Senin, 30 Mei 2016

Kita di Yogya dan Solo



Agak sulit menceritakan dengan sangat detail moment liburan yang telah terjadi beberapa minggu lalu kedalam tulisan, namun aku akan mencoba menuliskannya agar menjadi cerita yg indah untuk di kenang nantinya ke dalam beberapa part semoga dapat ikut terbawa dengan caraku menuliskannya yang terkesan berantakan

Liburan bersama akhirnya dapat terwujud antara Aku dan Ratna, kebersamaan yang di pertemukan dalam tumpukan rindu dan tempat yang baru serta suasana yang berbeda.
Akhirnya aku kembali ke Jogja, kota yang mendidik aku menjadi sarjana komunikasi kurang lebih hampir 5 tahun yang barang tentu durasi selama itu membuat aku masih dapat mengingat dengan jelas setiap sudut Jogja. Dan saat ini aku akan menunjukan itu ke Ratna, orang yang special buatku saat ini. Mungkin akan banyak tempat yang sudah pernah aku kunjungi, namun dengan orang yang special semua akan berbeda pula.

Liburan kejepit Nyepi beberapa waktu lalu, membuatku harus memanfaatkan sisa cuti yang ada untuk bertemu kangen dengan pacar sekaligus melepas penat pekerjaan, dan Jogja menjadi salah satu tempat pilihan yang realistis, disamping sudah cukup aku kuasai biaya hidup disana lebih murah yang berarti rekening bank tidak di bobol dengan cukup dalam, meskipun nantinya akan bobol juga.

8 Maret 2016 malam, aku kembali menginjakkan kaki di jogja. Gerimis mengantarkanku meninggalkan Bandara Adi Sucipto menuju rumah teman seperkampusan semasa di Jogja, dan hal ini bertepatan dengan moment ulang tahunnya yang akan jatuh keesokan hari. Sebut saja namanya Akbar, tinggi semampai badan berotot lemak namun tetap tampan dengan sedikit tai lalat permanen di wajahnya. Aku akan menginap semalam di rumahnya yang dapat dikatakan rumahku juga karena ketika kuliah intensitas menginapku disana sangat tinggi.

Sembari melepas rindu kami berkeliling Jogja melihat sisi jogja di waktu malam sembari membandingkan dengan terkhir kali aku mengunjunginya. Lama tidak ngobrol mengenai beberapa isu hangat dan kemajuan jaman, sebuah coffeshop di sekitaran seturan menjadi tempat pemberhentian kami setelah beberapa tempat lain ternyata tutup lebih awal entah karena keesokan harinya tanggal merah atau memang jam operasionalnya tidak lebih dr jam 11.

Tidak terasa obrolan hangat dengan Akbar membawa kami hingga pukul 2 pagi yang mengharuskan kami pulang ke rumah dan beristirahat, dari pada aku di marahi Istrinya karena mengajarkan pulang pagi, hehehe. Sesampai di rumah sebuah kado kecil yang aku persiapkan aku berikan langsung kepada Akbar, sebuah buku yang berisi hal-hal yang menarik yang sudah pasti dia suka, sebuah pelukan hangat dari sahabat karib mengakhiri pagi itu, dan siap menyambut kedatangan Ratna.

Day 1
Sudah biasanya ketika telah membuat janji dengan seseorang, terlebih dia adalah pacar sudah pasti alarm kalah cepat di bandingkan dengan alam sadarku, itulah yang terjadi. Ragaku terbangun beberapa jam sebelum waktu menjemput tiba, sang tuan rumah telah menyiapkan bubur dan the panas untuk menu sarapan, serta mempersiapkan sebuah motor dan 2 buah helm yang nantinya akan aku pakai berkencan selama di sana, walaupun motor tanpa STNK tapi aku tetap bersyukur masih di berikan pinjeman, dari pada harus menyewa yang tentunya akan membebani dompet.

Jeng Jeng… Petir menyambar, angina bertiup kencang, daun daun berguguran ketika Ratna menginjakkan kaki di Jogja (tapi ini bote).

