Kita berjalan bersama mencari rumah
teduh untuk kita dapat menggambar mimpi dan keinginan kita di dindingnya.
Sebuah rumah kosong dengan
rerumputan menjulang mengelilinginya yang mampu menyamarkannya dari pandangan
mata, bahkan beberapa pohon tumbuh di sekitarnya dari yang kecil hingga yang
besar dari usia pohon bulanan hingga tahunan dugaanku, ada yang mati kering
hingga masih tumbuh subur walau tanpa pupuk.
Banyak dinding kosong dirumah itu
yang akan menjadi kanvas buat kita.
Masih cukup jelas dalam ingatanku
bagaimana kamu mengajariku menggambar pelangi disana dengan cukup sabar
Kadang kamu harus marah karena
gambaranku cukup buruk, atau tanganku tidak cukup kokoh memegang kuas yang ada,
atau badanku yang tidak cukup besar untuk menjangkau titik tertinggi dinding
itu, atau bahkan tidak jarang aku yang salah dalam memilih warna.
Merah Jingga Kuning Hijau Biru Nila
Ungu menurutmu, Merah Kuning Hijau menurutku.
Aku tau kamu selalu tidak puas dengan
pelangi buatanku, namun kamu selalu mengalah hanya karena tidak ingin
bertengkar yang nantinya membuatmu lelah, yang kadang aku belum tahu mengalahmu
itu melegakanmu sendiri atau hanya kamuflase untuk ledakkan yang kamu simpan.
Namun satu hal yang aku tau,
ketika kamu melihat gambaran pelangiku kamu akan mengatakan jujur jika ingin
menghapus salah satu warna atau bahkan menambahkan warnanya di depan aku.
Teringat suatu waktu, kita berjalan
menuju rumah itu beberapa pohon kecil aku coba patahkan dan buatnya mati untuk
tidak tumbuh, namun tidak untuk sebuah pohon yang daunnya rimbun dan berdahan
kokoh, pohon itu paling lama tumbuh di sekitar rumah itu. Kehadirannya memberi
kesejukaan untuk rumah itu, walaupun buahnya selalu jatuh merusak atap dan
mengotori halaman.
Aku berniat untuk menggantikannya
dengan pohon baru yang akan aku coba tanam di sekitar rumah itu, ketika sudah
cukup bisa menaungi rumah itu, akan aku tebang pohon itu walaupun akarnya akan
merusak rumah dan reruntuhan dahannya mematahkan beberapa pilar rumah.
Apakah kamu masih ingat dengan
gambar pelangiku beberapa waktu lalu? Kamu memujinya di hadapanku, pelangi itu merupakan
goresan terindah sepanjang kamu melihatnya, hal ini membuatku tersenyum simpul
dan membuatku harus pergi mencari ice cream untuk diberikan kepadamu sebagai
ucapan terima kasih.
Ketika aku pergi, kamu termenung
melihat gambar pelangi itu kemudian sekilas nampak tidak puas. Kamu menghapus
salah satu warna yang aku gambar dan menggantinya dengan warna asumsimu, dengan
beberapa pesan singkat tak terlihat yang kamu tuliskan dengan tawa dan
kesadaran, tanpa mengatakan itu di hadapanku.
Sekembalinya aku dengan membawa
minuman kesukaanmu, kamu menunggu aku di depan rumah itu, dan langsung mengajak
aku mengitari halaman sekitar untuk menikmati pemandangan ditemani minuman
dingin ditangan, namun melupakan apa yang sudah kamu lakukan.
Ketika ice cream itu telah habis
di tangan, dirimu tersadar untuk memberitahukan apa yang sudah kamu lakukan
dengan gambar pelangi yang aku tinggalkan sesaat tadi. Kamu menceritakannya dengan
detail perubahan dan tambahan warna serta tulisan-tulisan tanpa kasat mata yang
kamu buat dan kamu lakukan dengan senyum dan sadar.
Tepat di depan pintu, bukan di hadapan
dinding yang kita gambar bersama.
Jika warna dan tulisan yang kamu
tambahkan itu mampu memperindah dinding itu, tidak atau dengan persetujuanku. Mengapa aku harus
marah, Indah dan benar menurutku bukan berarti indah dan benar menurutmu.
Ahh… Aku rindu rumah itu, masih
banyak dinding yang harus kita gambar.
Balikpapan, 17 Mei 2016
WithLove
-Niko-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar