Memandang jauh ke luar jendela pesawat,
seketika mulai menyadari saat yang aku nantikan tiba juga, untuk menemui KAMU.
Tepat di hari Minggu.
Mengambil kesempatan dalam
kesempitan sebenarnya karena kantor memutuskan aku harus berangkat Induction ke
Jakarta, so why not.
Sesungguhnya durasi mission aku
by schedule adalah 4 malam, namun dikarenakan ada urusan yang lebih penting
jadi di majukan menjadi 3 malam. Dalam perencanaan terselubung yang aku buat,
jika jadi 4 malam maka aku akan mengambil cuti 1 hari pada hari jumat dan baru
akan balik pada senin pagi, waktu yang sangat panjang untuk menghabiskan waktu
dengan orang yang aku sayang, namun rencana tinggal rencana tapi tetap aku
syukuri.
Day 1
Burung besi dengan dominan warna
hijau yang membelenggu kulit luarnya membawaku beribu kilometer ke Ibu kota
Indonesia, Hatiku penuh gemericik kebahagiaan karena sangat meyakini sudah ada
KAMU yang menantiku di sana meskipun KAMU pun belum cukup istirahat ketika
harus terbang pagi hari dari Kota Pahlawan kembali ke Ibu Kota, dan Bandara
Soekarno Hatta jadi tempat yang kita sepakati untuk bertemu, meskipun KAMU
harus menunggu lebih 2 jam.
Deru mesin pesawat mengiringiku
menuruni tangga pesawat menuju terminal kedatangan, kemudian menyalakan HP dan
mengkomunikasikan dengan KAMU di sudut bandara mana kita akan bertemu. Dan
tepat di depan pintu menunggu bagasi aku melihatmu berlari kecil menuruni
jalan, inginku berlari menggapaimu lebih dahulu namun otoritas bandara melarang
aku untuk masuk, sehingga aku harus menantimu langkah demi langkah hingga aku
dapat menjangkaumu dan memberikanmu sedikit pelukan, ingin lebih erat dan lebih
lama namun suasana bandara yang ramai seolah menahan itu. Berakli kali
rangkulanku mengiringi jalan kita menuju taksi yang akan mengantar kita ke
tempatku menginap.
Jalanan Jakarta yang tidak
terlalu padat di hari minggu sangat menguntukngkanku, kurang dari 2 jam sudah
dapat tiba di Hotel yang letaknya di pusat kota dan tidak jauh dari kantor
tempatku bekerja. Melakukan proses check ini, dan meletakkan barang kami dan
meregangkan otot sesaat, untuk kemudian kami memulai hari in. Tentu saja dengan
Makan, karena logika tidak akan berjalan lancer jika Logistik tidak terpenuhi.
Sebuah warung Steak rekomendasi
dari KAMU yang letaknya hanya selemparan batu dari hotel menjadi makanan pembuka
hariku di Ibu Kota. Steak yang cukup enak menurut aku, namun semakin sempurna
karena dihadapanku ada KAMU, tidak ada yang lebih special dari itu. Meski ada
sedikit keluhan yang keluar dari mulut KAMU karena daging yang disajikan belum
sepenuhnya matang, tapi aku mengabaikan itu semua.
Derap langkah kami terdengar
jelas di iringi riuh rendah kendaraan dan klakson di sepanjang trotoar yang
mengantarkan kami di halte Busway Sarina Thamrin, dengan mengeluarkan selembar
uang secara resmi aku telah memiliki sebuah kartu yang sangat di banggakan oleh
masyarakat Jakarta, yaitu kartu Busway.
Menunggu Busway pun terasa
menyenangkan, meski sedikit lama. Ketik Busway tiba, dan dua kakiku telah
berada di dalamnya dengan dirimu yang dapat aku gapai dengan tangan aku, pikiranku
menjelajah membayangkan diri KAMU harus berdesakan setiap harinya dalam
kendaraan ini, KAMU adalah wanita tangguh demikian batinku selalu memujimu.
