Senin, 28 Desember 2015

4D3N Together



Memandang jauh ke luar jendela pesawat, seketika mulai menyadari saat yang aku nantikan tiba juga, untuk menemui KAMU. Tepat di hari Minggu.

Mengambil kesempatan dalam kesempitan sebenarnya karena kantor memutuskan aku harus berangkat Induction ke Jakarta, so why not.

Sesungguhnya durasi mission aku by schedule adalah 4 malam, namun dikarenakan ada urusan yang lebih penting jadi di majukan menjadi 3 malam. Dalam perencanaan terselubung yang aku buat, jika jadi 4 malam maka aku akan mengambil cuti 1 hari pada hari jumat dan baru akan balik pada senin pagi, waktu yang sangat panjang untuk menghabiskan waktu dengan orang yang aku sayang, namun rencana tinggal rencana tapi tetap aku syukuri.

Day 1
Burung besi dengan dominan warna hijau yang membelenggu kulit luarnya membawaku beribu kilometer ke Ibu kota Indonesia, Hatiku penuh gemericik kebahagiaan karena sangat meyakini sudah ada KAMU yang menantiku di sana meskipun KAMU pun belum cukup istirahat ketika harus terbang pagi hari dari Kota Pahlawan kembali ke Ibu Kota, dan Bandara Soekarno Hatta jadi tempat yang kita sepakati untuk bertemu, meskipun KAMU harus menunggu lebih 2 jam.

Deru mesin pesawat mengiringiku menuruni tangga pesawat menuju terminal kedatangan, kemudian menyalakan HP dan mengkomunikasikan dengan KAMU di sudut bandara mana kita akan bertemu. Dan tepat di depan pintu menunggu bagasi aku melihatmu berlari kecil menuruni jalan, inginku berlari menggapaimu lebih dahulu namun otoritas bandara melarang aku untuk masuk, sehingga aku harus menantimu langkah demi langkah hingga aku dapat menjangkaumu dan memberikanmu sedikit pelukan, ingin lebih erat dan lebih lama namun suasana bandara yang ramai seolah menahan itu. Berakli kali rangkulanku mengiringi jalan kita menuju taksi yang akan mengantar kita ke tempatku menginap.

Jalanan Jakarta yang tidak terlalu padat di hari minggu sangat menguntukngkanku, kurang dari 2 jam sudah dapat tiba di Hotel yang letaknya di pusat kota dan tidak jauh dari kantor tempatku bekerja. Melakukan proses check ini, dan meletakkan barang kami dan meregangkan otot sesaat, untuk kemudian kami memulai hari in. Tentu saja dengan Makan, karena logika tidak akan berjalan lancer jika Logistik tidak terpenuhi.

Sebuah warung Steak rekomendasi dari KAMU yang letaknya hanya selemparan batu dari hotel menjadi makanan pembuka hariku di Ibu Kota. Steak yang cukup enak menurut aku, namun semakin sempurna karena dihadapanku ada KAMU, tidak ada yang lebih special dari itu. Meski ada sedikit keluhan yang keluar dari mulut KAMU karena daging yang disajikan belum sepenuhnya matang, tapi aku mengabaikan itu semua.

Derap langkah kami terdengar jelas di iringi riuh rendah kendaraan dan klakson di sepanjang trotoar yang mengantarkan kami di halte Busway Sarina Thamrin, dengan mengeluarkan selembar uang secara resmi aku telah memiliki sebuah kartu yang sangat di banggakan oleh masyarakat Jakarta, yaitu kartu Busway.

Menunggu Busway pun terasa menyenangkan, meski sedikit lama. Ketik Busway tiba, dan dua kakiku telah berada di dalamnya dengan dirimu yang dapat aku gapai dengan tangan aku, pikiranku menjelajah membayangkan diri KAMU harus berdesakan setiap harinya dalam kendaraan ini, KAMU adalah wanita tangguh demikian batinku selalu memujimu.

Tidak memakan waktu lama Busway telah mengantarkan kami ke pemberhentian halte Monumen Nasional, ya Museum Nasional adalah tempat yang KAMU rekomendasikan untuk kita kunjungi. Entah mengapa, sangat jarang saat ini seorang wanita muda di era teknologi seperti sekarang begitu sangat menyukai yang namanya Sejarah dan Museum. “You Are Different” hati kecilku bergumam.

