Senin, 09 April 2012

Jogja (selalu) Istimewa, karena kalian



Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu...
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat... penuh selaksa makna.

Petikan lagu berjudul yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini mungkin menjadi lagu terakhir yg aku dengarkan sebelum aku pulang ke kampung halaman di Kota minyak Balikpapan, lagu yang mengalun keras di salah satu kamar kost yang berukuran tidak lebih dari 3,5 X 3,5 meter. Sebuah kost yang saya dan teman-teman menyebutnya dengan nama Kost Putih. Cukup mudah menganalisis mengapa kami menamai kostan kami seperti itu, karena dengan jelas dari luar, kost yang berdiri 2 tingkat dan kurang lebih memiliki 20 kamar tersebut keseluruhannya berwarna putih, hanya pintu gerbang yang berwarna coklat. Bangunan berkesan retro dan dengan cita rasa eropa ini memang cukup berbeda di banding dengan beberapa bangunan di sekitarnya, sehingga teman baru atau masyarakat sekitar cukup mudah mengenali kostan ini. Disanalah suka duka terhampar selama kurang lebih 5 tahun saya menuntut ilmu di Jogja

5 tahun bukan waktu yang singkat untuk dilalui, anjing pitbull yg usia 5 tahun dapat menghabiskan seluruh daging di pangkal pahamu, apa lagi manusia yg punya otak dan perasaan. *mulai lebay dan sedikit memaksa*. 

Masih keingat jelas awal aku ngekost disana di kamar yang sama dengan teman sepergantengan saya yg bernama Hendrik Banga aKa Afgan, demikian doi biasa dipanggil, kami sekamar berdua dan tidak melakukan kegiatan yg melanggar norma agama dan kesusilaan. Beberapa bulan kemudian akhirnya saya membuka kamar sendiri sampai akhirnya lulus kuliah dan diteruskan oleh teman sepertampanan saya yang dikenalkan oleh afgan, Chandra Miguna Rahayu, tapi doi senang di panggil Chandrong (om tante orang tua chandrong, maapkan kami yg dengan seenaknya mempermainkan nama yang telah om tante berikan, salahkan Ade Mahendra Putra yang mengajarkan kami untuk merubah nama setiap orang).
Pasti pada bertanya, siapakah sosok yang muncul tiba-tiba di atas yang bernama Ade Mahendra Putra, hmm sesungguhnya sulit menjelaskan siapa dia, di bilang manusia bukan, binatang bukan, tumbuhan mungkin, bahkan Michael Bay and JK rowling pun ga bakal bisa menjelaskan sosok ini dengan kata-kata dan gambar, tp intinya dia sosok salah satu pengisi kamar yang memiliki televisi terbaik diantara kamar Banga dan kamarku. Dan kami bertiga merupakan sesepuh dan biang kerok kegaduhan di lantai 2 kost ini, dari pagi hingga pagi lagi, dari kuliah sampe kuliah lagi, dari jomblo sampe jomblo lagi. Dan dari 3 kamar utama tersebut melahirkan embrio komunitas yang di beri nama KPC (Komunitas Penyanyi Cilik) eh bukan  (Kinara Puri Community) yang merupakan persetubuhan halal antara spesies anak kompleks dengan spesies anak kere hore yang ngekost. Hampir semua kegiatan selama 5 tahun itu terjadi disana. Mungkin untuk lebih jelasnya mengenai tumbuh dan berkembangnya komunitas kami dan kostan ini akan saya tuliskan nanti.

*menarik nafas*

9 Desember 2011, selepas sholat jumat merupakan saat yang paling aku benci tetapi harus aku lakukan, meninggalkan Jogjakarta beserta isi dan kenangannya untuk jangka waktu yang tidak dapat aku perkirakan. FVCK!!!!! Aku harus menghadapi 2 ketakutan utama yang paling aku takuti secara berasamaan, Kehilangan dan Perpisahan.

Entah mengapa Jogjakarta beberapa hari sebelum aku pulang sangat bersahabat dan memanjakan aku, dan aku rasa Jogja sangat Mencintai aku sebagaimana Aku Mencintainya. Diawali dengan pertemuan tidak terduga dengan seorang wanita yang sangat keniko-nikoan, kemudian menjumpai wanita-wanita yang sangat sulit aku temukan di Balikpapan baik dari segi Iner beauty maupun Kecantikan alaminya. Kemudian beberapa hari terakhir cuaca sangat panas, dan dibalik cuaca itu Jogja menunjukkan keindahan Merapi dengan sangat spektakuler yang dapat dilihat dengan mata telanjang dari kejauhan. Malam hari sebelumnya pun Hujan turun dengan deras, kemudian sore harinya angin bertiup kencang, dan aku ingat malam sebelum aku pergi bulan terlihat penuh di langit Jogja, betapa Jogja sangat Luar biasa menjelang keberangkatanku, bukan maksud ingin sok keGRan, tapi  seperti itu kenyataannya.

Malam terakhir di Kota yang sangat istimewa ini aku habiskan dengan teman-teman dekat, mulai dari main Kartu, Red Alert, karokean hingga nongkrong di Kopi Joss. Hampir semua teman terbaikku ada, aku seakan ga mau melepas malam itu tanpa mereka. Bahkan ada yang harus kerja keesokkan harinya tapi tetap nongkrong sampe tengah malam. Bahkan ada yang mau ujian skripsi minggu depan tetap ikut, bahkan yang ga ada kuliah keesokkan harinya pun ikut *yg terakhir abaikan*

Saat itu pun datang juga, semua barang telah aku packing. satu koper, satu kerdus dan satu tas ransel menjadi gandengan aku menuju bandara, selain Ezra alias Capung yang menjadi partner pulang ke balikpapan dengan urusan yang berbeda. Siang itu terasa berbeda, hampir semua KPC crew yang tersisa di jogja beserta personil baru dan wanita baru hadir. Mereka semua hanya punya satu tujuan, mengantarkan kepergianku. How can mengantar aku sampe bias ngumpul semua gitu, kalo bukan karena kita Keluarga dan Mereka Menyayangi aku tulus.

Sampai di bandara kami membuat sedikit kegaduhan, maklum KPC memiliki frekuensi suara yang dapat di dengar kelelawar sekalipun alias mulut ga disekolahin, kemudian foto-foto bareng ga jelas. Keriuhan yang berlangsung hanya sesaat sampai akhirnya waktu untuk memasuki ruang tunggu tiba. Ini moment yang tidak pernah terjadi dalam hidupku, Menangis di depan orang banyak dan ditempat umum, padahal sebelumnya aku sudah berjanji ga bakalan nangis, tapi aku melanggar janjiku karena 1 hal. Aku mencintai teman-temanku melebihi aku mencintai diriku sendiri dan orang tuaku, karena merekalah aku bisa bertahan hidup, menyelesaikan kuliah,dan berbagi kebahagiaan serta tangis *kemudian berkaca2*.

Satu persatu aku peluk, dengan air mata yang terus mengalir. Dengan 2 pesan yang bakalan aku ingat. SUKSES DISANA dan JANGAN LUPAIN MEREKA. Aku pun melangkah meninggalkan mereka dan menuju ruang tunggu. Keheningan seketika menyergap langkahku hingga duduk bersandar di ruang tunggu, hanya kalimat ini yang terngiang dalam hening itu “AKU MENCINTAI JOGJA DAN KALIAN”.
*backsound Polo Pakita dan Parcuma*