Tidak memakan waktu lama Busway
telah mengantarkan kami ke pemberhentian halte Monumen Nasional, ya Museum
Nasional adalah tempat yang KAMU rekomendasikan untuk kita kunjungi. Entah
mengapa, sangat jarang saat ini seorang wanita muda di era teknologi seperti
sekarang begitu sangat menyukai yang namanya Sejarah dan Museum. “You Are
Different” hati kecilku bergumam.
Dengan terlebih dahulu membeli 2
tiket masuk, KAMU pun mulai menunjukkan kepadaku setiap sudut di Museum
Nasional ini, dari kumpulan Arca, Kumpulan Peninggalan sejarah, Alat tradisonal
zaman purba, kain-kain, rumah adat, hingga temuan-temuan purbakala lainnya.
Really Interisting menyusuri semua tempat dengan kamu, keisengan dan guyonan
kita selama di sana semakin membuatku enggan jauh dari KAMU. Sampai akhirnya
Hujan turun.. dan Hujan yang membuat kita tertahan disana. Dengan sedikit lelah
dan sisa kantuk yang tersisa olehmu, mencari kursi sebagai tempat menyadarkan
diri untuk menghilangkan letih dan kantuk adalah tujuan yang realistis. Dan 1
hal, di kursi panjang itu KAMU bersandar di bahu aku dan terlelap sangat pulas
sekira 20 menit lamanya. Selama itu aku hanya memandangmu terlelap dan menahan
untuk tidak bergerak untuk menghindarimu terbangun dengan hati kecil yang
bergumam “Aku Bahagia bisa memiliki KAMU”.
Kami berencana untuk meneruskan
perjalanan ke Kota Tua, namun hujan yang turun menghalangi kami di tambah lelah
dan kantuk yang menyergap membuat kami memutuskan untuk kembali ke Hotel untuk
bersiap menghadapi tantangan dan kerjaan di hari Senin, dengan terlebih dahulu
membeli ice cream dan beberapa makanan untuk menemani waktu kami nantinya
ketika saling bercerita, bersenda gurau dan melakukan keusilan sampai kantuk
yang merangkul kami dalam lelap.
DAY 2
Membuka mata dan melihat orang
yang special masih tertidur lelap di sisi lain tempat tidur menjadi pembuka
keindahan hari ini, dan untuk pertama kalinya kami akan berjalan bersama
menyusuri jalan Sabang yang cukup lenggang di pagi hari untuk bersama ke kantor
meskipun sempat terjadi perdebatan sengit namun tidak saling pukul.
Ketika semua telah siap,
berpakaian rapi dan sedikit wewangian, suara pintu kamar terbuka menjadi nada
pengantar langkah ke Kantor. Berserakan aneka jajanan pengisi perut dan sarapan
lezat mengiringi perjalanan kami yang kurang lebih 10 menit lamanya hingga kita
benar-benar berada di sebuah pintu otomatis yang akan membawa kami ke lantai 5,
dan ini kali pertama aku menginjakkan kaki di Kantor Pusat.
Enggan untuk memulai pembicaraan
disana, meskipun sudah ada beberapa yang kenal. Hal ini wajar dan selalu aku
alami ketika berada di tempat baru. Ketika perlahan diriku diperkenalkan ke
seluruh ruangan di kantor, perlahan rasa malu itu mulai cair sebuah kursi empuk
tepat di belakang punggung KAMU menjadi kursi yang akan aku tempati sementara
selama 3 hari berada di Jakarta.
Sedari pagi hingga siang
pengenalan mengenai aktifitas kantor dari beberapa departmen cukup menguras
waktuku untuk memperhatikanmu, bahkan sekedar makan siang bersama pun tidak
bisa karena kesibukan kami masing-masing.
Hingga sore menjelang dan waktu
pulang kerja menghampiri, bisa di hitung dengan jari interaksi tidak langsung
yang aku lakukan kepada KAMU, hanya punggung badan yang puas memandang punggung
KAMU.
Namun pulang kantor kami bersama
menyusuri jalan yang sama yang kami lewati ketika berangkat tadi pagi,
meletakkan tas di kamar dan kami beranjak mencari makan sebagai amunisi.
