskan mencari tempat yang nyaman, hanya ada aku dan dia untuk mengungkapkan semuanya.
Ingin rasanya membeli coklat, boneka, bunga untuk menemaniku menyampaikan ini, tapi sungguh aku tidak mengetahui medan, sehingga aku urungkan niat tersebut. Hanya menemukan tempat yang hanya ada aku dan dia saja yang menjadi tujuanku di malam itu.
Di sebuah tempat di sekitaran Serpong, di ruangan yang tidak sebesar kantor kerjaku, aku pun mengungkapkannya.
Aku ingat pandangan matanya..
Aku Ingat Senyumannya..
Aku Ingat ekspresinya pada saat itu..
Ketika aku mengatakan “AKU SAYANG KAMU”….              
“AKU JUGA SAYANG SAMA KAMU”…
…………..
Masih belum puas dengan jawaban itu, aku menunjukkan ekspresi yang tidak puas dan dia pun menyadari.
“Kenapa…”
Akupun meneruskan.. “Mau ga kamu jadi pacar aku”
Diapun berujar “Iya…”
Seketika itu pula, kebahagiaanku dapat terpancar dari wajah aku yang biasa biasa saja. Dia sengaja mengerjai aku dengan menjawab seperlunya, karena aku tidak bertanya lagi. Dia cukup tau perasaan aku selama kami telp dan video cal, hanya saja sebagai pria Taurus menyatakan langsung di hadapannya adalah KEWAJIBAN.

31-10-2015
Aku mengganti wallpaper dan background di HP
Aku resmi memanggil dia Sayang.
Sekarang bukan lagi aku dan dia tapi KITA.
Dan aku pun bertanya kepadanya….
Sekarang aku sudah punya hak kan??

With Love
-Niko-