Dengan terlebih dahulu membeli 2 tiket masuk, KAMU pun mulai menunjukkan kepadaku setiap sudut di Museum Nasional ini, dari kumpulan Arca, Kumpulan Peninggalan sejarah, Alat tradisonal zaman purba, kain-kain, rumah adat, hingga temuan-temuan purbakala lainnya. Really Interisting menyusuri semua tempat dengan kamu, keisengan dan guyonan kita selama di sana semakin membuatku enggan jauh dari KAMU. Sampai akhirnya Hujan turun.. dan Hujan yang membuat kita tertahan disana. Dengan sedikit lelah dan sisa kantuk yang tersisa olehmu, mencari kursi sebagai tempat menyadarkan diri untuk menghilangkan letih dan kantuk adalah tujuan yang realistis. Dan 1 hal, di kursi panjang itu KAMU bersandar di bahu aku dan terlelap sangat pulas sekira 20 menit lamanya. Selama itu aku hanya memandangmu terlelap dan menahan untuk tidak bergerak untuk menghindarimu terbangun dengan hati kecil yang bergumam “Aku Bahagia bisa memiliki KAMU”.

Kami berencana untuk meneruskan perjalanan ke Kota Tua, namun hujan yang turun menghalangi kami di tambah lelah dan kantuk yang menyergap membuat kami memutuskan untuk kembali ke Hotel untuk bersiap menghadapi tantangan dan kerjaan di hari Senin, dengan terlebih dahulu membeli ice cream dan beberapa makanan untuk menemani waktu kami nantinya ketika saling bercerita, bersenda gurau dan melakukan keusilan sampai kantuk yang merangkul kami dalam lelap.

DAY 2
Membuka mata dan melihat orang yang special masih tertidur lelap di sisi lain tempat tidur menjadi pembuka keindahan hari ini, dan untuk pertama kalinya kami akan berjalan bersama menyusuri jalan Sabang yang cukup lenggang di pagi hari untuk bersama ke kantor meskipun sempat terjadi perdebatan sengit namun tidak saling pukul.

Ketika semua telah siap, berpakaian rapi dan sedikit wewangian, suara pintu kamar terbuka menjadi nada pengantar langkah ke Kantor. Berserakan aneka jajanan pengisi perut dan sarapan lezat mengiringi perjalanan kami yang kurang lebih 10 menit lamanya hingga kita benar-benar berada di sebuah pintu otomatis yang akan membawa kami ke lantai 5, dan ini kali pertama aku menginjakkan kaki di Kantor Pusat.

Enggan untuk memulai pembicaraan disana, meskipun sudah ada beberapa yang kenal. Hal ini wajar dan selalu aku alami ketika berada di tempat baru. Ketika perlahan diriku diperkenalkan ke seluruh ruangan di kantor, perlahan rasa malu itu mulai cair sebuah kursi empuk tepat di belakang punggung KAMU menjadi kursi yang akan aku tempati sementara selama 3 hari berada di Jakarta.

Sedari pagi hingga siang pengenalan mengenai aktifitas kantor dari beberapa departmen cukup menguras waktuku untuk memperhatikanmu, bahkan sekedar makan siang bersama pun tidak bisa karena kesibukan kami masing-masing. 

Hingga sore menjelang dan waktu pulang kerja menghampiri, bisa di hitung dengan jari interaksi tidak langsung yang aku lakukan kepada KAMU, hanya punggung badan yang puas memandang punggung KAMU.

Namun pulang kantor kami bersama menyusuri jalan yang sama yang kami lewati ketika berangkat tadi pagi, meletakkan tas di kamar dan kami beranjak mencari makan sebagai amunisi. Gerimis yang menyelimuti Jakarta malam itu membuat kami mencari makanan tidak jauh dari hotel, soto dan lalapan selemparan batu dari Sarina menjadi tempat perhentian. Tidak cukup hanya itu, restoran cepat saji di Sarina pun kami kunjungi untuk menambah perbendaharaan amunisi tubuh, ice cream cone dan mc flurry menghantarkan kami menyusuri jalan untuk kembali ke hotel. Sedikit melelahkan sehingga tidak butuh waktu lama untuk memejamkan mata dengan terlebih dahulu membersihkan tubuh masing-masing.

DAY 3
Tidak ada yang berbeda di hari ini dengan hari sebelumnya, cara yang sama, lokasi yang sama yang kami lalui, yang berbeda hanya ketika sampai depan kantor aku haru ke toilet terlebih dahulu, sebelumnya tidak.

