Dua anak kecil berlari riang mengitari rak-rak buku yang berjejer rapi di sebuah pusat buku terbesar di Indonesia di dalam pusat perbelanjaan terbesar di jawa Tengah, tampak kedua orang tuanya sibuk mencari-cari buku bacaan dan juga referensi untuk menunjang pekerjaan mereka, sang ayah terlihat dideretan buku2 mengenai komputer dan IT, sedangkan sang istri tidak beranjak dari susunan buku tentang manajemen dan akuntansi.
Siang itu memang terasa berbeda, tiba2 aku mempunyai keinginan untuk membaca buku disana, mungkin karena kebosanan yang melandaku karena status Wisudawan *baca Pengangguran. yang notabene memiliki waktu yang tidak terbatas untuk melakukan hal2 yg menyenangkan, disamping faktor bisa baca buku gratis tanpa harus membelinya.
Jika berada di Gramedia ya demikian nama toko buku tersebut, aku dapat bertahan lebih dari 3 jam hanya untuk sekedar membaca berbagai macam buku dan majalah yang menarik, mulai dari yang berkaitan dengan Psikologi, Novel, Fiksi, majalah wanita dan majalah traveling macam National Geografi dll. Kehadiran 2 orang anak kecil dengan suara yang cukup terdengar keras dan mengandung makna keceriaan seolah memecah konsentrasiku membaca.
Cukup mudah bagiku untuk dapat mengenal nama mereka hanya dengan mengandalkan pendengaranku tanpa harus bertanya langsung ke orang tua maupun kedua bocah kecil ini, Meghan dan Chii, seperti itulah yang saya dengar ketika mereka saling memanggil satu sama lain. Dengan pakaian yang digunakan dan dengan memperhatikan wajah mereka, dapat saya simpulkan mereka adalah kakak adik yang berusia tidak lebih dari anak kelas 1 SD, kira2 sang kaka 6 tahun dan adiknya 5 tahun. dan mereka berdua berjenis kelamin Wanita.
Mereka lucu, bahkan sangat lucu untuk ukuran usia mereka. tanpa rasa takut mereka berlari kesana kemari tanpa memperhatikan kedua orang tua mereka yang memang terlihat sibuk dengan apa yang mereka cari. Seolah tidak mau kalah dengan orang tua mereka, kedua bocah putri mungil ini menelusuri setiap sudut rak buku di Gramedia tersebut mencari sesuatu yang menarik bagi mereka, jika telah menemukannya mereka langsung menanyakan ke ibu mereka apakah itu bisa dibeli atau tidak, dan sangat jelas Orang tua merekalah sang pengambil keputusan mutlak untuk bocah seusia mereka.
Namun, ada yang menarik dari apa yang panca indera saya tangkap dari kedua bocah yang usianya tidak lebih dari masa kuliah dan menetap saya di Jogja. Mereka berbicara bahasa INGGRIS dengan sangat fasih, ya sangat fasih, sekali lagi FASIH!! #afasiiih
Mulanya saya mengira mereka Bule, namun itu segera terpatahkan ketika melihat orang tua dan fisik anak ini. Bisa dibayangkan, didepan anak S1 yang Tofelnya ngak lebih dari 400 dan kemampuan bahasa inggris patah-patah mereka bercanda, menegur dan berbicara dengan orang tua dan antar mereka dengan Bahasa Inggris yang sempurna, tanpa sebuah kata berbahasa Indonesia pun yang saya dengar. Bayangin, anak 6 dan 5 tahun bisa ngelakuin itu. DAMN!!
Saat itu saya masih dapat tertawa melihat tingkah mereka dan lengkingan suara yang keluar dari pita suara mereka yang radiusnya dapat didengar hingga jarak 50 meter, namun semakin lama hati, batin dan pikiran mulai memberontak, seolah terdapat pelecehan takdir. Perasaan bahagia kemudian berganti menjadi dengki, marah iri dan temen2nya yang lain.
AKU KECEWA dengan diriku saat itu juga. berbagai alasan mulai menyelimutiku untuk merangkai pembelaan. aku mulai menyalahkan takdir, mulai menyalahkan soal ekonomi, mulai menyalahkan diri sendiri yang dahulu sangat membenci pelajaran bahasa inggris karena pengajarnya yang ngak menyenangkan, mulai menyalahkan mata yang sudah cukup rabun, mulai menyalahkan keadaan, mulai menyalahkan lingkungan, semua aku salahkan saat itu juga. Tapi semua itu percuma
Namun tidak ada kata terlambat untuk belajar, dimana ada usaha disitu pasti ada jalan. Bahasa Inggris sangat mutlak dikuasai saat ini baik secara tulisan maupun percakapan karena itu adalah syarat wajib hampir semua perusahaan dalam menarik karyawan untuk dipekerjakan dikantor mereka. bahkan tidak jarang penguasaan bahasa Inggris dianggap hal biasa, dan harus memiliki bahsa lain yang dikuasai selain itu. Dari situ saya tarik kesimpulan, saya belum dapat bisa berjuang di dunia kerja jika belum memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik. Mulai saat ini, perlahan namun pasti saya akan berusaha, sesulit dan serumit apapun itu. cuz Practice can makes Perfect.
Terima kasih yang dua bidadari kecilku, Meghan and Chii. Kalian telah menamparku dengan sesuatu yang kecil namun luar biasa.
Tidak akan aku lupakan kecerian kalian tadi siang.
peluk dan cium untuk kalian jika suatu saat aku dapat menemui kalian lagi.
Love You Meghan and Chii