Agak
sulit menceritakan dengan sangat detail moment liburan yang telah terjadi
beberapa minggu lalu kedalam tulisan, namun aku akan mencoba menuliskannya agar
menjadi cerita yg indah untuk di kenang nantinya ke dalam beberapa part semoga
dapat ikut terbawa dengan caraku menuliskannya yang terkesan berantakan
Liburan
bersama akhirnya dapat terwujud antara Aku dan Ratna, kebersamaan yang di pertemukan
dalam tumpukan rindu dan tempat yang baru serta suasana yang berbeda.
Akhirnya
aku kembali ke Jogja, kota yang mendidik aku menjadi sarjana komunikasi kurang
lebih hampir 5 tahun yang barang tentu durasi selama itu membuat aku masih
dapat mengingat dengan jelas setiap sudut Jogja. Dan saat ini aku akan
menunjukan itu ke Ratna, orang yang special buatku saat ini. Mungkin akan
banyak tempat yang sudah pernah aku kunjungi, namun dengan orang yang special
semua akan berbeda pula.
Liburan
kejepit Nyepi beberapa waktu lalu, membuatku harus memanfaatkan sisa cuti yang
ada untuk bertemu kangen dengan pacar sekaligus melepas penat pekerjaan, dan
Jogja menjadi salah satu tempat pilihan yang realistis, disamping sudah cukup
aku kuasai biaya hidup disana lebih murah yang berarti rekening bank tidak di
bobol dengan cukup dalam, meskipun nantinya akan bobol juga.
8 Maret
2016 malam, aku kembali menginjakkan kaki di jogja. Gerimis mengantarkanku meninggalkan
Bandara Adi Sucipto menuju rumah teman seperkampusan semasa di Jogja, dan hal
ini bertepatan dengan moment ulang tahunnya yang akan jatuh keesokan hari.
Sebut saja namanya Akbar, tinggi semampai badan berotot lemak namun tetap
tampan dengan sedikit tai lalat permanen di wajahnya. Aku akan menginap semalam
di rumahnya yang dapat dikatakan rumahku juga karena ketika kuliah intensitas
menginapku disana sangat tinggi.
Sembari
melepas rindu kami berkeliling Jogja melihat sisi jogja di waktu malam sembari
membandingkan dengan terkhir kali aku mengunjunginya. Lama tidak ngobrol
mengenai beberapa isu hangat dan kemajuan jaman, sebuah coffeshop di sekitaran
seturan menjadi tempat pemberhentian kami setelah beberapa tempat lain ternyata
tutup lebih awal entah karena keesokan harinya tanggal merah atau memang jam
operasionalnya tidak lebih dr jam 11.
Tidak
terasa obrolan hangat dengan Akbar membawa kami hingga pukul 2 pagi yang
mengharuskan kami pulang ke rumah dan beristirahat, dari pada aku di marahi
Istrinya karena mengajarkan pulang pagi, hehehe. Sesampai di rumah sebuah kado
kecil yang aku persiapkan aku berikan langsung kepada Akbar, sebuah buku yang
berisi hal-hal yang menarik yang sudah pasti dia suka, sebuah pelukan hangat
dari sahabat karib mengakhiri pagi itu, dan siap menyambut kedatangan Ratna.
Day 1
Sudah
biasanya ketika telah membuat janji dengan seseorang, terlebih dia adalah pacar
sudah pasti alarm kalah cepat di bandingkan dengan alam sadarku, itulah yang
terjadi. Ragaku terbangun beberapa jam sebelum waktu menjemput tiba, sang tuan
rumah telah menyiapkan bubur dan the panas untuk menu sarapan, serta
mempersiapkan sebuah motor dan 2 buah helm yang nantinya akan aku pakai
berkencan selama di sana, walaupun motor tanpa STNK tapi aku tetap bersyukur
masih di berikan pinjeman, dari pada harus menyewa yang tentunya akan membebani
dompet.
Jeng
Jeng… Petir menyambar, angina bertiup kencang, daun daun berguguran ketika
Ratna menginjakkan kaki di Jogja (tapi ini bote).