Ada satu session hari ini yang aku nantikan, persentasi dari department KAMU. Meskipun hanya diskusi, namun cukup lama dan sering mataku menelanjangi keceriaan dan cara kamu berbicara dan gesture tubuh yang lain, KAMU memang special.

Kembali siang ini aku tidak dapat makan siang dengan KAMU, karena diajak bertemu oleh Ale teman lama dari Jogja, di KFC sarina sebagai kompensasi karena beberapa waktu lalu dia tidak aku informasikan terkait kedatanganku ke Jakarta. Bertukar cerita dan gossip selama sejam sudah cukup bagi kami, dan jadwal kegiatanku yang sudah menanti membuatku yang berinisiatif untuk bubar dan kembali ke kantor masing-masing.

Sesampai di kantor, dengung acara Karaoke yang di rencanakan malam hari begitu terasa, pasca istirahat siang senandung kecil mulai terdengar dari salah satu kubikal, dan kadang di sambut denga candaan dari kubikal yang lain, namun Aku hanya diam dan menantikan saat yang tepat jiwa Destroyer aku dalam karaoke keluar, namun apakah aku bisa seperti aku di hadapan orang specialku?? I don’t care, sudah aku sampaikan keliaranku ketika berkaraoke dan KAMU memaklumi itu.

Bagaimana kerja bisa lancar jika pikiran sudah di lain tempat, begituah yang dirasakan semua karyawan di ruangan kami.

Perlahan namun pasti, jam pulang kantor tiba, dan dengan langkah meyakinkan beberapa dari kami berjalan menyusuri jalan sabang menuju tempat karaoke yang dimiliki oleh salah satu musisi ternama, dan aku masuk dalam rombongan yang berjalan dengan KAMU.

Setiba di lokasi, ruangan dan makanan sudah di sediakan karena telah di booking beberapa hari sebelumnya perlahan demi perlahan lagu-lagu di putar, untaian kata demi kata terujar dengan beberapa genre sesuai dengan bakat.

Satu persatu perwakilan tiap department wajib menyumbang suaranya, dan tentu saja bintang tamu dari Balikpapan di beri kesempatan, dan sudah barang tentu ketika panggung dan mic di berikan kepada Aku pantang duduk diam, di tambah banyaknya makanan dan minuman di ruangan semakin membuat energy dapat terisi full.

Dan… Aku menunjukkan kegilaan aku. Entah beberapa kali dirimu malu melihat tingkah aku, namun itulah aku. Bahkan di hadapan Direktur kami sekalipun, aku tetap menggila.. Cukup banyak lagu yang membuatku bergoyang dan ikut bersenandung, namun hanya satu lagu yang special buat aku, yaitu Boulevard. Mengapa lagu itu, karena lagu ini untuk pertama kalinya KAMU bernyanyi bersama aku walaupun terskip dengan tidak sengaja oleh operator, sedikit kesal namun aku keriuhan suasana menguburkan perasaan kesal aku, mungkin juga KAMU.

Tidak terasa, keringat bercucuran, dan 3 jam menjadi tidak berasa bahkan Direktur kami ingin menambah 1 jam lagi namun di tolak di karenakan sudah terlalu malam. Baru pertama kalinya semua karyawan hadir dalam acara hiburan karaoke termaksud Direktur kami. Suasana malam itu menyenangkan dan menggembirakan, tidak ada sekat antara atasan dan bawahan, hanya keceriaan dan tawa serta curhat yang tersalurkan melalui alunan kata-kata dalam lagu yang di nyanyikan.

Apa aku melupakan KAMU di ruangan itu?? TIDAK. Berkali-kali ujung mataku melihatmu terenyum, melamun dan berbicara dengan pria dan wanita di sisimu. Bahkan aku pun meminta ijin kepadamu terlebih dahulu untuk menegak segelas minuman beralkohol rendah. Selalu ada KAMU dalam pikiran aku kapanpun dan dimanapun.

Selesai dari tempat karaoke, kita berjalan bersama dengan perlahan memisahkan diri dari gerombolan. Menyusuri jalan yang sama untuk kembali ke hotel, meletakkan tas dan keluar kembali untuk mencari makan malam, dan Sate tidak jauh dari hotel menjadi tempat tujuan kami. Keriuhan jalan membuat kami susah untuk saling tukar menukar cerita, sehingga ketika sate habis kami langsung beranjak. Kami sempat mampir di salah satu swalayan berwarna biru, untuk membeli permen, stok air minum dan ice cream untuk menjadi teman kami bercerita nanti di kamar. Dan mala mini adalah malam terakhir Aku di Jakarta dalam tugas kedinasan.

DAY 4
Alarm membangunkanku di pagi terakhir dalam perjalanan dinas ini, namun aku mematikannya dan meletakkannya di bawah bantal. Aku memilih untuk terus memandangmu dan memelukmu untuk menghabiskan sisa waktu yang ada sebelum aku harus meninggalkan hotel.

Mandi dan membereskan semua barang kami, memastikan tidak ada yang tertinggal sebelum kami akhirnya melakukan proses check out, berat namun harus di terima. Kenyataan bahwa aku akan pergi ribukan kilometer jauhnya dari KAMU kembali sedikit mengiris pikiran aku, namun aku yakini akan selalu ada jalan untuk ketemuan sama KAMU.

Di hari terakhir ini, akhirnya kami bisa makan siang bersama untuk pertama kalinya. Soto kudus dengan lengkungan mangkuk kecil namun dalam cukup untuk menutup hari terakhirku dengan KAMU.

Ada sedikit sesi penutup oleh Direktur sebelum aku harus benar-benar pergi ke bandara, walapun pesawatku sore namun kemacetan Jakarta selalu tidak dapat bisa di prediksi.
Waktunya tiba, aku berpamitan dengan seluruh penghuni kantor pusat, tidak terkecuali KAMU. Hati kecil aku merasa tidak terima jika hanya sekedar berpamitan dan lambaian tangan. Aku pun mengirimkan pesan singkat melalu ponsel ke KAMU untuk menemui aku di emergency exit gedung, dan KAMUmenyanggupi.

Ketika tas aku mulai hilang dari pandangan orang kantor, aku menantikan kedatanganmu di tempat yang telah kita janjikan. Tidak selang semenit, KAMU datang. Aku hanya berpamitan, dan memeluk kamu. Ingin rasanya bibir ini memberikan salam perpisahan namun keadaan dan situasi yang tidak memungkinkan membuatku urung melakukannya. Dan lambaian tanganmu, mengantarkanku menyusuri anak-anak tangga.

Pak Adang telah menungguku di bawah, dan siap mengantarkanku ke Bandara. Sepanjang jalan pikiran tak karuan karena tetap tidak terima harus kembali jauh dari kamu, namun selalu hati kecil aku menguatkan, karena aku yakini you are mine.

Selalu ada cara untuk ketemu denganmu lagi.. dan selalu ada cara..

Terima Kasih Buat 4D3N yang sangat menyenangkan
Terima kasih buat Jam tangan dan gelang yang KAMU berikan
Terima kasih buat semangat yang KAMU tularkan
Terima kasih buat cerita yang mengalun dari bibir KAMU
Terima kasih buat pelukan dan kecupan yang KAMU berikan.
Percayalah..
Kita akan bertemu lagi..
Dan itu tidak lama lagi..

With Love,
-niko-

Senin, 07 Desember 2015

Di Tengah Ketidakberadaan Bukan Berarti Cinta itu Tidak Ada



Entah mengapa, hatiku terusik untuk membicarakan hal ini. Membicarakan soal cinta yang tak akan pernah habis di ulas sampai kapanpu, namun jika kita membicarakan soal ketidak beradaannya cinta.. hmmm..

Okay.. setiap malam kadang kegundahan muncul dalam diriku, bukan kegundahan tapi ketakutan lebih tepatnya, ketakutan yang sedikit demi sedikit mencoba mendirikan tembok yang kokoh dalam pikiran dan hati aku. Penyebabnya adalah CINTA, ya aku sedang mengalami yang namanya jatuh cinta dan menjalin hubungan serius dengan seseorang. Tapi.. terpisah oleh jarak hingga ribuan kilometer.

Ada yang mengatakan bahwa cinta datang karena sering bertemu, mungkin cinta lokasi lebih tepatnya. Namun yang aku alami saat ini adalah tidak seperti itu, kami bertemu bisa di hitung dengan jari tangan jumlahnya. Kami menggunakan semua alat komunikasi untu bisa saling memberi kabar, bertukar cerita, dan bercanda tawa, dari watsap, sms, telp dan video call semua menjadi penghubung bertemunya kami meskipun itu dalam perwujudan tidak nyata secara fisik.

Pertanyaannya, apa bisa ketika dirimu sakit, suaraku menyembuhkan?? Atau ketika dirimu pulang larut suaraku bisa membuatmu aman?? Atau ketika dirimu sedih dan marah suaraku bisa memulihkan keadaamu??