Gerimis yang menyelimuti Jakarta malam itu membuat kami mencari makanan tidak
jauh dari hotel, soto dan lalapan selemparan batu dari Sarina menjadi tempat
perhentian. Tidak cukup hanya itu, restoran cepat saji di Sarina pun kami
kunjungi untuk menambah perbendaharaan amunisi tubuh, ice cream cone dan mc
flurry menghantarkan kami menyusuri jalan untuk kembali ke hotel. Sedikit
melelahkan sehingga tidak butuh waktu lama untuk memejamkan mata dengan
terlebih dahulu membersihkan tubuh masing-masing.
DAY 3
Tidak ada yang berbeda di hari
ini dengan hari sebelumnya, cara yang sama, lokasi yang sama yang kami lalui,
yang berbeda hanya ketika sampai depan kantor aku haru ke toilet terlebih
dahulu, sebelumnya tidak.
Ada satu session hari ini yang
aku nantikan, persentasi dari department KAMU. Meskipun hanya diskusi, namun
cukup lama dan sering mataku menelanjangi keceriaan dan cara kamu berbicara dan
gesture tubuh yang lain, KAMU memang special.
Kembali siang ini aku tidak dapat
makan siang dengan KAMU, karena diajak bertemu oleh Ale teman lama dari Jogja,
di KFC sarina sebagai kompensasi karena beberapa waktu lalu dia tidak aku
informasikan terkait kedatanganku ke Jakarta. Bertukar cerita dan gossip selama
sejam sudah cukup bagi kami, dan jadwal kegiatanku yang sudah menanti membuatku
yang berinisiatif untuk bubar dan kembali ke kantor masing-masing.
Sesampai di kantor, dengung acara
Karaoke yang di rencanakan malam hari begitu terasa, pasca istirahat siang
senandung kecil mulai terdengar dari salah satu kubikal, dan kadang di sambut
denga candaan dari kubikal yang lain, namun Aku hanya diam dan menantikan saat
yang tepat jiwa Destroyer aku dalam karaoke keluar, namun apakah aku bisa
seperti aku di hadapan orang specialku?? I don’t care, sudah aku sampaikan
keliaranku ketika berkaraoke dan KAMU memaklumi itu.
Bagaimana kerja bisa lancar jika
pikiran sudah di lain tempat, begituah yang dirasakan semua karyawan di ruangan
kami.
Perlahan namun pasti, jam pulang
kantor tiba, dan dengan langkah meyakinkan beberapa dari kami berjalan
menyusuri jalan sabang menuju tempat karaoke yang dimiliki oleh salah satu
musisi ternama, dan aku masuk dalam rombongan yang berjalan dengan KAMU.
Setiba di lokasi, ruangan dan makanan
sudah di sediakan karena telah di booking beberapa hari sebelumnya perlahan
demi perlahan lagu-lagu di putar, untaian kata demi kata terujar dengan
beberapa genre sesuai dengan bakat.
Satu persatu perwakilan tiap
department wajib menyumbang suaranya, dan tentu saja bintang tamu dari
Balikpapan di beri kesempatan, dan sudah barang tentu ketika panggung dan mic
di berikan kepada Aku pantang duduk diam, di tambah banyaknya makanan dan
minuman di ruangan semakin membuat energy dapat terisi full.
Dan… Aku menunjukkan kegilaan
aku. Entah beberapa kali dirimu malu melihat tingkah aku, namun itulah aku.
Bahkan di hadapan Direktur kami sekalipun, aku tetap menggila.. Cukup banyak
lagu yang membuatku bergoyang dan ikut bersenandung, namun hanya satu lagu yang
special buat aku, yaitu Boulevard. Mengapa lagu itu, karena lagu ini untuk
pertama kalinya KAMU bernyanyi bersama aku walaupun terskip dengan tidak
sengaja oleh operator, sedikit kesal namun aku keriuhan suasana menguburkan
perasaan kesal aku, mungkin juga KAMU.
Tidak terasa, keringat
bercucuran, dan 3 jam menjadi tidak berasa bahkan Direktur kami ingin menambah
1 jam lagi namun di tolak di karenakan sudah terlalu malam. Baru pertama
kalinya semua karyawan hadir dalam acara hiburan karaoke termaksud Direktur
kami. Suasana malam itu menyenangkan dan menggembirakan, tidak ada sekat antara
atasan dan bawahan, hanya keceriaan dan tawa serta curhat yang tersalurkan
melalui alunan kata-kata dalam lagu yang di nyanyikan.
