Rabu, 08 Oktober 2014

Menolak Seragam untuk Pembantu

Entah mengapa, cukup sedih melihat pembantu rumah tangga atau beby sitter ketika keluar rumah atau ke area publik di haruskan majikkannya menggunakan pakaian yg menunjukkan bahwa dia "pembantu". Why? Petualangan ke Jakarta kemarin yang membuat aku kembali memikirkan hal ini.

Saya memang bukan berada di keluarga yang berada, jangankan pembantu, makan saja kudu melalui perjuangan, mungkin ini yang membuat saya sedikit lebih sensitif jika ada orang terlebih yang berkecukupan memperlakukan orang lain yang keadaan ekonominya berada di bawah dengan tidak sepantasnya. Tidak sepantasnya disini tentu masih dalam taraf manusiawi.

Seperti halnya perlakuan terhadap pembantu, dalam hal ini saya lebih concern kepada bagaimana seorang majikkan memperlakukan pembantu dengan membedakan cara berpakaiiannya.

Mungkin sebagian orang menilai tidak ada yang salah jika pembantu di berikan seragam pembantu, bukankah itu masih menggunaklan pakaian?? dan bukannya majikan sudah cukup baik dengan memberikan baju, dan yang terpenting tentu saja di gaji dengan pantas?? Bagaimana jika pembantu tersebut justru nyaman dengan pakaian seragam identitas itu??

Ya, terserah setiap orang mau ngomong apa, namun saya tetap tidak setuju.

Mengapa sebagai majikkan tidak memberikan pakaian sama dengan yang di gunakan sebagian orang,atau pakaian keseharian dan bukan seragam?? apakah karena harganya mahal?? atau justru pakaian identitas harganya lebih mahal??

Pernah di tanyakan kepada pembantu kalian, apakah mereka ingin menggunakan baju yang lebih universal?? Tanyakan juga apakah mereka nyaman dengan baju seragam itu??

Sepengelihatan dan sepengetahuan saya, keluarga yang menggunakan jasa pembantu biasanya mereka yang super amat sibuk sehingga sedikit memiliki waktu untuk anak mereka, dan pembantu inilah yang menghabiskan banyak waktunya dengan si anak, sehingga kedekatan emosional si anak dengan pembantunya lebih besar dari pada dengan orang tuanya sendiri.

Kembali ke persoalan pakaian seragam tadi, Mohon saran saya di implementasikan. Jujur, saya tidak respect ketika sebuah keluarga membedakan cara berpakaian dengan pembantunya di tempat umum. dari cara berpakaian saja sudah membeda-bedakan bagaimana dalam perlakuan yang lain.

Come on, apakah malu jika jalan bersama pembantu yang ikut berjasa membesarkan anak anda jika dia menggunakan pakaian yang universal?? Justru harusnya bangga, dan tunjukkan bahwa dia BUKAN PEMBANTU namun bagian dari KELUARGA anda.

Tunjukan itu.

Balikpapan, 08 October 2014
-niko-

Kamis, 18 September 2014

Belajar dari Kekecewaan

Adi, merupakan seorang pemain bola yang memiliki bakat yang luar biasa, maka tidak salah jika saat ini dia bermain di sebuah klub populer di salah satu kota besar di Negaranya. Dia menyukai sepak bola awal mulanya dikarenakan fantasinya untuk dapat menyamai pemain sepak bola Favoritnya yaitu Steven Gerard.

Sejak bangku sekolah dia terus berlatih bersama-teman-temannya secara rutin, yang mengakibatkan para pencari bakat melirik kemampuannya mengolah si kulit bundar, dan sebuah klub terbaik di Negaranya menaarik dia ketika usianya cukup matang untuk menandatangani kontrak untuk bermain bagi mereka.

Adi merupakan pemain serba bisa berbakat, berbagai posisi mampu dimainkan olehnya dari pemain belakang, gelandang hingga penyerang namun dia selalu memiliki hasrat untuk dapat bermain sebagai playmeker seperti idolannya. hampir 3 tahun dia bergabung di klub tersebut namun tidak pernah sekalipun dia mengisi posisi idamannya, sampai akhirnya suatu hari Pelatih mengetahui keinginannya tersebut dan mencoba memaninkannya di posisi tersebut.

Selama 3 tahun bermain, permainan Adi sungguh baik dan sepanjang waktu itu pula banyak tawaran dari berbagai klub lain dengan tawaran salary yang lebih besar untuk segera meminangnya, namun kesetiaannya dengan klub pertamannya ini yang membuatnya menolak segara tawaran itu.

Pelatih klub ini awal mulanya memiliki pola permainan yang menggunakan playmeker, karena di klub tersbut telah memiliki seorang playmeker yang sudah cukup senior dan disegani, sehingga posisi ini selalu milik orang tersebut, sampai suatu waktu playmeker tersebut harus meninggalkan klub ini untuk bergabung dengan klub lain, sehingga posisi playmeker ini kosong, dan Pelatih berjanji bahwa untuk turnamen internasional nanti Adi akan di coba untuk mengisi posisi tersebut.

Janji yang terucap dari Pelatih membuat Adi terlecut semangatnya, hari demi hari dai lalui dan mempelajari bagaimana playmeker seharusnya bekerja di dalam team. Awal mulanya Adi sedikit bingung namun seiring jalannya waktu dia akhirnya memahami dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik, dan Pelatih mempercayakan Adi untuk mengisi posisi itu, hingga Babak Final turnament tersbut mampu di tembus mereka.

Satu hal yang selalu di rindukan oleh Adi adalah dapat berkumpul bersama keluarga besar dan keluarga kecilnya setiap saat. Saat ini dia berada di Klub yang berdomisili cukup jauh dari kampung halamannya, sehingga intensitas bertemu dengan keluarga sangat jarang.

Bagai gayung bersambut, menjelang final Adi mendapatkan tawaran dari klub besar di Kota kelahirannya. Hal ini membuat kesetiaannya goyah. Hal ini disampaikannya kepada Pelatih dan Pelatih dapat mengerti mengenai dan mengijinkan dia untuk pindah klub untuk lebih dekat dengan keluarga.

Babak final akan menjadi pertandingan terakhirnya bagi klub yang telah sangat besar mengembangkan potensi dan karirnya, maka tidak heran Adi sedemikian keras mempersiapkan yang terbaik di babak final itu, bahkan berkali-kali lebih keras dari biasanya hanya untuk PERSEMBAHAN TERAKHIRNYA.

Hari Final telah tiba, semuanya telah siap terlebih ADI...

Namun, beberapa menit menjelang kick off, pelatih merubah pola permainan dan formasi dengan alasan klub lawan menggunakan formasi yang sama dan akan efektif jika menggunakan formasi yang berbeda. Dengan kebijakkan ini Adi tidak bermain dan hanya akan mengisi bangu cadangan.

Detik demi detik, menit demi menit waktu yang berlalu sepanjang pertandingan Final ini, tidak membuat Pelatih berpaling untuk memainkan Adi di pertandingan penting yang juga merupakan pertandingan terakhirnya untuk Klub ini.

Dan, ketika pluit akhir di bunyikan. Klub Adi keluar sebagai pemenang dan berhak untuk Mengangkat Piala yang sangat Prestis untuk sebuah turnamen Sepak Bola.

Raut muka Adi tidak dapat menutupi kekecewaannya, berbanding terbalik dengan apa yang rekan-rekannya lakukan untuk merayakan kemenangan itu.

Pelatih menghampiri Adi dan berkata : "Adi, inilah persembahan terakhir Kami untuk kamu. Sebuah piala kemenangan"

Adi hanya tersenyum simpul dan mengucapkan "Terima Kasih"

Hati Adi penuh dengan kekecewaan, sangat kecewa bahkan. apa yang telah dia persiapkan untuk penampilan terakhirnya menjadi sia-sia hanya beberapa menit menjelang pertandingan itu. Ingin rasanya dia bertanya kepada Pelatih mengapa?? Ijinkanlah dia tampil untuk terakhir kalinya.

Piala yang dia dapat tanpa perlu berkeringat, hanya dengan menyaksikan team-temannya bermain itu tidak berarti. Dia ingin berkeringat dan berdarah untuk bertandi di pertandingan ini, meskipun dia tidak menjadi Juara.

Adi kecewa..
Sangat kecewa..

Namun seorang teman yang baru dikenalnya tidak lama, namun mengetahui perjuangan Adi untuk tampil terakhir kalinya menghampirinya dan berkata, "Jangan Kecewa kawan, saya tau perjuanganmu. tanpa kamu harus bertanding di Final kami tau apa yang telah kamu kerjakan untuk klub ini sepanjang kamu berada di sini. Persiapkan dirimu dengan lebih baik di klub baru kamu. jadikan Kekecewaan ini sebagai vitamin, untuk membuatmu lebih tangguh dan lebih baik di Klub baru."

Seketika itu pula senyum merekah di bibirnya.

Adi Berkata..
Terima kasih kawan,
Terima kasih pak Pelatih untuk kesempatan dan ilmu yang kamu berikan selama ini kepadaku.
Dan..
Terima Kasih atas kekecewaan ini. 


*For My Brother : Give me high Five Brother and Sukses disana

Balikpapan, 18 September 2014
-niko- 

Rabu, 10 September 2014

Ilmu Kehidupan dari Kursi Pesawat

Hari kamis lalu, sehabis pulang kerja saya siap berangkat untuk menghadiri pernikahan rekan seperjuanagan dari masa SMA di Jogjakarta, namun saya mengambil cuti 1 hari untuk terlebih dahulu menyabangi kawan saya di Surabaya yang akan bersama dengan saya mengahadiri pernikahan itu.

Tidak banyak barang yang saya bawa, hanya sebuah tas samping yang berisikan 2 potong pakaian dan sebuah baju batik untuk acara dan sepatu, dan tentunya beserta pelindung onderdil bagian dalam yang biasa kita sebut sempak *abaikan*.

Ini kali pertama saya berangkat melalui bandara baru di kota Balikpapan, dan saya cukup kagum juga kota saya punya bandara yang semegah ini. Tidak adanya bagasi sangat membatu saya juga untuk menambah kerjaan dan waktu saya menunggu bagasi di bandara Juanda Surabaya yang juga katanya sangat besar.

Sebagai lelaki normal dan masih mencari pendamping hidup, moment keberangkatan menggunakan meskapai anak perusahan Garuda ini selalu menyisakan harapan agar dapat duduk bersebelahan dengan wanita cantik, baik dan JOMBLO. namun keinginan mulia bagi saya ini selalu dan selalu berakhir dengan kegagalan, termaksud kali ini.

Memasuki ruang tunggu, saya menerawang ke segala penjuru arah untuk menemukan seorang wanita yang keniko-nikoan, at least dia wanita dan sendirian namun juga Gagal. Ada seorang wanita yang berparas cantik dan menggunakan kacamata, saya mengambil kursi tepat di sisi wanita tersebut dengan hanya dipisahkan oleh beberapa barang yang akan wanita tersebut bawa ke bagasi. Naluri pria saya mulai jalan, mencoba sedikit berdehem, mencoba melirik namun tidak berhasil, rupanya si wanita terlalu asik bermain dengan HP di tangannya, hingga tiba-tiba datang seorang iu yang ternyata orang tua dari wanita tersebut. Dengan menyingkirkan tumpukan barang yang memisahkan kami, ibu tersebut kemudian duduk di tepat di antara kami.

Bukan hal yang sulit untuk memulai pembicaraan dengan orang yang lebih tua, disamping sang ibu bukan orang yang doyan bermain gadget, naluri manusia sebagai makhluk sosial tentu saja semakin mempermudah. sodoran permen mengawali obrolan kami sembari menunggu panggilan untuk naik ke pesawat, cukup banyak hal yang kami obrolkan dari hal-hal sepele seperti nama dan tinggal dimana, apa yang dilakukan di balikpapan dll, hingga obrolan serius seputar kehidupan perkuliahan yanng mana anaknya juga sedang akan menyelesaikan tugas akhirnya di Surabaya.

Setidaknya harapan saya untuk mendekati anaknya bisa saya lanjutkan, dikarenakan si ibu sangat baik dan menyenangkan untuk di ajak berbicara, hingga pada suatu pertanyaan sang ibu menjawab bahwa suaminya adalah Pendeta. seketika itu juga naluri setan dalam diri saya meronta dan rontok seketika, dan akhirnya saya mengurungkan niat untuk dapat mendekati calon pujaan hati, bukan karena saya terlalu brengsek, hanya saja merasa kurang layak disamping si doi manis binggiit, saya keren bingit, bukan paduan yang sepadan saya kira. heheheh

Panggilan untuk segera naik ke pesawat mengakhiri obrolan kami, dan masih berharap kursi kami berada dalam barisan yang sama sehingga dapat meneruskan obrolan-obrolan sepanjang perjalanan. Namun takdir berkata lain, kami berbeda row dan saya. ketika duduk di seat saya berharap akan ada wanita yang menemani saya sebagai teman ngobrol, mentok-mentok sebagai pacar, semuanya buyar ketika 2 orang pria berumur mencocokkan apa yang tertulis di boarding pass dengan nomer kursinya, dan Merekalah yang beruntung menemani saya.

Awalnya saya telah mempersiapkan headset untuk menemani saya selama perjalanan jika kemunginan tidak duduk dengan wanita kinyis kinyis, tapi hal itu tidak terjadi karena sedari awal si bapak itu duduk mengajak ngobrol saya dengan ramah, dan saya pun melayani obrolan bapak tersebut.

Pak Mahfud, demikian beliau memperkenalkan namanya kepada saya. Rambut putih yang sedikit demi sedikit mulai menunjukkan dirinya di kepala beliau menunjukkan betapa beliau ini sudah berumur. Obrolan di mulai dengan pertanyaan ada keperluan apa saya ke surabaya, hingga pertanyaan saya bekerja dimana, dan pertanyaan pekerjaan ini yang semakin mendekatkan obrolan kami.

Beliau ternyata pensiunan dari perusahaan yang sama dengan saya tahun 2003, bisa di bayangkan berapa umur beliau saat saya menjumpainya kala itu. Namun tampilan beliau tidak menunjukkan usia yang telah lanjut tersebut, pancaran kesegaran dari wajah beliau,dan rambut yang masih dominan warna hitam, hingga beliau menyadarklan saya ketika mengungkapkan bahwa beliau telah memiliki 12 cucu, diiringi kekagetan dari saya.

Luar biasa..

Beliau menjelaskan cara hidupnya ketika muda dulu, dan membagi banyak ilmu yang tidak di pelajari di bangku pendidikan diantaranya terkait pasangan hidup. #Jeng

Beliau memberikan nasehat, untuk mencari seorang istri carilah yang benar-benar bisa mengatur keuangan, disamping dia baik dan soleha. Banyak rekan kerja beliau yang bergaji sangat besar namun tetap saja tidak bahagia, karena pengeluaran istrinya sangat besar dan jor-joran sehingga mempengaruhi kehidupan keluarganya. Beliau menganalogikan dengan pepatah jawa yang kurang lebih berarti mencari tempat menyimpan beras yang tidak bocor pada bagian bawahnya. banyak wanita cantik saat ini, namun sangat sedikit yang bisa mngatur keuangan keluarga.

Masih banyak hal lain yang beliau sampaikan, namun saya lupa detailnya namun satu hal ini yang paling saya ingat.

Beliau menasehati saya seperti ini. Jika kita berada di lingkungan kerja tentu akan selalu berhadapan dengan permasalahan, jika permasalahan itu datang cara menghadapinya adalah menanyakan dengan rekan kerja, jika belum menyeslesaikan, tanyak kepada yang pernah menghadapinya, namun ketika mereka yang pernah mengalaminya juga belum dapat memecahkan permasalahkan itu, SERAHKAN PERMASALAHAN TERSEBUT KEPADA TUHAN, BIARKAN TUHAN YANG MEMBERIKAN JALAN DAN CARA UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH ITU. Jika telah menyerahkan kepada yang di atas, jangan lagi dipikirkan masalah itu, biarkan itu mengalir. kebanyakan orang selalu memikirkan permasalahan demi permasalah yang mengakibatkan penyakit yang tidak murah untuk menyembuhkan penyakit yang muncul hasil buah pemikiran yang terlalu berlebihan.

Dan yang terakhir 20 menit sebelum pesawat tiba di bandara Juanda, beliau kembali menasehati saya 1 hal. Janganlah kamu merasa MEMILIKI semua hal, baik itu anak, istri, barang dll. karena ketika diri kita merasa memiliki maka kesedihan yang timbul ketika barang yang kita miliki itu hilang sama besarnya dengan cinta kita kepadanya. Ini penting kata beliau.

Sebelum turun dari pesawat beliau menjelaskan tujuan beliau ke Surabaya adalah untuk ke Temanggung untuk mengunjungi adiknya yang Pagi tadi baru saja meninggal dan akan di makamkan esok hari karena menunggu beliau dan beberapa keluarga lagi.

Saya tersentak saat itu, tidak butir-butir kesedihan maupun duka dari awal beliau berbicara dnegan saya hingga saat akan turun pesawat, nasehat terkait hal memiliki tadi sangat menguatkan beliau dan juga saya.

Terima kasih pak Mahfud, sebuah petuah yang akan selalu saya ingat untuk mengarungi kehidupan saya kedepannya. dan semoga arwah adik beliau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Seturun dari pesawat saya semakin di kuatkan dan optimis menghadapi keseharian saya kedepannya dan semakin ingin menggali ilmu dari mereka-mereka yang lebih tua yang telah melalui masa seperti yang saya alami saat ini.

Senyum saya mengantarkan saya untuk siap menjelajahi Surabaya dan mempersiapkan diri untuk acara pernikahan teman saya di Jogjakarta.


Balikpapan, 10 September 2014
-Niko-

Rabu, 03 September 2014

Kantor ini Taman Hidupku

Saat-saat belakangan ini perlahan satu demi satu teman terbaik meninggalkan kota ini untuk kembali ke kota yang membesarkannya bersama dengan pekerjaan dan keluarga barunya.

Bukan kebetulan jika saya bisa berada di salah satu perusahaan multinasional cukup ternama di Balikpapan, dan bukan kebetulan pula saya bisa bertemu rekan-rekan kerja yang muda dan hebat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan suatu kebanggan bisa menjadi TEMAN buat mereka,

Berbicara mengenai TEMAN bukan hal yang mudah untuk dijelaskan namun dirasakan. Hampir sebagian waktuku saat ini berada di kantor yang mana bertemu dengan mereka setiap saat dan melakukan kegilaan dengan mereka. Bangun pagi dan berangkat kerja, pulang ke rumah sudah larut malam. sehingga waktu bersama mereka lebih banyak disamping waktu dengan Keluarga inti.

Mencari musuh itu mudah, mencari seorang teman itu susah. Saya bersyukur bisa mengenal mereka dan mereka mau menggangap saya teman.

Kantor ini saya gambarkan seperti Taman bunga, dan kami karyawan di dalamnya sebagai bunga. Taman yang indah adalah taman yang memiliki keanekaragaman jenis bunga di dalamnya, keanekaragaman yang mampu menghasilkan aroma dan warna bagi taman itu.

Taman yang tidak pernah di rawat dan di jaga dengan baik oleh pengelolanya tentu akan menghancurkan kehidupan di dalamnya. Sekuat apapun akar tanaman tersebut, jika tidak di beri air pupuk dan cahaya matahari niscaya tidak akan berbunga dengan maksimal.

Pemberian pupuk dan air yang tidak merata, hanya akan membuat sebagian tanaman saja yang berbunga dan yang lainnya LAYU.

Keanekaragaman tanaman bunga di taman ini merupakan gambaran kami, saya dan teman-teman saya.

Ada tanaman yang tanpa perlu di pupuk dapat tumbuh dan berakar, namun tidak berbunga.
Ada tanaman yang akan cepat berbunga jika di hinggapi oleh kumbang.
Ada tanaman yang tidak bisa tumbuh baik di taman ini, namun dapat tumbuh baik di taman lain yang berbeda jenis tanah dan airnya.
Ada tanaman yang tidak bisa tumbuh jika berada bersama dengan tanaman-tanaman yang tidak sejenisnya.
Ada tanaman yang selalu berbungan namun tidak memiliki akar yang kuat namun selalu mengundang pesona bagi siapapun yang melihat bunganya merekah setiap saat.
Ada tanaman yang ketika tidak sengaja terinjak dapat tumbuh lagi bahkan menjadi lebih baik.
Ada tanaman yang berbunga namun bunganya tertutup oleh keindahan tanaman yang lebih besar di atasnya.
dan banyak tanaman yang telah indah mengisi taman ini namun harus di cabut oleh orang lain untuk di berikan sebagai kado terindah maupun kejutan untuk orang yang di cintainya.
Ada tanaman yang hanya mampu menampung air di akarnya dan air tersebut dibagikan dengan rata untuk tanaman di sektiarnya untuk selalu berbunga.

dan masih banyak lagi...

Satu hal yang paling aku syukuri adalah aku pernah berada dan tumbuh di taman yang bunganya merekah pada saat yang bersamaan.

Aku akan selalu mengingat hal ini sepanjang hidupku TEMAN. dan kalian akan selalu abadi sebagai teman dan KELUARGA aku.

Balikpapan, 03 September 2014
-Niko-



Senin, 18 Agustus 2014

Kagum

Tiada yang lebih tahu siapa dia..
Sosok tertutup menurut sebagian orang yang mengenalnya namun mampu bercerita panjang dan lebar tentang dirinya kepadaku

Tiada yang lebih tahu siapa dia..
Sosok yang dingin dan pemarah menurut sebagian orang yang mengenalnya namun tampak ramah dan ceria kepadaku.

Hanya dirinya yang tau siapa dia sebenarnya.

Dia tidak perduli terhadap apapun omongan orang tentangnya
Dia hanya berprinsip tidak akan pernah mau merepotkan orang lain, sekalipun akan mempersulit dirinya sendiri
Dia sosok yang kuat
Dia sosok yang pintar
Dia sosok yang mandiri
Dia sosok yang rendah hati
Dia sosok yang lucu
Dia sosok yang ramah
Dia sosok yang cuek
Dia sosok yang mudah untuk dikagumi jika telah benar-benar mengenalnya.

Baru sekedar itu aku mengenalnya

Namun...

Saat ini aku mulai mengaguminya.


Balikpapan, 18 Agustus 2014
-niko-




Kamis, 07 Agustus 2014

Sebuah Makna Tanpa Suara

Ada hal menarik yang saya temukan Pagi ini,
Dalam perjalanan, Hujan rintik-rintik menemani saya menyusuri aspal hitam yang akan  mengarahkan saya ke tempat saya bekerja. Rintik hujan membuat saya harus lebih waspada dalam berkendara untuk meminimalisir resiko kecelakaan atau saya tidak ngebut seperti biasanya. Di sebuah jalanan lurus yang sedikit menanjak sebelum Kantor Pajak, kira-kira 50 meter di depan saya melihat sebuah motor matic di kemudikan oleh seorang bapak dengan membonceng anaknya, sepertinya untuk pergi bersekolah karena saya dapat mengidentifikasikannya dari pakaian yang di kenakan si anak. Si bapak menggunakan helm sedangkan si anak tidak, hanya sebuah topi berwarna merah yag menutupi kepalanya.
Pada saat itu jalanan belum terlalu ramai, mungkin gerimis sedikit memperlambat masyarakat Balikpapan untuk berangkat ke Kantor sehingga saya yang penuh dengan kewaspadaan dalam menyetir cukup memperhatikan hal-hal di depan saya termaksud bapak dan anak ini.
Motor yang di pacu si Bapak tidak terlalu kencang, sekira 40 km/jam. Tiba-tiba topi sang anak mendadak terlepas dari kepala sang anak, mungkin dipengaruhi oleh angin dan topi tersebut dipasang longar oleh si anak. Tentu saja kejadian ini membuat si bapak dengan segera berhenti ketika sang anak menepuk2 bapaknya dari belakang yang menandakan ada sesuatu.
Topi tersebut jatuh tidak jauh dri motor yang mendadak di hentikan oleh sang ayah, hanya saja gerimis hujan membuat semuanya menjadi lebih drama.
Disinilah hal menariknya..
Ketika motor di hentikan dan di standard oleh si bapak, dengan helm masih menempel di kepala si bapak berlari kecil menuju topi itu, si anak yang ikut turun dari motor hanya memperhatikan dari sisi motor.
Si bapak berlari kecil dengan senyum ke arah topi tersebut, dan ketika topi tersebut di dapatkannya beliau menunjukkannya kepada anaknya. Seketika itu juga sang anak tersenyum, kemudian drama berlanjut. Si ayah kembali dengan berlari kecil menuju si anak, dan Si anak menirukan cara berlari kecil si bapak di sisi motor sambil tersenyum ceria. Mereka berdua tersenyum, dapat saya pastikan itu senyum ceria dan bahagia pagi itu meskipun menurut saya itu musibah.
Bisa saja si bapak marah, memukul anaknya, menunjukkan muka bete dan kesal ketika mengambil topi yang terjatuh itu, bahkan di bawah gerimis di tepi jalan besar. Namun tidak di sangka Senyum bahagialah yang terpancar dari keduanya, lari-lari kecil sang ayah dan di tiru oleh si anak dengan senyum yang bertemu dilengkapi dengan pancaran mata bahagia, saya dapat membaca itu semua.
Sederhana…
Moment yang terjadi cukup cepat tersebut dapat tertangkap jelas oleh mata saya. Tanpa ada kata-kata, hanya gestur tubuh dan senyum, dapat berbicara banyak kepada saya pagi itu.
Saya kemudian tersenyum.. Terima kasih untuk moment itu.

Balikpapan, 07 Agustus 2014
-Niko-


Selasa, 05 Agustus 2014

Langkah Pertama

2:53 PM, penunjuk waktu di layar komputer kantor yang berukuran tidak lebih dari luas lapangan bola. disinilah akan aku mulai dengan apa yang namanya " Langkah Pertama"

Pernah menempuh perjalanan dari Italia ke Paris menggunakan kendaraan pribadi? kalau anda menjawab belum berarti kita sama. okeh, lupakan rangkaian kata di awal sekarang waktunya serius. Ini bukan soal cinta melainkan awal.

Cukup sulit untuk kembali menulis di blog ini dan inilah langkah pertama saya untuk kembali mengaktifkan kolam pemikiran dan perasaan saya ini yang telah lama berlumut untuk kembali saya beri obat agar menjadi bersih dan bisa di pergunakan kembali. Untuk menulis rangkaian kata-kata yang anda baca ini saja sulit, apalagi merangkainya menjadi sebuah paragraf yang enak di baca di pandang di endus dan di terawang.

Doakan saya untuk selalu mendapat ilham dalam menulis dari langkah pertama ini sehingga saya dapat terus melangkah dan pada akhirnya berlari dan naik pesawat jet

Balikpapan, 05 Agustus 2014
-Niko-