Sesaat aku berfikir itu tidak bisa..

Dirimu butuh orang yang bisa kapan aja mencarikan obat dan membelikan makanan dan minuman hangat untuk memulihkan kondisinya yang sedang sakit. Dirinmu butuh orang yang bisa menjemputmu atau setidaknya memberimu rasa aman dengan berada di sisimu langsung melalui macet dan kejamnya angkutan umum. Dirimu butuh pelukan, telinga untuk mendengar, dan bahu untuk bersandar untuk berbagi kesedihan dan amarah.

Sesaat aku berfikir kembali jauh lebih dalam.. keberadaan fisik itu adalah salah satu perwujudan CINTA.. hanya salah satu wujud.

Aku menyadari secara fisik lebih sering berada dalam ketidakberadaan ketika menjalin hubungan ini, namun dalam ketidakberadaanku bukan berarti CINTA itu tidak ada.

CINTA itu bukan berarti selalu ada secara fisik, namun banyak aspek dan wujud yang bisa dilihat dan rasakan. Karena CINTA tidak bisa di jelaskan sampai kita benar-benar merasakannya sendiri.

Aku meyakini… Dalam ketidakberadaanku CINTA itu tetap ada.

Ketika dirimu berbicara denganku melalu suara, aku yakin dirimu bisa merasakan kehadiranku disisimu
Ketika dirimu bercerita dan tertawa bersamaku melalui video call, aku yakin dirimu bisa merasakan dengan lembut sentuhan dan kehadiranku.
Ketika dirimu mengabarkan keadaan kamu ketika berdesakan dan mengantri dalam angkutan umum melalu suara, aku yakin dirimu bisa merasakan aku ada di sana memberimu rasa aman.

Aku meyakini… Dalam ketidakberadaanku CINTA itu tetap ada

Terdengar klise mungkin namun itulah CINTA yang saat ini aku rasakan.

Karena CINTA itu adalah suatu hal yang dibiarkan tumbuh dan mengalir, mungkin salah satu caranya adalah dengan sering bertemu. Tapi aku percaya, cinta tidak semurah itu untuk tumbuh dan bersemi hanya karena jarangnya kita bertemu dan seringnya kita berada dalam ketidakberadaan.

Kita hanya perlu terus berjuang bersama, ketika kita sepenuhnya meyakini bahwa I’m yours and you’re mine.

With Love
-niko-

Jumat, 04 Desember 2015

Apa Bisa??



Keinginan untuk menjadi seutuhnya, boleh dibilang suatu kebiasaan lama untuk mementingkan hal yang tidak penting  kembali merekah dalam diri aku. 

Berusaha menghilangkan hal ini tapi entah mengapa belum sepenuhnya berhasil. Jarak dan Keadaan yang kembali membangunkan perasaan yang sudah lama terlelap untuk seketika merekah kembali.

Dulu aku sangat amat posesif, hal yang sampai sekarang sangat aku benci dari diri aku.. Sampai aku nulis ini, aku yakinkan sekali lagi hal itu GA PENTING!! Berusaha menutupi hal itu dengan casing boneka kebahagiaan, namun apa yang ada di dalam pasti akan tetap terlihat dan berdampak pada mood dan raut muka serta prilaku aku.

Diam.. Cuma itu yang aku tahu cara terampuh mengatasinya.

Aku berusaha mengubur dalam-dalam perasaan ini, namun aku tidak pernah tau kapan akan muncul kembali sampai aku sendiri yang memutuskan untuk membuka hati dan menggali kembali perasaan ini. Aku sadar, perasaan ini sampah, aku sadar tapi aku cuma manusia normal yang mungkin terlalu mengandalkan perasaan dari pada logika. Defaultnya seperti ini.

Tapi come on.. Memikirkan hal yang tidak perlu dipirkan, bahkan sampai mendalam?? Is it normal??

Yang menjadi semakin sampah adalah, aku selalu mempermasalahkan hal yang ngak penting bahkan hal itu sudah ada dalam pikiran aku sebelumnya, sounds funny right?!?!

Entahlah…

Suatu pepatah logis, Berani jatuh berarti harus siap untuk sakit

Mungkin saat ini… diam itu salah satu pilihan yang paling tepat ketika perasaan itu muncul

Namun..
Apa bisa mencintai dalam Diam?!


With Love
-Niko-