Adi, merupakan seorang pemain bola yang memiliki bakat yang luar biasa, maka tidak salah jika saat ini dia bermain di sebuah klub populer di salah satu kota besar di Negaranya. Dia menyukai sepak bola awal mulanya dikarenakan fantasinya untuk dapat menyamai pemain sepak bola Favoritnya yaitu Steven Gerard.
Sejak bangku sekolah dia terus berlatih bersama-teman-temannya secara rutin, yang mengakibatkan para pencari bakat melirik kemampuannya mengolah si kulit bundar, dan sebuah klub terbaik di Negaranya menaarik dia ketika usianya cukup matang untuk menandatangani kontrak untuk bermain bagi mereka.
Adi merupakan pemain serba bisa berbakat, berbagai posisi mampu dimainkan olehnya dari pemain belakang, gelandang hingga penyerang namun dia selalu memiliki hasrat untuk dapat bermain sebagai playmeker seperti idolannya. hampir 3 tahun dia bergabung di klub tersebut namun tidak pernah sekalipun dia mengisi posisi idamannya, sampai akhirnya suatu hari Pelatih mengetahui keinginannya tersebut dan mencoba memaninkannya di posisi tersebut.
Selama 3 tahun bermain, permainan Adi sungguh baik dan sepanjang waktu itu pula banyak tawaran dari berbagai klub lain dengan tawaran salary yang lebih besar untuk segera meminangnya, namun kesetiaannya dengan klub pertamannya ini yang membuatnya menolak segara tawaran itu.
Pelatih klub ini awal mulanya memiliki pola permainan yang menggunakan playmeker, karena di klub tersbut telah memiliki seorang playmeker yang sudah cukup senior dan disegani, sehingga posisi ini selalu milik orang tersebut, sampai suatu waktu playmeker tersebut harus meninggalkan klub ini untuk bergabung dengan klub lain, sehingga posisi playmeker ini kosong, dan Pelatih berjanji bahwa untuk turnamen internasional nanti Adi akan di coba untuk mengisi posisi tersebut.
Janji yang terucap dari Pelatih membuat Adi terlecut semangatnya, hari demi hari dai lalui dan mempelajari bagaimana playmeker seharusnya bekerja di dalam team. Awal mulanya Adi sedikit bingung namun seiring jalannya waktu dia akhirnya memahami dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik, dan Pelatih mempercayakan Adi untuk mengisi posisi itu, hingga Babak Final turnament tersbut mampu di tembus mereka.
Satu hal yang selalu di rindukan oleh Adi adalah dapat berkumpul bersama keluarga besar dan keluarga kecilnya setiap saat. Saat ini dia berada di Klub yang berdomisili cukup jauh dari kampung halamannya, sehingga intensitas bertemu dengan keluarga sangat jarang.
Bagai gayung bersambut, menjelang final Adi mendapatkan tawaran dari klub besar di Kota kelahirannya. Hal ini membuat kesetiaannya goyah. Hal ini disampaikannya kepada Pelatih dan Pelatih dapat mengerti mengenai dan mengijinkan dia untuk pindah klub untuk lebih dekat dengan keluarga.
Babak final akan menjadi pertandingan terakhirnya bagi klub yang telah sangat besar mengembangkan potensi dan karirnya, maka tidak heran Adi sedemikian keras mempersiapkan yang terbaik di babak final itu, bahkan berkali-kali lebih keras dari biasanya hanya untuk PERSEMBAHAN TERAKHIRNYA.
Hari Final telah tiba, semuanya telah siap terlebih ADI...
Namun, beberapa menit menjelang kick off, pelatih merubah pola permainan dan formasi dengan alasan klub lawan menggunakan formasi yang sama dan akan efektif jika menggunakan formasi yang berbeda. Dengan kebijakkan ini Adi tidak bermain dan hanya akan mengisi bangu cadangan.
Detik demi detik, menit demi menit waktu yang berlalu sepanjang pertandingan Final ini, tidak membuat Pelatih berpaling untuk memainkan Adi di pertandingan penting yang juga merupakan pertandingan terakhirnya untuk Klub ini.
Dan, ketika pluit akhir di bunyikan. Klub Adi keluar sebagai pemenang dan berhak untuk Mengangkat Piala yang sangat Prestis untuk sebuah turnamen Sepak Bola.
Raut muka Adi tidak dapat menutupi kekecewaannya, berbanding terbalik dengan apa yang rekan-rekannya lakukan untuk merayakan kemenangan itu.
Pelatih menghampiri Adi dan berkata : "Adi, inilah persembahan terakhir Kami untuk kamu. Sebuah piala kemenangan"
Adi hanya tersenyum simpul dan mengucapkan "Terima Kasih"
Hati Adi penuh dengan kekecewaan, sangat kecewa bahkan. apa yang telah dia persiapkan untuk penampilan terakhirnya menjadi sia-sia hanya beberapa menit menjelang pertandingan itu. Ingin rasanya dia bertanya kepada Pelatih mengapa?? Ijinkanlah dia tampil untuk terakhir kalinya.
Piala yang dia dapat tanpa perlu berkeringat, hanya dengan menyaksikan team-temannya bermain itu tidak berarti. Dia ingin berkeringat dan berdarah untuk bertandi di pertandingan ini, meskipun dia tidak menjadi Juara.
Adi kecewa..
Sangat kecewa..
Namun seorang teman yang baru dikenalnya tidak lama, namun mengetahui perjuangan Adi untuk tampil terakhir kalinya menghampirinya dan berkata, "Jangan Kecewa kawan, saya tau perjuanganmu. tanpa kamu harus bertanding di Final kami tau apa yang telah kamu kerjakan untuk klub ini sepanjang kamu berada di sini. Persiapkan dirimu dengan lebih baik di klub baru kamu. jadikan Kekecewaan ini sebagai vitamin, untuk membuatmu lebih tangguh dan lebih baik di Klub baru."
Seketika itu pula senyum merekah di bibirnya.
Adi Berkata..
Terima kasih kawan,
Terima kasih pak Pelatih untuk kesempatan dan ilmu yang kamu berikan selama ini kepadaku.
Dan..
Terima Kasih atas kekecewaan ini.
*For My Brother : Give me high Five Brother and Sukses disana
Balikpapan, 18 September 2014
-niko-