Apa aku melupakan KAMU di ruangan
itu?? TIDAK. Berkali-kali ujung mataku melihatmu terenyum, melamun dan
berbicara dengan pria dan wanita di sisimu. Bahkan aku pun meminta ijin
kepadamu terlebih dahulu untuk menegak segelas minuman beralkohol rendah.
Selalu ada KAMU dalam pikiran aku kapanpun dan dimanapun.
Selesai dari tempat karaoke, kita
berjalan bersama dengan perlahan memisahkan diri dari gerombolan. Menyusuri
jalan yang sama untuk kembali ke hotel, meletakkan tas dan keluar kembali untuk
mencari makan malam, dan Sate tidak jauh dari hotel menjadi tempat tujuan kami.
Keriuhan jalan membuat kami susah untuk saling tukar menukar cerita, sehingga
ketika sate habis kami langsung beranjak. Kami sempat mampir di salah satu
swalayan berwarna biru, untuk membeli permen, stok air minum dan ice cream
untuk menjadi teman kami bercerita nanti di kamar. Dan mala mini adalah malam
terakhir Aku di Jakarta dalam tugas kedinasan.
DAY 4
Alarm membangunkanku di pagi
terakhir dalam perjalanan dinas ini, namun aku mematikannya dan meletakkannya
di bawah bantal. Aku memilih untuk terus memandangmu dan memelukmu untuk
menghabiskan sisa waktu yang ada sebelum aku harus meninggalkan hotel.
Mandi dan membereskan semua
barang kami, memastikan tidak ada yang tertinggal sebelum kami akhirnya melakukan
proses check out, berat namun harus di terima. Kenyataan bahwa aku akan pergi
ribukan kilometer jauhnya dari KAMU kembali sedikit mengiris pikiran aku, namun
aku yakini akan selalu ada jalan untuk ketemuan sama KAMU.
Di hari terakhir ini, akhirnya
kami bisa makan siang bersama untuk pertama kalinya. Soto kudus dengan
lengkungan mangkuk kecil namun dalam cukup untuk menutup hari terakhirku dengan
KAMU.
Ada sedikit sesi penutup oleh
Direktur sebelum aku harus benar-benar pergi ke bandara, walapun pesawatku sore
namun kemacetan Jakarta selalu tidak dapat bisa di prediksi.
Waktunya tiba, aku berpamitan
dengan seluruh penghuni kantor pusat, tidak terkecuali KAMU. Hati kecil aku
merasa tidak terima jika hanya sekedar berpamitan dan lambaian tangan. Aku pun
mengirimkan pesan singkat melalu ponsel ke KAMU untuk menemui aku di emergency
exit gedung, dan KAMUmenyanggupi.
Ketika tas aku mulai hilang dari pandangan
orang kantor, aku menantikan kedatanganmu di tempat yang telah kita janjikan.
Tidak selang semenit, KAMU datang. Aku hanya berpamitan, dan memeluk kamu.
Ingin rasanya bibir ini memberikan salam perpisahan namun keadaan dan situasi
yang tidak memungkinkan membuatku urung melakukannya. Dan lambaian tanganmu,
mengantarkanku menyusuri anak-anak tangga.
Pak Adang telah menungguku di
bawah, dan siap mengantarkanku ke Bandara. Sepanjang jalan pikiran tak karuan
karena tetap tidak terima harus kembali jauh dari kamu, namun selalu hati kecil
aku menguatkan, karena aku yakini you are mine.
Selalu ada cara untuk ketemu
denganmu lagi.. dan selalu ada cara..
Terima Kasih Buat 4D3N yang
sangat menyenangkan
Terima kasih buat Jam tangan dan
gelang yang KAMU berikan
Terima kasih buat semangat yang
KAMU tularkan
Terima kasih buat cerita yang
mengalun dari bibir KAMU
Terima kasih buat pelukan dan
kecupan yang KAMU berikan.
Percayalah..
Kita akan bertemu lagi..
Dan itu tidak lama lagi..
With Love,
-niko-