Dua
buah permen karet yang bergumul intim dengan lidah dan gigi aku menemaniku di
terminal kedatangan, sesekali mengecek HP untuk memastikan ada telpon dan
memperhatikan televisi informasi yang memberitakan kedatangan pesawat. Sebuah
kertas A4 telah aku persiapkan di kantong celana yang aku telah print
sebelumnya dari Balikpapan, yang bertuliskan nama Ratna namun dengan identitas
kantor yang berbeda (sudah mirip penjemput hotel di bandara, namun lebih ketje
saya dikit).
Kaca
bandara yang sedikit transparan karena tidak pake daleman, membuat aku cukup
bisa memperhatikan siapa saja yang akan keluar dari pintu kedatangan, begitupun
orang di dalam yang cukup mudah memperhatian siapa saja yang ada di depan
penjemputan, terlebih aku berdiri tidak jauh dari pintu keluar dengan menenteng
sebuah kertas A4.
Dia
menemukanku.. dan aku menemukannya.. Inilah Cinta. (#Teet salah, namanya juga
kelihatan ya pasti bisa menemukan)
Ada
yang berbeda darinya, rambut sudah tidak terurai panjang namun masih merangkul
bahunya. She’s look more fresh and more cute. Ini bukan efek lama ga bertemu,
namun sedikit perubahan kecil bisa berdampak besar buat orang lain, dan ini
yang aku alami. Namun apapun bentukkannya aku tetap Cint…..
#KemudianSinyalHilang
Jangan
berharap ada yang romantis ketika kami bertemu, yang ada saling senggol yang
bermakna dia malu dengan kertas yang aku bawa. Baiklah beberapa lipatan
membuatnya masuk kembali ke kantong celana aku, dan rangkulan kecilku
menggiringnya ke arah parkiran Mobil Motor, dan kami bersiap menuju ke
penginapan di seputaran Seturan, sebuah apartment yang menurut referensi di
Traveloka cukup enak untuk tempat menginap dengan harga yang cukup terjangkau,
disamping itu apartment ini tidak ada ketika saya terakhir meninggalkan jogja,
jadi tidak ada salahnya coba-coba.
Sesampai
di Apartemnt, kami belum bisa melakukan check in dikarenakan masih harus
menunggu hingga jam 2 siang dan belum ada kamar yang ready. Its okay buat kami,
dengan menitipkan beberapa tas, kamipun mulai mencari makanan untuk mengisi
perut pacar saya yang sedari pagi belum makan nasi. Setelah selesai makan, kami
berniat untuk menukar kendaraan yang kami pakai dengan kendaraan yang memiliki
STNK untuk memberi rasa aman dan menghindari Tilang, namun kami harus mencari
pinjaman kendaraan ke rumah Ade yang baru yang belum pernah aku kunjungi.
Dengan mengunjungi Tatas (sodara Ade) kami mendapatkan ancer-ancer untuk ke
sana.
Emang
dasar otak genius, dengan begitu banyak perempatan dan patokan-patokan yang
diberikan akhirnya kami menemuan rumahnya, dengan sedikit kesasar dan memakan
banyak pulsa untuk menghubungi beberapa rekan yang lain untuk mengarahkan,
termaksud yang punya rumah.
Kamipun
di sambut hangat, Keluarga Ade sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri, begitu
banyak bantuan mereka ketika aku menempuh kuliah di Jogja, disamping Ade adalah
salah satu teman akrab dari SMA. Semakin hangat ketika aku membawa wanita untuk
diperkenalkan, dan sudah pasti beberapa guyonan semakin menghangatkan suasana.
Beberapa jajanan pasar disajikan kepada kami, cukup merepotkan ternyata
kedatangan kami, sudah di sodorin makanan, pun ujung-ujungnya tuker motor. Dan
kamipun diberikan. ASIK!!! Kami pun akan merasa aman jika berpergian nantinya.
Selepas itu, tidak terasa sudah jam 2. Dan kami harus kembali ke Apartment dan
melakukan check ini, ketika sudah mendapatkan kamar, mandi adalah pilihan
terbaik dengan merebahkan badan sesaat setelahnya.
Dan
kamipun memulai petualangan di Jogja.
Niat
merebahkan badan sesaat ternyata menimbulkan dampak buruk, yaitu kebablasan.
Nikmatnya dekapan kasur dikala lelah menjadi pemicu kebablasan, dan waktu
menunjukkan pukul 5 sore. Sudah terlalu sore untuk mencoba mengunjungi Taman
Sari yang masuk dalam rencana hari itu, sehingga kami pun merubah rencana.
Pasca bangun, tentu saja badan butuh asupan gizi, mencari makanan yang lezat
mungkin bisa menaikkan mood, dan aku memilih membawa Ratna ke Warung Steak.
Bukan tempat yang sangat Jogja banget, namun memiliki citarasa Wah ketika era kuliah dahulu dan ide aku
di sambut positif dengan tentunya jawaban “Terserah, aku ikut kamu aja”. So
Lets Go come on deh meluncur.
Warung
Steak Kolombo dan Kita
Sebuah
restoran yang disekitarnya di kelilingi distro di seputaran Colombo menjadi
tempat pemberhentian kami, kami memilih lantai 2 yang tidak terlalu padat
dengan konsumen disamping mendapatkan view yang lumayan. Memesan beberapa menu
andalan, jangan tanya apa karena sudah pasti warung Steak menu spesialnya
adalah Batagor, tentu Steak lhaaaa!! Sirloin Steak menjadi pilihanku, dan tentu
saja wanita di hadapanku memesan CHICKEN steak yang sudah sangat jelas dia
adalah penggila ayam, termaksud ayam gelonggongan hingga ayam hasil persilangan
antara ayam jantan dengan ayam jantan (temukan jika ada), segelas es teh dan
milkshake beserta air mineral menjadi pelengkap hidangan kami.
Sambil
menunggu hidangan datang, layaknya pria Romantis pada umumnya , aku memandang
wanita tercantik di dunia yang sekarang di hadapanku dengan tatapan mesum mesra, sesekali tangaku menyentuh tangannya
untuk menggengam lembut namun di tolak karena tangan aku ngak lembut. Kami pun
bercerita banyak hal dari kerjaan, update gossip terkini, hingga apa saja yang
aka di beli dan di kunjungi selama liburan ini. Perlu dicatat, kami menghindari
untuk berbicara politik dan olahraga dikarenakan kami bukan olahragawan dan
politikus.
Makanan
datang, kami pun mulai meracik masing-masing sesuai dengan selera, ada yang
dengan saus lebih banyak, maupun dengan nasi yg lebih banyak. Sembari makan,
cerita seru berkali-kali meluncur dalam obrolan kami, bahkan tanpa terasa
makanan kami pun habis namun kami masih asik bercerita. Entah berapa banya
orang yang telah berganti di kursi sekitar kami, namun kami masih bertahan.
Itulah CINTA, teeeettt bukan itulah Rindu, teeeeeet juga bukan.. Itulah kalo
kami telah menemukan topik menarik yang kudu harus dihabiskan hingga tuntas,
karena kami berdua sangat Kepo.
2 jam
berlalu, mataharipun sudah tidak tampak dan berganti dengan rembulan. Kami
memutuskan untuk melanjutkan malam dengan berpindah tempat, keasikan ngobrol
membuat kami kembali lapar dan aku merekomendasikan suatu tempat di sekitaran
keratin yang konon katanya dahulu di pakai oleh Sultan untuk tempat makan,
yaitu Pendopo Ndalem.
Pendopo
Ndalem, Alun-Alun Kidul dan Kita
Letaknya
selemparan batu dari pasar Ngasem, sebuah gapura besar menyambut kami dengan
Halaman yang luas dan dijadikan juga sebagai area parker di dalamnya. Sebuah
pendopo dengan meja bulat besar dengan hiasan-hiasan khas kraton tertata rapi
di dalamnya. Aneka jajanan tradisional bertebaran di sebuah meja di sudut
pendopo, disini lebih banyak menyediakan jajanan pasar dan makanan konon
katanya kesukaan Sultan, dengan mengambil sendiri apapun itu di atas piring
anyaman dengan lapisan kertas di atasnya. Jajanan sebanyak itu membuatku gelap
mata, olahan tape, onde-onde, dan beberapa lagi dalam hitungan detik sudah
berpindah ke piring yang ada di tanganku.
Namun hal itu berbanding terbalik
dengan sang pujaan hati di sisiku, tidak banyak dia mengambbil entah karena ngak
doyan atau kebelet Pup, sepertinya yang terakhir yang membuatnya tidak kalap.
Semakin spesal dengan sajian minuman Laser dengan gelas biasa hingga gajah,
Laser adalah minuman dengan campuran gula jawa, sereh, jeruk nipis, dan
beberapa rempah rempah di dalamnya, yang tentu saja semakin menambah kehangatan
malam itu. Sebuah meja bundar di pojok pendopo kami pilih untuk segera dengan
lahap menghabiskan makanan yang kami bawa. Suasana Jogja begitu kental disitu,
begitupun hal mistisnya namun semua tidak mempengaruhiku ketika bersama Ratna,
kalau sendiri lain cerita broooo..
Selepas
perut terisi, kami melanjutkan petualangan kami dengan mengunjungi lokasi yang
sudah sangat membahana di Jogja, apalagi kalu bukan Beringin Kembar alun-alun
selatan #JengJeng. Letaknya yang tidak jauh Pendopo Ndalem dan suasa malam di
alun-alun selatan tersebut menjadi penarik minat kami untuk menghampirinya.
Kamipun memarkir motor kami di tempat parker yang telah di sediakan, sepanjang
mata memandang alun alun tersebut di penuhi dengan cahaya lampu beraneka ragam
yang bersumber dari sepeda yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga membentuk
mobil VW, motor dll.
Kami
memilih untuk melihat mitos yang berkembang di antara pohon beringin tepat di
tengah alun-alun tersebut, konon katanya sangat susah untuk dapat melalui jalan
di antara 2 buah beringin kembar tersebut. Kami mendekati sekitaran beringin
tersebut, sontak sesekali kami tertawa memperhatikan kelakuan orang-orang yang
mencoba melaluinya. Ada yang dengan PDnya berlari namun tidak tepat sasaran,
ada yang dengan langkah pelan namun berputar, bahkan ada yang hanya bisa
menertawakan apa yang mereka tonton tanpa mau mencobanya, dan yang terakhir itu
adalah KAMI, ya KAMI.
Namun
keteguhan hati kami pun luluh ketika satu sama lain diantara kami saling
mendorong untuk mencoba. Dan kamipun mencoba, pengen tau hasilnya.. kami
sama-sama tidak ada yang berhasil, makanya jangan congkak dan sukanya
menertawakan orang lain tanpa benar-benar mengalaminya sendiri. Termaksud
kalian yang membaca ini. Sesudah cukup puas dengan kebodohan tertunda kami,
akhirnya kami melih untuk mengitari alun-alun dengan sepeda modifikasi
berbentuk mobil yang kami sebutkan sebelumnya dengan penuh berkomitmen, kami
akan mengayuhnya bersama. Catat bagian bersama ini karena selanjutnya hanya
akan di temukan salah satu saja yang mengayuh karena tidak kuat.
Satu
putaran sudah sangat cukup membuat kami lelah, namun tidak untuk perut kami eh
Ratna saja. Ketika proses mengitari tadi, ketika kedua kaki mengayuh namun mata
kekasih hatiku ini tidak bisa melewatkan yang namanya Ice Cream Pot, dan itulah
pilihanya ketika kendaraan kami harus ditarik kembali karena sewa dan
perjanjiannya habis. Ratna memilih ice cream tersebut bukan tanpa alasan,
pengalamannya yang konon katanya PENCINTA ice cream se KOTA TANGGERANG pernah
mencicipi jenis es tersebut, so untuk membandingkan dan mengharapkan rasa yang
sama dengan terakhir ketika dia mencobanya. Namun apa yang terjadi, semua
berbeda yang kami coba rasanya, biasa saja. Namun karena lelah habis mengayuh
sepeda tadi, daun beringinpun akan enak jika kami cemil.
Selepas puas menghabiskan malam di alun-alun selatan yang merupakan malam pertama di Jogja dalam kunjungan kami ini, kami pun bertolak pulang ke Apartment untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk bangun pagi keesokan harinya demi memaksimalkan waktu liburan yang kalau dirasa akan cepat berlalu. Mandi untuk membersihkan bedan dan menyegarkan tubuh, serta balutan hangat dari dia ehh bedcover maksudnya menjadi kompilasi sempurna pengantar kami ke dunia mimpi.
(Continue)