Dua buah permen karet yang bergumul intim dengan lidah dan gigi aku menemaniku di terminal kedatangan, sesekali mengecek HP untuk memastikan ada telpon dan memperhatikan televisi informasi yang memberitakan kedatangan pesawat. Sebuah kertas A4 telah aku persiapkan di kantong celana yang aku telah print sebelumnya dari Balikpapan, yang bertuliskan nama Ratna namun dengan identitas kantor yang berbeda (sudah mirip penjemput hotel di bandara, namun lebih ketje saya dikit).

Kaca bandara yang sedikit transparan karena tidak pake daleman, membuat aku cukup bisa memperhatikan siapa saja yang akan keluar dari pintu kedatangan, begitupun orang di dalam yang cukup mudah memperhatian siapa saja yang ada di depan penjemputan, terlebih aku berdiri tidak jauh dari pintu keluar dengan menenteng sebuah kertas A4.

Dia menemukanku.. dan aku menemukannya.. Inilah Cinta. (#Teet salah, namanya juga kelihatan ya pasti bisa menemukan)

Ada yang berbeda darinya, rambut sudah tidak terurai panjang namun masih merangkul bahunya. She’s look more fresh and more cute. Ini bukan efek lama ga bertemu, namun sedikit perubahan kecil bisa berdampak besar buat orang lain, dan ini yang aku alami. Namun apapun bentukkannya aku tetap Cint….. #KemudianSinyalHilang

Jangan berharap ada yang romantis ketika kami bertemu, yang ada saling senggol yang bermakna dia malu dengan kertas yang aku bawa. Baiklah beberapa lipatan membuatnya masuk kembali ke kantong celana aku, dan rangkulan kecilku menggiringnya ke arah parkiran Mobil Motor, dan kami bersiap menuju ke penginapan di seputaran Seturan, sebuah apartment yang menurut referensi di Traveloka cukup enak untuk tempat menginap dengan harga yang cukup terjangkau, disamping itu apartment ini tidak ada ketika saya terakhir meninggalkan jogja, jadi tidak ada salahnya coba-coba.

Sesampai di Apartemnt, kami belum bisa melakukan check in dikarenakan masih harus menunggu hingga jam 2 siang dan belum ada kamar yang ready. Its okay buat kami, dengan menitipkan beberapa tas, kamipun mulai mencari makanan untuk mengisi perut pacar saya yang sedari pagi belum makan nasi. Setelah selesai makan, kami berniat untuk menukar kendaraan yang kami pakai dengan kendaraan yang memiliki STNK untuk memberi rasa aman dan menghindari Tilang, namun kami harus mencari pinjaman kendaraan ke rumah Ade yang baru yang belum pernah aku kunjungi. Dengan mengunjungi Tatas (sodara Ade) kami mendapatkan ancer-ancer untuk ke sana.

Emang dasar otak genius, dengan begitu banyak perempatan dan patokan-patokan yang diberikan akhirnya kami menemuan rumahnya, dengan sedikit kesasar dan memakan banyak pulsa untuk menghubungi beberapa rekan yang lain untuk mengarahkan, termaksud yang punya rumah.

Kamipun di sambut hangat, Keluarga Ade sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri, begitu banyak bantuan mereka ketika aku menempuh kuliah di Jogja, disamping Ade adalah salah satu teman akrab dari SMA. Semakin hangat ketika aku membawa wanita untuk diperkenalkan, dan sudah pasti beberapa guyonan semakin menghangatkan suasana. Beberapa jajanan pasar disajikan kepada kami, cukup merepotkan ternyata kedatangan kami, sudah di sodorin makanan, pun ujung-ujungnya tuker motor. Dan kamipun diberikan. ASIK!!! Kami pun akan merasa aman jika berpergian nantinya. Selepas itu, tidak terasa sudah jam 2. Dan kami harus kembali ke Apartment dan melakukan check ini, ketika sudah mendapatkan kamar, mandi adalah pilihan terbaik dengan merebahkan badan sesaat setelahnya.

Dan kamipun memulai petualangan di Jogja.

Niat merebahkan badan sesaat ternyata menimbulkan dampak buruk, yaitu kebablasan. Nikmatnya dekapan kasur dikala lelah menjadi pemicu kebablasan, dan waktu menunjukkan pukul 5 sore. Sudah terlalu sore untuk mencoba mengunjungi Taman Sari yang masuk dalam rencana hari itu, sehingga kami pun merubah rencana. Pasca bangun, tentu saja badan butuh asupan gizi, mencari makanan yang lezat mungkin bisa menaikkan mood, dan aku memilih membawa Ratna ke Warung Steak. Bukan tempat yang sangat Jogja banget, namun memiliki citarasa Wah ketika era kuliah dahulu dan ide aku di sambut positif dengan tentunya jawaban “Terserah, aku ikut kamu aja”. So Lets Go come on deh meluncur.

Warung Steak Kolombo dan Kita
Sebuah restoran yang disekitarnya di kelilingi distro di seputaran Colombo menjadi tempat pemberhentian kami, kami memilih lantai 2 yang tidak terlalu padat dengan konsumen disamping mendapatkan view yang lumayan. Memesan beberapa menu andalan, jangan tanya apa karena sudah pasti warung Steak menu spesialnya adalah Batagor, tentu Steak lhaaaa!! Sirloin Steak menjadi pilihanku, dan tentu saja wanita di hadapanku memesan CHICKEN steak yang sudah sangat jelas dia adalah penggila ayam, termaksud ayam gelonggongan hingga ayam hasil persilangan antara ayam jantan dengan ayam jantan (temukan jika ada), segelas es teh dan milkshake beserta air mineral menjadi pelengkap hidangan kami.

Sambil menunggu hidangan datang, layaknya pria Romantis pada umumnya , aku memandang wanita tercantik di dunia yang sekarang di hadapanku dengan tatapan mesum  mesra, sesekali tangaku menyentuh tangannya untuk menggengam lembut namun di tolak karena tangan aku ngak lembut. Kami pun bercerita banyak hal dari kerjaan, update gossip terkini, hingga apa saja yang aka di beli dan di kunjungi selama liburan ini. Perlu dicatat, kami menghindari untuk berbicara politik dan olahraga dikarenakan kami bukan olahragawan dan politikus.

Makanan datang, kami pun mulai meracik masing-masing sesuai dengan selera, ada yang dengan saus lebih banyak, maupun dengan nasi yg lebih banyak. Sembari makan, cerita seru berkali-kali meluncur dalam obrolan kami, bahkan tanpa terasa makanan kami pun habis namun kami masih asik bercerita. Entah berapa banya orang yang telah berganti di kursi sekitar kami, namun kami masih bertahan. Itulah CINTA, teeeettt bukan itulah Rindu, teeeeeet juga bukan.. Itulah kalo kami telah menemukan topik menarik yang kudu harus dihabiskan hingga tuntas, karena kami berdua sangat Kepo.

2 jam berlalu, mataharipun sudah tidak tampak dan berganti dengan rembulan. Kami memutuskan untuk melanjutkan malam dengan berpindah tempat, keasikan ngobrol membuat kami kembali lapar dan aku merekomendasikan suatu tempat di sekitaran keratin yang konon katanya dahulu di pakai oleh Sultan untuk tempat makan, yaitu Pendopo Ndalem.

Pendopo Ndalem, Alun-Alun Kidul dan Kita
Letaknya selemparan batu dari pasar Ngasem, sebuah gapura besar menyambut kami dengan Halaman yang luas dan dijadikan juga sebagai area parker di dalamnya. Sebuah pendopo dengan meja bulat besar dengan hiasan-hiasan khas kraton tertata rapi di dalamnya. Aneka jajanan tradisional bertebaran di sebuah meja di sudut pendopo, disini lebih banyak menyediakan jajanan pasar dan makanan konon katanya kesukaan Sultan, dengan mengambil sendiri apapun itu di atas piring anyaman dengan lapisan kertas di atasnya. Jajanan sebanyak itu membuatku gelap mata, olahan tape, onde-onde, dan beberapa lagi dalam hitungan detik sudah berpindah ke piring yang ada di tanganku. 

Namun hal itu berbanding terbalik dengan sang pujaan hati di sisiku, tidak banyak dia mengambbil entah karena ngak doyan atau kebelet Pup, sepertinya yang terakhir yang membuatnya tidak kalap. Semakin spesal dengan sajian minuman Laser dengan gelas biasa hingga gajah, Laser adalah minuman dengan campuran gula jawa, sereh, jeruk nipis, dan beberapa rempah rempah di dalamnya, yang tentu saja semakin menambah kehangatan malam itu. Sebuah meja bundar di pojok pendopo kami pilih untuk segera dengan lahap menghabiskan makanan yang kami bawa. Suasana Jogja begitu kental disitu, begitupun hal mistisnya namun semua tidak mempengaruhiku ketika bersama Ratna, kalau sendiri lain cerita broooo..

Selepas perut terisi, kami melanjutkan petualangan kami dengan mengunjungi lokasi yang sudah sangat membahana di Jogja, apalagi kalu bukan Beringin Kembar alun-alun selatan #JengJeng. Letaknya yang tidak jauh Pendopo Ndalem dan suasa malam di alun-alun selatan tersebut menjadi penarik minat kami untuk menghampirinya. Kamipun memarkir motor kami di tempat parker yang telah di sediakan, sepanjang mata memandang alun alun tersebut di penuhi dengan cahaya lampu beraneka ragam yang bersumber dari sepeda yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga membentuk mobil VW, motor dll.

Kami memilih untuk melihat mitos yang berkembang di antara pohon beringin tepat di tengah alun-alun tersebut, konon katanya sangat susah untuk dapat melalui jalan di antara 2 buah beringin kembar tersebut. Kami mendekati sekitaran beringin tersebut, sontak sesekali kami tertawa memperhatikan kelakuan orang-orang yang mencoba melaluinya. Ada yang dengan PDnya berlari namun tidak tepat sasaran, ada yang dengan langkah pelan namun berputar, bahkan ada yang hanya bisa menertawakan apa yang mereka tonton tanpa mau mencobanya, dan yang terakhir itu adalah KAMI, ya KAMI.

Namun keteguhan hati kami pun luluh ketika satu sama lain diantara kami saling mendorong untuk mencoba. Dan kamipun mencoba, pengen tau hasilnya.. kami sama-sama tidak ada yang berhasil, makanya jangan congkak dan sukanya menertawakan orang lain tanpa benar-benar mengalaminya sendiri. Termaksud kalian yang membaca ini. Sesudah cukup puas dengan kebodohan tertunda kami, akhirnya kami melih untuk mengitari alun-alun dengan sepeda modifikasi berbentuk mobil yang kami sebutkan sebelumnya dengan penuh berkomitmen, kami akan mengayuhnya bersama. Catat bagian bersama ini karena selanjutnya hanya akan di temukan salah satu saja yang mengayuh karena tidak kuat.

Satu putaran sudah sangat cukup membuat kami lelah, namun tidak untuk perut kami eh Ratna saja. Ketika proses mengitari tadi, ketika kedua kaki mengayuh namun mata kekasih hatiku ini tidak bisa melewatkan yang namanya Ice Cream Pot, dan itulah pilihanya ketika kendaraan kami harus ditarik kembali karena sewa dan perjanjiannya habis. Ratna memilih ice cream tersebut bukan tanpa alasan, pengalamannya yang konon katanya PENCINTA ice cream se KOTA TANGGERANG pernah mencicipi jenis es tersebut, so untuk membandingkan dan mengharapkan rasa yang sama dengan terakhir ketika dia mencobanya. Namun apa yang terjadi, semua berbeda yang kami coba rasanya, biasa saja. Namun karena lelah habis mengayuh sepeda tadi, daun beringinpun akan enak jika kami cemil.

Selepas puas menghabiskan malam di alun-alun selatan yang merupakan malam pertama di Jogja dalam kunjungan kami ini, kami pun bertolak pulang ke Apartment untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk bangun pagi keesokan harinya demi memaksimalkan waktu liburan yang kalau dirasa akan cepat berlalu. Mandi untuk membersihkan bedan dan menyegarkan tubuh, serta balutan hangat dari dia ehh bedcover maksudnya menjadi kompilasi sempurna pengantar kami ke dunia mimpi.

(Continue)