Selasa, 17 Mei 2016

Dinding Rumah



Kita berjalan bersama mencari rumah teduh untuk kita dapat menggambar mimpi dan keinginan kita di dindingnya.

Sebuah rumah kosong dengan rerumputan menjulang mengelilinginya yang mampu menyamarkannya dari pandangan mata, bahkan beberapa pohon tumbuh di sekitarnya dari yang kecil hingga yang besar dari usia pohon bulanan hingga tahunan dugaanku, ada yang mati kering hingga masih tumbuh subur walau tanpa pupuk.

Banyak dinding kosong dirumah itu yang akan menjadi kanvas buat kita.

Masih cukup jelas dalam ingatanku bagaimana kamu mengajariku menggambar pelangi disana dengan cukup sabar

Kadang kamu harus marah karena gambaranku cukup buruk, atau tanganku tidak cukup kokoh memegang kuas yang ada, atau badanku yang tidak cukup besar untuk menjangkau titik tertinggi dinding itu, atau bahkan tidak jarang aku yang salah dalam memilih warna.

Merah Jingga Kuning Hijau Biru Nila Ungu menurutmu, Merah Kuning Hijau menurutku.

Aku tau kamu selalu tidak puas dengan pelangi buatanku, namun kamu selalu mengalah hanya karena tidak ingin bertengkar yang nantinya membuatmu lelah, yang kadang aku belum tahu mengalahmu itu melegakanmu sendiri atau hanya kamuflase untuk ledakkan yang kamu simpan.

Namun satu hal yang aku tau, ketika kamu melihat gambaran pelangiku kamu akan mengatakan jujur jika ingin menghapus salah satu warna atau bahkan menambahkan warnanya di depan aku.

Teringat suatu waktu, kita berjalan menuju rumah itu beberapa pohon kecil aku coba patahkan dan buatnya mati untuk tidak tumbuh, namun tidak untuk sebuah pohon yang daunnya rimbun dan berdahan kokoh, pohon itu paling lama tumbuh di sekitar rumah itu. Kehadirannya memberi kesejukaan untuk rumah itu, walaupun buahnya selalu jatuh merusak atap dan mengotori halaman.

Aku berniat untuk menggantikannya dengan pohon baru yang akan aku coba tanam di sekitar rumah itu, ketika sudah cukup bisa menaungi rumah itu, akan aku tebang pohon itu walaupun akarnya akan merusak rumah dan reruntuhan dahannya mematahkan beberapa pilar rumah.

Apakah kamu masih ingat dengan gambar pelangiku beberapa waktu lalu? Kamu memujinya di hadapanku, pelangi itu merupakan goresan terindah sepanjang kamu melihatnya, hal ini membuatku tersenyum simpul dan membuatku harus pergi mencari ice cream untuk diberikan kepadamu sebagai ucapan terima kasih.

Ketika aku pergi, kamu termenung melihat gambar pelangi itu kemudian sekilas nampak tidak puas. Kamu menghapus salah satu warna yang aku gambar dan menggantinya dengan warna asumsimu, dengan beberapa pesan singkat tak terlihat yang kamu tuliskan dengan tawa dan kesadaran, tanpa mengatakan itu di hadapanku.

Sekembalinya aku dengan membawa minuman kesukaanmu, kamu menunggu aku di depan rumah itu, dan langsung mengajak aku mengitari halaman sekitar untuk menikmati pemandangan ditemani minuman dingin ditangan, namun melupakan apa yang sudah kamu lakukan.

Ketika ice cream itu telah habis di tangan, dirimu tersadar untuk memberitahukan apa yang sudah kamu lakukan dengan gambar pelangi yang aku tinggalkan sesaat tadi. Kamu menceritakannya dengan detail perubahan dan tambahan warna serta tulisan-tulisan tanpa kasat mata yang kamu buat dan kamu lakukan dengan senyum dan sadar.

Tepat di depan pintu, bukan di hadapan dinding yang kita gambar bersama.

Jika warna dan tulisan yang kamu tambahkan itu mampu memperindah dinding itu, tidak atau dengan persetujuanku. Mengapa aku harus marah, Indah dan benar menurutku bukan berarti indah dan benar menurutmu.

Ahh… Aku rindu rumah itu, masih banyak dinding yang harus kita gambar.

Balikpapan, 17 Mei 2016
WithLove
-Niko-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar