Ada hal menarik yang saya temukan Pagi ini,
Dalam perjalanan, Hujan rintik-rintik menemani saya menyusuri aspal hitam yang akan mengarahkan saya ke tempat saya bekerja. Rintik hujan membuat saya harus lebih waspada dalam berkendara untuk meminimalisir resiko kecelakaan atau saya tidak ngebut seperti biasanya. Di sebuah jalanan lurus yang sedikit menanjak sebelum Kantor Pajak, kira-kira 50 meter di depan saya melihat sebuah motor matic di kemudikan oleh seorang bapak dengan membonceng anaknya, sepertinya untuk pergi bersekolah karena saya dapat mengidentifikasikannya dari pakaian yang di kenakan si anak. Si bapak menggunakan helm sedangkan si anak tidak, hanya sebuah topi berwarna merah yag menutupi kepalanya.
Pada saat itu jalanan belum terlalu ramai, mungkin gerimis sedikit memperlambat masyarakat Balikpapan untuk berangkat ke Kantor sehingga saya yang penuh dengan kewaspadaan dalam menyetir cukup memperhatikan hal-hal di depan saya termaksud bapak dan anak ini.
Motor yang di pacu si Bapak tidak terlalu kencang, sekira 40 km/jam. Tiba-tiba topi sang anak mendadak terlepas dari kepala sang anak, mungkin dipengaruhi oleh angin dan topi tersebut dipasang longar oleh si anak. Tentu saja kejadian ini membuat si bapak dengan segera berhenti ketika sang anak menepuk2 bapaknya dari belakang yang menandakan ada sesuatu.
Topi tersebut jatuh tidak jauh dri motor yang mendadak di hentikan oleh sang ayah, hanya saja gerimis hujan membuat semuanya menjadi lebih drama.
Disinilah hal menariknya..
Ketika motor di hentikan dan di standard oleh si bapak, dengan helm masih menempel di kepala si bapak berlari kecil menuju topi itu, si anak yang ikut turun dari motor hanya memperhatikan dari sisi motor.
Si bapak berlari kecil dengan senyum ke arah topi tersebut, dan ketika topi tersebut di dapatkannya beliau menunjukkannya kepada anaknya. Seketika itu juga sang anak tersenyum, kemudian drama berlanjut. Si ayah kembali dengan berlari kecil menuju si anak, dan Si anak menirukan cara berlari kecil si bapak di sisi motor sambil tersenyum ceria. Mereka berdua tersenyum, dapat saya pastikan itu senyum ceria dan bahagia pagi itu meskipun menurut saya itu musibah.
Bisa saja si bapak marah, memukul anaknya, menunjukkan muka bete dan kesal ketika mengambil topi yang terjatuh itu, bahkan di bawah gerimis di tepi jalan besar. Namun tidak di sangka Senyum bahagialah yang terpancar dari keduanya, lari-lari kecil sang ayah dan di tiru oleh si anak dengan senyum yang bertemu dilengkapi dengan pancaran mata bahagia, saya dapat membaca itu semua.
Sederhana…
Moment yang terjadi cukup cepat tersebut dapat tertangkap jelas oleh mata saya. Tanpa ada kata-kata, hanya gestur tubuh dan senyum, dapat berbicara banyak kepada saya pagi itu.
Saya kemudian tersenyum.. Terima kasih untuk moment itu.
Balikpapan, 07 Agustus 2014
-Niko-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar