Hari kamis lalu, sehabis pulang kerja saya siap berangkat untuk menghadiri pernikahan rekan seperjuanagan dari masa SMA di Jogjakarta, namun saya mengambil cuti 1 hari untuk terlebih dahulu menyabangi kawan saya di Surabaya yang akan bersama dengan saya mengahadiri pernikahan itu.
Tidak banyak barang yang saya bawa, hanya sebuah tas samping yang berisikan 2 potong pakaian dan sebuah baju batik untuk acara dan sepatu, dan tentunya beserta pelindung onderdil bagian dalam yang biasa kita sebut sempak *abaikan*.
Ini kali pertama saya berangkat melalui bandara baru di kota Balikpapan, dan saya cukup kagum juga kota saya punya bandara yang semegah ini. Tidak adanya bagasi sangat membatu saya juga untuk menambah kerjaan dan waktu saya menunggu bagasi di bandara Juanda Surabaya yang juga katanya sangat besar.
Sebagai lelaki normal dan masih mencari pendamping hidup, moment keberangkatan menggunakan meskapai anak perusahan Garuda ini selalu menyisakan harapan agar dapat duduk bersebelahan dengan wanita cantik, baik dan JOMBLO. namun keinginan mulia bagi saya ini selalu dan selalu berakhir dengan kegagalan, termaksud kali ini.
Memasuki ruang tunggu, saya menerawang ke segala penjuru arah untuk menemukan seorang wanita yang keniko-nikoan, at least dia wanita dan sendirian namun juga Gagal. Ada seorang wanita yang berparas cantik dan menggunakan kacamata, saya mengambil kursi tepat di sisi wanita tersebut dengan hanya dipisahkan oleh beberapa barang yang akan wanita tersebut bawa ke bagasi. Naluri pria saya mulai jalan, mencoba sedikit berdehem, mencoba melirik namun tidak berhasil, rupanya si wanita terlalu asik bermain dengan HP di tangannya, hingga tiba-tiba datang seorang iu yang ternyata orang tua dari wanita tersebut. Dengan menyingkirkan tumpukan barang yang memisahkan kami, ibu tersebut kemudian duduk di tepat di antara kami.
Bukan hal yang sulit untuk memulai pembicaraan dengan orang yang lebih tua, disamping sang ibu bukan orang yang doyan bermain gadget, naluri manusia sebagai makhluk sosial tentu saja semakin mempermudah. sodoran permen mengawali obrolan kami sembari menunggu panggilan untuk naik ke pesawat, cukup banyak hal yang kami obrolkan dari hal-hal sepele seperti nama dan tinggal dimana, apa yang dilakukan di balikpapan dll, hingga obrolan serius seputar kehidupan perkuliahan yanng mana anaknya juga sedang akan menyelesaikan tugas akhirnya di Surabaya.
Setidaknya harapan saya untuk mendekati anaknya bisa saya lanjutkan, dikarenakan si ibu sangat baik dan menyenangkan untuk di ajak berbicara, hingga pada suatu pertanyaan sang ibu menjawab bahwa suaminya adalah Pendeta. seketika itu juga naluri setan dalam diri saya meronta dan rontok seketika, dan akhirnya saya mengurungkan niat untuk dapat mendekati calon pujaan hati, bukan karena saya terlalu brengsek, hanya saja merasa kurang layak disamping si doi manis binggiit, saya keren bingit, bukan paduan yang sepadan saya kira. heheheh
Panggilan untuk segera naik ke pesawat mengakhiri obrolan kami, dan masih berharap kursi kami berada dalam barisan yang sama sehingga dapat meneruskan obrolan-obrolan sepanjang perjalanan. Namun takdir berkata lain, kami berbeda row dan saya. ketika duduk di seat saya berharap akan ada wanita yang menemani saya sebagai teman ngobrol, mentok-mentok sebagai pacar, semuanya buyar ketika 2 orang pria berumur mencocokkan apa yang tertulis di boarding pass dengan nomer kursinya, dan Merekalah yang beruntung menemani saya.
Awalnya saya telah mempersiapkan headset untuk menemani saya selama perjalanan jika kemunginan tidak duduk dengan wanita kinyis kinyis, tapi hal itu tidak terjadi karena sedari awal si bapak itu duduk mengajak ngobrol saya dengan ramah, dan saya pun melayani obrolan bapak tersebut.
Pak Mahfud, demikian beliau memperkenalkan namanya kepada saya. Rambut putih yang sedikit demi sedikit mulai menunjukkan dirinya di kepala beliau menunjukkan betapa beliau ini sudah berumur. Obrolan di mulai dengan pertanyaan ada keperluan apa saya ke surabaya, hingga pertanyaan saya bekerja dimana, dan pertanyaan pekerjaan ini yang semakin mendekatkan obrolan kami.
Beliau ternyata pensiunan dari perusahaan yang sama dengan saya tahun 2003, bisa di bayangkan berapa umur beliau saat saya menjumpainya kala itu. Namun tampilan beliau tidak menunjukkan usia yang telah lanjut tersebut, pancaran kesegaran dari wajah beliau,dan rambut yang masih dominan warna hitam, hingga beliau menyadarklan saya ketika mengungkapkan bahwa beliau telah memiliki 12 cucu, diiringi kekagetan dari saya.
Luar biasa..
Beliau menjelaskan cara hidupnya ketika muda dulu, dan membagi banyak ilmu yang tidak di pelajari di bangku pendidikan diantaranya terkait pasangan hidup. #Jeng
Beliau memberikan nasehat, untuk mencari seorang istri carilah yang benar-benar bisa mengatur keuangan, disamping dia baik dan soleha. Banyak rekan kerja beliau yang bergaji sangat besar namun tetap saja tidak bahagia, karena pengeluaran istrinya sangat besar dan jor-joran sehingga mempengaruhi kehidupan keluarganya. Beliau menganalogikan dengan pepatah jawa yang kurang lebih berarti mencari tempat menyimpan beras yang tidak bocor pada bagian bawahnya. banyak wanita cantik saat ini, namun sangat sedikit yang bisa mngatur keuangan keluarga.
Masih banyak hal lain yang beliau sampaikan, namun saya lupa detailnya namun satu hal ini yang paling saya ingat.
Beliau menasehati saya seperti ini. Jika kita berada di lingkungan kerja tentu akan selalu berhadapan dengan permasalahan, jika permasalahan itu datang cara menghadapinya adalah menanyakan dengan rekan kerja, jika belum menyeslesaikan, tanyak kepada yang pernah menghadapinya, namun ketika mereka yang pernah mengalaminya juga belum dapat memecahkan permasalahkan itu, SERAHKAN PERMASALAHAN TERSEBUT KEPADA TUHAN, BIARKAN TUHAN YANG MEMBERIKAN JALAN DAN CARA UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH ITU. Jika telah menyerahkan kepada yang di atas, jangan lagi dipikirkan masalah itu, biarkan itu mengalir. kebanyakan orang selalu memikirkan permasalahan demi permasalah yang mengakibatkan penyakit yang tidak murah untuk menyembuhkan penyakit yang muncul hasil buah pemikiran yang terlalu berlebihan.
Dan yang terakhir 20 menit sebelum pesawat tiba di bandara Juanda, beliau kembali menasehati saya 1 hal. Janganlah kamu merasa MEMILIKI semua hal, baik itu anak, istri, barang dll. karena ketika diri kita merasa memiliki maka kesedihan yang timbul ketika barang yang kita miliki itu hilang sama besarnya dengan cinta kita kepadanya. Ini penting kata beliau.
Sebelum turun dari pesawat beliau menjelaskan tujuan beliau ke Surabaya adalah untuk ke Temanggung untuk mengunjungi adiknya yang Pagi tadi baru saja meninggal dan akan di makamkan esok hari karena menunggu beliau dan beberapa keluarga lagi.
Saya tersentak saat itu, tidak butir-butir kesedihan maupun duka dari awal beliau berbicara dnegan saya hingga saat akan turun pesawat, nasehat terkait hal memiliki tadi sangat menguatkan beliau dan juga saya.
Terima kasih pak Mahfud, sebuah petuah yang akan selalu saya ingat untuk mengarungi kehidupan saya kedepannya. dan semoga arwah adik beliau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Seturun dari pesawat saya semakin di kuatkan dan optimis menghadapi keseharian saya kedepannya dan semakin ingin menggali ilmu dari mereka-mereka yang lebih tua yang telah melalui masa seperti yang saya alami saat ini.
Senyum saya mengantarkan saya untuk siap menjelajahi Surabaya dan mempersiapkan diri untuk acara pernikahan teman saya di Jogjakarta.
Balikpapan, 10 September 2014
-Niko-